Aku Takut Jatuh Cinta

Aku Takut Jatuh Cinta
Bocornya Rahasia


__ADS_3

Kadang kamu bertindak sesuka hati dan terkadang nalarku sulit mencerna tentang semuanya. Quotes ini tepat untukmu dan aku yang sedang dalam keadaan tersesat.


-Permata Biru-


Aku menyimpan ponsel di meja, tidak lagi minat membaca apapun. “Kan chat nya di Facebook bukan whatsapp.” Seketika dia jadi terdiam dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sebenanrya apa tujuan Pandu tanya tentang hal itu terus, dari kemarin marah cuma gara-gara aku tidak membalas pesannya. Terserah aku saja deh mau membalas pesannya atau tidak. Dia juga bukan pacarku kan?


“Nih.” Teh Titan yang baru datang memberikan sesuatu kepada Pandu. Pandu tersenyum dan memebrikan uang kepada The Titan.


Pandu membuka plastik hitam itu, ternyata dia beli tahu krispy. Pandu mematikan mesin dan mulai memakannya. “Nih mau?” Pandu menawariku.


Aku menggeleng. “Kenapa sih melamun terus?” aku tidak menjawabnya dia malah memberikan satu tusuk tahu kepadaku.


“Aa.” Titahnya gemas yang melihatku tidak mengambil tusuk tahu itu. Pandu malah menyodorkannya tepat di depan mulutku, mau tidak mau aku membuka mulut dan memakannya.


“Jangan melamun terus nanti kesambet loh.” Ucapnya yang kini memberikanku satu tusuk tahu lagi, kali ini aku mengambilnya dan memakannya sendiri.


“Siapa yang melamun.” Kilahku yang kini mengalihkan perhatian kepada ponsel lagi.


“Nah yang begini ini nih yang suka gak ngaku.” Aku memlih bungkam, capek kalau meladeni Pandu yang tidak mau kalah.


Kadang kamu bertindak sesuka hati dan terkadang nalarku sulit mencerna tentang semuanya. Sebuah quotes yang membuatku terdiam. Berpikir, yang di lakukan Pandu itu memang sesuka hati dan entah kenapa nalarku sulit mencerna hal itu. Bagus banget yang bikin quotes ini, bisa tahu keadaan seseorang.


“Kan melamun lagi.” Ucap Pandu sebelum pergi ke luar meninggalkanku sendiri. Aduh kok aku jadi memikirkan Pandu sih.


Agla :


Ta, minggu ke kafe biasa yuk.


Me :


Mau ngapain? Memangnya kamu pulang.


Agla :


Pulang dong, makanya ngajak juga.


Me :


Lihat nanti.


Agla :


Di tunggu, jangan sampai gak datang.


Ini namanya pemaksaan bukan ngajak! Aku menggerutu atas sikap Agla ini yang sama kayak Pandu. Apa laki-laki selalu begitu ya, bertindak seenaknya saja. Tanpa tahu lawan biacaranya mau atau tidak. Setengah hati aku mencak-mencak kepada apa saja.


“Kenapa ta?” tanya Pandu yang sudah kembali.


“Gak apa-apa kok.” Sebisa mungkin bersikap biasa saja, jangan sampai Pandu tahu aku sedang kesal.


“Kalau cewek ngomong gak apa-apa itu biasanya kebalikannya.” Tangan Pandu yang mengetuk-ngetuk meja membuatku kekesalanku kembali.


“Sok tahu.” Ketusku yang berlalu meninggalkan dia dengan tatapan penuh tanda tanyanya. Bodo amat lah, dia bisa menyimpulkan apapun. Lebih baik aku segera menyetorkan hasilnya pada Bu Nining.


***


“Nah ini baru bagus Permata.” Suara tegas dan keras itu mengangetkanku yang sedang menatap kain-kain yang tertumpuk di meja, sudah di potong sesuai pola.


“Kenapa bu?”


