
Ternyata walau telah berlalu rasa sakit itu masih tetap ada.
-Permata Biru-
Pasar Baru, Januari 2020 Bandung
Sepulang dari tebing keraton aku sengaja mampir terlebih dahulu ke pasar baru untuk membeli beberapa oleh-oleh. Selain cemilan tentu saja banyak oleh-oleh khas sunda yang di jual disini. Salah satunya batik Cirebon. Sebagai pecinta fashion, aku menyempatkan diri untuk melihat-lihat di toko pakaian batik.
“Silahkan neng batiknya yang 50 ribuan ada, 100 ribu juga ada yang 200 juga ada. Tinggal pilih, barangnya bagus-bagus langsung dari pabriknya.”
“Ayo di pilih harga grosiran barang satuan.”
“Ayo model butik harga rumahan.”
“Ramah lingkungan tidak boros di kantong.”
“Ayo di pilih silahkan, bapak ibu tuan sekalian. Ada jaminan tidak akan pernah di kecewakan.”
Jaminan untuk tidak patah hati ada gak ya?
Aku jadi terkikik dalam hati. Yah namanya juga pasar pasti ramai dengan penjual dan pembeli. Heboh sana sini, tawar kesana-kemari. Pokoknya ribut lah, tidak pernah sepi.
Aku menatap sebuah baju batik dongker yang sangat cantik coraknya. Aku menghampiri toko tersebut untuk melihat dan menanyakan harganya. Belum sempat sampai ke toko itu ada yang menarik perhatianku.
“Kak mau beli jarum jahitnya dan alatt jahitnya.”
Gunting dan jarum itu kembali mengingatkanku.
***
Tempat kursus, September 2018
Tidak terasa sudah hampir dua minggu aku kursus disini. Sekarang aku sudah mulai megang mesin jahit. Rasanya nano nano, ada senang dan juga merasa kesulitan. Semakin naik tingkat semakin pula di tuntut keseriusannya.
“Teh ini bagaimana caranya?” tanyaku pada Teh Sabila yang sedang mencoba menjahit kerah.
“Sebentar ya ces Mami lagi sibuk ni.” Sepertinya benar sedang sibuk Mami aka Teh Sabila.
“Iya deh mami.” Sahutku lesu.
Entah bagaimana awalnya Teh Sabila memanggilku dengan sebutan ces singkatan dari inces atau Princes, sebenarnya aku tidak ada mirip-miripnya dengan Princes hanya saja menurut dia tingkah laku ku mirip Princes. Maksudnya, lemah lembut dan selalu hati-hati akan sesuatu. Dan aku memanggil dia dengan sebutan Mami, karena menurutku dia terlihat dewasa dan selalu menasihatiku seperti seorang Ibu pada anaknya.
Dari situlah kami mulai akrab dan saling menasihati. Dia yang masih bingung dengan pacarnya dan aku dengan keresahanku mengenai calon imam. Padahal Mami saja yang usianya sudah 25 tahun masih santai-santai saja, sedangkan saya yang masih 18 tahun saja labil.
Daripada memikirkan jodoh lebih baik aku mulai menekuni belajar menjahit. Aku menghampiri Teh Puteri yang sedang serius menjahit.
“Teh sudah beres?”
“Belum teh sedikit lagi.”
“Permata boleh pinjam mesinnya, aku belum nyobain sama sekali nih.”
“Oh iya sebentar ya.”
Di sela-sela menunggu itu aku manfaatkan untuk memperhatikan Teh Puteri yang sedang menjahit. Pantas saja Bu Nining selalu memujinya, Teh Puteri begitu lihai menjalankan mesin jahitnya.
“Teh sulit ya?”
“Iya ini yang bagian meliuk-liuk nya harus benar-benar pas.”
“Sudah beres nih, kamu mau coba?.” Aku mengangguk dengan semangat.
Lumayan juga, hasilnya ancur. Ternyata benar apa yang Mami katakana di awal, susah. Semangat Permata tidak ada yang tidak mudah di dunia ini selama kita mau berusaha. Aku terus bergumam demikian agar tidak mudah patah semangat.
Walaupun hasilnya jelek tetap saja aku harus menyetorkannya kepada Bu Nining. Aku sengaja maju paling akhir ketika pulang, malu di lihat orang lain hasil kerjaku itu.
“Aduh Permata ini apaan.”
“Hehe iya bu habisnya susah sih.”
