Aku Takut Jatuh Cinta

Aku Takut Jatuh Cinta
Dekat dengan Pandu?


__ADS_3

Kita memang bukan magnet yang jika mendekat saling tarik menarik, tapi aku bukan orang yang dengan mudahnya jatuh dalam kehidupanmu, mengikat diri dengan jerat pesonamu.


-Permata Biru-


Pandu : Sudah punya pacar?


Me : Tidak


Pandu : Wah kebetulan kalau begitu


Me : Maaf mau tidur


Pandu : Katanya tadi sibuk


Aku langsung mematikan data ponsel. Dadaku bergemuruh, bukan karena semacam berdegup akibat jatuh cinta, tapi karena kesal. Punya hak apa dia bertanya seperti itu. Kenal saja baru-bariu ini, kok begitu ya. Kamu itu baik Pandu, tapi baik aja belum cukup untuk lebih dari sekedar teman.


Dengan sangat kesal aku melempar ponsel ke kasur. Membereskan kertas yang berserakan dengan asal , membersihkan segala debu yang ada di kasur. Yang aku inginkan sekarang adalah mengistirahatkan pikiran.


Aku memejamkan mata sejenak, membukanya kembali sembari menatap langit-langit kamar yang berwarna hijau. Tidak! Tidak mungkin! Kenapa bayangan Pandu yang tersenyum mengejek seolah ada di langit-langit kamar. Aku mengucek-ngucek mataku sekali lagi, tidak ada apa-apa disana.


Huft, kenapa sekarang Pandu mengacaukan pikiranku.


Tidak boleh! Bagaimanapun kami baru kenal, meski dia baik dan selalu membantuku. Aku juga belum tentu jatuh cinta padanya kan. Bicara jatuh cinta aku jadi ingat kejadian kelas tiga SMP. Dimana saat mulai jatuh cinta, malah di campakkan, miris sekali.


Apa aku akan jatuh ke lubang yang sama? Jangan sampai itu terjadi. Lebih baik sekarang aku membereskan nulis artikel dulu saja lah daripada memikirkan Pandu.


***


Keluar dari kamar mandi, aku menggosok-gosokkan rambut basah menggunakan handuk. Duduk di ruang keluarga sambil mencari tontonan menarik, sayangnya tidak ada yang menarik.


Mama menyodorkan ponsel padaku. Meski bingung, aku mengambil ponsel itu dari Mama, “dari tadi bunyi terus tuh.” Jelas Mama. Aku mengangguk.


Ada banyak panggilan tak terjawab dari Teh Rahma, ada apa Teh Rahma nelpon pas weekend begini tumben sekali. Aku menelponnya balik.


“Hallo teh?” suara di sebrang sana terlihat sibuk dengan ketikan computer. Aku yakin pasti Teh Rahma lagi di kantor tempatnya bekerja.


“Iya teh?”


“Teteh tadi nelpon ada apa?” aku takut menganggu waktunya bekerja, jadi tanpa basa-basi langsung saja tanya ke intinya.


“Oh itu mau nanyain tugas. Tugas pajak sudah?”


Aku menepuk jidat. Tugas dari dosen killer yang aku sendiri tidka mengerti bagaimana cara mengerjakannya.


“Belum teh.”


“Mau ngerjain bareng?” tawarnya yang sudah pasti akan ku setujui kalau sekarang bukan hari sabtu.


“Yahh tapi jangan sekarang dong.”


“Tenang aja tugasnya juga bukan di kumpulkan hari ini kok, paling dua atau tiga minggu lagi sih kalau gak salah.”


Aku menghela napas lega, syukurlah kalau masih lama. Aku sama sekali belum mengerti tentang pajak ini. Banyak sekali pasalnya, belum lagi bagian-bagiannya.


“Mau ngerjain dimana, di kampus aja ya.”


“Terserah teteh sih.”


“Kalau di rumah teteh gimana?”


Aku terdiam sebentar, “sekalian nginep, ayo dong kali-kali.” Lanjutnya.


“Iya deh nanti bilang Mama dulu.” Ucapku ragu.


Sudha sebesar ini pun Mama masih melarangku menginap di rumah orang, bukan orang temenku. Tidak mengerti jalan pikirannya bagaimana, khawatir sih boleh tapi aku juga ingin bebas kan.


“Jangan sampai enggak ya.”


“Baiklah teh, walaupun gak janji hehe.”


