Aku Yakin Dia Adalah Jodohku

Aku Yakin Dia Adalah Jodohku
Seminar Perguruan Tinggi dan Simulasi Ujian Nasional Berbasis Komputer


__ADS_3

Pagi hari, setelah foto booklet, ada acara seminar Universitas Padjadjaran atau UNPAD di Mesjid As-Shidiq, dekat kantor Kabupaten Bandung Barat. Aku, Karen, Cinta, dan Vina pergi ke seminar itu. Sebenarnya kondisi badanku sedang tidak baik, tapi aku paksakan saja soalnya sudah daftar dan selesai administrasi. Sayang sekali kalau tidak hadir.


Seminarnya itu pagi-pagi sedangkan rumahku dari rumah Vina cukup jauh dan jarak rumah Vina ke tempat seminar itu membutuhkan waktu yang lumayan cukup lama. Akhirnya, aku tidak pulang dulu, dan langsung memberi kabar kepada mama kalau aku akan pulang sore. Aku sama sekali tidak membawa baju ganti untuk ke seminar itu, untungnya masih bisa pinjam baju Vina. Kita datang terlambat karena jalanan macet. Sesampainya di sana seminar sudah di mulai, yang lain sudah pada mengisi soal. Aku, Karen, Cinta dan Vina memutuskan untuk tidak masuk dulu dan menunggu pengisian soal itu selesai sembari melaksanakan sholat Dhuha. Setelah itu, sehabis sholat Dhuha dan peserta seminar yang lain sudah selesai mengerjakan soalnya. Aku, Vina, Cinta dan Karen memasuki ruang seminar itu dan meminta maaf atas keterlambatan kita. Akhirnya, kita dipersilahkan masuk.


Seminar itu sangat seru sekali, membuat banyak inspirasi untukku. Selain itu, bisa bertemu juga dengan orang-orang baru, bisa mendengar cerita-cerita inspiratif dari orang-orang hebat. Seru pokoknya.


Di seminar itu juga aku bertemu dengan teman lelakiku sewaktu SMP. Namanya Jidan


"Assalamu'alaikum, Vi." Jidan menghampiriku, dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku.


"Wa'alaikumussalam. Eh Jidan, ada di sini juga. Apa kabar?" Aku langsung antusias karena dia dulu teman dekatku juga. Sudah lama tidak bertemu. Aku tidak berjabat tangan dengan Jidan hanya tersenyum dan salam layaknya untuk seseorang yang bukan mahramnya.


"Alhamdulillah baik Vi, kamu sendiri?"


"Alhamdulillah, baik Dan."


"Aku sudah ngira dari tadi kalau itu kamu, tapi rasanya takut salah orang, habisnya sih kamu pangling, kerudung kamu sekarang lebih panjang ya. Masya Allah sekali. Terlihat lebih cantik, lebih terjaga. Senang sekali bisa bertemu di sini."


"Hehe, iya Alhamdulillah Dan, lagi proses hijrah ini."


"Bagus sekali dong, eh ini siapa?"


"Oh, iya. Ini teman-teman aku di SMA."


"Hallo,." Jidan say hello ke Vina, Cinta dan Karen.


"Hay." Vina, Cinta dan Karen menjawabnya.


"Kalian langsung pulang?"


"Iya Dan, lagi nunggu grab dulu."


"Kamu gak mau barengan samaku, Vi? Aku anterin sampai rumah."


"Gak usah Dan, makasih sebelumnya. Aku sama yang lain saja."


"Oh, ya sudah. Aku duluan ya, hati-hati kalian, semoga nanti kita bisa bertemu lagi ya."


"Hehe, iya. Kamu juga hati-hati Ka." Aku berkata.


"Siap, yuk aku duluan ya, assalamu'alaikum." Dika pamitan.


"Wa'alaikumussalam."


"Vi, Vi. Dia siapa sih? Kok kalian sepertinya sudah dekat sekali, ganteng tau dia. Hitam manis gitu. Hehe." Karen bertanya.


"Dia itu Jidan Purabima. Dia teman dekatku waktu SMP. Dulu, dia tempatku curhat-curhatan gitu. Asik juga orangnya, dia sekarang sekolah di Bandung, ikut sama kakaknya."