“Besok ulang lagi ya.” Aku mengangguk dengan lemas dan mulai berjalan keluar.
“Teh kok belum pulang?” tanyaku pada Teh Dini yang berhijab syar’i.
“Belum teh ini masih mau lanjut teteh mau ikutan.”
“Loh bisa ya teh?” tanyaku heran.
“Sebenarnya sih enggak."
“Aku mau ikutan teh.”
Aku segera berlari kembali ke meja ibu.
“Ibu boleh ya pulang ini menjahit lagi.”
“Iya boleh tapi nanti sebelah saja yang di nyalainnya.”
“Oke bu.”
“Pintunya gak ibu kunci.”
“Iya bu.”
Aku kembali ke depan menghampiri Teh Dini yang masih mengobrol dengan Teh Lina Maheswari. Sepertinya mereka terlibat dalam percakapan yang seru.
“Gimana teh kata ibu tadi?”
“Boleh kok.”
“Teh aku mau beli makanan dulu teteh mau ikut?”
“Gak ah sok aja teh.”
Aku jajan terlebih dahulu dengan Teh Lina. Selesai dengan urusan perut aku dan Teh Lina kembali ke tempat kursus.
“Teh Lina mau ikutan tambahan waktu juga?”
Aku bertanya ketika kami masih di perjalanan menuju tempat kursus. Di tempat kursus ini banyak sekali pedagang, karena memang dekat dengan sekolah MAN atau Madrasah Aliyah Negeri. Bahkan, tempat kursus pun sebenarnya masih ada di bangunan sekolah. Anak-anak MAN banyak yang ikut kursus selepas lulus dari MAN. Lumayan pelatihan sebelum kerja yang sebenarnya.
“Gak, mau sholat disini aja. Sekalian nunggu adzan, daripada di masjid sendirian di tempat kursus kana da teman.”
Iya juga ya.
“Ohh.”
“Teh Lina sekarang sudah jahit juga?”
“Masih obras kenapa gitu.”
Dalan hati aku berpikir kenapa jawaban Teh Lina itu seperti selalu ketus sih. Lagi pula aku hanya tanya dan itu pun dengan cara baik-baik tidak menyentak, ah husnudzon saja lah mungkin memang wataknya seperti itu.
__ADS_1
“Bagian mana Teh sekarang?”
“Masih saku, puas!”
Loh kok dia malah begitu sih, ninggalin aku gitu aja juga dengan jawaban yang tidak mengenakan sama sekali. Aku menatap punggung Teh Lina yang menjauh. Segera saja menyusulnya sebelum adzan berkumandang, karena jika sudah adzan berarti waktuku tinggal sebentar lagi sebelum sip b masuk kursus.
“Sudah Teh makannya?”
“Sudah nih Teh.” Aku jadi mengelus perutku.
“Teh Dini mau jajan juga?”
“Ah gak kok. Teteh mau sholat udah adzan ini. Kamu mau sholat juga?”
“Gak Teh lagi halangan.”
“Yaudah kalau gitu aku sholat dulu ya.”
“Iya sok Teh mangga.”
Aku mulai menghidupkan mesin yang akan aku gunakan. Kata Teh Dini tadi, mesin yang di ujung ini nyaman dipakai. Bisa iya bisa tidak, tapi coba aja dulu siapa tahu benar apa yang di katakan Teh Dini itu.
Benar sih aku sedikit bisa menjinakan mesin ini. Walau masih banyak salah juga ketika menjahit di kertasnya. Saking fokusnya aku sampai tidak sadar bahwa ada orang yang masuk ke dalam. Apalagi disini hanya aku sendiri, Teh Lina sudah pulang duluan selepas sholat dan Teh Dini yang baru saja pulang.
“Asslamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Jawabku yang masih fokus ke mesin jahit.
Aku bahkan tidak melihat orang yang masuk itu siapa, entah ibu atau bukan. Tapi kalau ibu gak mungkin sih soalnya hafal betul dengan suara khas nya.
“Eh kok?” suara itu akhirnya mengalihkan dunia ku, eh.
Perhatianku beralih menatap wajah yang sepertinya ku kenali. Tapi siapa ya? Aku jadi bingung sendiri memikirkannya. Mungkin memang pernah ketemu tapi aku lupa ketemu dimana. Atau memang aku yang pelupa kali ya.
Lebih baik segera selesaikan pekerjaanku agar besok bisa ganti materi dan aku bisa lebih banyak mengusai urusan jahit menjahit ini.
