Aku Takut Jatuh Cinta

Aku Takut Jatuh Cinta
Bertamu ke nikahan, kapan menerima tamu di nikahan ?


__ADS_3

Jodoh dan menikah itu bukan ajang perlombaan. Bukan pula siapa yang mendapat jodoh duluan akan menjadi pemenang. Menurutku jodoh itu seperti menemukan intan berlian yang apabila tidak di gosok akan kehilangan cahanyanya.


-Permata Biru-


Mungkin benar kita memang bukan jodoh. Buktinya aku tidak pernah kembali bertemu denganmu. Salahku yang memutus temu karena jemu. Salahku yang sering kali mengingkari janjiku. Sudahlah toh aku juga sudah bahagia disini. Menatap kenangan hanya sebagai kepingan kebahagian masa lalu, bersamamu.


Sepertinya aku akan jadi penulis yang paling galau setelah menulis quotes yang cukup panjang itu di diari harianku. Tepat tahun ini kita satu tahun lost contac. Tidak ada kabar dan tidak saling mengirim kabar. Bolehkah aku menyapa walau hanya sekadar tanya?


Rasanya begitu bahagia saat kita masih bisa bersama. Ah ya penyesalah itu memang selalu ada. Aku mengatakan dari tebing yang tinggi ini. Bahwasanya aku rindu bolehkan kembali bertemu?


Ting


Ta katanya mau ke jogja


Ah rupanya aku terlalu berharap banyak. Ternyata bukan pesan dari dia.


*Iya joy


Kapan?


Minggu depan


Sip tar mau ketemu dimana?


Yang dekat stasiun saja lah*


Oh kalau gitu jemput di stasiun saja, nanti aku tunjukin deh penginapan paling murah tapi fasilitas oke gimana?


Wah siip deh kalau gitu.


Semangatku kembali membara. Sepertinya pulang dari tebing ini aku harus ke pasar baru terlebih dahulu untuk memberi oleh-oleh kepada Joy. Ada untungnya juga ternyata punya teman yang pindah tugas. Iya, joy pindah tugas dari bandung ke jogja dari kantornya entah sampai kapan.


***


“Sudah pulang ta?”


“Belum ma masih di kayangan.” Jawabku asal.


Anaknya sudah sampai rumah kok di tanya sudah pulang atau belum sih. Sekalian aja tanya tumben ingat pulang biar di kata anak durhaka kayak bang toyib. Hah sudahlah siap-siap untuk ke kondangan keburu Joy sampai.


Sehabis mandi aku langsung berpakaian rapi dan mencoba berdandan. Walau hanya memoleskan lipstik dan bedak. Apakah itu sudah bisa disebut dandan? Ah lebih baik cepat bersiap, karena sebentar lagi sudah jam 11.


“Selesai.” Aku berucap riang setelah menyelesaikan pemakaian pashmina di kepalaku.


Aku memandang diriku di depan cermin sekali lagi.


“Kapan aku nikah ya?” tanyaku pada pantulan diriku di cermin.


“Hush Permata nikah, nikah jodohnya saja belum ada.” Ralatku.


Tok tok


“Ta itu ada yang nyariin tuh.”


“Iya ma bentar.”


“Ayo semangat ta.”


Aku menuju ruang tamu dan melihat Tari dengan Adrian yang asik mengobrol dengan Mama. Adrian tampak memandangku dengan tatapn yang ughh aku ingin menaboknya. Risi juga sih di pandang begitu.


“Wihh ada Permata asik nih.”


“Makin cantik saja nih, berhijab juga. Tinggal nikah aja tuh ta, eh tapi calonnya sudah ada belum.”


Adrian setengah mengejekku di akhir kalimatnya, dan Tari langsung menyenggol lengannya. Aku hanya menatapnya sebal emangnya ya dia itu paling menyebalkan.


“Heh ian kan Permata belum nikah karena jodohnya masih di rahasiain tau.”


“Halah pake rahasia rahasia segala buktinya mana huu.” Aku melotot ke arahnya.


“Percuma melotot mata sipit begitu.” Aku mencebikkan bibir dengan kesal.


“Sudah-sudah kenapa jadi ribut sih.”


“Ta, sudah hubungi Joy?”


