
Aku adalah Si bungsu di keluargaku, kulit coklat sawo matang, muka bulat dan hidung sedikit mancung. Tubuh dengan berat badan 53 kilo gram dan tinggi badan 155 sentimeter.
Aku adalah orang yang sangat beruntung dilahirkan dari sepasang insan yang memiliki cinta begitu hangat. Saudaraku tiga perempuan dan satu laki-laki. Orang bilang anak ke tiga orangnya akan lebih tampan bagi laki-laki dan lebih cantik bagi perempuan, pernyataan atau mitos itu memang benar bagi keluargaku, karena anak ke tiga di keluarga kami adalah laki-laki. Jadi, memang betul kalau kakakku yang ke tiga lebih tampan, karena pada kenyataannya dia hanya anak laki-laki satu-satunya.
Kasih sayang mereka selalu bisa aku rasakan terutama kasih sayang mama. Dialah penyemangatku dan selalu ada untukku.
Keadaan keluarga kami memang tak seperti yang lain, hidup dengan kemewahan. Aku hanya anak dari lelaki hebat seorang buruh peternak domba. Aku merasa bangga, bahagia, dan tentunya berharga ada diantara mereka. Merasakan hal pahit kehidupan sejak usia dini adalah hal yang tidak akan pernah aku lupakan.
Aku anak yang sering kali mendapatkan bantuan dari pemerintah, Sekolah Menengah Atas terbebas dari SPP. Tinggal di daerah perkampungan susah untuk mencari lapangan pekerjaan.
Kakak-kakakku hanya bisa sekolah sampai Sekolah Dasar (SD), karena kondisi keuangan keluarga kami yang tidak bisa mencukupi.
Aku yakin sebenarnya uang bukanlah sumber utama untuk tidak bisa bersekolah tinggi, melainkan semangat yang tinggi, tekad dan niat yang kuat yang paling utama.
Hal pedih yang aku rasakan saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) yaitu, ketika ingin mengganti seragam sekolah. Aku tidak berani berbicara langsung kepada bapak atau ke mama karena ketika itu keadaan pekerjaan bapak sangat tidak mendukung, aku memintanya ke kak Dura, kakak laki-laki.
"Kak, Ivi mau ganti seragam!"
"Ganti seragam?" Kakak kebingungan karena ia sedang tidak punya uang.
__ADS_1
"Iya, Kak. Seragam Ivi sudah jelek, bajunya sudah kekuning-kuningan dan roknya sudah ada yang robek."
"Kakak belikan kalau uangnya sudah ada ya."
"Yeee... iya, Kak." Bahagia kegirangan.
"Siap, De." Sambil kebingungan bagaimana harus menepati janjinya itu.
***********
Beberapa bulan kemudian kakakku menepati janjinya itu, ia membelikan seragam baru untukku.
"De, ini seragam yang ade mau." Memberikan sembari tersenyum karena bangga bisa membelikannya.
"Ade pakai seragamnya ya dan jangan lupa belajarnya harus rajin, harus menjadi anak yang cerdas."
"Siap, Kak Dura, laksanakan." Bahagia kegirangan.
Untuk mengganti seragam barupun aku harus menunggu berbulan-bulan, bahkan ketika sekolah menengah atas, untuk membeli rok seragam abu, aku harus mencari sendiri uangnya. Waktu itu aku ikut nasyid di salah satu acara pernikahan, salah satu temanku adalah pemain dari grup nasyid itu, dan dia menawarkan aku untuk menjadi vokalis perempuannya karena kebetulan vokalis yang biasanya sedang ada halangan. Tak pikir panjang aku langsung mengambil tawaran itu, karena dirasa lumayan uangnya bisa dibelikan rok seragam abu, meskipun aku sedikit insecure dengan suaraku yang pas-pasan.
__ADS_1
SD, SMP, SMA terkadang aku suka iri sama mereka yang uang jajannya itu bisa membeli apapun yang dia mau. Sedangkan aku? uangku hanya cukup untuk membeli bakwan Si ibu warung, air mineral dan ongkos pulang. Uangpun terkadang mama dapatkan dari pinjaman ke tetangga demi aku bisa berangkat sekolah. Aku tahu sebenarnya mama malu melakukan itu semua, untungnya masih ada orang yang mempercayai mama.
