
Setiap hari Jumat sekolah kami mengadakan kebiasaan baik yaitu melaksanakan sholat Dhuha bagi semua siswa, dan kajian singkat dari guru agama.
Siswa dianjurkan untuk berangkat lebih awal. Saat itu, saat dimana aku terlambat datang untuk sholat Dhuha "Ya Allah, ini jam berapa?" Aku bertanya pada diriku sendiri. Sekeliling jalan sudah hening tak ada orang berseragam batik SMA.
"Vi, jam berapa ini? Kamu terlambat loh." Kak Dura berkata.
"Jam 06.55 Kak. Sepertinya iya, Kak. Aku terlambat."
"Kamu sih kenapa bangunnya siang?"
"Semalam aku ketiduran dan belum sempat mengerjakan tugas. Jadi, pas bangun langsung mengerjakan tugasnya, tidur-tidur itu jam 03.00 dan tadi bangun jam 05.30, terus bantuin mama beres-beres dulu." Jelasku kepada kak Dura.
"Padahal langsung saja siap-siap untuk sekolah, bilang saja sama mama takut kesiangan."
"Gak bisa gitu kak, mama sudah tua kasian harus beres-beres sendirian di rumah."
Aku sudah menyerah sama waktu. Takut kesiangan bukan takut hukuman, tapi takut tertinggal waktu sholat Dhuha dan kajian, sayang kalau melewatkan sholat Dhuha dan kajian di hari Jumat. Jadwal buat sholat Dhuha di hari Jumat hanya ada di waktu itu saja, sebelum pelajaran dimulai. Karena jika sudah masuk jam pelajaran sangat susah keluar kelas apalagi untuk sholat terkecuali ketika guru sedang tidak masuk. Aku sudah pasrah dan ternyata gerbang sekolah masih terbuka sedikit, bapak satpam dan guru piket berdiri di depan gerbang, dengan wajah yang sedikit marah melihatku baru datang
"Kenapa baru datang?" Salah seorang guru piket bertanya.
"Saya harus bantu-bantu ibu dulu pak, dan semalam saya gadang mengerjakan tugas jadi terlambat bangun."
"Sebentar saya foto dulu."
Cekrek..
"Sudah masuk sana kelapangan, sholat Dhuha, besok jangan kesiangan tanpa alasan apapun!"
"Siap pak." Sedikit ragu.
Aku memasuki gerbang itu sembari menggerutuk "Ya Allaah wajahku ada di potret orang-orang pemalas, kenapa harus kesiangan Vi, dasar pemalas." Aku merasa kesal dengan diriku sendiri.
Aku langsung pergi ke lapangan untuk mengikuti sholat Dhuha dengan tas berisikan buku-buku tebal dan tas jinjing yang berisi mukena. Langsung ku amparkan sejadah di atas karpet yang sudah disediakan panitia. Setelah itu, aku melihat Kiki, Ano dan temen lainnya baru memasuki lapangan, dan waktu itu karpet khusus untuk Ikhwan (laki-laki) sudah terisi penuh.
Aku berniat memberikan sejadahku pada Kiki karena tempatku sudah disediakan karpet jadi cukup rasanya jika hanya di alas dengan karpet saja, tapi sayangnya aku tak berani, takut ada orang yang lihat dan nanti beranggapan lain. Akhirnya, aku berikan sejadahku ke Ano.
"No!" Aku memanggilnya.
"Apa Vi?"
"Nih sejadahnya, mau kamu pakai?"
"Kamu?" Ano tanya balik.
"Aku ada karpet ini, jadi gak papa."
__ADS_1
"Oh iya, nanti aku kembalikan dikelas ya."
"Siap-siap."
Seusai sholat Dhuha, jadwal pelajaran kita yaitu olahraga. Aku dan teman-teman yang lainnya mengganti pakaian dan bersegera pergi ke lapangan. Pak Gian, beliau adalah guru olahraga yang paling kocak, badannya gemuk, kepalanya botak dan jenggotnya lumayan panjang, terkadang siswa menyebutnya bapak Peppy, karena mukanya hampir mirip dengan artis kocak yang bernama Peppy. Aturan dari pelajaran pak Peppy, Kalau ada yang terlambat dia akan di hukum. Kala itu, aku kebelet buang air kecil, setelah ganti pakaian tak ada pilihan lagi, aku langsung pergi ke kamar mandi, tentunya sendirian. Tidak mau minta antar temanku karena takut mereka akan kena hukuman akibat terlambat datang ke lapangan.
"Aku ke kamar mandi dulu ya Na, kebelet nih."
"Aku antar jangan?"
"Gak usah Na, nanti kamu kena hukuman."
"Yakin Vi?"
"Iya Na gak papa, aku paham kok, santuy saja."
"Oke deh aku duluan ya Vi, maaf."
"Iya gak papa Na, hehe."
