
Satu hal yang perlu aku syukuri di dunia ini adalah mengenalmu.
-Permata Biru-
“Mau kemana lagi memang?”
“Enaknya kemana?”
“Makan es krim yuk.”
Aku menarik tangan Agla untuk menuju ke salah satu stand es krim favoritku. Kali ini Agla tidak protes atau melakukan pemberontakkan, baguslah.
“Jangan cepet-cepet dong jalannya.” Baru aja memujinya karena tidak protes, sekarang memang ya kalau seklainya menyebalkan itu tetap menyebalkan.
Aku tidak menghiraukan ucapan Agla, kalau tidak jalan cepat kemungkinan kita akan terseret oleh orang lain, terus nanti kita gak akan kebagian tempat duduk disana, ucapku dalam hati. “Udah gak usah banyak protes, ikut aja.”
Sesampainya di tempat tujuan, para pengunjung sudah antri di depan stand. Belum lagi yang duduk juga penuh. Tuh kan telat jadinya. “Mau duduk dimana, sudah penuh nih?” tanya Agla dengan muka betenya karena terus mengantri dair tadi.
Aku terkekeh, “cari tempat tedu darisini saja deh, nanti aku yang pesen. Kamu mau apa?” tanyaku yang memikirkan bagaimana caranya agar bisa menerobos antrian, tindakan illegal si ini namanya, tapi gimana kalau gak gitu gak akan bisa dapat es krim samapi siang mungkin.
“Aku mau-“
“Es krim cokelat dengan toping oreo dan krim vanilla.” Potongku yang membuat Agla semakin kesal sepertinya padaku.
“Kalau tahu kenapa nanya.” Dengus Agla.
Aku pura-pura terlihat cuek dan biasa saja, “ya kan siapa tahu sudah ganti selera kan sudha putus juga dari si doi, ups.” Sebelum Agla kembali menjitakku, buru-buru saja aku masuk ke dalam stand yang ramai pengunjung itu. Antriannya cukup panjang.
Me :
Jangan lupa cari tempat untuk neduh.
Send. Aku tersenyum membaca pesan yang ku kirim kepada Agla. Daripada bosan menunggu mengantri, aku membaca pesan yang Agla kirim untuk Pandu. Hanya pesan basa basi biasa yang tanya Pandu siapa.
Aku pikir Pandu bakalan ngeh kalau itu bukan aku, ternyata tidak, dia malah berpikir bahwa yang membalas pesannya itu adalah aku. Siapa yang bodoh sekarang? Agla atau Pandu?
Aku terkikik apalagi saat membaca pesan Pandu yang bertanya tentang keberadaanku.
Agla asal saja menjawabnya bahwa aku sedang bersama pangeran. Sontak saja Pandu bertanya siapa pangeran itu, dan Agla malah menjawabnya dengan membalas ‘Aku’. Lah mana Pandu tahu kan kalau yang membalas pesannya itu adalah Agla.
Pandu jadi bilang bahwa Agla sedang bercanda. Melihat emot marah yang di kirim Agla, aku hampir lepas control tertawanya. Untung saja Pandu tidak menganggap itu serius malah menggoda Agla, kalau saja dia tahu yang di godanya itu seorang cowok mungkin Pandu akan merasa jijik.
Aku terus saja membaca pesan sampai pada titik dimana aku menjadi terdiam sendiri, antara percaya dan tidak. Pantas saja Agla tadi bilang hati-hati ternyata ini sebabnya. Jangankan Agla, aku saja belum mengenal Pandu sepenuhnya, aku tidka tahu mana sifat Pandu yang asli.
“Selanjutnya.”
Aku jadi berpikir, mana sifat Pandu yang sebenanrya. Yang membantuku sewaktu kursus, yang senang menggoda perempuan saat pertama kali bertemu, atau yang ini menggodaku dan meminta untuk dekat dengannya. Aku tidak tahu.