Bukannya menjawab Bu Nining malah menyuruhku untuk mengambil beberapa kain. Kali ini masih saku bobok tapi versi ke dua. Dengan bingung aku mengambil kain-kain sesuai perintang Bu Nining. Aku tidak menampik sangat senang rasanya karena bisa ganti materi jahit.


“Gitu dong kalau belajar, yang serius biar hasilnya bagus.” Bu Nining ini memuji atau menyindirku ya, memangnya selama ini aku ngapain, main bekel apa.


“Baik bu, tapi ini sudah bener kan?” tanyaku memastikan.


“Sudah kok, walau masih ada kerijut sedikit tapi itu masih wajar tidak seperti kemarin.”


Aku menggaruk kepala malu, “kan kemarin belum tahu caranya bu.”


Bu Nining mendekatiku yang masih memilih kain, “jadi kemairn belum tahu gitu?”

__ADS_1


Aku tersenyum, “mungkin iya bu, soalnya salah terus.”


“Sudah sana belajar yang bener, kalau ada yang tidak tahu itu nanyain jangan diem aja. Jangan kayak Nia di sip a susah banget di kasih tahunya.”


Aku terdiam, Nia? Teh Nia maksudnya? Kenapa dia begitu? Itu bukan urusanlku kan, kenapa pula di pikirkan.


Tetap saja, sampai di meja mesin aku masih kepikiran. Apakah aku beruntung karena bisa satu langkah lebih maju dari Teh Nia. Dulu, sempat punya pikiran bahwa aku yang paling bodoh di tempat kursus ini, nyatanya saat mengetahui hal itu dari ibu ada rasa senang yang seolah menggelitik diriku.


“Melamun lagi, bukannya kerjain.”


“Eh.”


Pandu melirik setumpuk kain yang belum di jahit itu, “masih saku bobok.” Ucapnya yang kini malah memisahkan kain yang menumpuk itu.


Bukannya membantu aku malah memperhatikan kegiatan Pandu, “iya, satu bobok dua tapi.”


“Ini mau di teplak dulu.” Aku langsung mengangguk dan mengambil alih kegiatan Pandu.


Pandu masih sibuk dengan kegiatannya memisahkan kain yang besar dan kecil. Aku sendiri sibuk menjiplak pola di kain besar yang menjadi dasar untuk saku bobok dua ini. Selesai dengan itu, aku mengambil kain yang paling kecil dan mulai kecil.


Drrrrrr


“Astagfirullah.”


Jangankan Pandu aku sendiri kaget, gas nya kabur begitu saja. Setelah abis kekagetannya Apndu malah tertawa, “masih belum bisa mengatur gas?” tanya dia yang masih tertawa itu.


Aku cemberut, dia merusak suasana semangat empat enam ku saja. “Masih.” Jawabku ketus.


Pandu tertawa sekali lagi, membuatku ingin memukulnya saja. “Ish.”


“Oke-oke.” Dia mulai menghentikan tawanya.


Dia mengambil kain kecil yang mesti ku jahit.


Menarik tangaku untuk ke mesin yang di belakang. Dia juga mengusir orang yang sedang duduk disana. Untung saja orang itu mau pindah tempat, kalau tidak mungkin aku yang di jadikan sasaran kekesalannya.


Pandu menyuruhku duduk dan dia mulai menyalakan mesin. “Ngapain kesini sih?” tanyaku kesal.


Pandu terkekeh, “mau belajar lah, atau…” tubuh Pandu condong ke arahku, seketika jaid was-was. Mau apa orang aneh ini?


“Sudah sekaang coba mulai kerjain itu.” Pandu menunjuk kain yang di bawanya tadi.


Aku mulai melipat kain itu dan akan menyimpannya di mesin sebelum suara Pandu menginterupsiku. “Bukan gitu Permata.” Aku menatap Pandu bingung.


Pandu mendekatiku. “Lihat ada jarak di mesin, kamu mau jaraknya berapa untuk ini?” karena aku tidak menjawab Pandu melanjutkan, “kita pakai jarak satu dari mesin jahit saja ya, lihat.” Aku mengangguk.


