
Ada apa sebenarnya dengan diriku, membuka lebar jalan bagi orang yang seharusnya paling aku hindari.
-Permata Biru-
Entah kenapa sepanjang jalan pulang ini aku jadi memikirkan pesan dari Pandu tadi yang membuatku terdiam di depan kasir tadi, dia mengirim pesan itu lagi kali ini. “mbak sudah sampai nih, mau melamun sampai kapan.”
“eh oh iya.” Aku turun dari ojek, memberikan helm padanya serta uang ongkos.
“Makasih ya mbak.”
“Sama-sama pak.” Meski aku menjawab ucapannya tapi pikiranku entah sedang berada dimana. Sebuah kalimat yang sepertinya tidak bermakna buatku itu membuatku terdiam di halaman depan rumah.
Pandu :
Pertanyaan kemarin belum di jawab, kalau sekarang tanya lagi bakalan di jawab? Sekalian mau tanya kalau belum punya pacar aku boleh deketin kamu?
Sampai masuk ke kamar pun aku masih memikirkan chat itu. Aneh sekali rasanya, setelah sekian lama tidak merasakan hal ini. Kenapa justru sekarang aku merasakannya, pada orang yang sama sekali tidak terbayangkan olehku.
Hatiku meragu sebenarnya, perasaan seperti bukan hanya kali ini aku rasakan. Dulu saat salah stau teman dekatku menyatakan perasaannya lewat pesan, aku gamang. Ingin menolak karena memang tidak menyukainya lebih dari seorang teman, tapi tidak juga untuk kehilangannya.
Kali ini aku merasakan hal itu kembali, entah apa yang aku lakukan sekarang, menolaknya dengan terang-terangan atau bagaimana. Rasanya aku tidak mau kehilangan seorang teman untuk kedua kalinya kembali. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Menolak secara halus, bukankah itu sama dengan memberikan pengharapan.
***
“Assalamualikum Mami.”
Mami yang tengah menunduk—memainkan ponsel—menoleh kaget ke arahku. “Eh eh, inces akhirnya kembali lagi. Gimana betah gak di sip b?”
Aku duduk di sebelahnya,mengangkat bahu tak acuh, “ya gitu sih sebelas dua belas.”
Mami menyenggol bahuku, “ah masa sih begitu.” Mami sepertinya mencoba menggodaku.
Aku jadi tersipu, “apaan sih, gak ada apa-apa kok.” Bukannya berhenti Mami malah terus menggodaku, bahkan ponselnya juga sudah tidak dimainkan lagi—kasian ponselnya jadi di abaikan.
“Mami sekarang mnejahit apa?” aku mencoba mengalihkan godaan Mami. Aku menatap sekeliling yang masih ramai siswa-siswi yang berkeliaran di depan sekolah.
“Masih saku sih, kau ces?”
“Sama Mami.” Bahuku merosot.
Mami menepuk-nepuk pundakku, “selamat berjuang ces, hidup lebih keras daripada ini. Ini mah belum seberapa daripada di dunia kerja. Hidup itu keras.”
Benar, hidup itu keras. Aku sudah merasakannya, walau hanya sekejab. Pengaruh sang penguasa itu sangat besar untuk bawahan, duniaku masih kecil. Masih hanya seputar kampus-rumah-tempat kursus, belum melihat dunia yang sebenarnya. Mellow deh jadinya.
“Mami mau ceritani.”
“Apa ces apa sok.”
“Permata-“
“Assalamualaikum.” Curhatku terhenti ketika melihat teman-temanku berbondong-bondong mendekati ibu yang baru datang, gagal curhat deh.
“Masuk dulu ces, nanti curhat di dalam saja.” Ajak Mami. Mau tak mau aku setuju juga.
Aku masuk tepat di belakang Mami, setelah mencium tangan Bu Nining dan mulai duduk di bangku , aku mengeluarkan kain yang belum di jahit. Karena mesin yang terbatas kali ini aku duduk di tempatku semula, menggunakan mesin obras—gantian dengan mami.
“Tadi mau curhat apa ces?” aku berbalik menghadap Mami yang sedang menjahit.
Melihat dia yang sibuk, aku jadi tidak tega ketika ingin mengganggu. “Gak jadi deh Mami.” Ucapku seraya kembali berbalik.
Tiba-tiba saja The Nia datang menghampiri meja Teh Siti, aku kembali berbalik kami—aku dan Mami—saling pandang tidak mengerti. Mami lebih dulu buka suara, “ada apa teh.”
