
Sebenarnya teman yang baik itu seperti apa? Membawa kebahagian atau mengingatkan kita dengan sedikit nasihat yang menyentil?
-Permata Biru-
Daripada sakit perut karena terus tertawa aku pamit undur diri untuk kembali ke dapur. Aku berpapasan dengan Mama Teh Rein yang kebetulan sudah bangun, aku tersenyum canggung padanya. Malu sekali rasanya kepergok sedang tertawa ngakak.
Saat kembali ke dapur semuanya tengah sibuk memasak dan mempersiapkan segalanya. Aku mendekati Teh Poppy yang sedang memotong timun. “Teh perlu bantuan?”
“Sudah mau beres kok.”
“Mau bantuin potongin jengkol?” Ucap Teh Tini.
“Boleh teh.” Aku mendekati Teh Tini, memperhatikannya sebentar lalu bereksekusi.
“Kenapa mereka itu suka sekali menggoda Pak Guru sih?” tanya Teh Rein yang menurutku lebih kepada gerutuan itu. Kenapa Teh Rein baru datang sudha berkata demikian.
“Mama sampai bangun karena tertawaan yang kencang, kalau sudah bangun begitu tidak akan bisa tidur lagi. Padahal mama nanti sip malam.” Tidak ada berkomentar, aku jadi merasa bersalah karena ikut tertawa kerasa tadi.
Aduh Mama Teh Rein maafkan kami ya, aku tidak sengaja lepas control begitu. Entah kenapa perasaan senang tadi seolah menguap begitu saja saat melihat raut sendu Teh Rein. Perasaan bersalah itu semakin menjadi saat melihat Mama Teh Rein nonton televise di ruang tengah.
Untung saja makanan yang kini tengah disajikan itu mmebuat sedihku sedikit berkurang. Rasanya baru kali ini aku tertawa sesenang itu lagi. Semua yang telah aku lalui bertahun-tahun ini membuat rasa senang ku hilang, menguap entah kemana. Entah bersama rasa sakit yang kian menjadi, atau rasa terbiasa tanpa rasa senang itu sendiri.
“Mari makan.” ajak Teh Rein kepada kami semua. Aku jadi malu untuk makan duluan padahal perut sudah keroncongan dari tadi, minta di kasih jatah.
“Kok diam saja sih, ayo dong baca doa dulu.” Kami menunduk, entahlan mereka benar-benar membaca doa atau tidak. Yang jelas aku berdoa dengan harapan bisa menghapus rasa bersalahku pada Mama Teh Rein.
“Teh mau pakai sambel?” tanya Teh Rein. Aku menggelengkan kepala, aku suka pedas tapi tidak suka sambal. Kok bisa begitu ya? Ya bisalah buktinya aku bisa.
“Mau kangkung?” melihat anggukan dariku Teh Rein menyodokkan beberapa sendok kangkung pada daun pisang di hadapanku.
Kami, orang sunda terbiasa dengan acara makan begini. Kami menyebutnya liliwetan, makan nasi liwet bersama teman-temannya. Ada kangkung, sambal, ikan asin, tempe, tahu, dan kini kami menambahkan pete serta jengkol yang tentu saja tidak ku makan.
Teh Rein yang duduknya di sebelah kananku menawarkan jengkol, aku menggeleng. Pandu sebelah kiriku meminta jengkol yang ada di tangan Teh Rein itu. Jadilah aku perantara mereka berdua.
“Pak Guru mau tambah lagi?” tanya Teh Tini, nah kan mulai lagi mereka. Aku kali ini diam saja.
“Pak guru tuh di tawarin.” Pandu berusaha mericuhkan suasana.
Pak Guru menatap Teh Tini, mulutnya seolah bertanya apa pada Teh Tini. Melihat hal itu anak-anak mulai ricuh kembali.
“Apa teh katanya.” Pandu ini sudah seperti juru bicara Pak Guru saja.
“Pak Guru mau tambah lagi,” celetuk a Deni.
Mulut Pak Guru terus saja buka tutup seolah ingin bertanya apa maksud mereka. Aku jaid berpikir sebenarnya dia itu beneran kurang pendnegaran atau pura-pura. Atau kami yang memang menutup mata jika dia sepertinya sadar diolok-olok.
