
Ekstrakulikuler yang aku ikuti adalah FSRI atau forum silaturahmi remaja islam, setelah kegiatan sholat Dzuhur kita memulai kegiatan dengan membaca Alquran satu per satu dan didengarkan untuk dikoreksi bila ada kesalahan dalam membacanya.
Setelah membaca Al-Quran, dilanjut oleh kajian rutin oleh pembina ekstrakulikuler kami, yaitu bapak haji Burhanuddin. Ketika pembina membahas soal salah satu ayat Al-Quran yang menjelaskan zina
Walaa taqrobuuzzinaa innahu kaana faahisyatan wasaa-a sabiilaa
Dan janganlah kamu mendekati zina sesungguhnya zina itu ialah sesuatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.
Aku langsung teringat dan berkata di dalam hati "Ya Allah apakah menyimpan perasaan kepada seseorang dan aku suka berbagi cerita sama dia, chatan sama dia, apakah itu salah satu perbuatan zina?" Aku bertanya-tanya kepada hatiku sendiri.
Disamping tempat dudukku ada teh Bela, ketua akhwat ekstrakulikuler ini. Aku masih penasaran sama pertanyaanku tadi.
"Teh Bel, nanti usai kajian ini, aku mau bertanya sama teteh ya, teteh bisa kan?" Aku berbisik kepada teh Bela.
"Hmm... gimana ya? Boleh deh boleh insyaallah, hehe.."
"Oke teh, hehe.."
2 jam berlalu kajian itu berakhir. Sembari menunggu adzan Ashar aku langsung menoleh dan menggerakkan badanku 45° ke teh Bela dan memulai pembicaraan.
"Teh, teh..." Sembari menatap mata teh Bela.
"Iya, ada apa, Vi?"
"Teh, aku mau bertanya soal kajian bapak tadi."
"Lah.. kamu, Vi, kenapa tadi tidak langsung kamu tanyakan kepada bapak saja, biar bapak langsung menjawabnya."
"Nggaklah teh, nggak mungkin itu. Aku malu menanyakan soal ini ke bapak."
"Kamu itu ya... Memangnya apa pertanyaanmu itu?"
"Jadi gini teh, aduh aku malu ngomongnya."
"Eh, kamu katanya mau nanya, tapi malu, jadi gak nanyanya?" Sembari becanda.
"Gini teh, kan tadi bapak membahas soal zina ya? Bapak bilang kita sebaiknya menjauhkan diri dari perbuatan itu, seperti pacaran dan hal lainnya. Nah, aku mau tanya sama teteh, kalau ada perempuan yang mengagumi seorang lelaki, terus perempuan itu sering kabar-kabaran meskipun mereka gak pacaran hanya kabar-kabaran saja. Dan si perempuannya sedikit menaruh hati sama lelaki itu, gimana itu teh?"
"Aduh.. pertanyaannya sangat menyulitkan buat aku jawab, Vi."
"Menyulitkan, teh?" Aku merasa heran.
"Iya, itu pertanyaan masalah hati, dan hukum, aku takut salah menjawabnya."
"Gak papa, teh. Menurut pandangan teteh gimana?"
"Ya, kalau menurut teteh, kalau seorang perempuan mengagumi seorang lelaki itu wajar-wajar saja, dan seorang perempuan menaruh hati atau baper sama seorang lelaki juga wajar, tapi..." Teh Bela menghentikan perkataannya.
__ADS_1
"Tapi... apa, teh?"
"Kalau dia menaruh harapan selain sama Allah itu yang gak boleh dan gak wajar. Kalau perempuan itu selalu memikirkan lelaki itu sampai lupa sama yang lain, sama tugas dan kewajiban dia, itu juga tidak wajar, hanya buang-buang waktu saja. Itu menurutku, Vi."
"Hmmmm.. gitu ya teh?" Sembari menundukan pandangannya.
"Iya, Vi. Kamu kenapa? Kamu sedang tertarik sama siapa?"
"Hah apa teh?" Aku terbangun dari lamunanku.
"Kamu sedang jatuh cinta?"
"Jatuh cinta? Hehe,, nggaklah teh apaan cinta-cintaan."
"Eh, kamu gak boleh gitu, cinta itu anugerah dari Allah SWT. sangat dibutuhkan bagi rohani seseorang, cinta bukan dari seorang kekasih saja kan? Temanpun bisa, dan yang pasti kamu masih punya cinta dari keluargamu. Cinta bisa membuat kita semangat untuk ngelakuin satu hal. Jadi, kamu Vi jangan jauhin cinta, tapi cinta kamu itu harus dijadikan motivasi buat menggapai cita-cita kamu, manusia tidak akan bisa hidup tanpa cinta, termasuk cinta pada seseorang yang sedang kamu rasakan saat ini, hehe."