“Ini the mau minta bantuan, yang lain pada gak mau bantuin masa.” Ucapnya dengan nada kesal yang bercampur judes.
Aku sudah memproklamirkan diri bahwa akan menyebut Teh Nia ini dengan sebutan teteh judes.
Selain wajahnya yang memang terlihat judes, nada bicaranya juga judes menurutku.
“Bantuin apa?” tanya Mami tidak mengerti.
Teh Nia menunjukkan hasil karyanya, ternyata yang Bu Nining bilang itu benar. Ini sih bisa di bilang lebih parah daripada aku, masa saku bobok di jahit—kan aneh. Aku dan Mami sama-sama mengalihkan pandangan dari The Nia, takut kelepasan tertawa di depannya—sekuat tenaga kami menahan tawa.
“Gimana teh?”
Mami sedikit salah tingkah, dia juga malah memandangku, “emm gimana ya bukannya gak mau, tapi ayo deh sini mana ada kain yang baru gak.” Teh Nia dengan semangat kembali ke bangkunya untuk mengambil kain.
Aku menatap Mami serius, “Mami yakin mau bantu?”
Mami mengangkat bahu, “ya habis gimana kasian juga sih, yang lain juga udah pada bilang kok dia itu susah di bilangin.”
Aku mengambil hasil jahitan Teh Nia, menatap kagum hasil karyanya. Jahitan dia rapi, tapi kok bentuknya jadi aneh ya. “Teh ini kenapa di jahit sih?” tanyaku sambil berbisik karena orang sudah berjalan kemari.
“Udah lah gak tahu, sana gih kamu cari mesin yang kosong.” Daripada menghina atau membandingkan karyaku dengan orang lain lebih baik aku cari mesin seperti kata Mami, semoga saja ada yang kosong.
__ADS_1
Tetanggaku itu sepertinya sedang menyetorkan hasil jahitan kepada Ibu, aku mengahmpirinya untuk bertanya. “Teh mesinnya oleh pinjam dan gentian gak hehe.” Cengirku.
Meski mimik muka tetanggaku juga ada judes-judesnya, tapi nada bicara dia tidak terlalu judes sih kalau berbuat kebaikan. “Oh yaudah nanti gentian lagi.”
“Sip.”
Aku berjalan dengan riang menuju meja yang di pakai tetanggaku, paling ujung dan dekat dengan pintu. Ini sih enak kalau mau jajan. Eh tapi aku tidak pernah melihat sip a pada jajan seperti di si b. Apa aku yang tidak melihat hal itu atau mereka memang benar-benar hanya fokus menjahit?
Aku tidak tahu dan lebih baik sekarang aku segera menyalakan mesin—keburu waktunya habis. Seusai menyalakan mesin, aku membereskan kain-kain yang belum ku jahit.
Baru deh aku mulai menjahit, sepertinya mesin ini lebih nyaman ketimbang mesin yang di pakai oleh Mami, tapi ya tetap aku mesti penyesuaian untuk mengatur gas nya.
“Teh, teh Nia lagi sama teh Sabila ya.” Bisik Teh Gita yang tepat di sebelahku. Karena sibuk menjahit dan tidak mau konsentrasiku terpecah belah, aku menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Saat sedang asyik-asyiknya mesinku tiba-tiba macet, kenapa ya—pikirku. Aku membuka sekoci yang sulit sekali di bukanya. Teh Puteri yang kebetulan lewat bersama Teh Diana menghampiri mejaku. “Kenapa Teh?” tanya Teh Puteri.
“Oh ini mesinnya macet gak tahu kenapa hehe.”
“Sini coba lihat.” Teh Puteri melihat kondisi mesinku.
“Ini sepertinya benang dalam sekocinya nyangkut.” Aku melongok untuk melihat yang di tunjuk Teh Puteri.
“Permata duluan ya, masih ada jahitan soalnya.”
“Sok aja teh.”
Aku mengotak-ngatik mesin sendirian, meski hasilnya nol besar. Padahal sedang enak-enaknya menjahit, malah begini jadinya. Apa kesialanku masih berlanjut sampai hari ini, otak dan hatiku mulai berkecamuk lagi.
“Permata sudah belum?” teriak Ibu dari depan. Aduh Ibu gak usah teriak kenapa, kan jadi malu di lihatin orang satu temapat kursus.
Tanggung kepalang malu aku berjalan ke depan dengan menunduk, “ibu mesinnya macet.” Adukku dengan wajah yang masih menunduk, tidak berani melihat amukan Bu Nining.