“Sudah dulu ya ta, lagi di kantor nih.”


“Oke semangat teh kerjanya.”


Karena bosan dengan tayangan di televise yang itu-itu saja, aku memutuskan untuk masuk ke kamar saja. Banyak yang harus aku selesaikan hari ini, termasuk tulisan yang baru aku bikin rancangannya kemarin.


Bolak-balik aku membaca rancangan itu, tetapi ide untuk menulis belum muncul juga.

__ADS_1


Lebih baik sekarang aku ngapain ya, kalau main sosmed nanti kecanduan lagi dan susah untuk berhenti. Kalau nonton Youtube, sama aja dengan sosmed. Baca materi tugas, itu sepertinya opsi yang paling aku hindari deh.


Nonton film di laptop saja lah.


Aku pun memutuskan untuk menonton film yang ada di laptop, kali ini aku memilih menonton film Thailand yang berhubungan dengan dunia pendidikan, semoga saja habis menonton ini aku dapat inspirasi untuk menulis.


Awal menonton dulu aku sedikit di buat pusing oleh film ini, entah kapasitas otakku yang masih minim atau memang alurnya yang memang maju mundur dan dari dua sisi. Walau begitu air mataku keluar dengan deras ketika menontonnya.


Terkutuklah orang yang bilang nangis karena film itu menye-menye, karena buatku jika sebuah film berhasil membuat penontonnya ikut terhanyut dengan adegan yang di mainkan. Itu berarti film tersebut telah berhasil menyentuh hati penonton dan acting artis tersebut memang bagus, bukan hanya main peran belaka.


Apalagi dalam film yang berjuduil ‘Teachers Diary’ ini peran wanitanya sangat membuatku menyentuh. Seorang guru yang teguh pendirian dan berani mengambil resiko. Dia tidak mau mengahpus tatonya dan untuk membayar kekeraskepalannya itu, dia harus mengajar di sekolah terpencil yang bernama ‘Sekolah Kapal Selam’.


Dengan mengajarkan metode yang berbeda, yaitu membuat gerakan untuk mempermudah mengingat sesuatu. Bu Ann, bukan hanya seorang guru yang mengajarkan teori, tetapi juga arti tanggung jawab sebagai seorang guru itu sendiri.


Sejatinya, bukan hanya kepuasan materi yang menjadikan seorang guru bahagia, bukan pula mengajar di tempat yang penuh fasilitas nyaman dengan banyak murid, tapi bagaimana masih mempunyai semangat mengajar dengan segala keterbatasan. Ilmu bukan hanya untuk mereka yang mampu kan?


Dalam film ini aku jadi tahu, bahwasanya hidup itu bukan hanya tentang teori. Berikut praktik di dalamnya yang semestinya kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti matematika untuk seorang nelayan.


Sekarang aku mengerti kenapa saat SMA dulu, guru fisika ku selalu membuat kelompok untuk praktik. Jawabannya karena hidup bukan hanya di atas teori. Walau begitu teori juga penting, agar dalam praktiknya tidak hanya asal-asalan.


Aku masih ingat, saat akan menghadapi ujian kenaikan kelas dulu. Guru Fisika kelas 10 memberikan tugas kelompok—berdua—untuk membuat sebuah alat dari materi yang telah di peajari. Kalau tidak salah—aku dan teman sebangkuku—membuat sebuah jembatan hidrolik dari kayu.


Bukan hanya materi yang kami dapatkan, tetapi juga praktik membuat jembatan yang memang terbilang cukup sulit. Jembatan dari kayu lusuh—tidak terpakai—disulap jadi jembatan cantik dengan teori fisika. Meski dengan keterbatasan bahan, tapi jembatan itu jadi dengan desain menarik—menurutku.


Akhirnya aku menemukan satu inspirasi lagi untuk menulis. Ada korelasinya antara menonton film dengan kejadian saat SMA dulu. Tidak menyesal aku dulu masuk jurusan ipa sedangkan sekarang masuk ke ekonomi. Semua ilmu itu bermanfaat, tidak ada yang sia-sia.


Poin-poin untuk menulis artikel sudah ku dapatkan, tinggal menulis artikelnya saja, semoga bisa cepat selesai kalau tidak ada halangan.


“Permata.” Teriak Mama dari luar kamar.


