
Apa aku tidak akan salah jalan jika membiarkan dia masuk ke dalam kehidupanku?
-Permata Biru-
Mama:
Ta, bapak gak bisa jemput, kamu nanti naik ojek aja ya.
“Kita mau pesen apa lagi?” tanya Teh Rahma kepada teman-temanku.
Teh Syarah yang duduk di sebelahku membolak-balikkan buku menu. “Apa ya, kayaknya ini enak deh mie campur.” Teh Syarah menunjuk salah satu menu yang tidak bisa ku lihat kepada Teh Rahma.
“Gimana kalian mau pesan ini gak?” tanya Teh Rahma yang kini menunjukkan buku menunya pada teman-temanku.
“Kita ngikut aja.” Ucap A Syarif.
Selebihnya aku tidak mendengarkan percakapan mereka karena melamunkan bagaimana aku pulang nanti. Naik ojek? Aku takut di culik apalagi malam-malam begini. Gimana dong, apa aku harus minta bantuan seseorang, siapa? Temanku yang dekat denganku hanya sedikit.
Pandu : Ta. Sibuk?
Pandu? Apa aku minta bantuan Pandu saja? Tapi aku tidak mau seolah memberi harapan padanya, lalu aku pulang nanti naik apa coba.
Me : Pandu boleh minta tolong
Pandu : Apa?
Ragu-ragu jariku mengetikkan sesuatu di ponsel. Apa harus aku lakukan?
Me : Aku tidak ada yang jemput. Boleh minta tolong buat jemput di stasiun
Pandu : Bisa. Kapan?
Me : Nanti kabarin lagi, tapi beneran mau ?
Pandu : Kan sudah bilang kalau tidak ada yang jemput kabarin aja
Me : Pandu, makasih ya. Maaf kalau ngerepotin
Pandu : Tidak apa-apa, tidak repot kok.
Aku menghela napas lega. Ada sedikit keraguan sebenarnya saat meminta bantuan Pandu. Aku juga bingung harus minta bantuan siapa. Hanya Bapak yang biasanya menjemputku kuliah. Huuh, begini kalau kurang bergaul itu.
“Ta melamun aja, ngopi apa ngopi.” Canda A Asep yang mmebuat semuanya melihat ke arahku yang menunduk. Aku jadi salah tingkah di buatnya.
“Cie Permata ikut.” Goda Teh Iis yang mmebuatku semakin malu, untung saja sekarang malam, kalau siang pasti ketahuan kalau aku blushing.
“Cie Permata, cie cie.”
“Xie xie mumun.”
“Apaan sih jadi nyambung ke aku.” Ucap Teh Mumun sebal. Aku tertawa, mereka itu bukan tidak baik, mungkin aku yang harus mengakrabkan diri dengan mereka.
“Kita banyak anggota baru ya sekarang.” Ucap Pak Rahmat.
Aku melirik Teh Asri, Teh Rani, Teh Hahab, Teh Tri dan Dwi yang menjadi anggota baru kelas kami. Semakin ramai saja kelas kami nanti mungkin. Aku bersyukur, setidaknya di tengah kegalauanku mengenai pulang nanti, aku bisa merasakan kehangatan dari teman-temanku.
“Makanannya lama ya.” Bisik Teh Rahma kepada Teh Syarah.
“Jadi gimana kelanjutannya?”
“Kami baikan lagi teh.”
“Tuh kan di bilangin apa sih.”
“Iya tapi teh sakit hati gak sih kalau dia gitu ke cewek lain.”
“Pasti itu mah, tapi kita jangan berprasangka buruk dulu.”
Aku melihat di depanku Teh Iis yang asyik dengan ponselnya. Mungkin sedang chattingan dengan pacarnya. Begitu juga Teh Asri dan Putri yag asyik dengan ponselnya. Teh Syarah dan Teh Rahma asyik mengobrol, sama dengan Dwi dan asyik mengobrol dengan a Syarif.
“Pada tahu gak kalau ada yang diam-diam main?” tanya Teh Rahma yang kini mengedipkan sebelah matanya kepada a Syarif.
“Naha jadi ka Syarif?” gurau a Syarif (Kenapa jadi ke Syarif)
“Alah tong sok api-api.” Ucap Teh Iis (Jangan pura-pura).
“Naon sih is?” tanya a Syarif pura-pura tidak tahu. (Apaan sih is)
“Cie yang jalan ke kawah putih gak ngajak-ngajak.” Ucap Teh Rahma.
Suasana malam yang ramai karena kendaraan, kini semakin ramai karena siulan dan godaan yang di lontarkan teman-temanku kepada a Syarif. A Syarif terus saja mengelak dan bilang tidak apa-apa. Mana teman-temanku percaya jika mereka berdua—Teh Nadhi dan A Syarif mengunggah foto mereka di status wa.