Bu Nining berjalan menghampiri mejaku, “macet kenapa ini?”
“Gak tahu ibu tiba-tiba aja macet.”
Wajah tegas Bu Nining beralih menatapku, “masa meisn tiba-tiba macet, dimana-mana juga kalau macet itu pasti ada sebabnya. Ah kamu ini ya Permata Permata.”
Aku hanya menggaruk kepalaku karena malu. Apalagi teman-temanku kini malah menertawakan kekonyolanku. Ibu ini bisa tidak kalau bicara jangan terlalu jujur kenapa.
“Nih lihat, gimana gak macet benang menumpuk gini. Kamu bawa obeng sana sama pingset sekalian.”
Tanpa banyak tanya dan kata aku segera mengambil barang sesuai perintah ibu, meski bingung obeng yang Ibu maksud itu yang mana, di tempat obeng banyak bentuknya. Aku ambil saja asal yang semoga benar itu.
“Ini bu.” Ibu langsung membuka mesin.
“Aduh Permata kalau tidak bisa ya nanti bagaimana masukin oli mesinnya.” Ucap Ibu dengan suara keras lagi. Aku mneutup kuping dan wajah. Malu kalau harus kembali di tertawakan.
“Kamu ini ya kuliahan masa yang begini gak tahu.”
Ya, ibu kalau tahu mana mungkin nanya dumelku dalam hati. Untung saja ucapan Ibu itu tidak pernah ku anggap serius dan tidak di masukkan dalam hati. Kalau iya, bisa-bisa makan hati terus tiap hari kerjaannya.
“Nih kamu coba bobol dulu deh, keluarin benangnya.” Aku mengangguk.
Selama hampir setengah jam ini aku hanya membuang benang yang menggulung mengganggu mesin, bosan dan ingin cepat selesai saja rasanya. Apalagi orang-orang sudah hilir mudik menyetorkan hasil jahit ke Ibu, malah mereka sudah ganti materi. Berbeda sekali denganku yang maish mengotak-ngatik mesin.
“Teh kenapa?” tanya Teh Gita yang kini menghampiri menjaku.
“Ini teh mesinnya macet, benang dalam sekocinya malah nempel di mesin. Jadi sekarang di bershin dulu.” Teh Gita mengangguk mengerti.
Berbeda dengan orang di depanku yang sejak ibu datang terus cekikilan bukannya membantu dasar ya, awas saja dia kalau butuh bantuanku tidak akan di bantu—sisi jahatku keluar juga kan.
“Apa, keatawa aja sampai puas!” sungutku ketika Teh Gita sudah pergi.
“Buahahaha.”
“Makanya jangan gerasak-gerusuk kalau menjahit.”
“Biarin aja yang jahit kan aku.” Sahutku galak.
Lega juga setelah beberapa menit mengeluarkan benang dengan berbagai cara—akhirnya selesai juga. Aku mengejek A Dimas di depanku yang belum kelar-kelar karena menunggu mesin jahit. ”Kaisan nungguin ye.” Ejekku yang membuatnya memukul mejaku.
“Sakit ye.” Ejekku lagi sambil tertawa jahat.
Dia mengangkat telunjuknya tepat di depan wajahku. “Awas ya.”
Tiba-tiba mimik mukanya berubah dari marah menjadi memelas, “bantuin jahit ini dong please.”
“Ogah.” Sahutku tanpa melihat kain yang dia sodorkan.
“Gantian mesinnya kalau gitu.” Ucapnya yang kini berada di sisiku.
“Gak mau.”
__ADS_1
“Yaudah sini mana yang mau di jahit.” Aku akhirnya setuju untuk membantu A Dimas menjahitkan kain kecil sebelum di obrasnya kembali.
“Nih sudah.”
Dia menyodorkan beberapa lembar kain, “ini lagi dong hehe.” Ujarnya tanpa dosa yang membuatku ingin memukul wajah tanpa bersalahnya itu. Errr awas saja dia, akan ku balas nanti.
Setengah jam kemudian tetanggaku meminta untuk kembali gentian, padahal baru aja menjahit sedikit. Bosan menunggu yang tidak pasti, aku kembali lagi ke tempat duduk semula dengan wajah di tekuk. Teh Nia sudah tidak ada di dekat meja aku dan Mami, syukurlah aku jadi bisa berkeluh kesah kepada Mami.
“Sudah beres?” tanya Mami ketika aku mendaratkan bokongku di tempat duduk.