Dia mengatur letak kain di jarak yang di bukannya tadi. Aku hanya terdiam kaku dengan kelakuannya, jarak sedekat ini membuatku canggung sekaligus bingung. Bukannya tidak ingin dekat dengan laki-laki, hanya saja aku takut seperti dulu.


“Coba mulai jahit, pelan-pelan, atur gas dan pastikan jaraknya lurus serta sama.” titah dan nasihat Pandu segera aku laksanakan.


Drrrr


Ternyata oh ternyata, gas mesinnya kabur lagi. Aku tahu di sebelahku, Pandu menahan tawa. Dia pergi ke depan, dari gerakan tubuhnya yang hanya terlihat bagian belakangnya saja itu, dia seperti mencari sesuatu.


Melihat Pandu yang mendekat, aku pura-pura sibuk membobol jahitan yang tadi lepas landas. Pandu memberiku selembar kain panjang yang masih utuh, tapi tidak berbentuk. Aku menatap Pandu bingung.


“Coba belajar ngatur gas dengan kain itu dulu.” Ucap Pandu, dengan malas aku mengikuti sarannya.


Melihatku yang hanya terdiam Pandu menurunkan jarum, tepat di dekat kain. Semakin Pandu dekat, aku semakin merasa malu. “Jangan diliatin.” Setelah mengucapkan itu aku menunduk.


Pandu terkekeh, “haa.. oh iya hehe.” Pandu duduk di depanku, tapi pandangannya tertuju pada Pak Guru yang serius menjahit.


Drrrr


Masih sama, keluhku dalam hati. Kali ini Pandu tidak menertawakanku, dia malah mengambil hasil jahitanku, menelitinya dan menatapku serius.


“Jangan terlalu semangat dong jahitnya, kalem aja. Kayak di kejar hantu saja. Coba selow dikit, pelan-pelan.” Aku merebut kain di tangan Pandu dengan ogah-ogahan kembali menjahit.


Drrrr


“Dulu pas di kertas gimana sih belajarnya?” tanyanya seperti orang frustasi.


Hah! Bagus saja kalau dia akhirnya menyerah membantuku. “Belajar biasa lah masa di liatin aja.” Jawabku yang kini berusaha menjahit lagi.

__ADS_1


“Hah sudahlah,” dia menghela napas kasar.


Aku mengira Pandu akan menyerah begitu saja. Salah ternyata, dia malah bangkit dan mendekati ku kembali. Kali ini tubuhnya tepat di belakangku. Aku bahkan sampai bisa mencium wangi parfumnya yang entah apa itu, baunya menyengat.


“Awas.” Aku menyingkir.


“Lihat.” Dia menunjuk kain yang akan di jahitnya.


“Lihat lagi.” Dia menunjuk kakiknya yang menginjak gas.


Dia menurunkan jarum tepat di dasar kain. “Kalau mau jahit itu jarumnya harus di bawah.” Aku mencatat hal itu baik-baik dalam otakku.


Pandu mulai menjalankan mesin, dengan seksama aku memperhatikan kegiatan PAndu menjahit. Mulai dari cara dia mengatur gas, tangannya yang mendorong kain atau kepalanya yang bolak-balik melihat ke arahku.


Kaki Pandu di tekannya ke belakang, “liat, ini namanya rem, kalau misalnya gasnya kabur tekan saja kakinya ke belakang. Usahakan juga jangan sampai menekan sepatu ketika menjahit.” Aku mengangguk.


“Lihat ya, pelan-pelan jalankannya.” Dia mulai menjalankan mesin kembali, dia sih enak sudah pandai mengatur gas. Lah aku?


“Sekarang.” Aku kembali memperhatikan Pandu. “Kalau sudah selesai, tarik jarum ke atas dengan di boseh. Nih coba lihat hasilnya.” Pandu memberikan hasil jahitannya padaku, bagus aku jadi iri padanya.


