
Aku tidak ingin menjadi orang lain, apalagi berpura-pura menjadi orang lain agar orang menyukaiku.
-Permata Biru-
Bandung, 2020
Selesai dengan berbelanja di pasar baru akhirnya aku memutuskan pulang. Sendirian, bersama kereta dan keramaian di dalamnya. Entah kenapa aku memang suka saat seperti ini. Menikmati jendela kereta yang menampilkan kerlap-kerlip lampu malam hari yang indah.
Aku terpesona, terperosok pada keindahan yang bisa hilang kapan saja itu. Aku jadi membayangkan saat kita masih bersama.
Bibirku masih tidak bisa lepas dari kebahagiaan semu itu sepertinya. Sekarang, rasanya aku ingin tersenyum bersamamu, sambil menatap kerlap-kerlip itu dengan bahagia. Berharap suatu saat nanti bisa duduk dalam satu frame, bersamamu.
Rupanya aku memang terlalu banyak berharap akan ketidak jelasan kisah kita. Aku memang jahat, memilih pergi setelah kau acuhkan. Karena aku tau ini hati bukan mainan. Apa jadinya jika dua orang yang sudah tidak sejalan tetap bersama? Tentu bukan akhir yang menyenangkan juga bukan?
Sepertinya malam ini aku terlalu banyak bercerita. Aku harap kamu baik-baik saja saat ini. Ah, kamu selalu baik-baik saja bukan, dengan segudang mimpimu yang masih belum tercapai. Aku dan kamu, memang tidak akan pernah bersatu sepertinya.
“Rancaekek sebentar lagi.” Pemberitahuan petugas kereta apai membuatku segera bangkit dari duduk.
Aku pergi, meninggalkan semua kenangan tentangmu yang masih jelas terpatri. Sekali lagi, aku menatap langit yang dulu selalu kita pandangi bersama, walau beda tempat dan waktu. Aku tersenyum pada langit.
“Kisah kita sudah usai, yang tersisa hanyalah kenangan yang tidak akan pernah ku lupakan meski hanya menyisakan luka dan kesakitan.” Bisikku lirih.
***
“Huaa”
Aku menggeliat, sebelum menjalankan rutinitas aku selalu berpikir tentang apa yang akan aku lakukan hari ini. Pergi kursus, dan sekarang aku akan berangkat ke kampus perdana setelah libur panjang yang hanya diisi oleh kemalasan ini.
“Ta, gak lupa ada kuliahkan hari ini.” Ucapan Mama menghentikan langkahku yang akan pergi ke temoat kursus.
“Gak lupa ma, kemarin malam kan sudah beresin buku untuk kuliah, peralatannya juga.”
“Sudah berangkat sana nanti telat.”
“Iya ma Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Sekarang hari senin, hari dimana orang-orang pasti akan sibuk masuk kerja dan sekolah. Sepanjang perjalanan menuju tempat kursus lajur kendaraan tidak pernah sepi.
“Kiri depan pak.”
“Di depan ya neng.”
“Terima kasih ya pak.” Aku menyodorkan uang selembarang lima ribu rupiah kepada tukang ojek.
Aku berhenti di depan gerbang pintu masuk, menatap tempat kursus dengan seksama. Kali ini aku masuk sip yang berbeda, akankah ada perbedaan? Hatiku meragu, entah kenapa. Bukan ragu, lebih tepatnya adalah takut.
Takut anak-anak sip ini yang tidak cocok dengan sifat dan karakterku nanti. Suasana nya juga mungkin, yang tentu akan mempengaruhi suasana ku juga dan itu berarti akan mempengaruhiku belajar menjahit. Aku berdoa dalam hati semoga sip b baik-baik semua.
“Bismillah.” Aku melangkah masuk ke dalam tempat kursus yang ternyata sudah ada Bu Nining.
Aku mencium tangan Bu Nining terlebih dahulu sebelum duduk di tempat Teh Sabila. Mendekati meja seorang perempuan yang memakai kerudung cokelat menghampiriku, “teteh yang waktu itu ya?”