Baru saja berharap tidak ada halangan, eh datang deh halangannya. Sepertinya ide itu harus aku simpan baik-baik terlebih dahulu.


“Iya ma.” Teriakku seraya beranjak untuk mengahmpirinya. Lebih baik aku segera bergegas untuk menghampriinya. Kalua tidak nanti teriakan-teriakan berikutnya akan semakin dahsyat.


“Sini dulu.”


Aku mengahampiri Mama yang berada di dapur. “Ada apa ma?”


“Ta ke supermarket depan dong. Mama butuh margarin sama bahan brownis yang kamu sering beli itu.” nampaknya Mama akan buat kue dan brownies.


Setelah mencuci tangannya, Mama memberiku selembar kertas. “Itu daftar belanjaan yang mesti kamu beli di super market. Ini uanganya.”


***


“Mau di tungguin sekalian teh?”


Aku menatap supermarket di depanku dengan gamang, sepertinya penuh. “Tidak usah mang, takutnya ngantri.”


Tukang ojek yang kebetulan tetanggaku itu mengangguk, setelah menerima uang dariku segera saja dia putar balik dan melajukan kembali motornya. Aku melangkah ke dalam supermarket, benar kan dgaanku di kasir para pembelinya mengantre.


Tanpa menunggu lagi aku langsung menacari bahan-bahan yang sudah di tulis Mama. Pertama aku ke rak bumbu, biasanya brownies itu menyatu dengan bumbu. Setelah mendapatkannya, aku memasukkan itu ke keranjang belanjaan.


Melewati rak mie, aku diam sebentar—melihat-lihat rak mie, aku tertarik dengan ramen yang bersampul merah darah. Melihat dari tampilan bungkusnya—kelihatan enak, aku mengambilnya satu.


Melewati rak alat mandi, aku membeli sabun, rinso, satu pak shampoo set kecil. Kembali melewati rak minuman, aku membeli susu cair full cream yang 500 ml.


“Permata lagi apa?”


Hampir saja aku menjatuhkan botol minuman yang sedang ku pegang. Aku berbalik dan melihat Pandu yang berdiri di belakangku—tersenyum manis. Memang Pandu manis ya? Duh kok jadi mikir—apaan sih.


“Lagi apa?” tanyanya lagi.


Dia pikir orang di supermarket lagi beli apa? Beli kayu gitu. “Lagi beli makanan.” Tanpa menghiraukan kehadiran Pandu, aku kembali melangkah.


“Kamu gak tanya gitu aku kesini mau apa?”


Aku mengambil dua margarin—mana yang lebih bagus ya—aku menimbang-nimbang margarin mana yang aku akan beli. Ku kira Pandu sudha pergi dari hadapanku—ternyata tidak. “Memangnya kalau di supermarket, mau beli semen?”


Pandu terkekeh, kok aku jadi merinding ya. Sudahlah, lebih baik aku segera memili margarin mana yang akan ku beli. Aku mencoba merogoh saku, mencari keberadaan ponselku yang sepertinya tidak ada. Aku menepuk jidat, pasti ketinggalan di kasur.


“Habis ini mau kemana?”


“Mau pulang lah.”


“Mau di anterin.”


Aku berbalik, menatap Pandu jengah. “Aku bisa sendiri!” tekanku yang langsung ngeloyor menuju kasir.

__ADS_1


“Beneran gak mau?” tawarnya lagi.


Aku menggeleng, mulai bosan dengan antrean yang tidak panjang, tapi lama sekali ini. Berharap segera pergi darisini—tidak melihat Pandu lagi. Di belakangku—Pandu—bukannya diam, tetapi malah bersiul yang membuatku semakin enek di dekatnya.


Cepat-cepatlah wahai kasir dalam melayani.


Mau liat ponsel, tidak bawa ponsel. Nasib, nasib harus terima kebosanan akut seperti ini. Ada teman, tingkahnya absurd bukan main. Demi mengusir kebosanan aku mengecek kembali barang-barang yang di beli takut ada yang terlewat, bisa gawat kalau lupa beli sesuatu.


“Totalnya jadi 150 ribu mbak, mau pakai uang cash atau debit.”


“Pakai uang cash saja teh.” Aku memberikan tiga lembar uang limah puluh ribuan.


“Ada lagi yang mau di beli, ini minuman dan rotinya lagi promo, beli dua gratis satu barangkali tetehnya mau beli untuk di rumah.”


