Aku Yakin Dia Adalah Jodohku

Aku Yakin Dia Adalah Jodohku
Pertemuan Pertama Setelah Lulus SMA


__ADS_3

Dua tahun lebih tak bertemu dengan teman-teman SMA, sampai pada suatu saat ketika ada undangan pernikahan dari Clara. Di sanalah pertemuan pertama kembali setelah lulus SMA bersama Kiki dan yang lainnya.


Sebelum pertemuan itu, hatiku merasa sangat bahagia akan bertemu dengan mereka. Sayang, bahagia itu hanya sebelum pertemuan saja. Di saat pertemuan itu terjadi, semuanya menjadi hancur. Di satu sisi aku bahagia bisa bertemu dengan teman-teman, di sisi lain hatiku kacau, hancur melihat Kiki datang bersama pacar barunya.


Sebelumnya di grup WhatsApp Kiki bilang tidak bisa hadir karena lagi ada kesibukan.


Ano memvidio call Vina, Ano tidak bisa hadir karena lagi di Bandung dan gak bisa pulang. Ano bicara sama Vina "Kiki datang sama pacar barunya loh." Vina langsung menghentikan Vidio callnya dan bicara denganku.


"Vi, Kiki akan datang sama pacar barunya! Kamu harus bersikap biasa ya, aku tahu kamu kuat." Vina memberi tahuku karena dia tahu kalau aku sangat rapuh kalau melihat Kiki sama cewek.


"Wah? Seriusan? Tapi, gak papa sih. Wajar saja dia bawa pacarnya." Kataku, padahal hatiku sedih mendengar itu.


"Aku bisa merasakan apa yang sedang kamu rasakan, tapi tetap kamu harus kuat ya." Kata Vina.


Tak lama ketika kita nunggu di tempat janjian, Kiki dan pacarnya datang. Katanya sih nama pacarnya Bunga. Indah namanya secantik orangnya juga.


Kebetulan sekali warna kerudungku dan baju Bunga samaan, semua teman-teman mengetahui kalau aku sempat menyimpan hati buat Kiki, mereka merasakan apa yang aku rasa, mereka merasa kasian kepada diriku.


"Kok bisa samaan gitu ya warna kerudung Ivi sama baju Bunga, memang hebat dunia ini. Dua manusia yang menyukai orang yang sama bisa sehati gitu, hahaha." Celetuk Rian.


"Hilihh." Cinta menginjak kaki Rian.


"Apaan sih kamu?" Kata Rian ke Cinta.


"Diam kau!" Jawab Cinta.


Turun dari motor merah kebanggaannya, Kiki menghampiri kita semua, untuk bersalaman.


"Assalamu'alaikum Ivi." Kiki mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Wa'alaikumussalam." Aku hanya bersalaman tanpa melihat muka Kiki.


Bunga diam saja di dekat motor Kiki dan tidak menghampiri kita semua.


Setelah itu, kita langsung masuk ke tempat yang sudah di sediakan. Setelah salaman sama Clara, kita semua mengambil makanan, aku mengambil makanan yang sama dengan Kiki dan Bunga "kenapa sih harus ngambil makanan yang sama?" Ucapku dalam hati. Aku mau pergi lagi merasa tidak enak nanti takutnya Bunga berpikir apa-apa. Aku tidak mau Bunga tahu perasaan aku ke Kiki. Aku, Cinta, Vina, Kiki, Bunga dan Rian berada dalam satu meja yg sama, aku melihat mereka sangat romantis. Semakin sakit hati ini rasanya melihat mereka berdua.


"Sabar Vi, sabar. Harus kuat.." Dalam hatiku berkata, menenangkan diri sendiri.


Sehabis makan kita ngobrol-ngobrol, aku sangat gak mood banget. Rian membuat snap gram, dia fokuskan kameranya ke aku terus ke Kiki dan Bunga, entah apa maksudnya. Karen tidak ikut ke undangan karena dia sedang di Pangandaran. Dia mengomentari snap gramnya itu.


"Ian, itu Kiki sama pacarnya?"

__ADS_1


"Iya Ren."


"Ya Allaah, kasian dong itu si Ivi, tega banget sih si Kiki bawa pacarnya sedangkan dia tau kan si Ivi itu sayang banget sama dia." Ian kasih lihat komentar itu ke aku.


Aku semakin sesak berada di ruangan itu. Ingin segera kembali ke rumah. Aku sibuk memainkan handphone buka WhatsApp dan Instagram. Menyibukkan diri sendiri supaya tidak terlihat sakit hati.


Kejadian itu sangat membuatku sakit hati meskipun tak seharusnya aku seperti itu, toh kita hanya teman saja. Aku tak pernah sadar kalau aku dan Kiki hanya sebatas teman saja.


Setelah itu, kita kembali ke parkiran. Di sana Cinta, Vina, dan Ian mengajakku pergi ke tempat jajan kita sewaktu di SMA. Kiki tak ikut, dia duluan pulang bersama Bunga.