“Sayang status nya sudah di hapus.” Ucap Teh Syarah.
“Cie, cie cie.”
Sorakan dan ledekkan itu terus berlanjut sampai makanan datang ke meja kami semua. Teh Rahma langsung mempersilahkan kami untuk makan. Aku yang dasarnya pemalu hanya mempersilahkan mereka terlebih dahulu dan lebih mmeilih mengaduk susu murni yang masih panas, terlihat dari asap yang mengepul di sekitar gelas.
Aku ingin sekali mengeluarkan ponsel, tapi aku malu kalau ketahuan chat dengan cowok oleh mereka. Malu saja rasanya ketahuan dekat dengan seseorang.
“Ta ngelamun aja nih makan.” Teh Syarah menyodorkan piring yang berisi mie dengan campuran yang aku tidak tahu apa saja didalamnya padaku.
“Mau di suapin?” tawar Teh Syarah.
“Tidak usah teh Syarah.” Segera saja aku menyambar sendok yang di sodorkan oleh Teh Syarah.
Aku mencoba meminum susu yang ternyata masih panas itu. Tanganku sebenarnya gatal sekali ingin memainkan ponsel, tapi entah kenapa tidak bisa. Lagipula mau main apa gak ada yang ngechat ini. Kenapa seolah ada rasa iri saat melihat orang-orang sibuk dengan ponselnya.
“Hoi ta.”
“Kenapa teh?” The Rahma mengagetkanku yang sedang melamun.
Teh Rahma menyodorkan sendok yang berisi mie. “Melamun aja makan nih.”
__ADS_1
Aku tak enak menolaknya, dengan sungkan aku mengambil sendok itu. “Nih makan yang banyak biar nanti di kereta gak lapar.” Teh Syarah juga ikut-ikutan menyodorkan piring padaku.
“Eh kamu ta, nanti pulang sama siapa?” tanya a Asep dengan suara yang keras.
“Sama aku bang.” Ucap Teh Rahma.
“Jangan lupa anterin dengan selamat ya.” Ucapannya persis seorang kakak yang protektif pada adiknya.
“Kamu nganterinnya kemana?”
“Ke stasiun bang.” Jawab A Syarif.
Kenapa aku jadi terharu ya melihat mereka yang begitu peduli padaku. Selama ini aku selalu menutup diri dengan kehidupan dan duniaku sendiri. Sekarang aku sadar satu hal, manusia itu mahluk sosial. Dan memang berinteraksi dengan orang lain itu penting.
“Jangan sampai gak dianterin ya neng.”
Teh Rahma memutar bola matanya malas, “aku anterin sampai gerbang stasiun sekalian bang.”
Percakapan demi percakapan pun mengalir. Mengenai kehadiran orang-orang baru yang semoga betah di kelas kami. Tingkah absurd Teh Iis, Teh Asri, Putri, Fikri, dan A Aris.
“Sudah malam nih, pulang yuk.” Ajak a Syarif.
“Yuk.” Sambung yang lain.
“Eh ini belum habis.” Ucap TehRahma.
“Habisin dulu ayo, eh Fikri jangan malu-malu dong biasanya kamu kan yang suka ngabisin.” Lanjut Teh Rahma.
“Aing deui, aing deui.” Gerutu Fikri yang malah tertawa. (Aku lagi, aku lagi)
“Sok lah tong asa-asa.” Ucap Teh Asri. (Silahkan jangan ragu-ragu).
“Nu lain oge atuh tong urang sorangan.” Ucap Fikri sembari makan. (Yang lainnya juga dong jangan aku sendiri).
“Geus sebeuh urang mah ninggali maneh barang tuang ge.” Ucap Teh Iis mneyodorkan piring yang berisi kentang goreng ke hadapan Fikri. (Sudah kenyang aku lihat kamu makan terus).
“Heeh bener is.” Sahut Putri. (Iya benar Is)
Aku tersenyum lebar melihat pemandangan di depan. Suasananya tidak pernah berubah dimanapun tempatnya jika bersama mereka. Ramai dan heboh. Saling sindir dan saling menjatuhkan sudah bukan hal umum lagi, meski begitu kami tidak pernah bermusuhan.
“Ta, ayo sini makan lagi jangan melamun.” Teh Syarah malah menyodorkan sendok padaku. Menyuapiku layaknya anak kecil.
“Sudah ah teh.”
“Eh cepet ini belum habis, lumayan nanti kalau lapar di kereta kan gak ada pedagang. Mau gimana ayo.” Mau tak mau aku kembali menerima suapan dari Teh Syarah.
“Bener ta nih kentangnya juga makan.” Teh Rahma juga ikut-ikutan memberikan kentang goreng padaku.
“Sudah teh kenyang.” Tolakku ketika Teh Syarah akan kembali menyuapiku.