Aku tersenyum ramah seraya menggelengkan kepala, “saya sukanya air putih mbak bukan berwarna hehe, kalau roti ini Mama saya mau bikin kue.” Ucapku seraya menunjukkan beberapa bahan kue padanya.


Agak tidak sopan sih berkata demikian, memang sifat jailku saja yang entah kenapa tiba-tiba muncul begitu saja. Setelah beres dengan pembayaran, aku segera keluar sambil mengecek struk yang di terima, barangkali ada salah hitung.


“Receh banget sih lawakannya.” Kali ini aku tidak kaget karena sedang fokus mengecek struk. Tanpa melihat Pandu aku berjalan mendahuluinya.


“Beneran gak mau di anterin, aku baik loh akan mengentarkan sampai dengan selamat ke tujuan.”


“Gak!”


“Galak amat, aku aman loh gak gigit.”


Emang aku nganggap dia anjing kah, kan tidak. “Justru kalau ikut sama kamu itu gak aman.” Ucapku seraya naik ojek, meninggalkan dia yang terbengong sendirian.


Selama dalam perjalana aku berpikir, kenapa apes sekali hair ini bisa bertemu dengan Pandu. Belanja barengan lagi, kenapa ya bisa jadi terus bertemu dengan Pandu, selain bertemu di tempat kursus?


“Neng ini belanjaannya.” Hampir saja aku lupa dengan belanjaan yang di simpan di depan motor ojek.


Aku berbalik dan menghampiri ojek itu lagi, “maaf ya pak lupa.”


“Ah gak apa-apa kok neng. Jangan sering lupa, sayang masih muda.” Aku tersenyum canggung padanya.


Aku menghampiri Mama yang duduk di depan televise. “Tumben sekali lama, kamu belanja dimana sih?” tanya Mama begitu aku duduk di sampingnya.


“Salahin aja kasirnya yang ngelayaninnya lama.”


“Nyalahin orang lain lagi.”


“Kalau mama gak percaya pergi aja sendiri.” Ucapku yang melengos masuk ke kamar.


Bukannya bilang terima kasih atau apa ini malah nyalahin anaknya karena lama. Sudah tahu menunggu itu melelahkan, apalagi menunggu yang tidak pasti. Apaan sih jadi ngaco, lanjutin buat artikel lagi mending.


Saking asyiknya menulis artikel tidak sadar sudah mau magrib lagi. Aku membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas kasur, di bawah kasur serta di meja. Habis magrib aku istirahat sebentar sepertinya, mengisi amunisi dan melihat grup apakah ada tugas atau tidak.


Aku mencari ponsel di kasur, tumben sekali banyak notifikasi yang masuk. Aku membacanya satu persatu dari atas. Dari grup kelas yang berisi pengumuman tugas dan kelompok. Aku sekelompok lagi dengan A Syarif dalam mata kuliah studi islam 3, syukurlah tidak perlu penyesuaian lagi. Sisanya hanya ngobrol ngaler ngidul tidak jelas, complain tentang tugas dan segala protesan lainnya.


Dari grup kepenulisan online tidak ada tugas hari ini, bebas saja kalau mau bikin puisi silahkan kalau tidak juga tidak apa-apa. Karena hari ini lelah aku rehat dulu dalam membuat puisi. Paling nanti kalau ada hal penting aku akan membuatnya.


Beralih ke chat Agla yang mengabarkan bahwa besok jadi ke cfd. Oke oke saja sih, toh sembari olahraga. Hmm sudah berapa lama ya tidak olahraga. Ada chat dari Pandu, aku ragu membukannya atau tidak.


Pandu : Besok ada acara?


Me : Iya


Pandu : Sama siapa?


Me : Kepo


Pandu :


Kepo itu sejenis makanan bukan?


Yah kok gak di balas lagi sih


Sudah seneng loh aku tadi kamu mau balas


Apa salah dan dosaku sayang


Sampai kau tidak membalas pesanku


Jangan gitu, jangan gitu


Nanti beneran sayang

__ADS_1


Hehe maaf jadi nyanyi


Aku mematikan data lebih cepat dari biasanya, sejenis apa Pandu itu sebenarnya. Suka sekali membuat hidupku menjadi tidak tenang. Memikirkannya membuat kepalaku pening, abaikan saja lah dia ini. Aku harus menyelesaikan tugas artikel dengan segera.


__ADS_2