“Teh mau pesan apa?”
“Eh.” Sepertinya aku tadi melamun, sampai tidak sadar sudah giliranku untuk memesan.
“Mau pesan apa?” tanya pelayan seperti terlihat kesal.
“Satu cup besar es krim vanilla stroberry pakai toping keju dan krim cokelat, satu lagi cup besar es krim cokelat toping orea dank rim vanilla.”
“Satu es krim vanilla stroberi toping keju cokelat dan satu es krim cokelat toping oreo vanilla.” Ulang pelayan, aku mengangguk.
“Baik, ada lagi?”
“Sudah itu saja.”
“Totalnya jadi sepuluh ribu. Di tunggu sebentar. “ aku memberikan uang selembar sepuluh ribu pada pelayan itu. Menunggu di tempat kasir sampai pesanannya datang. Tidak lama hanya beberapa menit.
“Ini pesanannya.” Aku mengambilnya dan segera keluar dari stand tersebut, di dalam sangat panas.
“Uhh segarnya.” Ucapku setelah keluar.
“Agla mana ya.”
Ting
Agla :
Aku di taman
Segera saja aku menuju tempat dimana Agla berada, sebelum masuk ke taman, aku sudah melihat Agla yang duduk di ayunan. Aneh banget dia duduk di ayunan.
Aku menempelkan es krim Agla di pipinya, “nih.”
Agla mengambilnya, “iseng banget sih, dingin tau.”
Aku duduk di ayunan sebelahnya. “Ya biar emosinya reda gitu.” Ucapku yang kini mulai mengayunkan ayunan sembari menggenggam erat-erat plastic es krim biar tidak jatuh.
“Sok tahu banget lagi emosi.”
“Tuh tuh kelihatan banget kalau lagi emosi.” Aku tertawa geli karena sukses menggodanya.
Tanpa melihatku lagi dia membuka plastic eskrim dan mulai memakannya. Aku jadi mengikuti Agla memakan es krim dan menghentikan ayunannya. “Kenapa sih?” pandanganku lurus ke depan, pada anak-anak yang asik bermain dengan teman-temanya.
“Kenpa apanya?”
“Kenapa emosi?”
“Hanya masalah kecil saja kok.”
Aku tidak lagi bertanya. Aku tahu Agla juga butuh ruang, waktu dirinya sendiri berpikir tanpa ada orang lain masuk di dalamnya. Sementara aku tidak berani mengusik ruang sendirinya, biarkan saja seperti ini.
“Kalau setelah ini gimana ya?” aku menatap Agla tidak mengerti.
“Aku tahu, aku salah, tidak sempurna. Apa aku tidak boleh bahagia.”
“Gla bahagia itu bukan karena orang lain, tapi diri kita sendiri.” Itulah yang aku ucapkan padanya. Dalam hati aku juga bertanya-tanya apa aku tidak boleh bahagia.
__ADS_1
“Setelah ini apa ya?”
“Main lagi lah.” Jawabku spontan.
“Nyesel deh nanya sama orang yang masa kecilnya kurang bahagia.”
Aku cemberut, memakan es krim dengan porsi besar-besar sampai habis dan tidak menyisikan sedikitpun dalam cup nya. Menyimpan sampahnya di pinggir ayunan, kakiku bergegas menggerakkan ayunan.
“Lantas kamu maunya apa?”
“Setelah putus SMA aku sengaja memilih universitas yang jauh darinya. Aku pikir move on itu mudah tenryata tidak, aku dekat dengan seseorang sebelum putus darinya. Aku pikir orang itu lebih baik dari dia, tapi ternyata tidak.”
“Sekarang aku tanya siapa yang salah?”
“Bukan dia, aku yang salah.”
“Nah itu tau.” Aku tidak ingin melihat ekspersinya saat ini. Oleh karena itu aku memilih menatap langit cerah, warna biru muda yang menyejukkan serta awan putih yang menghiasinya membuat senyumku merekah, apalagi di tambah angina sepoi-sepoi yang menerpa wajahku, terasa damai.