"Ma, Ivi mau berangkat sekolah, mana uang bekelnya." Kataku, sembari memakai sepatu.
"Iya, sebentar Vi. Tunggu dulu!"
Tak lama kemudian mama datang kembali. "Ini uangnya, Vi."
"Assalamu'alaikum." Sembari mencium tangan mama. Itu kebiasaanku ketika mau pergi berangkat kemanapun selalu izin dan mencium tangan mama. Mama selalu menjawab salamku dengan perkataan "Wa'alaikumussalam, semoga menjadi anak yang sukses, bahagiakan semua keluarga."
"Aamiin.." Dalam hatiku ucapkan.
Banyak perbedaan yang ada dalam diriku dan diri kakak-kakakku, apalagi dengan kakakku yang ke 4, jarak umur kita hanya beda 5 tahun. Namanya Riri, karakter kak Riri sangat berbeda denganku, meskipun wajah kita hampir mirip bahkan orang terkadang suka salah manggil, aku Ivi mereka panggil Riri, sedangkan kak Riri mereka panggil Ivi. Kak Riri orangnya bodo amat, dia masih buka kerudung meskipun sudah menikah, dia orang yang menurutku sangat dimanja oleh mama. Tapi, dulu sebelum menikah. Setelah kak Riri menikah, aku orang yang paling mama manja, hehe.
Orang bilang, aku orangnya lebih religius, beda dari yang lain. Ku rasa memang itu benar.
Sejak usiaku lima tahun aku mulai dititipkan di salah satu pondok dekat rumahku. Sehabis pulang sekolah, pergi mengaji di pondok itu. Karena jarak pondok dan rumah tidak jauh, mama memintaku untuk tidak menetap tidur di pondok melainkan pergi ke pondok untuk menuntut ilmu saja.
Menjadi yang beda dari yang mayoritas itu sangat berat, susah sekali. Mempunyai pendapat atau pandangan yang berbeda akan satu hal sangat sulit untuk diungkapkan bahkan ketika sudah diungkapkan akan menimbulkan banyak pertimbangan. Itu yang aku rasakan berada di sekeliling keluargaku. Menjadi anak bungsu, anak yang paling terakhir, membuat aku selalu berpikir-pikir lagi ketika mau memberi saran kepada kakak-kakakku.
__ADS_1
Rumah kakak-kakakku berdekatan dengan rumah mama, terkecuali kak Riri, kakak ke empat ku. Dia ikut bersama suaminya ke Bandung. Semenjak aku dan Kak Riri beda rumah aku ngerasa ada yang hilang dari kehidupanku, soalnya Kak Riri adalah kakak yang paling dekat sama aku, mungkin karena jarak umur kita yang tidak beda jauh, jadi kalau curhat lebih terasa nyambung. Kakak-kakak ku yang lain tinggal tetanggaan dengan mama, Kak Misya dan Kak Putri mereka bukan hanya anak mama dan bapak tetapi tetangga pula, hehe... Ya begitulah tetangga mama sebagian adalah anak-anaknya. Bapak memberikan tanah warisan dari nenekku untuk anak-anaknya membuat rumah. Meskipun tidak luas, tapi dirasa cukup bagi kakak-kakakku.
Kak Misya, Kakak tertuaku, dia sempat pergi mencari uang sebagai tenaga kerja wanita di Saudi Arabia, ku rasa itu adalah sebuah perjuangan pula. Perjuangan layaknya kesuksesan dan kecantikan, mereka relatif. Artinya penilaian nya itu datang dari pendapat seseorang yang mana akan menimbulkan perbedaan. Menurut sebagian orang mungkin ada yang mengatakan bahwa dia sudah menjadi orang yang sukses namun bisa saja menurut sebagian orang pula dia belum mencapai titik sukses nya, sama halnya cantik menurut sebagian orang dia terlihat cantik namun ada juga yang mengatakan kalau dia biasa saja. Begitupun perjuangan, penilaian itu akan terlihat berbeda-beda dari berbagai sudut pandang.