Aku mengecek ponsel dan menunjukkan pesan terakhir Joy kepada mereka berdua. Tari memutuskan untuk menunggu Joy, takutnya aku dan Joy akan nyasar nanti karena tidak tahu rumah pengantinnya.


“Ta, kamu gemukan ya?” tuh kan Adrian mulai lagi.


“Pasti gara-gara itu ya cowok-cowok gak mau.” Simpulan yang asal, pikirku.


Aku tidak membalas ucapannya kali ini dan pura-pura sibuk dengan ponsel.


“Halah palingan juga sibuk dengan olshop atau buka instagram.”


Errrr, hilang sudah sabarku sekarang.


“Ak-“


“Apa dia chattingan sama aku kok.” Tiba-tiba saja Joy sudah ada di depan pintu sambil memegang ponselnya dan menatap tajam kea rah Adrian.

__ADS_1


Adrian? Hanya memasang cengiran polos yang menyebalkannya itu.


“Ehehe Joy apa kabar?” Adrian say hay kepada Joy, pelukan ala-ala cowok begitu.


“Baik yan, kamu apa kabar?”


“Baik kok Joy, yang gak baik itu tuh.” Adrian menunjukku lewat tatapan matanya kepada Joy.


“Permata?”


“Dia keliatan baik-baik aja kok. Malah aku kaget dia berhijab sekarang ya. Alhamdulillah ya ta.” Joy tersenyum ke arahku yang membuatku kikuk.


“Yeh bagus sih bagus tapi dia tetep jadi jones.”


Aku mengacungkan telunjuk kea rah Adrian.


“Heh aku bukan jones ya udah di bilangin jodohnya-“


“Masih di rahasiain Allah gitu.” Aku mendelik mendnegar ucapannya.


Aku meminta bantuan Tari yang terlihat serba salah. Mau mebelaku takut pacarnya marah, dasar bucin mereka itu.


“Sudah, sudah berangkat sekarang yuk udah keburu siang nih udah ada janji lagi nih.” Akhirnya Joy menengahi perdebatanku dengan Adrian.


Kami pamitan terlebih dahulu kepada Mamaku. Dan mulai berangkat dengan aku yang di boncengan Joy dan Tari di bonceng Adrian.


“Hati-hati ya Joy jangan sampai bikn kenapa-kenap tuh jones satu.” Ledek Adrian sebelum melajukan motornya. Aku yang hendak meninjunya hanya jadi meninju udara karena dia keburu kabur.


“Ish ya Adrian itu emang nyebelin banget ya.” Gerutuku.


“Udahlah yuk berangkat.” Aku menurut dan duduk di boncengannya.


“Em ta boleh tanya sesuatu gak?”


“Apa Joy gak kedengeran anginnya kenceng.”


“Boleh tanya gak?” Joy menaikan volume suaranya.


“Tanya apa Joy.” Balasku dnegan suara kencang.


“Kamu memangnya bener gak punya pacar sekarang gitu?”


Oh iya ini kan pertemuan pertama ku dengan Joy setelah sekian lama tidak bertemu. Joy yang selepas SMA memutuskan kerja menjadikan intensitas bertemu kami jadi jarang. Berbeda dengan aku, Tari, dan Adrian yang memang sering bertemu untuk sekadar nongkrong. Wajar kalau dia tidak tahu mengenai kisah cintaku.


“Emm ta.” Teriaknya lagi yang membuatku tersadar dari lamunan.


“Eh iya, enggak Joy, habisnya.”


“Habisnya apa?”


“Gak apa-apa kok cuma ya, dulu kan pas SMP sering pacaran.”


“Iya itu kan dulu Joy.”


“Iya deh yang sudah hijrah.”


“Enggak gitu juga.”


“Terus gimana Permata.”


“Enggak gimana-gimana hehe.”


Dan sepanjang perjalanan itu kita membicarakan banyak hal. Mulai dari hobi menulis ku sekarang juga pekerjaannya yang semakin padat. Wajar sih sekarang kan jabatan Joy sudah naik sebagai supervisor bukan pegawai biasa saja, jadi ya akan semakin sibuk.


Joy itu salah satu teman SMP ku yang masih aktif berhubungan atau bersilaturahmi dengan teman-teman yang lain. Aku, Tari, Adrian, Nina yang entah dimana sekarang memang bersahabat dulunya. Di tambah dengan Joy yang ikut gabung semenjak buka bersama pertama selepas keluar sekolah yang membuatku menjadi akrab dengannya.