“Gla, tahu gak.” Aku mengehentikan ayunan.
“Apa?”
“Satu hal yang aku syukuri di dunia ini adalah mengenalmu.” Setelah berkata demikian aku kembali mengerakkan ayunannya.
Agla terdiam, mungkin mencerna ucapanku. “Jangan bilang suka sama aku lagi.”
Langsung saja aku mengehentikan ayunan, memukul bahu Agla dengan kencang, “sembarangan.”
“Maksudnya itu bukan gitu, jika ada satu hal yang perlu aku syukuri selain bernapas, yaitu mengenalmu.”
“Mengenalmu yang bisa membawaku kenal pada duniaku sendiri. Kamu tau gla, selama kenal sama kamu, aku bisa menjadi diriku sendiri.”
“Sama hal nya dengan lima sekawan, bisa jadi Permata yang cerewet, pemarah, penuh dengan imajinasi, dan juga Permata yang apa adanya tanpa menyembunyikan sesuatu.”
Sekali lagi bukannya terharu dia malah menjitak kepalaku, “mellow banget sih kamu hari ini ta, katanya tadi satu hal masa lima sekawan juga ah gak asik banget sih.”
“Bukannya bangga malah di sepelein.”
Dengan kesal aku menggerakkan ayunan kembali, malas berdebat Agla yang tidak mau kala itu. Bodo amat kalau dia perlu bantuan lagi nanti, tidak akan ku hiraukan.
***
“Habis ini mau kemana lagi ta?”
“Pulang ah capek.”
Agla menghentikan langkahnya, membuatku ikutan berhenti. Sekarang kami ada di perempatan jalan yang akan menuju ke rumahku. Kalau ingin ke rumah Agla, maka harus melewati kerumunan orang lagi.
“Ada apa sih?” tanyaku heran kepada Agla yang hanya bengong menatap lalu-lalang kendaraan.
“Ke mall yu.” Ajaknya tiba-tiba. Ada angin apa ini anak ngajak ke mall segala.
“Mau ngapain?” aku berusaha memperhatikan gelagat aneh Agla semenjak di tinggal membeli es krim, sebenarnya Agla di apain sama mantannya itu sampai jadi seperti orang linglung begini.
“Main lah, masa mau demo. Main game di timezone aja, ayo dong temenin gue lagi males di rumah nih.”
“Boleh deh.”
“Mau pulang dulu?” penampilan kami sepertinya tidak cocok untuk ke mall. Aku memperhatikan Agla yang mencium bau tubuhnya.
“Gak usah pulang lah, biarin pakai beginian juga.” Aku mengangguk menyetuji ucapannya, lagipula kalau aku pulang dulu bisa-bisa tidak mendapatkan ijin untuk pergi lagi nanti.
“Naik apa kesananya?” Bukannya menjawab Agla malah menarik tanganku ke parkiran motor.
“Naik motor? Bawa motor emang?”
Agla cengengesan, “siapa yang mau naik motor, ya naik angkot lah, yuk.” Agla melambaikan tangannya pada angkot yang lewat, kami pun masuk ke dalam angkot.
“Kamu kenapa sih daritadi melamun terus?” tanyaku karena tidak tahan pada sikap Agla yang sejak masuk ke dalam angkot hanya diam.
“Gak apa-apa.”
“Basi. Jawaban cewek banget itu.” Agla malah menjitak kepalaku.
Memang ya sudah tahu temannya ini khawatir karena dia diam saja, dia malah meledekku main tangan pula. “Denger ya Agla yang terhormat, apapun masalahnya jangan diem aja aku ini bukan patung yang hanya di jadikan pajangan, bukan pula cenayang yang bisa tahu isi pemikiran orang. Kalau ada apa-apa itu bilang coba.”