Kalau begitu adanya kasihanlah dia, kalau memang dia mendnegar semua apa yang di bicarakan teman-temannya apakah dia tidak sakit hati? Aku melihat Pak Guru itu hanya tersenyum saja melihat teman-temannya bersenda gurau menertawakannya. Aku harus berbuat apa?
Selesai makan kami bergantian untuk cuci tangan. “Mau?” Pandu memberiku sebungkus permen, aku mengambilnya serta tak lupa berterima kasih padanya.
***
Semuanya sudah pulang beberapa menit yang lalu. Tinggalah kini aku, Teh Poppy dan Teh Rein yang duduk di ruang tamu. Di hadapan kami sudah ada minuman dingin yang di belikan oleh Mama Teh Rein, aku sungguh tak enak hati dengan Mamanya Teh Rein.
“Teh Rein maaf ya kalau tadi kami membangunkan Mama Teh Rein.” Sesalku.
Teh Rein tersenyum simpul, “tidak apa-apa Teh, memang begitu kok mereka itu. Cuma ya bagaimana sih tertawa mereka itu berlebihan. Aku gak terllau suka sebenarnya bergaul dengan mereka itu, sebab Pak Guru itu seperti barang candaan saja.”
“Iya agak kasian jugam harusnya kan kita mengayominya bukan berbuat demikian.” Teh Poppy ikut berkomentar. Aku jadi tergugu, kali ini sikapku sudha salah memang.
“Beda sekali dengan sip a.” aku menunggu kelanjutan ucapan Teh Rein. Kenapa jadi bawa-bawa sip a?
“Di sip a meski anak-anaknya ada yang lebih muda dan tua, mereka sopan satu sama lain. Itu yang membuat aku lebih betah di sip a sebenarnya.” Jelas Teh Rein.
“Lebih jaga sikap ya teh.” Kali ini aku hanya diam tidak ikut dalam percakapan mereka.
“Bercanda sih boleh, tapi jangan sampai kelewatan. Mungkin saja kan Pak Guru itu mendnegar apa yang mereka ucapakan itu, tapi dia hanya diam saja.”
“Bener juga teh.”
Aku tak menampik apa yang mereka ucapkan itu memang benar adanya, tapi kenapa aku sennag berbaur dengan sip b. Aku jadi ingat perlakuan Putri padaku saat aku meminjam mesinnya. Mungkin karena itulah aku kurang bisa mengakrabkan diri di sip a.
Sip a memang baik kok, tapi aku merasa mereka terlalu berambisi. Beda dengan sip b, semuanya mengalir begitu saja dalam hal belajar. Aku senang di sip b karena di sip ini aku selalu di bantu ketika susah. Bahkan, mereka selalu mendahulukan ku daripada mereka terlebih dahulu. Entahlah kedua-keduanya baik menurutku, hanya saja perasaanku ke sip b lebih condong sepertinya.
Teh Rein kini menatapku lekat, “teh kalau tertawa itu jangan berlelbihan ya, apalagi sampai menitikan air mata. Itu bisa mengeraskan hati.” Nadanya biasanya saja, intonasinya juga, tapi kenapa seolah menamparku ya.
__ADS_1
“Anu itu hehe kebawa suasana.”
“Tau kok mereka memang begitu, tapi jangan sampai ya kita ikutan begitu. Seperti yang aku bikang tadi bercanda boleh tapi jangan berlebihan. Di sip a juga sering bercanda kok, tapi gak sampai heboh seperti di sip b.”
Tapi, sip a itu nyebelin kadang kalau aku minta tolong. Kadang kalau pinjem mesin pun berasa itu mesin miliknya saja, hush sudahlah tak usah terlalu dalam membenci.
“Ngerti kok teh.”
“Sudah dzuhur sholat yuk,” ajak Teh Poppy.
Hari ini perasaanku campur aduk antara senang dan juga sedikit sedih.
Apa yang Teh Rein bilang itu memang benar adanya. Bahkan sebelum Teh Rein bilang aku sudah tahu hal itu dari kajian pas SMA.