Sisi humoris Joy terkadang muncul ketika berkumpul dengan geng ku itu. Tapi Joy tetap saja Joy yang sulit di tebak jalan pikirannya. Dulu saja saat lulus SMP, dikira akan masuk ke SMA yang sama denganku. Eh akhirnya dia memilih masuk ke kejuruan. Walau begitu kita tetap saling support.


Tari dan Adrian sudah menunggu di depan pintu masuk gedung undangan. Kali ini salah satu teman SMP ku yang bernama Rina menikah dengan kakak kelas SMP kami. Benar ya, jodoh itu memang tidak pernah ada yang tahu.


Kakak kelas SMP ku itu dulu memang terkenal tampan. Siapa kira bisa takluk oleh Rina yang selalu berbicara serampangan dan selalu cuek sama apapun. Rasanya aneh kakak kelas itu yang terlihat rapid an teratur bersanding dengan Rina yang tidak pernah memperhatikan penampilannya.


“Masuk yu.” Ajak Tari yang langsung menggandengku.


Aku terperangah, pernikahannya benar-benar mewah. Konsep gold juga rose yang di terapkan membuatku terpana dan iri. Rasanya jadi ingin-ingin cepat menikah. Pertanyaannya dengan siapa?


Dan whoa lihat pengantin wanita yang begitu anggun dengan pakaian pengantin berwarna pastel, di tambah balutan hijab juga tiara yang menambah kecantikannya. Hilangkan pikiranku tentang Rina ynag serampangan tadi. Rina yang sekarang terlihat benar-benar, dewasa dan anggun.


“Barakallah ya rin.” Kami bercipika-cipika sebentar.


“Makasih ya ta, di tunggu loh undangannya.” Rina dengan senyum manisnya membuat ku meleleh, pantas saja kakak kelas idaman itu terpikat padanya.


“Gak nyangka loh nikah duluan.” Aku bercanda padanya yang di balas dengan kekehan dan menatap suaminya dengan penuh cinta.


“Emangnya mau nungguin Permata yang jones yang entah kapan nikahnya itu. Menunggu jodohnya muncul katanya.” Sambar Adrian yang membuat Tari mencubit tangannya pelan.


“Aww, apaan sih ay.”


“Udah deh yan jangan mulai.” Lagi-lagi Joy yang menenangi.


“Kalian itu gak pernah berubah.” Ucap Rina yang membuat kami tersadar.

__ADS_1


Ups kami masih di pelaminan. Aku akan merutuk Adrian nanti. Untung saja kami tidak mengacaukan pernikahannya. Kalau saja itu terjadi aku akan membuat Adrian jadi rujak bebek. Aku buru-buru pergi duluan yang disusul oleh yang lain. Malu lah berantem di pelaminan.


“Gak nyangka ya tar, Rina sudah nikah duluan.” Kataku selepas duduk untuk menikmati hidangan.


“Namanya juga jodoh ta, gak ada yang tahu. Bisa cepat bisa juga telat.”


“Aku termasuk yang mana ya tar?” tanyaku yang asyik mengaduk mie kocok.


“Kamu bukannya telat kok, tetapi memang belum di pertemukan saja.”


“Toh aku juga tidak tahu apakah aku akan berjodoh dengan Adrian atau tidak.”


“Pada akhirnya manusia hanya bisa berdoa dan berusaha kan, selebihnya kita serahkan saja kepada sang pencipta.”


“Iya benar tar.”


“Eh tapi tar, kamu tidak berkeinginan menikah muda gitu sama Adrian.”


“Siapa sih yang tidak mau menikah ta. Smeua ornag juga mau bukan?” aku mengangguk mengiakan.


“Tapi ya gitu ta, Adrian masih sibuk dengan hobi naik gunungnya. Dan aku, kamu tahu sendiri kan aku juga sibuk dengan kuliahku juga organisasiku.”


“Iyasih tar, kita kan masih muda pelrulah banyak-banyak kegiatan buat pengalaman hidup.”


“Apaan nih bahas pengalaman hidup segala.” Adrian dan Joy yang muncul sambil membawakan dua mangkuk zupa-zupa.


“Makasih Joy.” Ucapku setelah menerima satu mangkuk zupa-zupa dari Joy.


