Aku Yakin Dia Adalah Jodohku

Aku Yakin Dia Adalah Jodohku
Pesan WhatsApp dari Diandra


__ADS_3

Karena jumlah siswa ajaran baru lebih banyak dan ruang kelas tidak mencukupi, sekolah mengambil keputusan untuk kelas XI MIPA 11 belajar di laboratorium fisika untuk sementara waktu.


"Mohon perhatiannya! Anak-anak, untuk kelas kita sementara waktu belajar di laboratorium fisika karena kelas yang seharusnya untuk kita akan dipakai terlebih dahulu oleh kelas X siswa ajaran baru."


"Yah, yah... loh, kok gitu sih, Bu?" Ano berkomentar.


"Kalian juga tahu kan jumlah ruang kelas sekolah kita seperti apa? Tahun ajaran sekarang sekolah membuka kuota masuk siswa baru lebih banyak, jadi kita harus bisa memahami itu!"


"Tapi, saya rasa itu tidak adil, Bu."


"Apa yang bisa ibu lakukan? Ibu juga hanya bisa nurut terhadap keputusan sekolah ini."


Dengan terpaksa kita belajar di laboratorium fisika untuk beberapa waktu kedepan, kita mempersiapkan semua barang-barang yang sudah tersusun rapi di waktu kelas sepuluh dan mengambil barang yang masih bagus untuk kita bawa ke laboratorium, kelas kita sementara waktu wkwk.


Laboratorium fisika menyimpan banyak kenangan bagiku. Kala itu, malam hari tepatnya, disaat aku mengerjakan tugas pekerjaan rumah aku mendapat pesan dari Kiki.


"Assalamu'alaikum, Ivi." Pesan Kiki muncul di notif handphoneku, aku merasa senang.


"Wa'alaikumussalam, Ki" Aku senyum-senyum sendiri di kamar menyimpan tugas yang sedang aku kerjakan dan menunggu pesan dari Kiki.


"Vi, Kiki mau lihat PR matematika halaman 235."


"Oh PR itu, boleh. Tapi, ada syaratnya, hehe."


"Apa, Vi?"


"Kamu sudah coba kerjakan soal itu?"


"Sudah, Vi. Tapi, buntu gak bisa-bisa, soal ini sangat membingungkan!"


"Hmm... gitu ya? Ya, sudah. Aku kasih tau hasilnya, tapi syaratnya kamu harus paham soal itu kalau kamu gak paham kamu bisa tanya aku."


"Oh iya pasti, Vi."


"Oke, sebentar Kiki kirim."


"Makasih ya, Vi."


"Iya, sama-sama. Harus paham ya soal itu titik!"


"Haha, siap-siap."


Beberapa jam kemudian, Kiki chat aku kembali setelah masalah PR itu terselesaikan.


"Vi, Kiki boleh curhat kan?"


"Ya, boleh dong, Ki."


"Vi, Kiki takut." Kiki kirim gambar chat Kiki dengan Diandra.


"Ki.. aku mau jujur sama Kiki, sebenarnya aku sayang sama kiki."


"Hah? Seriusan kamu, Ndra? Bisa saja kamu becandanya."


"Iya, Ki. Seriusan, aku ngomong jujur ini."


"Maaf sekali Ndra, aku gak bisa balas perasaan kamu itu, aku anggap kamu teman kok, nggak lebih"


"Sangat jelas!"


"?'' balas Kiki.


"Nggak, Ki" balas Diandra.


"Ndra jangan marah, jangan benci, Ndra silahkan benci Kiki, tapi jangan dengan sahabat sama teman kiki."


''Lihat saja nanti, kan kata lu juga kalau udah main perasaan siapa yang bisa bohong"


"Gak ngerti, sorry Kiki dalam hal cinta memang payah"

__ADS_1


"Iya, kan kata lu kalau udah menyangkut perasaan siapa yang bisa bohong, sedangkan kata gue benci dan kecewa itu juga perasaan😊. Jadi, kalau menurut lu gue jangan benci ke sahabat atau temen lu itu urusan nanti."


"Okehh, fine. Ndra."


"Berakhir dengan benci ternyata😂" kata Diandra.


"😊, makasih, Ndra."


"Hmm.. Diandra, Ki?"


"Iya, Vi."


"Emang kamu beneran gak menaruh hati sedikitpun sama Diandra?"


"Nggak, Vi. Kiki anggap Diandra temen kok nggak lebih."


"Vi, Vi bentar deh!"


"Kenapa?"


"Bentar Kiki kirim screenshotan lagi"


"Oke"


"Ki kamu jangan kasih tahu siapa-siapa soal ini!"


"Kamu kirim chat ini ke seseorang kan?"


"Vi, Vi kok Ndra tahu sih Kiki kirim chat dia?"


"Mungkin dia sedang mengira-ngira kali, Ki."


"Nggak, Vi. Bentar deh."


"Nggak kok, Ndra."


"Kamu bohong, aku perasa loh ki."


"Kamu jangan anggap aku dukun ya bisa tahu soal ini, haha."


"Nggak lah apaan gituan, haha."


"Tuh, Vi. Dia tahu Kiki kirim chat ini ke seseorang, Kiki kok jadi takut"


"Nggak, deh Ki. Ndra becanda, lagian kan dia nggak tahu orang yang di kasih bocoran chatannya dia sama kamu itu siapa."