“Asslamualaikum.”
Tiba-tiba saja datang dua orang perempuan yang entah siapa aku tidak kenal. Aku malu melihat mereka dan mereka kaget melihatku.
“Belum pulang Teh?”
“Hehe iya belum.”
“Ngejahit apa?”
“Masih di kertas.”
“Oh.”
“Eh ini mesinnya belum mau di pakai kan?”
“Belum datang kok yang punya nya juga.”
Ooo aku menjawab dalam hati.
“Teteh sip a?”
“Iya Teh.”
Mumpung sudah ada orang di sip b sekalian aja aku tanya-tanya ah.
“Mau pindah?”
Aku menggaruk kepalaku yang tertutup kerudung, bingung mau menjelaskannya bagaimana.
“Itu ada urusan siangnya jadi hanya bisa pagi aja.”
“Begitu ya Teh.”
“Kita mah disini berbaur aja kok, orangnya juga asik-asik. Kalau di sip a gimana Teh.”
“Ya gitu sih sama juga hehe.”
“Ada Puteri yang jago ya.” Aku hanya mengangguk karena kembali melanjutkan pekerjaanku.
Karena malu sudah banyak yang datang akhirnya aku membereskan barangku. Masih ada waktu untuk belajar besok. Kebetulan sekali ibu datang.
“Ibu Permata pulang dulu ya.”
“Sudah selesai.”
“Belum sih.”
“Mana sini coba lihat.”
Dengan ragu-ragu aku menyerahkannya, bahkan sempat menutup mata karena takut jelek.
“Lumayan hanya masih banyak yang tidak sesuai jalur.”
“Hehehe iya susah bu.”
“Makanya belajar.”
Terus tadi disini itu aku hanya nongkrong gitu. Aku jadi membatin seketika. Baiklah berdebat dengan Bu Nining itu hanya buang-buang energi saja, tidak akan pernah menang.
“Sudah besok belajar lagi ya.”
“Baik bu.”
Aku salim terlebih dahulu sebelum pamit pulang.
“Assalamualaikum, duluan ya Teh.”
“Waalaikumsalam.”
***
**Ta sibuk gak?
Kenapa Agla?
Gue pengen curhat nih
Curhat apaan
Bentar ya aku rebahan dulu capek nih, panas baru pulang.
Iya deh yang liburnya bermanfaat puas-puasin dulu deh istirahatnya nanti aku telepon.
Baik boss**
__ADS_1
Aku memejamkan mata sejenak. Mengingat-ngingat kejadian yang telah terjadi hari ini. Kok tiba-tiba aku jadi ingat Joy sih saat sedang sendiri seperti ini. Entahlah aku merasa ada yang dia sembunyiin akhir-akhir ini. Apa hanya sekadar perasaanku saja mungkin.
Drrrr
**Hallo
Udah rebahannya
Kalau belum gak akan angkat Agla yang ganteng tapi sedikit
Apa**
**Bukan apa-apa kok
Ta menurut mu salah gak sih kalau kita menjauh karena risih
Ya sah sah saja kok itu kan hak kamu, kalau emang dia mengganggu kenapa enggak
Oke deh thanks ya**
Udah? Gitu aja dasar manusia geje batinku.
***
“Permata kamu masih kertas?” tanya Mami aka Teh Sabila.
“Iya nih Teh, kok susah ya.”
Aku jadi memperhatikan Teh Diana yang sedang memberikan hasilnya kepada Ibu.
“Teh kok bisa cepat sih?” aku sedikit heran karena memang materi kami itu barengan di kasihnya dan sekarang Teh Diana duluan selesai. Tentu aku gak mau kalah dong.
“Yaiyalah cepet orang di boseh.” Sambar Andri yang baru ku kenal beberapa hari ini. Boseh itu dalam Bahasa Indonesia bisa berarti gowes. Seperti sepeda gitu.
“Hah maksudnya?” aku tambah bingung oleh ucapan Andri.
“Stt.” Teh Diana berbisik padaku, lalu mengajakku untuk mengikutinya.
Dia mulai menjalankan mesin dan memperlihatkan bagaimana cara memboseh itu. jadi seperti itu toh ya pantas saja bisa cepat. Cuma resikonya adalah cangkel atau pegel.
“Teh dulu teteh juga di boseh juga pas di kertas?”