“CIe perhatian amat Joy, jangan-jangan.”


“Jangan-jangan enak nih zupa-zupanya dan restoran kamu mau bikin menu ini juga ya Joy.” Sambarku.


Adrian terlihat kesal. Aku bersorak karena bisa membuat Adrian kesal. Kesenangan itu hanya sekejap ternyata.


“Hai kamu disini juga.” Tiba-tiba saja entah datangnya darimana laki-laki yang akhir-akhir ini menggangguku hadir disini.


Mereka semua menatap kearahku dengan tatapan kamu kenal? Aku hanya mengangkat bahu tak tahu. Sebelum sempat menjawab ucapan laki-laki itu, dia sudah menjauh di panggil temannya.


“Duluan ya.” Kami mengangguk seperti robot.


Selepas dia pergi, Adrian memutar kursiku untuk menghadap ke arahnya. Dia memberikan tatapan intimidasinya kepadaku.


Lalu, memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan tidak pentingnya juga ocehan asalnya. Berkata dia pacarku lah, gebetanku, bahkan selingkuhan. Ish dasar dia itu ember bocor dan kaleng rombeng kalau berbicara. Apalagi menyangkut cowok yang dekat denganku sellau begitu, catat dari dulu.


“Apaan sih yan, gue gak kenal.”


“Ah jangan bohong ta buktinya dia nyapa kamu.”


“Siapa ta, siapa.”


Adrian dan kekepoannya itu memang benar-benar mengiras kesabaran. Di jawab jujur di kata bohong, jawab bohong takut dosa. Memang benarkan aku tidak kenal dengan laki-laki itu, maksudnya belum kenalan secara resmi. Bertemu pun karena kebetulan. Jadi apa yang harus aku jelaskan sebenarnya kalau memang begitu adanya.


“Udah deh urusin aja hubungan mu jangan urusin hubungan orang.”


Aku melengos pergi keluar gedung, bikin naik pitam mulu sih kelakuannya itu. Maaf saja kalau kata-kata itu sedikit kasar di telinga. Sebenarnya tidak berniat juga berkata seperti itu. Hanya saja sudah bukan rahasia umum jika Adrian terkadang memang perlu diberi pelajaran.


“Ta kok marah sih tunggu dong.”


Adrian ternyata mengejarku. Begitupula dengan Tari dan Joy yang terburu-buru menyusul Adrian. Aku tetap keukeuh untuk pergi darisana. Sudah malas.


“Ta, maaf dong.” Adrian mencegatku dan menahan lenganku saat sudah di parkiran. Aku menatapnya dengan tatapan bertanya ada apa.


“Gue.. minta maaf gak bermaksud begitu kok. Gue cuma mau lo bahagia kok.”


“Iya yan, iya gue cuma kesal kok.”


“Udah kamu pulang bareng Joy lagi.” Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkahnya dari belakang.


“Ta gue takut.”


“Takut kenapa?”


“Takut lo gagal move on.”


“Bhahahaha.” Tawaku pecak seketika.


“Loh ta kok malah ketawa?” tanyanya bingung.


“Lo pingin gue bahagia kan yan. Ya gue bahagia dengan masih sendiri kok yan tenang saja.”


Aku menepuk bahunya dan mendekat ke arah Joy yang sudah menstrater motornya.


Mungkin itu salah satunya yan, bukannya gak bisa move on. Hanya saja membuka hati setelah disakitin itu tidak semudah itu yan. Apalagi sekarang setelah mengikuti rohis di SMA. Tapi, aku tidak tahu sampai kapan pertahananku itu yan, aku hanya bisa berdoa di temukan dnegan orang yang tepat.


Aku melambaikan tangan kea rah Adrian dan Tari. Tenang yan aku akan pastikan kalau aku akan bahagia.


“Ta nanti boleh ke rumah aku dulu gak. Ada sodara yang minta berkas nih dan gak bisa di tunda.”


“Tadinya rencananya sepulang dari sini kita ketemuannya, tapi dia malah ke rumah buat ambil.”


Aku hanya mengangguk di belakang punggungnya yang sudah pasti tidak bisa dilihatnya. Aku tersenyum menyadari kebodohanku.

__ADS_1


”Iya boleh, gue free kok asal di antar sampai rumah saja.”


“oke.”


__ADS_2