“Yakin?” aku mengangguk walau sebenarnya aku tidak begitu kenyang sih, tapi gengsi mendominasi diriku.
“Sudah yuk, kita hitung dulu berapa total semuanya.” Ucap Teh Rahma yang kini memanggil pemilik stand.
“Eh bapak jangan repot-repot, bikin kita senang aja.” Ucap Teh Iis.
“Bener Pak jangan keseringan nanti kalau kita mau makan-makan ajak bapak terus gimana.” Sambung Teh Syarah.
“Sering-sering aja ikut makan sama kita.” A Syarif juga ikutan nimbrung.
“Bapak aduh jadi gak enak.” Ucap Teh Rahma yang kemudian di terimanya uang itu sebagai tambahan pembayaran makan.
Akhirnya makan selesai, pembayaran pun selesai dengan memakai uang kas dan uang pemberian Pak Rahmat. Sebelum pulang ada pengamen yang lewat depan stand ini.
“Uang kas ada berapa lagi is?” tanya Teh Rahma.
“Oh banyak, kita kan rajin menabung.” Ucap Teh Iis.
“Ini kembaliannya.” Ucap pedagang susu murni itu.
“Kita ada berapa motor ini?” tanya Teh Rahma lagi.
“Buat parkir dua puluh aja rah.” Ucap A Aris.
“Ini sisanya tinggal 10 ribu lagi.”
"Yaudah kasih ke pengamen itu.”
Uang kembalian yang aku tidak tahu berapa pastinya itu di bagi dua untuk parkir dan pengamen yang memang kebetulan lewat.
“Ini pak.” A Syarif memberikan uang parkirnya.
“Aduh hatur nuhung jang.” Ucap mang parkir. (Terima kasih nak)
Aku menghampiri A Aris yang sedang mengotak-ngatik ponselnya. Dia terpaksa naik gojek karena aku nebeng ke the Rahma. Aku jadi merasa bersalah karenanya.
“A Aris beneran gak apa-apa naik gojek?” tanyaku tidak enak karena Teh Rahma mengantarku ke stasiun.
“Gak apa-apa ta, santai aja kali.”
Mungkin aku saja yang tidak enakan karena A Aris terlihat biasa saja, tidak kesal ataupun marah sama sekali. Aku lega, tapi tetap saja tidak enak rasanya melihat A Aris yang naik gojek sedangkan aku bersama dengan The Rahma, padahal aku tahu mereka selalu pulang bersama kadang-kadang.
“Ayo ta.”
“Eh iya teh.” Aku naik ke motor Teh Rahma.
“Kami duluan ya.” Ucap Teh Rahma. Aku melambaikan tangan kea rah mereka.
“Ini ke stasiun yang waktu itu kan?”
“Iya teh.”
Aku bingung mau membicarakan apa sebenarnya, “bener memang Teh Nadhi itu main dengan A Syarif?”
__ADS_1
“Loh kamu gak liat Status Whatsapp nya?”
“Lihat sih, statusnya juga sekilas. Ku pikir itu bukan mereka.”
“Dari sini lurus kan?” tanya Teh Rahma saat kami berhenti di lampu merah.
“Iya teh.”
Aku melihat motor Teh Asri sepertinya.
“Loh Teh Asri? Pulangnya kesini juga?” tanya
Teh Rahma pada Teh Asri.
“Iya the lewat sini bisa kok.”
“Duluan ya teh.” lampu sudah kembali hijau.
***
Aku turun dari motor Teh Rahma setelah kami sampai di stasiun. “Makasih ya teh.”
“Sama-sama. Hati-hati ya ta.”
Aku mengangguk, “teteh juga hati-hati.”
Kami saling melambaikan tangan sebelum berpisah. Aku melangkah ke stasiun dengan riang, tapi perutku malah mulas sialnya. Loket tiket yang belum di buka membuatku beranjak dari stasiun menuju warung terdekat.
Sekembalinya ke stasiun aku buru-buru masuk ke kamar mandi dan mengecek sesuatu yang mmebuatku tidak nyaman sejak tadi.
“Tuh kan benar.” Ucapku pada cermin di dapanku. Sebelum orang-orang menganggapku aneh karena berbicara sendirian di cermin, aku kembali ke tempat penjualan tiket.
Tiketnya ternyata sudah buka, setelah membeli tiket aku kembali duduk. “Untung saja bawa.” Ucapku setelah menmukan obat penyeri haid. Tanpa berlama-lama lagi aku langsung meminumnya. Udara malam yang dingin terasa semakin dingin saat sedang seperti ini.
Benar-benar tidak nyaman. Padahal sejak tadi aku sangat senang karena berkumpul dengan satu kelas, sekarang malah harus meredakan sakit perut. Aku bahkan belum mengecek ponsel lagi.