Aku mengingat-ngingat wajah perempuan di depanku itu, oh iya dia yang aku temui, waktu kapan hari aku pulang telat.“Iya teh.” Aku menjawab dengan sedikit gugup. Takut tidak bisa beradaptasi dengan sip b.
Melihat aku yang duduk dan berbenah di meja jahit, dia kembali bertanya. “Masuk sip b?” Aku menjawabnya dengan anggukan kepala.
Dia pergi, entah menuju temannya mungkin.
Beberapa saat kemudian perempuan itu kembali mendekati mejaku. Katanya mesin yang akan di gunakan olehnya itu masih di pakai temannya. Terpaksa dia menunggu. Aku beruntung karena tadi kata Bu Nining aku boleh melakukan menjahit karena aku sedikit tertinggal materi dari yang lain di sip b ini.
“Dengan teteh siapa?” Perempuan itu kembali buka suara.
Untuk membuktikan jika dia berbicara padaku, aku menunjuk diriku sendiri sebelum menjawab, “aku teh?” Melihat anggukan itu akhrinya aku menjawabnya. “Permata teh, kalau teteh?”
“Titania, panggil aja Titan.” Jawabnya yang kemudian dia duduk di sebelah mejaku, orang yang duduk di sebelahku itu sedang menyetorkan hasilnya kepada Bu NIning.
Aku jadi tersenyum manis kepada Teh Titan, “salam kenal teh.” Dia balas tersenyum ke arahku sebelum menyalakan mesin jahitnya. Namanya itu sedikit unik dan aneh, mirip dengan partikel dalam kimia, Titan.
***
__ADS_1
Saking seriusnya menjahit, aku tidak sadar jika banyak pasang mata yang melihat ke arahku. Apakah aku alien sehingga harus di tatap seperti itu. Aku sudah seperti selebritis saja yang punya satu kesalahan, tapi di anggap fatal di mata masyarakat. Aku bergidik, kok menyamakan diriku dengan artis sih. Aku kan bukan artis.
“Teh dari sip a?” seorang laki-laki yang ku taksir usianya di atasku itu menyapa.
Aku menatapnya, tanganku asyik membenarkan kain yang akan ku jahit, “iya a.” Ucapku ramah.
“Kenapa pindah?” dia menatapku lekat-lekat.
Aku terdiam sebentar, menjaci jawaban palig pas, “ada urusan siangnya.” jawabku singkat tapi tidak menghilangkan kesan ramah.
Dia ber o ria. “Ada yang susah?” tanyanya setelah melihatku yang memang terlihat bingung.
“Ini lupa lagi caranya.” Aduku. Dia pun bangkit dan menghampiri mejaku. Setelah dia bangkit laki-laki yang paling aku hindari datang dan duduk di hadapanku. Merusak mood yang sudah bagus saja.
Dia cengar-cengir kepadaku, “hai ketemu lagi.” Aku hanya tersenyum canggung membalasnya.
“Gimana teh?” pertanyaan itu menyadarkanku.
“Ini habis ini di gimanain lagi ya bingung.” Aku menganggruk kerudung ku.
“Coba sini saya bantu. Teteh minggir dulu saya rapikan sekalian di mesin saja.” Aku menyingkir dan menuruti perkataannya. Dia melakukannya dengan baik. Aku jadi kagum kepadanya dan tentunya berterima kasi banyak.
“Lihat teh.” Aku memperhatikannya. “Simpan yang kecil di atas yang besar, kemudian lipat sesuai pola jahit lah pelan-pelan.”
“Menjahitnya jangan cepat-cepat.” Tambahnya yang membuat aku mengangguk-ngangguk.
Laki-laki yang paling aku hindari itu malah menyimak, “dengerin apa yang bilang Deni, dia itu paling jago.”
“Bisa aja Pandu mah jangan di dengerin.” Kilah A Deni.
Aku hanya bengong melihat perdebatan mereka, “makasih ya a Deni.” Ucapku yang kemudian kembali menekuni perkerjaanku.
“Sama-sama, kamu kayaknya asik juga.” Komentarnya yang hanya ku tanggapi dengan senyuman.