Aku langsung pergi ke kamar mandi. Dan langsung pergi ke lapangan,, lari-larian, dan entah habis ngapain, entah dari mana dulu, Kiki datang bersamaan denganku. Ya akhirnya aku dan Kiki dapat hukuman yang sama. Hukumannya tidak berat melainkan sangat bermanfaat yaitu disuruh membacakan ayat suci Alquran dari juz yang ke 30. Aku dan Kiki barengan membacakan surat-surat itu. Selesai sudah hukuman itu, aku dan Kiki kembali ke barisan untuk melakukan pemanasan.
Kala itu, olahraganya bola voli. Sebelum tes dimulai, kita bisa berlatih terlebih dahulu. Aku bingung harus berlatih sama siapa sedangkan Vina dengan Cinta. Aku coba saja sendirian. Bolaku terlempar dan jatuh di dekat Kiki, aku bingung mengambilnya. Dengan nunduk aku menghampiri Kiki untuk mengambil bola itu. Dan bolanya malah diambil Kiki duluan
"Maaf Ki, bolanya boleh aku pinjam?" Aku berusaha meminta bola itu dari Kiki.
"Untuk?" Aku bertanya.
"Ya kita main bareng, kamu sendirian kan?"
"Iya." Dengan muka yang sangat malu.
"Ya sudah gih kamu di sana!"
Aku pergi ke tempat yang Kiki suruh, sebenarnya senang bisa main bareng sama Kiki, dalam hatiku tersimpan rasa bahagia yang tak bisa aku tampakkan.
"Vi, kamu tahan bolanya dengan tangan bagian ini." Kiki mengajariku.
"Oh itu, siap deh hehe."
"Maaf ya Ki, aku mainnya nggak bener. Kamu jadi capek keseringan ngambil bola."
"Gak papa kali Vi, santai aja. Aku tidak terlalu pandai juga bermain voli, tahukan aku bidangnya hanya di atletik."
"Tapi, setidaknya kamu lebih jago dari aku Ki, hehe" Candaku.
__ADS_1
Teman-teman melihatku bermain voli berdua sama Kiki sangat bahagia apalagi Vina, aku tak paham soal itu. Orang yang baru mengetahui perasaanku kepada Kiki hanya Vina dan Diandra, tapi seakan-akan semua orang mengetahuinya. Aku malu mereka melihat aku dan Kiki, lantas aku langsung mengakhirinya saja.
"Ki, aku capek sudah dulu latihannya, terimakasih sudah mengajariku."
"Sama-sama, Vi."
Tes bola voli selesai, ada waktu setengah jam untuk beristirahat menjelang pelajaran fisika.
Fisika adalah pelajaran yang paling ditakuti. Selain pelajarannya membosankan gurunya pun menegangkan. Teman laki-laki tidak ada yang masuk kelas, karena mungkin mereka malas. Dan salah satunya Kiki. Kiki rajin, tapi entah kenapa hari itu dia sangat malas. Guru fisika tidak bisa membiarkan ini begitu saja, jika dibiarkan nanti akan berkelanjutan. Akhirnya, guru fisika memanggil keluarga dari mereka. Aku penasaran dengan hal itu, hingga suatu malam aku menanyakan hal itu ke Kiki
"Ki, kenapa tadi kamu gak masuk pelajaran fisika?"
"Iya, Vi. Tadi, aku malas saja, teman-teman lelaki yang lainnya juga kan tidak masuk. Jadi, aku merasa ada yang mendukung untuk tidak masuk kelas."
"Aelah, tumben kamu. Katanya keluarga ada yang dipanggil, benar?"
"Iya. Benar, Vi."
"Terus papah kamu marah?"
"Ya, begitulah, Vi."
"Hmm, iyadeh iya, semoga nanti gak diulangi lagi kejadiannya."
"Hehe... iya semoga saja."
"Emang ada apa gitu Vi, kamu tanya-tanya soal itu?" Tanya Kiki.
"Ah nggak, hanya sekedar pengen tahu doang hehe."
"Oalaa."
"Tidur, Ki. Sudah malam ini, takutnya besok kesiangan."
"Besok Sabtu Vi, sekolah libur. Lagian kan besok mulai libur akhir semester."
"Eh, iya ya. Haha.."
"Aku duluan tidur, Ki. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Aku merasa nyaman kalau chat sama Kiki, aku takut perasaan ini akan terus ada menetap di hatiku. Sebenarnya aku selalu berusaha untuk tidak mengharapkan balasanan dari perasaan Kiki.
Sebelum tertidur aku selalu memikirkan apa yang akan aku lakukan untuk hari esok.
__ADS_1
Aku tidur dengan harapan semoga esok masih bisa diberi waktu untuk membuka mata di pagi hari dan melakukan kegiatan yang akan bermanfaat bagi orang banyak.