"Oh, gitu. Jadi, sama kayak Kiki dong, temen dekat yang suka curhat-curhatan, terus ujung-ujungnya kamu menaruh hati." Cinta celetuk mencadaiku.


"Beda Ta, aku tidak menaruh hati sama Jidan. Haha."


"Aelah, padahal dia juga ganteng, sepertinya baik juga. Ah, kamu tidak adil."


"Haha, dasar kamu Ta. Sudah ah, tuh sudah ada grabnya. Ayok naik."


Diperjalanan Cinta mengatakan sesuatu.


"Vi, kamu tahu tidak?"

__ADS_1


"Tahu apa, ta?" Tahu kalau aku cantik? Haha." Candaku.


"Ih, apaan sih, bukan itu. Gini ya, kemarin, waktu kamu tidur di kereta, Kiki lihatin kamu terus tahu."


"Masa? Aku tidak percaya. Wlee."


"Vi, ini seriusan. Bener kan Ren, Na?"


"Iya bener, Vi. Pokoknya lihatinnya itu beda deh, kenapa ya dia, aku tuh bingung sama Kiki ke kamu. Dia tidak tertarik sama kamu, tapi aku lihat kok dia seperti suka gitu sama kamu. Anehnya juga dia malah dekat sama perempuan lain. Aku jadi bingung, Vi." Karen berpendapat.


"Sudah lah, jangan bahas itu ya. Gak penting." Kataku.


"Ya sudah, iyadeh iya."


Pukul 16.25 sampai di rumah, aku langsung saja pergi ke kamar, merasa sangat lelah.


"Vi, makan dulu!" Mama yang sedang berada di dapur menyuruhku makan.


"Iya ma, nanti."


Setelah 15 menit berlalu.


"Vi, ayo makan." Mama menghampiri kamarku.


"Bentar, ma. Ivi ngerasa gak enak badan. Badan Ivi gatal-gatal gini, bentol-bentolnya panas ke semua badan, pusing juga ini tuh."


"Ya sudah, makan dulu ya. Kaligata kamu mah. Sewaktu masih kecil, kamu biasa seperti ini. Nanti mama obatin sayang. Sana makan dulu! Apa mau mama ambilkan makannya kesini?"


"Gak usah ma, Ivi ambil sendiri saja."


"Ya sudah, sana."


"Sayang, sudah makannya?" Mama bertanya.


"Sudah, ma."


"Sini mama obatin, mama olesin dulu ini. Kamu langsung pake jaket dan selimut yang tebal."


"Iya, siap ma."


Selesai sholat Maghrib, aku langsung tidur. Bangun pukul 19.45, langsung sholat Isya. Mama tidak membangunkanku karena dia tahu aku lagi sakit, meskipun sakit mama tahu kalau aku pasti akan bangun untuk sholat, soalnya aku suka cerita sama mama kalau tidur belum sholat itu rasanya seperti punya hutang, tidurnya tidak bisa nyenyak merasa ada yang mengganjal. Sebelum tidur juga aku berdoa supaya bisa bangun untuk sholat Isya. Dan Alhamdulillah Allah membangunkanku untuk melaksanakan kewajibanku itu. Selesai sholat, aku teringat bahwa besok ada simulasi ujian nasional berbasis komputer atau UNBK. Waktu itu, kebetulan jadwal pelajarannya Bahasa Indonesia. Pelajaran ini bisa saja dikerjakan dengan nilai bagus kalau aku teliti, dan baca dengan baik. Tapi, sebenarnya ada juga materi yang harus aku hafal. Malam itu, aku coba menghafal materinya, meskipun sedikit karena sakitku semakin menjadi. Aku kembali tertidur.


Pagi hari, bangun tidur. Aku melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.00. Langsung saja sholat Shubuh dan itu pun kesiangan. Setelah sholat, tidak langsung siap-siap untuk pergi sekolah melainkan hanya diam di kamar karena merasa sangat pusing, dan masih terasa gatal-gatal. Bahkan si bentol-bentolnya menjadi gede-gede sampai ke muka. Aku memaksakan jalan menghampiri mama.


"Ma..." Aku memanggil mama yang sedang masak.