Aku menghela napas berat sebelum menjawab, “boro-boro beres satu aja enggak.
Gimana tadi nge les privatinnya?”
Kini raut muka Mami sama kusutunya denganku, “tidak ngerti lagi jalan pikiran dia bagaimana, Mami sudah nyerah duluan susah mengerti orangnya.”
“Hmm.” Aku mengangkat sudut bibirku ke atas dengan bingung, tidak heran sih tadi Teh Gita bilang segala macam tentang dia, memang begitu adanya. Mami yang begitu sabar terhadapku saja nyerah, berarti yang salah bukan pada orang yang mengajarkannya, tapi pada orang yang di ajarkannya.
“Sudahlah mami pusing pala inces nih.”
“Sama ces. Ces kalau mau jahit pakai mesin ini aja, Mami mau setor ini dulu ke Ibu.” Aku mengangguk dan berjalan dengan lesu ke meja Mami.
Ya, Tuhan adakah ujian yang lebih berat daripada ini, tanyaku dalam hati. Mungkin itu doa karena sudah lelah jadi tidak di filter otak dulu, main asal ucap saja. Jadinya aku malah mengalami hal yang lebih berat setelah pulang kursus.
***
Pulang dari kursus aku diam di masjid agung dekat sekolah. Menikmati hawa dingin yang mengguar dari hijaunya rumput pijak yang terlihat dari hawa sejuk hijaunya. Lega sekali rasanya, beban berat tadi seolah sudah diangkat perlahan-lahan.
“Permata belum pulang?”
Aku menoleh ke sumber suara, “teh Nia, belum the pengen ngadem dulu.” Ucapku yang kini mebuka ponsel. Aku tahu kebiasaan Teh Nia yang memang selalu dzuhur di masjid ini.
“Teh aku ke depan dulu ya?”
“Silahkan teh.”
Untuk mengusir kebosanan akhirnya aku mmeutuskan untuk membalas chat dari Pandu yang menanyakanku sudah pulang atau belum.
Me : Sudah
Pandu : Sekarang sudah di rumah berarti?
Me : Belum
Pandu : ???
Me : Mampir dulu ke masjid dekat sekolah
Pandu : Ohh, sama siapa
Me : Sendiri, tadi ada The Nia sih
Pandu : Sip a?
Me : Iya
Pandu : Sekarang sedang apa?
Me : Bukannya sudah jelas sedang main hp
Kadang aku kesal dengan orang yang selalu bertanya tentang pertanyaan yang tidka butuh jawaban seperti itu. Sudah tahu daritadi aku membalas pesannya kenapa malah tanya coba? Kesel kan jadinya.
Pandu : Maaf lupa, tumben sekali balas pesan.
Me : Gak balas salah, giliran di balas salah juga. Jadi maunya apa ya?
Pandu : Mauku….
“Teh sudah mau adzan masuk yuk.” Ajak Teh Nia yang tiba-tiba sudah duduk di sampingku.
Aku kaget dan melongo sebentar. Melihat waktu di ponsel yang memnag sudah menunjukkan sholat dzuhur. “Duluan teh.” Aku mematikan data ponsel terlebih dahulu, kemudian mengikuti The Nia yang mengambil wudhu.
Selesai sholat aku dan Teh Nia tidak langsung pulang, kami membeli beberapa jajanan terlebih dahulu. Harus antri karena sekarang jam nya istirahat anak sekolah.
“Teh Nia boleh nebeng.” Ucapku ketika kmai mneunggu cireng yang sedang di goreng, harus mengalah dengan anak sma yang lebih dulu di layani, begini akhirnya menunggu.
“Boleh, searahkan?” aku mengangguk meyakinkan.
“Tapi sampai depan gang aja ya.”
“Iya teh.”
“Neng ini cirengnya.” Aku dan Teh Nia bergagas mengampiri penjual cireng. Setelah selesai dengan urusan transaksi jual beli, kami memutuskan untuk pulang.
__ADS_1
Seperti kata Teh Nia tadi, aku di turunkannya di depan gang. “Terima kasih ya teh.” Teh Nia mengangguk sebagai jawaban, lantas kembali melajukan motornya.
Aku berjalan sendirian menyusuri gang yang sebenarnya tidak bisa di bilang gang juga karena mirip jalan, masuk untuk satu mobil truk besar yang biasa ngangkut barang. Angina sepoy-sepoy membuat langkah kakiku jadi melambat, padahal siang ini aku harus berangkat ke kampus.