
Ujian tes masuk perguruan tinggi negeri berbasis komputer atau UTBK adalah harapanku untuk bisa melanjutkan sekolah lagi, dengan masuk jalur Bidikmisi aku sangat berharap nilai UTBK ku mencukupi untuk bisa masuk universitas pendidikan Indonesia atau UPI. Aku memilih universitas itu karena pada dasarnya sejak kecil sampai lulus SMA keinginananku ingin menjadi seorang guru. Sejak masih di pondok, aku sering mengajar anak-anak kecil. Jadi, aku merasa memang ini adalah bidangku. Alasan memilih guru, selain mencerdaskan kehidupan bangsa, membuat orang-orang pintar. Aku juga ingin mengajarkan kepribadian baik atau akhlakul karimah, itung-itung sekalian memperbaiki diri sendiri. Aku bercita-cita menjadi guru yang bisa melahirkan anak-anak bangsa yang selain cerdas ia juga bijak, dan berakhlak baik. Tapi, sayang setelah pengumuman UTBK itu nilai aku tidak mencukupi untuk masuk universitas itu. Aku sudah tidak punya harapan lagi untuk kuliah karena keluargaku tidak mengizinkan untuk kuliah di swasta. Selain itu, aku punya tanggungjawab besar untuk keluargaku. Bapakku yang sudah tidak bisa bekerja karena kondisi kesehatannya dan mamaku yang hanya bisa bekerja untuk kebutuhan hidup sehari-haripun terkadang tak cukup. Di saat itulah, aku korbankan cita-citaku itu demi keluargaku.
Aku pergi mencari kerjaan ke sana-ke mari dan belum juga berhasil. Selama tiga bulan setelah lulus SMA belum mendapatkan kerjaan, hanya membantu mama di rumah sekaligus membantu pekerjaan mama yaitu membungkus kerupuk punya tetangga untuk dijual ke warung-warung di sekitaran rumah. Setelah tiga bulan itu, akhirnya ada panggilan dari satu perusahaan, aku datang ke sana. Alhamdulillah akhirnya bisa keterima kerja di sana.
Sebenarnya hatiku tidak menginginkan untuk bekerja, tapi apa daya demi kehidupan keluarga, aku harus ikhlas dan sabar hidup seperti ini. Ini mungkin memang sudah jalan terbaik untuk hidupku. Sesuatu hal yang tidak aku minati sangat sulit untuk ditekuni. Hati ini merasa kacau, awalnya sulit menerima kenyataan ini. Hingga pernah putus asa dengan kehidupanku.
Melihat teman-temanku yang lain kuliah, hati kecilku suka merasa iri. Tapi, setelah ku pikir-pikir, ya... Kembali lagi ini adalah jalan hidupku. Terus-terusan ikhlas dan bersabar menunggu keajaiban datang menghampiri kehidupanku ini.
Setelah satu tahun bekerja, aku ingin kembali mengejar cita-citaku untuk menjadi seorang guru. Uang hasil bekerja aku tabung untuk membuat warung kecil buat mama, dan Alhamdulillah bisa terwujud, warung itu menjadi modal untuk kehidupanku dan keluargaku.
Aku memberanikan diri meminta izin kepada mama dan bapak untuk bisa mengejar cita-citaku, menjelaskan semuanya tentang apa maksud dari cita-citaku itu. Setelah aku ngobrol sama keluarga, akhirnya mereka mengizinkan.
Aku melanjutkan pendidikanku di universitas swasta di Cimahi. Kurasa di mana pun menempuh pendidikan semuanya sama saja. Yang penting ilmuku kelak bisa bermanfaat bagi banyak orang.
Di sana aku mendapat banyak kenalan baru. Salah satunya dia, si kulit putih, tinggi, sedikit gemuk, dan mata sipit. Namanya Gufron Putra. Ciri-cirinya mirip Kiki? Betul sekali. Hanya saja dia sedikit gemuk.
Berawal kita bertemu di mesjid Al-lathiif waktu kajian salah satu penceramah kondang di Indonesia. Aku bersama temanku di pondok pergi ke sana. Dia bersama teman-temannya pula. Peci hitam, Koko putih dan sarung hitam, dia kenakan hari itu.
Ketika kajian selesai, semua jamaah bubar, sibuk memarkirkan kendaraannya masing-masing. Di saat itu, ketika aku dan temanku sedang menunggu grab pesanan kita, tepat di depan mata kita, Gufron dan satu orang temannya yang dia bonceng jatuh dari motornya.
Aku dan temanku menolong dia. Hingga pada suatu saat kita dipertemukan kembali ketika di kampus.
Hari pertama, ketika saling kenalan satu sama lain dan berbagi cerita, dia menceritakan kejadian itu. Dan aku baru menyadarinya bahwa pernah mengalami hal yang sama. Aku mengira-ngira dia adalah orang yang sempat aku tolong waktu kajian itu.
Dia tidak melihat mukaku namun aku melihat muka dia. Sayangnya, aku tak mengingat-ingat mukanya sehingga aku tak mengenalinya.
Di mesjid kampus setelah sholat Dhuha aku bertemu sama dia. Dia menyapaku.
"Assalamu'alaikum Ivi."
"Wa'alaikumussalam."