"Iya, ada apa Vi?"


"Ma... Ivi merasa gak enak badan. Gimana dong sekolah? Hari ini ada simulasi untuk ujian nasional, hari pertama simulasi malahan."


"Kamu kuat gak kalau berangkat?"


"Gak tau ma, pusing sekali ini. Gatal-gatalnya juga gak sembuh-sembuh."


"Ya sudah, hari ini kamu jangan masuk dulu, soal materi dan tahapan-tahapan UNBK Bahasa Indonesianya nanti bisa tanya-tanya saja ke teman kamu, mama ke rumah kakak kamu dulu, supaya pergi ke sekolah untuk ngabarin kamu tidak akan bisa masuk. Sekarang kamu istirahat."


"Iya, ma." Aku pergi ke kamar lagi.


"Vi, mama sudah bilang sama kakak kamu. Maaf ya Vi, mama gak bisa bawa kamu berobat, nanti ya sayang, besok kalau belum sembuh juga mama pasti akan bawa kamu berobat, hari ini mama gak bisa karena uangnya gak ada sayang. Kamu istirahat ya, semoga saja bisa sembuh hari ini. Nanti kalau sudah beres masaknya, mama ambilkan makan ke sini."

__ADS_1


"Iya, ma."


Keesokan hari, hari kedua simulasi UNBK matematika. Aku memaksakan hadir sekolah, karena badanku sudah membaik dan tentunya tidak mau ketinggalan pelajaran matematika.


"Vi kenapa kemarin kamu tidak masuk?" Tanya Vina.


"Aku sakit, Na."


"Iya, Vi. Aku cemas kamu tidak masuk, kamu tidak ngasih kabar juga sama kita. Padahal kan bisa WhatsApp kita." Kata Cinta.


"Iya, aku tidur terus kemarin, jadi tidak sempat ngabarin kalian. Tapi, kakakku kesekolah kok."


"Iya, memang. Bu guru juga bilang sama kita, Ivi gak masuk soalnya sakit. Tapi, tetep saja kita khawatir. Mana simulasi hari pertama, kamu belum punya bayangan untuk UNBK Bahasa Indonesia nanti."


"Tapi gak papa sih Vi, pelajaran Indonesia itu tinggal kita teliti saja bacanya pasti bisa." Kata Karen.


"Iya, insyaallah Ren."


"Vi, Vi. Tahu gak?" Tanya Karen.


"Apa? Aku cantik? Sudah tahu Ren. Hehe." Candaku pada Karen.


"Ishhh bukan, bukan itu."


"Terus apa? Kiki?" Tebakku.


"Heem." Karen tersenyum-senyum.


"Oh." Jawabku singkat.


"Oh doang? Kamu tidak penasaran?"


"Ah, kamu lama Ren. Tadi Kiki nanyain kamu, Vi." Cinta to the point.


"Iya gitu?"


"Iya Rivi Angraeni, dia nanyain kenapa Ivi gak masuk, kelihatannya dia perhatian sama kamu. Atau mungkin dia merasa bersalah karena waktu pulang foto booklet tidak meminjamkan jaketnya untukmu."


"Haha." Aku hanya tertawa. Padahal dalam hati aku merasa senang karena dia menanyakan diriku.


Kiki lewat, dan memberikan senyuman kepadaku.


Bel masuk berbunyi.


"Vi, kamu jangan buka jaket kamu, kamu minta izin saja sama pengawas kalau kamu lagi sakit." Vina memberi saran kepadaku, karena dia melihat aku sedang membuka jaket.


"Gak papa, Na. Aku sudah baikan kok."


"Ih jangan, buruan pakai lagi, aku yang minta izin sama pengawasnya deh. Kamu harus jaga kesehatan kamu, jangan dibiarkan sakit lagi. Kita lagi sibuk-sibuknya menghadapi ujian-ujian. Jadi, badan kita harus sehat terus." Vina memakaikan jaketku kembali.


Jam pulang, aku bertemu dengan Kiki.


"Vi.."


"Iya Ki?"


"Cepat sembuh!"


"Makasih Ki."

__ADS_1


Obrolan singkat itu membuatku senang sekali.


__ADS_2