Aku Yakin Dia Adalah Jodohku

Aku Yakin Dia Adalah Jodohku
Tugas Kelompok


__ADS_3

Hari Sabtu dan Minggu sekolah kita libur, biasanya kita gunakan hari itu untuk mengerjakan tugas kelompok terutama di hari sabtu. Untuk hari Minggu kita tidak mau ada tugas, hari itu khusus untuk beristirahat. Sabtu pagi, aku mendapat kabar dari grup WhatsApp untuk mengerjakan tugas kelompok.


"Assalamu'alaikum, untuk tugas kelompok kemarin, hari ini kita kerjakannya yuk? Soalnya sudah tidak ada lagi waktu." Kiki mengajak.


"Iya boleh. Ayok." Vina membalasnya.


"Iya ayok." Ano membalasnya juga.


"Dimana kerja kelompoknya?" Vina bertanya.


"Di rumah aku saja gimana? Biar pertengahan tempatnya."


"Oh iya boleh, pukul berapa?"


"Pukul 10.00 saja."


"Oke siap."


"Ivi kamu gimana, bisa kan?" Vina bertanya.


"Iya bisa, Na." Aku membalasnya.


"Oke, semuanya aku tunggu di rumah ya." Balas Kiki


Pukul 10.05, aku sudah berada di dekat daerah rumah Kiki. Kala itu, aku diam di warung pakan ikan, karena tidak tahu tepatnya rumah Kiki ada di sebelah mana. Ini adalah pertama kalinya aku ke rumah Kiki. Aku memberi kabar ke Kiki kalau aku sudah ada di warung pakan ikan dekat rumahnya itu.


"Ki, aku sudah sampai, tapi tidak tahu rumah kamu."


"Itu kamu dimana?"


"Aku di warung pakan ikan bapak Mamat."


"Oh iya sebentar, aku ke sana."


"Ayo, Vi." Kiki datang.


"Dimana Ki, masih jauh?"


"Itu di depan."


"Oh.."


"Tadi sama siapa ke sini?" Tanya Kiki.


"Diantar sama Kak Dura."


"Padahal kamu turun di depan sekolah saja, biasanya aku lewat sana."


"Tadi banyak anak Tsanawiah yang lagi jajan di sana, malu kalau harus lewat sana."


Sesampainya di rumah Kiki, ada neneknya. Aku merasa malu karena datang sendirian, sedangkan Vina sama Ano masih di jalan. Kalau aku tahu gini aku akan pergi terlambat.


"Assalamu'alaikum." Sembari mencium tangan nenek Kiki.


"Wa'alaikumussalam."


"Ayo masuk, Vi." Kiki mengajakku.


"Iya ayo masuk, nak." Nenek Kiki menyuruhku masuk juga.


"Iya nek." Aku hanya bisa tersenyum.


Aku duduk di kursi, berdua sama Kiki. Aku malu datang duluan, lama sekali menunggu Vina dan Ano datang.

__ADS_1


"Ini minumnya." Nenek Kiki menyuguhkanku minum.


"Makasih nek." Aku merasa gugup.


"Orang mana, nak?"


"Orang Kampung Nangka, nek."


"Oh orang Kampung Nangka, nenek juga ada sodara di sana."


"Hehe iya, nek." Aku tersenyum.


"Nenek tinggal dulu ya."


"Sudah makan, Vi?"


"Sudah, Ki."


"Acie-cie...." Ano dan Vina tiba-tiba datang dengan senangnya melihat aku dan Kiki duduk berdua.


"Sudah lama, Vi?" Vina bertanya.


"Tau ah kalian lama banget, katanya pukul 10.00 sudah dimulai kerja kelompoknya. Ini pukul berapa coba?" Aku merasa kesal.


"Ya maaf Vi, jalanan macet."


"Tau ahh..."


"Ey jangan marah-marah dong Ivi." Kata Ano sambil nada bercanda.


"Iyadeh iya percaya." Aku jutek karena merasa kesal mereka datang terlambat.


"Tadi ngobrol apaan kalian?" Ano bertanya.


"Ngobrolin kamu, No." Kiki menjawabnya.


"Nggak, No. Kiki bohong, kita gak ngobrolin kamu kok. Kiki bercanda itu." Kataku.


"Gak papa Vi, gak papa kalau bener juga. Haha."


"Kapan mulai mengerjakan tugasnya?" Aku bertanya mengalihkan semua obrolan tak bermanfaat itu.


"Ayo sekarang saja." Kiki menjawab pertanyaanku.