Aku boncengan sama Vina. Di pertengahan jalan menuju warung itu, ternyata aku bertemu lagi sama Kiki dan Bunga, ku kira mereka sudah jauh tidak akan terlihat lagi mukanya, nyatanya Kiki membawa motornya begitu pelan. Maklum saja orang baru sedang pacaran ya gitu wkwk.


Aku melihat rok yang dikenakan Bunga hampir mau terlilit rantai motor. Aku langsung berkata ke Cinta.


"Ta rok Bunga dekat gitu sama rantai, takut kelilit. Kamu kasih tahu gih!"


"Eh Bunga itu rok kamu awas kena rantai, nanti kelilit bahaya." Cinta menyalip motor Kiki.


"Makasih Vi." Kata Kiki.


"Loh kok Kiki makasih ke aku Ta? Kan kamu yang ngasih tau." Tanyaku ke Cinta.


"Ya gak papa dong, sama saja."


Di warung itu, kita berbincang-bincang.


"Ian kamu sudah punya pacar belum?"


"Belum Ta, fokus dulu kuliah deh. Pusing kuliah juga, gak ada waktu mikirin begituan."


"Oalah, kalau kamu Na bagaimana sama si Ano. Sudah ada rencana nyusul Clara?"


"Haha apaan sih Ta, belum dong. Masih lama, belum kepikiran ke sana."


"Eh kamu jangan lama-lama pacarannya, gak baik, mending cepet-cepet halalin dulu. Biar jadi ibadah. Ya gak Vi?"


"Betul itu, hehe."


"Ya maunya sih gitu tapi, Ano kan harus selesai dulu kuliahnya, belum lagi dia harus kerja dulu. Masa nanti aku mau dikasih makan apaan sama Ano kalau Ano nggak punya kerjaan."


"Iya sih. Pokoknya semoga kalian selalu bersama, langgeng sampai nyebar undangan ke kita ya. Hehe" kata Cinta.

__ADS_1


"Aamiin.. aamiin.." Kata Vina.


Selesai makan, aku pamit pulang duluan.


"Aku pulang duluan ya, mau bantu-bantu di pondok lagi ada acara." Kataku.


"Buru-buru banget Vi."


"Iya maaf ya, nanti lain kali kita ketemu lagi. Duluan ya, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Sebenarnya tidak ada acara di pondok, aku hanya alasan saja kepada mereka, ingin segera pulang karena ingin sekali mengeluarkan air mata yang sudah dari tadi aku tahan.


Sesampainya di rumah, aku keluarkan air mata itu, kecewa karena sebelumnya pertemuan ini sangat ditunggu-tunggu tapi, sayang semuanya hancur. Ini semua akibat aku berharap lebih kepada dia. Andaikan tidak ada harapan ini semuanya tak akan sesedih ini.


Handphoneku bunyi, Karen menelponku.


"Vi? Kamu baik-baik saja kan?"


"Iya Ren, aku baik-baik saja kok."


"Jangan bohong Vi, aku tahu apa yang sedang kamu rasakan. Aku benar-benar tak paham apa yang ada di kepala orang itu, sombong banget dia. Kenapa harus bawa pacarnya ke sana, padahal menurutku itu adalah waktu bersama teman-teman. Heran aku, setidaknya dia bisa menghargai perasaan kamu, dia tahu kan kalau kamu masih menyimpan perasaan untuk dia? Tapi, kenapa dia seperti itu?" Karen marah-marah.


"Ya wajar saja Ren, Kiki gak salah kok bawa pacarnya ke kondangannya Clara. Kita sudah tidak bertemu lama, jadi Kiki tak akan tahu apa yang aku rasakan saat ini."


"Vi, kenapa sih kamu gak bisa lupain saja laki-laki kayak dia? Kenapa sih kamu gak buka hati buat orang lain? Sudah dua tahun lebih loh kalian tidak bertemu, tapi kamu masih seperti dulu. Aku bisa melihat semua perasaan kamu di Vidio tadi. Semuanya jelas, tampak kamu masih menyayangi dia."


"Gak tahu Ren, aku juga tak paham sama perasaan aku sendiri."


"Ayok dong kamu pasti bisa, coba jangan lihat sisi baik dari Kiki doang, coba lihat sisi buruk dari dia, kamu pasti bisa lupakan dia."


"Aku sudah coba cari sisi tidak baik dia. Tapi, tetap saja hatiku tidak bisa untuk membenci dia."


"Aku hanya kasian sama kamu, kapan kamu mau membahagiakan diri kamu sendiri? Kapan kamu mau beranjak dari kenyataan ini? Kapan kamu mau terus-terusan sedih seperti ini?"


"Makasih Ren buat semuanya."


"Makasih apa? Aku tidak melakukan apa-apa. Kamu pasti bisa lepas dari cinta yang salah itu."


"Iya Ren."

__ADS_1


Aku merasa ini bukan cinta yang salah, aku tak pernah menyesal mempunyai perasaan ini. Cinta belum berpihak padaku, mungkin saja suatu saat cinta akan datang dengan indah untukku, aku yakin akan hal itu.


__ADS_2