“Giliran kamu cobain.” Pandu bangkit dan mendorong bahuku untuk duduk. Aku takut cara ini tidak berhasil.


Dengan perasaan campur aduk aku menyimpan kain tepat di bawah jarum. Aku menurunkan jaruk sesuai intruksi Pandu tadi. Aku berbalik menatap Pandu, dagu Pandu malha menyuruhku untuk mencoba menekan gas mesin.


Aku menutup mata sejenak dan pelan-pelan ku tekan gas. Baru beberapa detik aku kembali berhenti karena gas nya masih kabur. “Pelan-pelan.” Peringat Pandu.


“Jangan buru-buru coba.”


Aku menarik napas dalam-dalam, mengeluarkannya perlahan. Semangat Permata kali ini pasti bisa. Aku tekan gas itu dengan pelan, mesin mulai melaju. Tetap tenang, ucapku dalam hati. Pelan-pelan tanganku di gerakkan agar jahitannya lurus.


“Nah gitu coba rileks, lebih pelan lagi. Atur gas nya dengan baik.” Ucapan Pandu kali ini seperti mantra, otak dan tubuhku kini berusaha bekerja sama.


Perlahan tapi pasti, kali ini aku bisa mengatur gas. Selesai menjahit aku berbalik ke arah Pandu. Tersenyum lebar dan Pandu juga tersenyum lega. Kita berhasil, sorakku.


“Itu bisa.”


“Hehe.”


“Coba sekarang langsung mulai di kain saku boboknya.” Aku mengangguk antusias.


Pandu tersenyum melihat semangatku, “semangat Permata.”


“Makasih Pandu.” Ucapku tulus.


Sampai waktu menujukkan pukul setengah sebelas aku masi asyik menjahit, Pandu beberapa kali menggurku untuk berhenti. waktu pulang sebentar lagi, katanya.


Bukannya menurut aku malah membalasnya dengan mengatakan tanggung sebentar lagi, begitulah kalau sudah asyik dengan kegiatan yang di tekuniku.


Pandu mematikan mesin yang masih ku gunakan, “sudah, sana beres-beres.” Sapu yang di pegangnya kini di berikan padaku. Dengan cemberut aku bangkit, membereskan barangku terlebih dahulu sebelum mulai menyapu.


***


“Bu pamit dulu ya, assalamulaikum.” Aku yang terakhir keluar pamit kepada Ibu yang masih sibuk memotong kain.


“Hati-hati di jalan ya, walaikumsalam.”


“Hari ini gak kuliah?”


Langkahku terhenti kembali berbalik ke arah Ibu, “Gak bu, libur kuliahnya sampai kemarin.” Bu Nining mnegangguk.


Tidak ada pertanyaan lagi dari Bu Nining mmebuatku berbalik dan kembali berjalan ke luar tempat kursus. Aku jadi berpikir apakah di sip b ini sudah pada tau kalau aku kuliah.


“Jadi sibuk itu karena kuliah?”


Aku menoleh kepada Pandu yang kini berdiri di depan pintu. Wajah kagetku sepertinya sudah menjawab pertanyaannya itu. Apa Pandu mendengar percakapan tadi dengan Bu Nining. Haduh baru saja lega karena sip b tidak ada yang tahu bahwa aku kuliah, eh sekarang malah ada yang tahu, Pandu lagi.


“Kenapa gak bilang?”


“Bilang apa?”


“Kalau sibuk kuliah.”


Aku menatap Pandu bingung, “harus?”

__ADS_1


“Ya enggak tau juga, tapi kalau bilang kan aku jadi tahu kapan kamu senggangnya.” Ohhh begitu, jadi dia nyadar dong kalau selama ini dia mengganggu waktu ku.


“Nanti kalau sibuk kuliah bilang aja.” Teriak Pandu dari depan gerbang temoat kursus padaku yang sudah naik ojek.


__ADS_2