Di pertengahan sedang mengerjakan tugas, papah Kiki datang.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam." Aku, Ano, dan Vina menghampiri papahnya Kiki dan bersalaman.


"Eh, ada teman-teman Kiki?"


"Iya om, ini om calon Kiki." Celetuk Ano sambil menujukku.


"Oh.. ini." Papah Kiki tersenyum.


"Bukan om, Ano bercanda, aku dan Kiki teman saja. Iya kan Ki?"


"Iya, pah."


"Ya sudah yang bener ya kalian belajarnya, om tinggal dulu."


"Siap pah" Kiki menjawabnya.

__ADS_1


"Ano apaan sih kamu ngomong asal ceplos aja. Nggak lucu seriusan." Aku mencubit Ano dan mengomelinya.


Setelah selesai mengerjakan tugas, waktunya pulang. Vina pulang sama Vino, aku pulang sendiri.


"Eh Vi, kamu pulang barengan sama aku saja, sekalian mau berangkat kursus. Biar kamu tidak naik angkot dua kali."


"Hmm... Iya Ki."


"Ayo naik." Kiki menyuruhku naik motor merah kebanggaannya.


"Iya, Ki." Aku tak menyangka akhirnya bisa boncengan sama Kiki.


"Vi, gak terlalu belakang kamu duduk?" Kiki bertanya sebelum menjalankan motornya.


"Nggak Ki."


"Depanan saja, jarak kita terlalu jauh, kamu simpan apa saja buat penghalang jarak kita."


"Iya ki." Aku menyimpan tasku untuk penghalang jarak kita supaya tidak terlalu dekat.


Di perjalanan aku mendengar Kiki berbicara, tapi tidak terdengar jelas. Aku menghiraukannya saja. Setelah sampai di perapatan jalan, aku turun karena tempat kursus Kiki dan rumahku berlawanan arah.


"Vi, maaf ya cuma bisa nganter sampai sini. Kiki ke kejar waktu nih, sebenarnya ini juga sudah terlambat."


"Oh iya gak papa Ki, makasih banyak."


"Sama-sama, duluan ya Vi, Hati-hati, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam"


"Hati-hati Ki." Dalam hatiku ucapkan.


Itu adalah boncengan pertamaku dengan Kiki. Sebentar namun bagiku itu berkesan.


Sampai waktunya di angkot, aku menaiki angkot yang didalamnya ada 2 anak SMA yang kebetulan mereka adalah adik kelas ku, mereka dan aku sama sekali tidak mengenal satu sama lain. Aku tahu mereka karena sekilas sempat melihat mereka berlalu lalang di sekitaran sekolah. Tampaknya mereka berdua habis pulang dari kegiatan ekstrakurikuler. Tak sengaja ku dengar perbincangan mereka berdua yang kebetulan sedang memperbincangkan cowok yang namanya Rifki Andranata. "Hah? Rifki Andranata? Itu Kiki" Hatiku berkata. Salah satu dari orang itu memperlihatkan Handphonenya yang isinya itu Instagram dari Kiki, aku tak sengaja melihatnya karena orang itu persis berada di sampingku. Lalu temannya yang satu lagi meresponnya dengan sangat gembira, layaknya melihat artis idolanya.


"Siapa itu orang?" Kata temannya itu.


"Dia Kakak kelas di sekolah kita, ganteng banget kan?"


"Banget.... Banget.... Banget..."


"Haha, jelas sihh.."


"Kamu udah kenal sama cowok itu?" Tanya temannya.


"Nggak lah."


"Kirain kamu kenal."


"Nggak, cuman aku tau cowok ini pas di kantin, sama temen-temennya. Aku langsung terpesona gitu sama cowok itu, dikira dia seangkatan sama kita, tapi bukan."


"Andaikan dia sekelas sama kita ya, aku sih pastinya bakalan semangat terus belajarnya."


"Haha dasar kamu. Tapi, aku juga kayaknya gitu sih, hahaha."


"Sama aja kau, kamvretttt."


"Kiri Mang....." salah seorang dari mereka berdua menghentikan angkot itu.


"Ayo turun Kamvretttt."


...........

__ADS_1


Setelah mereka turun dari angkot, aku sedikit tertawa kecil dalam hati melihat tingkah mereka.


"Benar ya Kiki sangat di idolakan banget di sekolah, sampai-sampai orang yang baru saja lihat dia langsung bisa suka gitu,. Mereka nggak tau kalau aku juga suka sama Kiki, hehe." Suara hati itu muncul dalam hatiku.


__ADS_2