Agla malah mengacak kerudungku, “berisik bentar lagi nyampe tahu, jangan bawel nanti kelewat bagaimana.” Akhirnya aku diam saja, biarkan saja dia galau sendirian siapa suruh tidak mau cerita.
Saat sudah dekat dengan mall yang kami tuju Agla berteriak, “pak kiri depan.” Angkot pun berhenti beberapa meter di depan pelataran mall.
“Yuk turun.”
Kami mulai masuk ke pelataran mall yang tidak kalah ramai dari cfd. Sepertinya orang-orang memang sedang butuh hiburan kali ya. Aku melirik Agla yang tampak biasa saja dengan pakaian olaharaganya.
“Gla, ini kita beneran gak apa-apa?”
“Udah deh, mau mandi dulu memangnya.”
“Kalau bisa sih iya.”
“Ya sudah mandi dulu sana.” Hampir saja aku sumringah dengan ucapannya, “nanti tungguin di arena permainan aja. Jangan menyalahkan kalau nanti di tinggal karena kelamaan mandinya.”
Aku cemeberut. “Gak jadi deh.”
“Makanya gak usah meribetkan diri deh.”
Aku mengikuti langkah Agla yang turun ke arena bermain. Terserah dia deh sampai disana mau ngapain, mau jumpalitan kek, karokean kek, atau naik kuda-kudaan untuk anak-anak juga gak apa-apa, paling aku akang ngumpet.
“Mau main apa?” tanya Agla saat kami sudah membeli koin.
“Karekoe?” tawarku, Agla malah melotot menatapku.
“Kamu mau karokean?” tanya Agla tidak percaya.
__ADS_1
Aku memutar bola mata malas, maksud aku kan baik dia yang main karokoe. “Main basket aja deh.”
“Oke yang kalah beli koin lagi.” Tantang Agla.
“Siapa takut.”
Kami berdua menuju arena permainan basket. Tidak ku kira Agla juga jago dalam memainkan permainan game basket ini. skor kami kejar-kejaran sejak tadi. Aku terus berusaha untuk mengalahkan Agla.
Untuk mengalihkan perhatian Agla, aku mengambil bola-bola Agla yang sudah turun. Perhatian Agla teralihkan. Yes, sorakku dalam hati.
“Heh kamu curang ya.” Aku hanya menjulurkan lidah padanya.
Pada babak terakhir persaingan kami cukup sengit yang hanya berbeda satu angka. Sialan kalau sudah di buru-buru begini aku suka gugup. Konsentrasiku sedikit buyar melihat Agla yang memasukan bola pada ring dengan sempurna, sedangkan aku hanya memantul tidak karuan.
“Yey, menang. Beli koin lagi gih.”
“Nanti aja kalau sudah habis, capek nih istirahat dulu.” Agla menurut dan kami mencair tempat duduk terlebih dahulu.
“Nih.” Agla menyodorkan satu botol minuman dingin padaku.
“Makasih.” Aku berusaha membuka tutup botol itu, tapi bukannya kebuka tanganku malah sakit karena licin.
“Buka gitu aja gak bisa, sini.” Aku memberikan minum itu pada Agla, dengan sekali putaran tutup botol itu sudha terbuka.
“Ta, ta buka gituan aja gak bisa.”
Aku memperlhatkan telapak tangan yang memerah pada Agla, “nih liat merah kan jadinya.”
“Main lagi yuk.” Ajak Agla yang sudah bangkit dari duduk.
“Gak ah capek, kamu aja duluan.”
“Payah.” Ejeknya, aku tidak menghiraukan ejekan Agla itu.
Kami mendekati permain dance anak panah. Agla bilang dia itu jago memainkan ini, demi membuktikannya aku menantang Agla kalau dia menang akan ku traktir apapun, kalau dia kalah dia yang traktir aku makan.
“Nih liat ya.” Aku tertawa melihat lagaknya yang sudah seperti seorang professional.