"Ya tetep saja Kiki takut, takut kamu jadi kebawa-bawa soal perasaan Kiki sama Ndra."


"Ah kamu, kamu mah takut Ndra gunain dukun kan?😂😂"


"Ih.. kamu itu ya, Vi. Bercanda terus orang lagi ketakutan."


"Haha santuy Ki, santuy."


Beberapa menit kemudian, setelah Kiki cerita mengenai itu, Diandra menelponku, jarang-jarang dia meneleponku apalagi malam-malam gini.


Tuttt-tuttt-tuttttttt......... Suara handphone ku bergetar.


"Hah, Diandra? Tumben sekali dia menelponku." Aku tidak menjawab teleponnya.


Bodohnya aku sudah berburuk sangka terlebih dahulu ke Diandra, aku kira Diandra akan membahas mengenai Kiki, aku langsung chat Kiki.


"Ki, Diandra telepon aku!"


"Wah, seriusan kamu?"


"Iya Ki." Sembari ku kirim screenshot panggilan tak terjawab dari Diandra.


"Tuh, kan. Apa kata Kiki, Diandra tahu, Vi."

__ADS_1


"Hmmm,, iya. Gak papalah, Ki"


"Sudah malam, Vi. Tidur gih!"


"Iya, Ki. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


****


Keesokan hari, hari yang cerah penuh dengan awan putih bersih dan langit berwarna biru indah. Tepat hari Jumat, jadwal ekstrakulikuler aku dan Diandra sehabis pulang sekolah. Jam istirahat, Diandra menghampiriku, di saat aku sedang kumpul bersama teman-teman, Diandra menarik tanganku, membawaku ke pojok ruangan laboratorium dan berbicara.


"Vi, kenapa semalam aku telepon gak kamu jawab?"


"Iya, Ndra. Maaf sekali, semalam aku ketiduran dan handphoneku di silent, jadi sama sekali gak kedengaran, tahu-tahu aku lihat handphone dan ada notif dari kamu, maaf ya Ndra."


"Oh, gitu ya, gak papa. Vi, nanti sehabis pulang sekolah sebelum ekstrakulikuler, aku mau bicara sama kamu, bisa kan?"


"Bisa Ndra, Bisa."


Pelajaran telah usai, aku dan Ndra berbincang-bincang di depan ruangan laboratorium fisika itu. Ketika perbincangan belum dimulai Kiki lewat bersama Ano dan memberikan senyuman kepada aku dan Ndra. Selintas matanya menyimpan kecemasan, entah cemas soal apa.


"Vi, kamu dekat ya sama Kiki?" Mengawali perbincangan.


"Dekat? Dekat gimana maksud kamu, Ndra?" Aku kaget mendengar pertanyaan Ndra.


"Ya dekat, suka saling berbagi cerita kan?"


"Ya, gitulah, Ndra."


"Aku tahu kok, Vi. Kamu suka sama Kiki, kan?"


"Nggak kok, Ndra." Aku menyangkal pertanyaan Ndra itu.


"Kamu gak usah bohongin diri kamu sendiri, Vi. Pandangan kamu saat melihat Kiki suka berbeda."


"Hah? Iya gitu, Ndra? Perasaanku biasa saja sih, layaknya ke orang lain kok." Aku terus membantah soal pendapat Diandra itu, karena aku gak mau ada yang tahu soal perasaanku ke Kiki bahkan teman dekatku pun belum ada yang mengetahuinya.


"Nggak, Vi. Aku bisa lihat itu loh dan aku perasa juga, kamu jujur deh sama aku."


"Hmmmm.. nggak kok, Ndra. Nggak hehe.." Meyakinkan Ndra.


"Aku kenal kamu sebagai orang yang jujur Vi, masa kamu mau hancurkan pandangan aku ke kamu itu." Aku kebingungan, hingga suatu saat aku jujur sama Ndra.


"Ya.. aku jujur saja ya, Ndra. Kamu benar, aku suka sama Kiki, aku mengaguminya sejak masih SMP, tetapi hanya mengguminya saja dan tidak lebih."


"Tuh, kan. Gak papa kok, Vi. Wajar sekali kamu suka sama Kiki. Dia cowok yang baik, tampan lagi, lebih dari mengagumi juga gak papa kok."


"Iya Ndra, hehe.." Merasa malu.


"Oh iya, Vi. Semalam Kiki cerita sama kamu?"


"Cerita apa, Ndra?"


"Ya Kiki cerita gak soal aku mengungkapkan perasaanku pada Kiki?"


"Apa Ndra? Kamu suka sama Kiki?" Aku pura-pura tidak mengetahuinya.


"Aelah, kamu jangan pura-pura nggak tahu deh, Vi."


"Iyadeh, iya. Kamu benar, Ndra. Kiki cerita sama aku."


"Untunglah dia cerita sama kamu bukan sama orang lain. Aku percaya sama kamu, kamu gak akan kasih tahu soal ini ke teman-teman yang lain."


"Iya insyaallah, Ndra. Aku bisa jaga rahasia ini."


Adzan Dzuhur berkumandang, menunjukan aku harus segera pergi ke mesjid untuk sholat Dzuhur berjamaah bersama anak-anak ekstrakulikuler lainnya. Aku langsung mengakhiri perbincangan dengan Ndra.


"Aku ke mesjid dulu ya, Ndra"

__ADS_1


"Yaudah ayo, kita barengan."


"Oke, ayo."


__ADS_2