"Ishhh, teh Bela, apaan sih."
"Beneran kamu sedang jatuh cinta?"
"Gimana ya teh, jatuh cinta mungkin, benci juga mungkin, aku sendiri bingung teh dengan perasaan ini."
"Aduh, kamu lucu sekali tau, itu tuh namanya kamu sedang jatuh cinta."
"Masa iya sih, teh?"
"Iya teh, siap. Lagian aku hanya suka saja deh teh nggak sampai jatuh cinta."
"Yakin kamu, Vi?" Memojokanku dan tersenyum-senyum.
"Yaaakin, teh." Sedikit ragu.
"Oke deh terserah kamu, Vi. Ingat saran bapak tadi ya, jangan pacaran dulu lebih baik temanan saja."
"Siap teh insyaallaah, terimakasih sekali teh atas waktunya. Sekarang rasa penasaranku sudah terjawab deh hehe."
"Iya, sama-sama, Vi."
Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar.. (adzan Ashar berkumandang)
"Alhamdulillah sudah adzan, yuk kita wudlu!"
"Ayo, teh."
Sholat berjamaah Ashar telah selesai. Aku dan teman-teman yang lainnya bergegas pulang. Aku dan Vina jalan kaki dulu dikarenakan jarak sekolah ke gang lumayan jauh.
"Vi, kamu tadi bicara apa sih sama teh Bela? Kayaknya serius banget."
__ADS_1
"Ah, kamu Na. Kepo deh, hehe."
"Aelah, Vi. Ayo dong cerita, aku penasaran nih." Memaksa Ivi.
"Nggak Na, nggak ada yang serius. Aku cuman nanyain soal kajian bapak tadi, soalnya aku belum paham."
"Oh itu, kenapa sih kamu gak nanya sama aku saja Vi? Aku paham kok soal itu." Sembari becanda.
"Haha, percaya deh Na."
Ketika aku dan Vina sedang tertawa asik, tiba-tiba dari arah belakang datang Kiki lewat dengan motor merahnya. Kiki anak ekstrakulikuler atletik. Jadwalnya sama seperti ekstrakulikulerku yaitu hari Jumat. Dia menghentikan motornya dan menyapaku.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Aku menjawab salam Kiki dengan hati yang berdegup kencang dan pipi yang memerah.
" Eh Vi, ayo mau pulang bareng?"
"Hah?" Aku kaget.
"Mau barengan gak?"
Aku menoleh ke Vina karena tidak berani meninggalkan Vina sendirian jalan kaki meskipun aku tahu rumah kita berlawanan arah dan kita naik angkot yang berbeda tetapi setidaknya aku menemani dia untuk jalan kaki biar dia tidak sendirian.
"Hmm iya makasih Ki, aku naik angkot saja. Bentar lagi juga sampai gang dan sepertinya angkot juga banyak, lagian kan kita beda arah."
"Beneran nih gak mau?" Dengan penuh kesopanan.
"Iya Ki, terimakasih ya."
"Iya sudah, aku duluan ya Vi. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Hati-hati Ki." Dalam hati aku berkata.
Aku pengen sekali bisa pulang bareng sama kiki, tapi tidak bisa karena situasi dan kondisi. Aku takut ketemu sama orang yang suka sama Kiki apalagi Kiki kan bagaikan artis di sekolah, banyak penggemarnya. Nanti dipikir aku pacarnya, haha. Lagian aku tidak biasa boncengan sama lelaki terkecuali kakakku. Aku melewatkan satu kali kesempatan itu.
Pukul 16.30 Aku sampai di rumah, langsung mandi, makan dan istirahat. Sembari rebahan aku memainkan handphoneku. Ketika memainkan handphone adzan Maghrib berkumandang, aku menyimpan handphoneku dan mendengarkan adzan dengan penuh harapan dan doa.
Adzan berakhir aku kembali mengambil handphoneku untuk mengirim pesan ke teman-teman terdekatku dan Kiki untuk segera melaksanakan sholat Maghrib, sekedar mengingatkan saja. Setelah itu, aku langsung pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudlu. Langsung mengenakan mukena putih dan berusaha sholat dengan khusu. 10 menit sholatku berakhir. Aku meminta ampunan dan berdoa kepada Sang pencipta, doanya sesuatu ya, hehe. Tak lupa juga aku akhiri dengan membaca Alquran. Setelah itu, aku kembali mengambil handphoneku untuk memberi kabar kepada anak pondok bahwa malam ini ada pembayaran uang infak. Ternyata setelah ku buka WhatsApp terdapat pesan dari Kiki, menjawab pesanku yang tadi.
"Iya Alhamdulillah Vi, Kiki sudah sholatnya."
"Hehe, iya Alhamdulillah Ki."
Aku langsung mengakhiri chatku dan bergegas pergi ke pondok.
__ADS_1