Aku kembali tertawa melihat Agla yang lincah bergerak kesana-kemari. Aku bersyukur Agla sudah tidak galau lagi, dia kembali menjadi Agla yang biasanya—menyebalkan. Babak pertama permainan Agla memenangkan pertarungan, babak kedua Agla kalah, dan sekarang ini babak ketiga sebagai penentuannya.
Aku cekikikan ketika Agla tampak kewalahan, sesekali tubuhnya gagap ketika melihat nyala lampu. Sepertinya aku sudah capek tertawa hari ini, karena sudah tahu siapa yang akan menang aku akhirnya menyibukan diri dengan memainkan ponsel.
“Gla ini Pandu chat lagi.” Ucapku pada Agla yang sedang mengatur napasnya di pinggirku.
“Apa katanya?”
“Dia nanyain aku ke cfd apa enggak?”
“Jawab iya aja.” Aku menuruti ucapan Agla untuk membalas iya, tidka lama kemudian balasan dari Pandu sudah ada lagi.
“Dia nanyain lagi sama siapa kesananya?”
Agla menatapku. “Bilang aja sama Agla sepupu yang ganteng tiada tara.”
Aku meringis melihat Agla dengan pedenya berkata demikian. “Huh pede bener.” Aku memukul Agla dengan botol minumnya yang tinggal sedikit.
“Biarin aja memang bener kok.” Aku tidak menghiraukan ucapannya, memilih membalas pesan dari grup kepenulisan.
“Ta makan yuk laper.”
“Inget perjanjian, kamu traktir karena kalah tadi.”
“Iya deh iya, mau makan apa.”
Aku berpikir sejenak, “apa ya, makan steak enak kali ya.”
“Oke kita makan steak.” Putusnya sepihak, padahal kan aku bekum memutuskan mau makan steak atau yang lain, ish Agla ini memang menyebalkan. Dengan kesal aku menghentak-hentakkan kaki sepanjang jalan menuju stand steak.
Untung saja saat sudah sampai disana aku bebas memilih mau makan steak yang mana, pokoknya harus makan steak yang belum aku cobain dan paling enak deh. Selain steak aku juga memesan jus bukan es the atau air mineral seperti biasa, mumpung di traktir kapan lagi kan Agla baik begitu.
Aku menatap makanan yang terhidang di meja dengan tatapan berbinar, sepertinya air liurku juga sudah menetes sejak tadi saking ngilernya melihat makanan yang baru di antar oleh pelayan ini. Dengan segera aku mengambil pesananku agar lebih dekat untuk dimakan.
Agla menatapku heran, aku sudah seperti orang kelaparan saja sepertinya. “Biasa aja kali.”
“Mumpung di traktir.” Ucapku dengan tangan yang mengipasi mulut karena kepanasan, makanan ini baru banget di masak sepertinya.
“Tuh kan, makannya pelan-pelan gak akan minta ini kok.” Aku tidak menghiraukan Agla dan kembali makan.
“Gla.” Panggilku pada Agla yang sibuk dengan ponselnya, kalau dia gak mau makan lebih baik jangan pesan tadi.
“Hmm.”
“Kan perempuan itu gak deketin lagi terus sekarang mau apa?”
Agla terdiam sebentar, “sepertinya harus nyari kesibukan lain nih. Ikut oragnisasi kampus mungkin.”
“Bagus tuh.”
“Kamu juga dong.”
Aku menjuk diri sendiri, “aku.” Agla mengangguk.
“Gak mau ah.”
“Dasar pemalas.” Cibirnya.
“Biarin aja.”
“Sudah buru habisin, kita pulang abis ini.”
“Siap bos.”
Ting
__ADS_1
Pandu :
Pertanyaan kemarin belum di jawab, kalau sekarang tanya lagi bakalan di jawab? Sekalian mau tanya kalau belum punya pacar aku boleh deketin kamu?