“Kenapa pindah?” tanyanya a Deni yang membuat Pandu yang akan bangkit kembali duduk.
Aku menatap Pandu jengah, “ada urusah siangnya a.”
“Banget.” Jawabku yang membuat kedua laki-laki di dekatku itu semakin penasaran sepertinya dengan urusanku itu yang sebenarnya tidak ada urusannya dengan mereka.
“A Pandu kok malah disini, belum jahit?” pertanyaan Teh Rein yang membuat Pandu gelagapan membuatku sedikit terkikik. Rasain siapa suruh ganggu orang yang sedang dalam tahap belajar.
Pandu melirik ke depan, belakang dan samping kirinya, “tuh Rein masih penuh jadi disini ngobrol sama anak baru.”
“Aku bukan anak baru ya.” Sanggahku yang membuat dia tertawa entah karena apa. Memang aku pelawak apa.
“An-“ ucapan Pandu terhenti ketika Teh Titan memanggilnya. Pandu pun menghampiri Teh Titan.
Pandu yang bangkit, aku yang lega. Akhirnya penggangu itu hilang juga, aku bisa dengan tenang sekarang. Tidak lama a Deni kembali mengajakku mengobrol juga memberitahuku bagaimana cara mengatur gas yang benar.
“Gimana masuk sip b?” aku menatap A Deni dengan bingung.
“Ada perbedaan?” tanyanya lagi. Aku jadi ingat ketika pertama kali aku masuk ke sip a. semua kejadian itu berputar di otakku. Aku juga kembali mengingat tentang kejadian hari.
“Seru.” Komentarku.
“Semoga betah ya.” A Deni bangkit dan menghampiri Ibu Nining.
Entah kenapa aku merasa senang berada di sip b ini. Orang-orangnya selalu membantuku juga mau mengajarkanku yang ketinggalan materi. Belum lagi mereka semua yang memang senang bercanda sepertiku. Aku merasa nyaman berada di sip b.
Jika di sip a aku hanya dekat dengan Mami, disini aku hampir dekat dengan seluruh penghuninya. Menurutku kedua sip di tempat kursus ini sangat baik, tapi entah kenapa aku senang belajar di sip b yang anak-anaknya tidak terlalu serius. Aku juga belajarnya jadi santai, tidak serba diburu-buru.
***
“Jangan lupa ya besok kita mau makan-makan di rumahku sepulang kursus.” Ucap Teh Rein sebelum kami pulang.
Mungkin sip b ini akan mengadakan makan-makan, pikirku. Aku tidak tahu bisa ikut apa tidak karena besak ada jadwal kuliah, lihat besok saja lah.
“Teh Permata ikut ya.” Ajak Teh Rein.
Aku jadi diam di tempat, “aduh gimana ya teh bukannya gak mau, tapi kalau sepulang kursus kayaknya gak bisa.”
__ADS_1
“Yahhh.” Aku tidak tahu apakah Teh Rein kecewa beneran atau hanya formalitas.
“Maaf ya teh ada urusan soalnya.” Sesalku yang di balas oleh senyuman Teh Rein.
Teh Rein ini, bagaimana ya aku mendeskripsikannya. Dia cantik, yaiyalah masa ganteng, pakaiannya mirip ukhti-ukhti yang sekarang lagi tren. Meski begitu Teh Rein orang yang baik, tutur katanya juga lembut dan baik. Tidak suka diajak bercanda, ya menurutnya segala itu tidak patut di bercandakan. Apalagi jika orang-orang senang mempermainkan orang lain.
Maksudnya itu begini, di sip b ini ada seseorang yang selalu di panggil pak Guru.
Nah, pak Guru ini telinganya kurang pendnegaran. Jadi, kalau ingin berbicara padanya kita harus berbicara keras atau dari jarak dekat, agar dia bisa mendengar apa yang kita ucapkan. Karena hal itulah anak-anak sip b sering mengerjainya bahkan ada yang mengolok-ngoloknya.
Menurut Teh Rein hal itu merupakan perbuatan yang tidak baik. Iya sih memang tidak baik, walau aku tidak ikut mengolok-ngolok orang yang disebut oleh Pak Guru itu tetap saja aku ikut tertawa tadi. Habisnya lucu sih orang lain bicara apa dia jawabnya apa.