"Gufron kan?." Aku menghentikan langkah Gufron.
"Iya, aku Gufron, ada apa ya Vi?" Tanya Gufron.
"Kamu pernah jatuh ketika pulang kajian di mesjid Al-lathiif waktu ada kajian ustadz Abdul Shomad? Dan ada tiga orang perempuan yang nolongin kamu?"
"Iya benar Vi. Kenapa gitu?"
__ADS_1
"Nggak, aku cuma penasaran saja, kok ceritanya sama seperti kejadianku, hanya saja aku nggak jatuh cuma aku nolongin orang itu. Aku sempat melihat mukanya, tapi lupa cuma sekilas gitu. Tapi, tapi.... badannya seperti kamu gini." Dengan yakinnya aku bertanya.
"Wah seriusan kamu? Jangan-jangan orang yang kamu tolong itu aku. Haha."
"Mungkin sih iya kamu. Haha."
"Kalau kamu, aku mau berterima kasih, soalnya waktu kejadian itu aku belum sempat berterima kasih, mereka buru-buru karena grab yang mereka pesan sudah datang."
"Ihhh benar sekali kejadiannya sama."
"Wah? Berarti benar itu kamu. Makasih ya, bilangin juga sama teman-teman kamu yang sudah bantu aku sama Dani."
"Iya sama-sama nanti aku sampaikan."
Hari pertamaku ngampus sangat berkesan. Setelah seminggu ngampus mama menyuruhku untuk ngekos saja karena merasa kasian kalau harus bulak-balik ke kampus.
Sehabis pulang ngampus aku mencari kosan. Di jalan bertemu sama Gufron.
"Mau ke mana Vi?" Gufron menghentikan motornya.
"Aku mau cari kosan."
"Belum, tadinya mama tidak mengizinkanku untuk ngekos. Tapi, kali ini mama sudah mengizinkannya."
"Di dekat rumahku ada juga kosan, siapa tahu kamu cocok, mau aku anterin?"
"Gak papa aku ikut sama kamu?" Tanyaku yang sedikit ragu.
"Ya gak papa dong Vi, kan aku yang nawarin."
"Oke, makasih ya sebelumnya."
"Iya sama-sama, ayok naik."
Setelah ketemu kosan aku memutuskan untuk ngekos di sana, tempatnya pas buat aku, pertama kali melihat kosannya aku langsung tertarik. Kebetulan dekat dengan rumah Gufron. Gufron mengajakku kerumahnya dan dia memperkenalkanku dengan mamanya. Mamanya sangat baik dan perhatian sekali sama Gufron, maklum saja dia anak satu-satunya. Mama memanggil dia Kaka. Di sanalah awal mula aku memanggil Gufron dengan sebutan Kaka. Dia menyuruhku untuk memanggilnya Kaka.
"Eh mama kamu panggil kamu Kaka?"
"Iya Vi."
__ADS_1
"Aku kira tadi mama panggil Kaka itu ke sodara kamu, tapi kamu kan gak punya kakak."
"Iya Vi, kata mama dulu mama punya adik perempuan namanya Rizka, mama suka panggil Kaka ke dia, hanya saja tidak lama Allah memanggil dia di usianya yang ke 17 tahun. Mama sangat merasa sedih, adik satu-satunya pergi lebih dulu dari mama. Mama berjanji sama diri mama kalau mama punya anak mau di panggil Kaka juga. Jadi, mama manggil aku Kaka. Gitu Vi ceritanya. Hehe.."
"Hmmm gitu, maafin aku ya jadi kepo gini."
"Eh gak papa, santuy aja Vi."
"Kamu panggil aku Kaka juga ya."
"Loh kok?"
"Ya biar lebih akrab saja."
"Hmm... Iya boleh deh boleh, Kaka. Hehehe." Sembari tertawa kecil.
Dia orang yang sangat baik, sopan lagi. Selama aku ngekos di sana, dia selalu ada untukku. Berangkat dan pulang ngampus barengan.
Setiap mau pulang ke rumahku dia selalu mengantarku ke stasiun, bukan tidak mau dia mengantarku ke rumah, tapi aku selalu menolaknya.
Di kota itu, aku tak mengenal siapapun. Kaka dan mamanya selalu menolongku layaknya saudaraku sendiri. Kaka selalu memberi makanan kepadaku dengan alasan "Ini adalah perintah mamaku." Aku sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan orang-orang seperti mereka.
"Tok..tok..tok..... Assalamu'alaikum Vi." Kaka mengetuk pintu.
"Bentar....... Wa'alaikumussalam. Eh Kaka, ada apa Ka?" Tanya aku.
"Ini makanan dari mamaku Vi." Kaka memberiku makanan.
"Eh kok repot-repot sih, aku sudah beli makan kok buat makan nanti malam."
"Gak tahu ini dari mamaku Vi."
"Hmm ya sudah aku terima makanannya, terima kasih ya, maaf juga aku gak bisa suruh kamu masuk ke dalam. Kamu paham kan?"
"Sama-sama, iya gak papa, aku paham kok. Aku pulang dulu Vi. Makan yang banyak, hehe."
"Hehe, oke siap. Nanti wadahnya aku anterin ke rumah."
"Oke, aku pamit. Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam."