Aku Takut Jatuh Cinta

Aku Takut Jatuh Cinta
Arti Teman


__ADS_3

Apa arti teman bagimu?


-Permata Biru-


Seperti biasa aku menjadi orang pertama yang datang ke kelas. Untung saja hari ini bawa novel, jadi bisa mengusir rasa bosan dengan membaca novel. Bosan, sangat bosan. Membaca novel ternyata tidak mengusi kebosananku.


Kursi yang ku duduki ini ku balikan menghadap ke jendela. Menatap lalu lalang kendaraan yang melaju dengan cepat. Setiap hari jalanan di depan kampus ini tidak pernah sepi, bahkan saat malam menjelang. Semakin ramai. Suara gesekan roda dengan jalan, klakson yang menggema terdengar sampai ke lantai atas kampus. Tempatku melihat jalanan yang ramai itu.


Di sebrang aku melihat orang-orang berlalu-lalang, keluar-masuk kampus yang cukup besar itu. Kehidupan ini memang tidak akan pernah sepi sepertinya. Suara deret pintu yang terbuka membuatku menoleh.


“Permata.” Teriakan seseorang yang kini berlari kecil ke arahku itu membuat aku bangkit.


Dia memeluk erat, seolah kami sudah berpisah lama. Rentang waktu tiga bulan, apakah bisa di sebut lama, entahlah. Aku membalas pelukannya tak kalah erat.


Dia tersenyum manis kearahku. “Kangen.” Ucapnya yang mampu membuatku tersenyum. “Gimana liburannya?” tanyanya yang kini mengajak duduk di depan, seperti biasa.


Mengingat kegiatan yang ku lakukan selama beberapa bulan ini, tidak ada yang menarik. “Ya gitulah, gimana liburan Teh Rahma.”


Seperti mahasiswi kebanyakan, masih menggunakan buku sebagai media mencatat. “Naik gunung lagi?” tanyaku yang sudah menyimpan pensil dan teman-temannya di meja.


Senyumnya merekah di wajah putihnya, “Jadi kami muncak ke gunung guntur.” Jawab Teh Rahma yang kini memainkan ponselnya.


Dia mengotak-ngatik ponselnya, “ta foto yuk.” Ajaknya padaku yang kini menekuni baca novel.


Aku menggeleng, “enggak ah.” Tolakku.


“Ayo dong ta, perdana kuliah nih.” Dengan sangat terpaksa aku memenuhi ajakannya.


“Senyum.” Memaksakan senyum walau sebenarnya tidak ingin sama sekali.


Sejak kehilangan ponsel beberapa tahun yang lalu, aku jadi tidak suka di foto apalagi selfie. Padahal dulu saat SMA, foto sudah seperti hobiku. Bukan SMA sejak SMP mungkin aku tidak ingat. Saat itu sangat gencar-gencarnya ponsel sam**ng atau merek cina yang masih sedikit diminati. Tidak seperti sekarang, sudah bertebaran dimana-mana.


Sejak saat itu aku menghindari kegiatan yang bernama selfie, paling sesekali saja jika diajak teman, seperti saat ini. Paling sering saat bertemu dengan teman-teman SMA ku, itu pun hanya dengan lima orang itu aku akrab yang lainnya berteman biasa saja. Tidak dekat.


Suara pintu berderit lagi, tandanya ada orang yang masuk lagi. Kali ini aku tidak bisa melihat siapa orangnya karena sudah duduk di depan dan posisi pintu ada di belakang, menghadap ke jendela.


“Halo Permata, Halo Rahma.” Ternyata a Syarif yang baru datang, kami ber tos ria dengannya.


“Hai a Syarif.” Aku tersenyum padanya yang kini duduk di sampingku. Ternyata dia tidak sendiri.


“Hai.” Dwi namanya, perempuan yang tinggi dan sedikit besar itu duduk di pojok dekat a Syarif.


Aku dan Dwi kenal sejak ospek dulu. Dwi merupakan teman dekat temanku di kelompok ospek. Dwi ini penggemar kpop, cocoklah kalau ngorol dengan a Syarif, penyuka sesama kpop. Aku pernah bertanya padanya dulu kenapa dia suka kpop, jawabannya malah pertanyaan lagi.


Memangnya salah kalau laki-laki suka kpop, ya tidak juga sih.


Waktu sudah menunjukkan pukul set 5, tapi teman-temanku belum banyak yang datang. Hanya ada beberapa anak yang sepertinya pindahan dari kelas percapatan. Teh Rahma sendiri sudah asyik berfoto dan mengobrol dengan Teh Syarah dan Putri.


Obrolan mereka sepertinya tidak sefrekuensi denganku yang hanya membahas sekitar dunia kepenulisan. Mungkin itulah sebabnya aku tidak terlalu dekat dengan mereka. Teh Rahma, Teh Syarah, Putri, Teh Iis, dan Putri yang kerap kali membicarakan perihal hubungan mereka dengan pacarnya. Lah aku kan jomblo? Bagaimana bisa nyambung coba?


Lagipula entah kenapa membahas sesuatu yang pribadi itu seringkali membuatku merasa tak nyaman. Hanya segelintir orang yang sering aku ajak curhat mengenai urusan percintaanku yang memang tidak bisa di bilang bagus itu.


“Assalamualaikum.” Seorang dosen laki-laki yang tidak pernah ku lihat batang hidungnya itu, mungkin baru kali ini aku melihatnya.


Dia menyimpan tas nya di kursi dan mulai memperhatikan kami. Kami yang kini membereskan kursi dan duduk dengan rapi.


“Kalian kenal dengan bapak?”


“Tidak.” Jawab kami serempak.


“Perkenalkan nama bapak Budi. Bapak mengajar manejemen kali ini. bla bla.”

__ADS_1


Setelah perkulaiahan yang memakan waktu 4 jam itu kami bersiap pulang. Mata kuliah pertama tadi adalah pak Budi yang kedua ada statistika yang dosennya itu memang sudah mengajar dari semester satu aku kuliah disini. Aku merasa bosan kalau terus belajar dengan dosen itu.


Teman-temanku yang lain berencana akan makan-makan dulu di luar. Aku tidak ikutan karena memang takut pulang terlalu malam. Kereta! Jeritku yang buru-buru keluar kelas.


***


“Teh Rahma aku boleh minta tolong gak buat pesenin ojek onlie?” jarak rumah dan kampus yang jauh membuatku harus naik kereta, itu karena tidak mau kost.


Ini merupakan kali pertama aku naik kereta malam. Biasanya aku pulang di jemput oleh bapak atau paman. Teh Rahma mengetik sesuatu sebelum membuka aplikasi gojek. Apalah dayaku yang gaptek, tapi hidup didunia yang serba canggih.


“Oh boleh bentar ya Permata.” Matanya fokus ke ponsel, tidak menatap ku sama sekali. Beda deh yang punya doi mah gak jomlo kayak aku. Nyebur sajalah Permata!


Aku bisa melihat dari jarak kami yang berdiri bersisian, Teh Rahma sudah membuka aplikasi ojek onlie satu itu.“Tapi gak ada potongan gak apa-apa.” Teh Rahma memperlihatkan pesanannya padaku.


Aku melihat nominal yang tertera, masih wajar lah. “Gak apa-apa kok teh.”


“Mau kemana memang ta?“ entah datang darimana Teh Syarah sudah ada disampingku.


Aku menatapnya yang juga sibuk dengan ponsel seperti Teh Rahma, “mau ke stasiun teh.”


“Oh coba aku cek saldonya dulu ya. Semoga aja masih ada, soalnya suka promo kalau pakai gopay.” Aku mengangguk. Di balik sifat Teh Syarah yang orangnya itu selalu telat masuk kuliah dan telat ngerjain tugas, dia orang yang baik juga ternyata.


“Mau ke stasiun mana?”


Aku menyebutkan alamatnya, loading ternyata. Sedikit gelisah karena Teh Syarah sedikit lama mengotak-ngatik ponselnya. Takut ketinggalan kereta nih.


“Ada nih, wah lumayan ada promo Cuma bayar seribu. Kamu gak usah bayar ta.” Binar mataku jadi cerah. Sudah ku bilang kan Teh Syarah ini baik.


Aku tersenyum manis dan menunggu Teh Syarah untuk menunggu di depan, “terima kasih teh.”


“Sama-sama, ayo nunggu di depan. Pengemudinya sebentar lagi tiba katanya.” Aku mengangguk dan mengikuti Teh Syarah yang sudah berjalan terlebih dahulu.


Sampai di depan seperti biasa lalu-lalang kendaraan tidak pernah surut. Apalagi malam, pengendara menjalankannya tidak ada yang pelan-pelan, mungkin ingin cepat pulang ke rumah positif thingking Permata.


Aku menatap Teh Syarah yang sepertinya sedang membalas pesan mamang gojek itu. “Teh syarah bener dia pakai motor vario?” tanyaku ragu sambil sesekali memperhatikan kendaraan yang berhenti di depan halte. Halte itu sendiri udaph seperti pangkalan saja menurutku. Para ojek online berjejer dan mobil yang kemungkinan punya anak kampus sebrang pun terparkir disana.


Teh Syarah mengecek kembali pengemudi, “di aplikasi bener kok vario.” Demi meyakinkanku Teh Syarah menunjukkan ponselnya, bener sih tapi kok gak ada ya.


“Bentar tanyain dulu takutnya dia pakai motor lain.” Aku mengangguk walau dia tidak melihatnya.


Teh Syarah celangak-celinguk ke arah depan. “Katanya udah di depan nih.”


Depan mana kita nungguin gak nongol nongol daritadi, kemana sih tuh mamang gojek. Masa ngilang. Paling nyebelin naik ojek online itu ya seperti saat ini. Menunggu dia yang entah dimana keberadaannya.


“Kita ke depan aja yu nyebrang.” Ajak Teh Syarah.


Dengan perasaan gusar aku mengikuti saran Teh Syarah untuk nyebrang. FYI, aku takut nyebrang, takut dengan kendaraan yang bergerak cepat dan seperti akan menabrak sesuatu di depannya itu. Apalagi ini berada di belokan, pertigaan pula.


“Mana ya?” aku dan Teh Syarah mencari keberadaan tukang ojek satu itu, kan nyebelin emang ini tukang ojek satu, daritadi bilangnya di depan. Depan mana coba? Depan gundulmu!


Sabar, sabar namanya juga manusia tidak luput dari salah dan dosa, rapalku dalam hati. Saking kesalnya ingin di cancel saja deh rasanya dan cari pengemudi baru saja.


Seorang laki-laki yang entah bisa di bilang muda atau tidak menghampiri kami, tak hentinya dia mengecek ponselnya. “Syarah.” Ucap laki-laki itu kepada Teh Syarah.


Teh Syarah mendongak, mengalihkan perhatiannya dari ponsel ke laki-laki itu. “Iya.”


Laki-laki itu mengecek ponselnya selaki lagi.


“Pesan ojek online atas nama Syarah?”


“Pesanan ke stasiun,” tambahnya.

__ADS_1


Aku meneliti laki-laki itu, dia yang akan jadi pengemudiku mala mini. Perasaan aku tadi melihat dia celangak celinguk kok gak ketemu ya, dasar. Teh Syarah dan laki-laki itu akhirnya memperlihatkan ponsel masing-masing, sekadar memastikan jika mereka memang tidak salah orang.


Laki-laki itu menatapku, “maaf ya lama.” Sesalnya.


Aku mengangguk, walau dalam hati ingin sekali mengumpati laki-laki itu. Ini saya sudah ketinggalan kereta ! Kamu mau berhentiin keretanya yang sudah mejatu tidak?! Ingin sekali mengucapkan kata-kata itu di hadapannya yang pasti akan sangat tidak sopan.


Tanpa membuang waktu lagi aku segera mendekati motornya, Dia menyodorkan helm, yang langsung ku pakai. Naik motor dengan hati-hati, takut jatuh atau nanti rok itu bisa tergulung dengan jari-jari kan bahaya.


Laki-laki itu meihatku lewat spion. “Sudah?”


Aku mengangguk bodoh, “sudah.”


Dia mulai menyalakan mesin motornya, bersiap meluncur membelah jalanan kota Bandung yang semakin malam semakin ramai. Aku melambaikan tangan kepada Teh Syarah, “duluan ya Teh Syarah. Terima kasih.”


Teh Syarah ikut melambaikan tangan. “Hati-hati ya, mang jaga teman saya.”


Tanpa banyak kata lagi, kini moor sudah melaju. Dinginnya angina malam membuat aku merapatkan jaket yang di gunakan. “Mau jalan kemana?” tanyanya saat kami sudah melaju.


“Mana saja.” Yang penting cepa dan dekat, sudah ketinggalan kereta nih lanjutku dalam hati. “Yang penting sampai di stasiun,” tambahku.


“Oke siap.”


Aku memang suka menikmati angin yang menerpa wajah dan tubuhku ketika naik motor. Tapi ini? tidak bisa disebut menikmati juga karena tukang ojek ini entah melalui jalan mana. Belok sana, belok sini, kami tidak sampai-sampai. Sialan ini tukang ojek, memang ngeselinnya tidak tanggung-tanggung. Sudah tadi aku menunggu dia yang mencariku dan aku mencarinya, kini dia tidak tahu mau jalan mana sudah tahu aku di buru waktu.


Dia malah membawaku muter-muter dulu. Seringnya aku lewat sini jadi hafal jalur cepat dan tidak, ku kira di belokan depan tadi bakal belok eh ini malah lurus. Malah tambah jauh lah jarak ke stasiun.


Tett tetttt tetttt


Tuh kan keretanya sudah datang. Alamak telat ini mah, harus nunggu satu jam setengah lagi kemungkinan. Aku turun dengan tergesa ketika kami sampai di stasiun, “terima kasih.” Kataku sambil memberikan helmnya.


“Sama-“ ucapannya tidak aku dengarkan kelanjutannya, keburu kereta itu pergi. Aku benci menunggu! Dan kereta itu paling tidak bisa jika harus menunggu, apalagi menungguku yang tidak penting sama sekali, memangnya aku presiden!


“Jangan lupa kasih bintang lima.” Teriak tukang ojek itu, tanganku membentuk tanda oke dari kejauhan semoga saja dia melihat isyaratku.


Saat akan memberi tiket, petugas penjaga gerbang di depanku sudah lebih dulu bertanya. “Kemana teh?”


“Rancaekek.” Jawabku cepat yang kini melihat jam yang terpajang di dinding, telat lima menit! Keretanya memang belum berangkat.


“Sudah gak bisa beli tiket, keretanya mau berangkat ini.” tuh kan. Tidak lama pengumuman keberangkatan terdengar dan kereta itu melaju, meninggalkanku.


Bahuku merosot, bersamaan dengan aku yang duduk di kursi ruang tunggu, “yahh ketinggalan, ”keluhku. Napas tidak teraturku menjadi bukti perjuangan hari ini. Hanya telat beberapa menit saja, di ganti dengan menunggu selama satu setengah jam, kurang sabar apalagi coba!


“Keretanya udah pergi ya?” seorang perempuan yang berjilbab menghampiriku yang sedang meratapi nasib penuh drama ini.


Tanpa menoleh padanya aku menjawab. “Iya teh.” Merasa tidak ada gunanya jika diam disini, aku bangkit.


“Nunggu ini mah.” Gumam perempuan itu yang masih bisa ku dengar. “Satu setengah jam teh,” beritahuku sebelum meninggalkan stasiun yang sepi itu.


“Mau kemana teh?” pertanyaan dari perempuan itu menghentikan langkahku yang akan menuruni tangga.


“Beli makan lapar.” Sahutku.


Dia menatap pembelian tiket yang disana tertera tulisan ‘Tutup’, menatapku kembali. “Mau di belikan tiket sekalian,” tawarnya.


Aku melihat jam, mungkin aku akan lama jika makan, “boleh deh, terima kasih ya.”


Dia tersenyum hangat, “sama-sama.”


Baik, kata itu yang terlintas di otakku mengenai dirinya, “teteha mau nitip.”


Gelengan dari kepalany membuatku melanjutkan langkah kaki. Meninggalkan stasiun yang membuatku kesal.

__ADS_1


Aku berlalu, meninggalkan dia di ruang tunggu sendirian. Untungnya, masih ada orang baik di dunia ini. kekesalanku pun jadi sedikit berkurang.


__ADS_2