Pada intinya, kita itu jangan banyak tertawa, malah sebaliknya harus banyak menangis agar hati kita senantiasa lembut. Menangis disini bukan menangis tiba-tiba tanpa sebab, melainkan menangisi dosa kita yang selalu bertumpuk setiap harinya, astagfirullah aku sudah banyak dosa.
Teh Rein ini lembut, tapi selalu ingin orang-orang di sekitarnya menuju kebaikan, aku jadi ingat ketika pertama kali Mami memakai kerudung ke tempat kursus.
***
“Subhanallah teh cantik sekali.” Puji Teh Rein kepada Mami yang hari ini entah ada angina apa memakai penutup kepala wanita muslim itu.
“Hehe iya Rein, doakan saja ya semoga tetap begini.”
“Aamiin teh, semoga istiqamah ya.”
“Aamiin teh.”
Aku tersenyum, aku sangat senang apabila teman ada yang sedang menuju proses kepada kebaikan, seperti Mami ini. Rasanya aku selalu merasa beruntung apabila ada teman yang baik, seolah aku bisa mengajak mereka pada kebaikan juga. Ya, meski aku tau, belum sebaik itu.
***
Aku jadi mengingat hal itu, minggu kemairn juga kalau tidak salah Teh Rein mengajak anak-anak untuk ikut kursus panahan di sekolah tempat kursus kami. Kebetulan aku ada acara jadi tidak bisa ikut. Sebenarnya Teh Rein ini baik kalau di pikir-pikir. Tapi..
***
“Wah banyak sekali pesan yang masuk the sampai seribu gitu.” Ucap Teh Rein ketika dia melihat chat yang masuk di ponselku.
Aku awalnya bingung dengan ucapan Teh Rein itu. Dia kemudian menunjukkan ponselnya yang hanya ada beberapa pesan masuk. Aku menggaruk kerudungku yang tidak galat sama sekali, “ini kebanyakan olshop dan grup teh.” Entah kenapa aku tiba-tiba berucap begitu.
“Seringnya gak di baca.” Faktanya ya memang begitu, jika bukan grup penting tidak akan ku baca.
“Kalau gitu penuhi memori saja.” Eh?
Aku tertohok iya juga sih, tapi kan aku butuh grup olshop itu untuk nanti jualan jika jadi. Ah sudahlah jangan jadi pikiran.
“Permata emang enak ya pakai celana jeans?” tanyanya kemudian.
Aku memperhatikan penampilanku dari atas sampai bawah. Tidak ada yang salah kok, pakaianku tertutup meski tidak sepertinya yang memakai rok. Dulu, saat SMA aku senang sekali pakai rok, sejak kuliah aku kembali memakai jeans.
Alasannya sih karena harus naik turun kendaraan, jadi cari pakaian yang simple dan enak dipakai kemana saja. Memang pakai rok ribet? Tidak juga hanya suka ke sandung dan kakiku pasti menginjak ujung rok.
“Kenapa teh?” aku balik bertanya padanya.
“Gak sesak teh.”
“Enggak juga sih.”
“Ya hijrah memang butuh perubahan.” Benar kan, terus kenapa dia seolah mempermasalahkan pakainku.
“Teh Rein sudah lama hijrah?” tanyaku pada akhirnya saat dia memilih duduk di hadapanku.
“Gak juga, kira-kira sekitar awal tahun 2018.” Masih lama aku tapi aku masih gini-gini saja belum ada perubahan yang signifikan.
Aku jadi ingat saat pertama kali berniat memakai kerudung di rumah, Mama menentang keras keputusanku itu. Tekad ku yang sudah bulat dan kekeras kepalaanku, Mama mulai luluh. Bahkan ketika aku keluar dan lupa belum memakai kerudung Mama mengingatkakku.
Aku tersenyum mengingat masa-masa itu, masa sulit dan gerahnya memakai kerudung untuk pertama kalinya. Keputusan yang aku buat sendiri, begitu kuat tekadanya sampai Mama membiarkan saja keputusan itu.
Hanya saja sejak kuliah Mama menyuruhku untuk memakai jeans saja, awalnya enggan. Setelah memang sedikit susah saat naik kereta, aku mengikuti saran Mama. Keterusan sampai sekarang jadinya.
“Awalnya gimana teh?”