Sudahlah lebih baik sekarang aku pulang ke rumah. Kali ini aku pulang sendiri karena beda sip dengan teman satu kampungku itu. Jalan kaki sendiri itu ternyata mengenaskan ya, apalagi di siang yang terik begini. Peluh bercucuran di dahi yang tertutup kerudung.
“Assalamualaikum ma.”
Tanpa menunggu Mama menjawab aku melengos masuk kamar. Duduk di kasur yang langsung berhadapan dengan cermin di lemari. Wajahku benar-benar terlihat kuyu. Aku beranjak dan mulai mengambil wudhu untuk mengerjakan kewajibanku. Selepas sholat aku membereskan buku yang akan ku gunakan ketika kuliah nanti.
Selesai dengan urusan kuliah, aku merebahkan diri di kasur. Jam di ponsel menunjukkan pukul setengah satu siang. Tidak ada salahnya jika tidur sebentar sebelum pergi kuliah. Mencoba memejamkan mata dan mulai bergelung dengan alam mimpi.
Tok tok
Tok tok
Rasanya baru tidur sebentar kok sudah di bangunkan lagi, pikirku. “Ta bangun mandi.” Suara Mama dari luar membuatku membuka mata.
Bergumam pelan seraya mencoba bangkit mengambil ponsel. Masih jam satu, aku memejamkan mata kembali dan mengeratkan pelukanku pada guling. “Sebentar ma.”
“Ta.” Teriak Mama dari luar.
Setengah tidak sadar aku menjawab. “Sebentar ma.”
“Ta, sudah setengah dua!” Jeduggg
Aku bangun dengan tergesa. Mengusap dahi yang berbenturan dengan sisi ranjang.
Untung gak benjol. Keluar kamar untuk melihat jam di ruang keluarga. Masih jam satu juga kok, dasar mama. Aku berniat kembali masuk ke kamar.
“Eits mau kemana lagi. Sana mandi.” Mama mencegatku yang akan masuk ke kamar lagi dan melanjutkan mimpi yang tertunda tadi.
“Oh iya ta, minggu depan ada pembukaan tes cpns loh. Mama harap kamu ikutan ya.”
Aku menghela nafas, selalu begitu. Apa-apa di putuskan sendiri seenak jidat. Memang siapa yang mau ikut tes cpns. Masuk kuliah dengan jurusan paling di benci saja harusnya dia bersyukur.
Harus cari kerja ini mah setelah lulus kursus nanti pokoknya, tekadku.
***
Aku menatap jendela kerata.
Dear kakek aku rindu
Kakek aku capek
Tiap hari harus dapat tekanan seperti ini
Belum lagi mama yang selalu memaksaku untuk ikut ini itu aku capek kek,
Bawa aku pergi.
Aku melipat tiket kereta yang sudah aku corat coret itu. berarap dengan menerbangkan tiket ini bisa menghilangkan bebanku, satu saja. Aku tahu semua orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya, tetapi apakah harus dengan cara seperti itu.
Pembukaan CPNS
Aku mencoba membuka pemberitahuan tersebut, membaca syarat-syaratnya dengan seksama. Meski benci entah kenapa aku tidak bisa menolaknya. Apa yang salah dari diriku ini?
“Pemberitahuan kepada calon penumpang yang turun di stasiun cikudapateuh berharap untuk bersiap dan membereskan barang bawaan anda, jangan sampai ada yang tertinggal.”
Kertas yang tadi ku corat-coret tidak ku hiraukan lagi, buru-buru memasukkan ponsel yang sedang di charger. Pulpen yang tadi di pakai untuk corat-coret dan memeriksa apa saja yang kemungkinan bisa tertinggal di kerta.
Sebuah perjalanan yang selalu meninggalkan sesak, menyentakku pada kenyataan. Pada akhirnya kebebasanku memang tidak pernah terwujud. Aku menatap langit yang hari ini terlihat sangat cerah. Sampai kapan harus begini?
__ADS_1