Ada beberapa panggilan dari Pandu. Aku kan sudah bilang kalau nanti akan mengirim pesan lagi nanti, kenapa dia malah menelponku? Aku kan tidak tahu pasti mau naik kereta jam berapa.
Me : Maaf ya Pandu baru selesai kuliah, naik kereta jam 8 lebih paling sampai jam 9. Nanti kabari lagi kalua sudah naik.
Tidak lama Pandu sudah membalasnya.
Pandu : Owh baru keluar, maaf kalau ganggu.
Me : Ini beneran gak apa-apa kan?
Pandu : Apanya?
Me : Kamu jemput aku?
Pandu : Gak apa-apa kok malah aku seneng.
Senang? Kenapa harus senang, aku kan bukan artis atau presiden, aneh Pandu ini.
ada bagusnya juga sih, aku jadi bisa pulang tanpa naik ojeg.
Me : Oke deh makasih ya.
Aku tidak melihat ponsel lagi. Efek lagi dapet itu ya begini, muncul keringat dingin dan mulas menyebalkan. Serba salah. Mau muntah tidak bisa, mau tidur apalagi. Benar-benar menyebalkan.
Setengah jam kemudian kereta datang, dengan lesu aku naik dan mencari bangku kosong yang bisa di jadikan tempat tidur. Aku ngantuk sekali.
Me : Pandu aku sudah mau berangkat.
Pandu : Oke, aku siap-siap dulu.
Setelah mengirim pesan kepada Pandu, aku mulai mencari posisi duduk yang nyaman untuk tidur. Beberapa kali mencoba tetap saja tidak bisa. Aku mencoba mendengarkan musik, bukannya relaks sakitnya berasa tambah parah karena mendengarkan lagu galau dan aku ikut bernyanyi. Sakitnya semakin terasa tat kala ac kereta mulai terasa, aku mengeratkan jaket yang ku pakai.
Saat sudah begini aku hanya bisa berdoa semoga cepat sampai. Kepingan dosa-dosa seolah berputar di dalam kepala, aku menyesalinya, memohon ampun pada Sang Pencipta. Mengucapkan doa apa saja yang ku ingat di kepala agar sakitnya mereda. Terkadang memegang perut jika terasa amat mencengkram.
Aku mencoba mendengarkan murotal al-quran, sedikit relaks walau sakitnya masih terasa. Kalau sedang begini itu kereta terasa lama sekali. Mengetem dengan lama di salah satu stasiun, menungu kereta lain lewat terlebih dahulu, sangat amat menyebalkan. Belum lagi Mama yang mengirimiku pesan beberapa kali agar naik ojek.
Murotalnya terhenti, ada yang menelponku.
“Hallo.”
“Halo Permata sudah sampai mana?” tanya Pandu di sebrang sana.
Aku melihat stasiun di depan sana. Masih di Kiaracondong ternyata, lama sekali ini nunggu silangnya.
“Masih ngetem di stasiun Kiaracondong ini, nunggu kereta datang dulu.”
“Masih jauh?”
Aku melirik jam di ponsel dan tiket kereta, kira-kira berapa lama lagi ya, pikirku. “Belum tahu, bentar lagi berangkat kayaknya.”
“Oh nanti kalau sudah dekat kabarin ya.”
“Iya Pandu.”
Aku kira dia akan langsung berangkat saat aku bilang sudah naik kereta tadi ternyata belum. Jangan berharap banyak Permata. Segini saja sudah cukup, sudah bagus dia mau menjemputmu. Sungguh aku merasa sangat bersyukur karena Pandu mau menjemputku. Aku tidak tahu harus minta tolong siapa sebenarnya. Pamanku? Pasti sedang kerja jaga malam. Aku tidak mau merepotkannya.
Me : Pandu aku sudah sampai di Cimekar, sebentar lagi sampai.
Pandu : Oh oke, aku berangkat sekarang.
Dalam hati aku khawatir jika Pandu tidak datang, berarti aku terpaksa harus naik ojek. Aku agak takut kalau naik ojek malam begini. Tidak lama kereta berangkat lagi. Aku bersyukur dalam hati.
Me : Pandu aku sudah mau sampai, ini sedang di stasiun Cimekar
Pandu : Oke berangkat
Aku turun dari kereta dengan perasaan was-was, ini kali pertamanya aku di jemput oleh laki-laki yang sejatinya tidak erat hubungannya dengan ku. Di bilang teman, mungkin iya meski baru beberapa bulan kenal. Kok aku jadi gugup ya, deg degan karena khawatir dia tidak datang, juga kalau datang aku harus bersikap bagaimana.
__ADS_1
Di ujung jalan tempat biasanya aku menunggu, belum ada tanda-tanda kehadirannya, mataku menjelajah mencari kemungkinan-kemungkinan lain. Sampai aku menemukan dia, dekat dengan parkir motor, tersenyum ke arahku. Aku segera menghampirinya.