“Ya gitu susah, di tentang sana sini sebenarnya, tapi karena sudah bertekad jadilah begini.” Jelas Teh Rein.
“Ada kajian nih nanti mau ikut?”
__ADS_1
“Dimana?”
“Di masjid dekat pabrik.”
Aku berpikir sebentar lokasinya memang dekat dengan rumahku, apa aku kesana saja.
“Jam berapa teh?”
“Kira-kira jam delapanan, hari minggu.”
“Aku gak janji ya teh.”
“Datang dong, temanya seru loh tentang jadi muslimah dan istri solehah.” Ughh sungguh menggoda, tapi minggu adalah waktu untuk diri sendiri.
“Takut gak ada teman ah.”
“Kan aku ikut.”
Alasan apa ya yang paling tepat untuk menolak, dia tersenyum padaku yang sedang berpikir keras. Mungkin, dia tahu aku enggan datang. Entahlah sejak tidak ikut kajian aku jadi malu kalau mau ikut kajian seperti itu.
“Lihat nanti saja ya teh.” Putusku dan kembali menekuni alat jahit dan seperangkatnya.
“Di tunggu kedatangannya.” Aku mencoba unrtuk mengangguk walau berat rasanya. Aku tidak suka berjanji jika aku tidak bisa menepatinya.
***
“Permata.” Aku tersadar.
“Iya kenapa teh?”
“Mau pulang sekarang.” Ajak Teh Poppy.
Aku melihat jam di ponsel, sudah hampir setengah dua. Aku takut ketinggalan kereta seperti kemarin. “Ayo teh.”
“Teh Rein kami berdua pamit ya, makasih banyak untuk jamuannya.” Ucap Teh Poppy.
“Beneran ini loh terima kasih banyak dan maaf ngerepotin.” Tambahku.
“Ah gak apa-apa namanya juga tamu.”
Teh Rein mengantarkan kami sampai ke depan, aku melambaikan tangan. “Permata turun dimana?” tanya Teh Poppy saat sudah melaju meninggalkan pekarangan rumah Teh Rein.
“Di perempatan tadi aja teh?”
“Beneran gak apa-apa?”
“Gak kok, harusnya Permata bilang makasih karena udah mau di tebengin hehe.”
“Ah gak apa-apa searah ini kok.”
“Eh turunya di depan tempat kursus aja ya.”
“Kok?”
“Kayaknya teteh mau ikut sip a lagi deh, teteh banyak ketinggalan soalnya. Rumah kamu deket tempat kursus kan.”
“Oh iya, deket sana kok makasih ya teh.”
Dan aku memang benar turun di depan tempat kursus, setelah mengucapkan terima kasih aku pamit undur diri. Kali ini aku memilih jalan kaki saja, entahlah seperti ada pergolakan batin dalam diriku sendiri.
Aku menatap lalu-lalang kendaraan yang melintas melewatiku. Debu dan panasnya matahari bercampur jadi satu, sepertinya pulang dari sini harus mandi dulu. Aku jadi mengingat percakapan di rumah Teh Rein tadi.
Aku jadi berpikir kenapa aku bisa tertawa sampai menitikan air mata begitu ya, apa aku sesenang itu? atau ada hal lain yang membuat diriku bersikap demikian. Apapun itu yang jelas, aku seolah merasa kembali pada diriku yang selalu tersenyum bebas seperti saat SMA.
Sebegitu sendiriannya aku sampai rasa itu baru datang sekarang dan itu karena teman-teman di sip b. Teman kampusku? Aku seolah tidak bisa menjadi diri sendiri saat berhadapan dengan teman kampus.
“Permata jangan diam saja dong sini gabung?”
“Eh iya iya hehe.”
“Permata ngomong dong jangan pendiam terus, nanti diam-diam kentut lo.”
“Hahaha, kamu is biacaranya kemana saja.”
Memang aku pendiam ya? Padahal aku tidak merasa bahwa diriku ini pendiam. Malah sebaliknya jika sudha bekrumpul dengan teman SMA ku yang 4 orang itu aku selalu jahil, mengumpat dan lainnya. Sebenarnya apa arti teman buatku, jika di dekat mereka saja sifatku sudha berbeda 180 derajat? Siapakah teman yang paling aku percaya itu?
__ADS_1