“Dikit sih ces.” Jawaban Mami yang mau tak mau sepertinya aku juga harus mencobanya. Sedikit sulit apabila harus di jahit, apalagi aku masih belum bisa dengan benar mengatur gas nya.
“Teh emang gak apa-apa kalau di boseh?”aku sedikit berbisik ketika menanyakan hal itu.
“Gak apa-apa asal gak ketahuan aja.”
Aku akhirnya mengangguk.
***
“Bu hari ini Permata boleh tambahan waktu lagi ya.” Pintaku kepada Bu Nining.
Aku memang belum lancar jadinya harus latihan ekstra.
“Boleh aja sih, nih kuncinya kamu pegang.”
Dengan senang hati aku menerimanya. Setelah Bu Nining bergegas pulang aku kembali menekuni kegiatan ku. Mengambil kembali barang yang sudah aku masukan ke dalam tas. Fighthing Permata!
Kali ini aku hanya sendirian karena Teh Dina yang tidak masuk juga Teh Lina yang langsung ke masjid, menunggu adzan nya di masjid saja katanya. Baiklah aku hanya sendirian sekarang. Walaupun sepi tapi rasanya sangat nyaman sekali karena belajar di keheningan itu bisa fokus.
Aku benar-benar fokus kepada pekerjaanku, tidak ada yang menggagu, tidak ada kebisingan juga tidak ada bisik-bisik tetangga yang mengganggu konsentrasi. Benar-benar sangat tenang dan belajar pun jadi nyaman.
“Asslamuailakum.”
“Eh copot, aww.” Kaget dengan suara salam jariku jadi sedikit tergunting ketika membongkar jahitan yang salah.
Aku yang masih sibuk tidak memperhatikan siapa yang datang. “Waalaikumsalam.”
“Gak apa-apa teh?”
“Gak apa-apa kok.”
Aku mendongak untuk melihat siapa yang sudah datang.
“Kamu.” “Kamu.” Ucap kami bersamaan, sekarang aku ingat siapa dia.
“Wah gak sangka ya ketemu lagi.”
Yaiyalah orang satu tempat kursus, ujarku dalam hati. Aku hanya tersenyum untuk menanggapinya. Tidak lama dia duduk di depanku.
“Kok belum pulang?”
Gak bisa lihat apa kalau masih ngerjain jahitannya. Tidak mendapat respon dariku dia akhirnya melihat-lihat hasil jahitanku yang memang ku simpan di meja samping depannya.
“Lumayan, masih banyak yang salah jalur ini.”
Aku memutar bola mataku malas, iya aku juga tahu masih banyak yang belok dan gak lurus. Eh yang belok malah jadi lurus.
“Sudah berapa lama menjahit ini.”
Aku jadi terdiam, berapa hari ya aku menjahit ini. Aku mengangkat bahu tidak tahu. Selain malas menjawab aku sedang malas berhitung dan mengingat hari yang sudah lalu. Jadi baper kan.
Sepertinya teman-temannya sudah pada datang karena di luar terlihat ramai orang yang mengobrol. Dia pun bangkit dan berpamitan untuk menghampiri teman-temannya itu. Aku bersyukur dalam hati karena tidak ada yang mengganggu kali ini.
“Alhamdulillah lumayan lah biarin susah kalau mau kesempurnaan itu.”
“Asslamulaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Akhirnya ibu datang juga. Aku membereskan barangku terlebih dahulu sebeum menyerahkan hasilnya kepada Bu Nining.
“Permata sudah. Mana hasilnya?”
Aku menyodorkan padanya selembar kertas yang kurasa itu yang paling baik dari yang terjelek. “Ini Bu.”
“Masih saja ada yang keluar garis. Ya sudahlah gak apa-apa biar ibu aja yang nilai.”
Yess sorakku dalam hati, terima kasih banyak ibu nining.
“Kalau gitu Permata pamit ya bu Asslamulaikum.”
“Waalaikumsalam.”
***
Bandung, 2020
Rasanya air mataku ingin merebak saat ini juga. Mengingat masa-masa itu sedikit rindu dengan teman-temanku, juga sesak yang tak terhingga. Kalau bisa mengulang waktu, aku ingin mengulang semuanya dari awal. Memperbaiki semua kesalahan yang telah aku perbuat. Sayangnya semua sudah menjadi sebuah kenangan, yang mau tak mau akan selalu ada dalam ingatanku sesakit apapun kenangan itu.
__ADS_1