Aku Yakin Dia Adalah Jodohku

Aku Yakin Dia Adalah Jodohku
Perpisahan Sekolah, Dia dan Mutiara


__ADS_3

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, kini waktunya aku bersama anak 12 mipa 11 untuk berpisah. Hal yang sebenarnya tak ingin ada tapi ya memang inilah hidup. Kita tak akan selamanya bersatu. Ada jalan masing-masing yang harus kita capai. Tiga tahun bukan waktu sebentar, banyak sekali kenangan yang telah kita lalui.


Kala itu, di waktu perpisahan, sekolah kami mengadakan acara resmi pelepasan siswa kelas 12. Acaranya sangat meriah, dan penuh haru. Semua siswa perempuan mengenakan kebaya, dan siswa laki-laki mengenakan jas. Terlihat sangat berbeda, cantik-cantik dan tampan-tampan. Apalagi dia, Kiki? Iya. Meskipun dia terlihat tidak percaya diri dengan jas yang dia kenakan, tapi dia tetap terlihat tampan. Aku datang bersama mama. Aku sangat bangga melihat mama ada di acara itu. Pertama kali mama menghadiri acara perpisahan anaknya. Aku tak kuat ketika melihat muka mama, rasanya bersyukur sekali bisa lulus SMA. Satu persatu dipanggil untuk penyerahan ijazah oleh wali kelas, setelah itu siswa dianjurkan untuk menghampiri orangtuanya masing-masing. Namaku dipanggil "Rivi Anggraeni" aku langsung ke panggung, Bu guru memelukku dan menyerahkan ijazah kepadaku. Setelah itu aku langsung menghampiri mama, berterima kasih, memohon maaf, dan meminta doa.


"Ma, Ivi lulus." Aku menangis merasa bangga.


"Iya sayang Alhamdulillah."


"Terimakasih ya ma, atas semua pengorbanan mama buat Ivi, Ivi minta maaf juga atas semua kesalahan Ivi sama mama, Ivi minta doa dari mama, semoga kedepannya Ivi menjadi anak yang lebih baik lagi. Sukses dunia, akhirat."


"Aamiin sayang, mama selalu mendoakan Ivi." Mama memelukku.


"Ma, kita foto bareng yuk."


"Ayok sayang."


Di tempat yang sudah disediakan untuk foto bareng dengan orangtua, aku mengambil potret bersama mama di sana.


Setelah itu, ada panggilan dari pembawa acara untuk sesi pemotretan perkelas, dan waktunya untuk kelas 12 mipa 11. Foto perkelas selesai sehingga aku dan teman-teman kembali ke tempat acara.


Kiki datang bersama papah dan kakak perempuannya. Kiki sangat terlihat bahagia. Kiki bersama anak bandnya tampil waktu itu. Kak Tia, kakak Kiki setia menunggu dia untuk tampil, sedangkan papahnya sudah pulang duluan. Kebetulan kiki kebagian tampil terakhir untuk penutupan. Aku ingin melihat dia yang terakhir kalinya di sekolah ini. Aku duduk paling depan. Tiba saatnya dia tampil, aku merasa sedih karena harus berpisah sama dia, akan sulit sekali untuk bisa bertemu lagi.


"Hey, jangan melamun Vi." Vina mengagetkanku.


"Eh astaghfirullahal'adzim."


"Vi, gitu banget sih lihatin Kikinya."


"Gitu gimana? Biasa saja kok."


"Kamu sedih?"


"Ya iyalah siapa yang gak sedih berpisah dengan kalian. Meskipun bisa saja kan ketemu, tapi rasanya berat sekali."


"Bukan itu. Kamu sedih berpisah sama Kiki?"


"Ya iyalah, kan Kiki juga teman aku, masa gak sedih berpisah sama teman. Pertanyaan kamu itu retoris Na."


"Bukan gitu Vi, tapi sudahlah sudah hehe.. Kamu gak kasih sesuatu buat Kiki?"


"Nggak Na."


"Kenapa? Katanya mau kasih sesuatu buat Kiki di hari perpisahan ini."


"Gak jadi Na. Mungkin dia sudah dapatkan sesuatunya dari Mutiara." Aku sembari melihatkan handphoneku dan menunjukan foto Kiki dan Mutiara yang terlihat sangat romantis. Tangan Mutiara memegang tangan Kiki dengan penuh kasih sayang, dan muka Kikipun senyum sumringah, penuh kebahagiaan.


"Hmm.... Ya sudah buat aku saja sesuatunya itu. Hehe."


"Beda dong kalau buat kamu, mau sekarang? Apa nanti saja?" Aku sedikit tertawa.


"Nanti kapan?"


"Nanti dari Ano. Haha."


"Ih apaan sih, beda lagi dong kalau itu. Sekarang saja deh yang dari kamunya."


"Beneran sekarang?"


"Iya beneran."


"Pengen banget sekarang?"


"Ihhh kamu ya Vi, aku gak sabar nih."


"Tutup matanya sebentar."


"Satu, dua, tiga. Buka..."


"Ya ampun terima kasih Vi. Kamu terbaik, makasih coklatnya pasti aku makan. Bentar aku baca dulu suratnya."


"Eh Jangan dulu, nanti saja buka suratnya. Kamu bacanya kalau sudah sampai di rumah. Kalau di sini nanti kamu nangis bacanya, kan sayang kita udah bayar make up mahal. Hahaha."


"Ya sudah iya deh, aku baca nanti di rumah. Terima kasih ya."


"Iya sama-sama Na."


"Nih dari aku buat kamu." Vina memberikanku Pocky rasa banana.


"Ya Allaah Syukron wa jazakillah Vina. Tahu saja apa yang aku suka." Sambil memeluk Vina.


"Iya dong. Hehe."


"Eh tahu gak alasan aku kasih kamu coklat?"


"Biar aku gendutan kan?"


"Nah, nah kamu pintar Na. Haha."


"Ah dasar kamu Vi."


Seusai acara selesai, Cinta, Karen, dan Vina mengajakku ke taman sekolah. Kiki dan teman-teman yang lainnya lewat.


"Ki, Ki.." Cinta memanggil Kiki.


"Iya ada apa Ta?"


"Ivi mau foto bareng sama kamu."


"Eh apaan sih Ta." Aku mencubit Cinta.


"Diam, kalau nggak nanti kamu bakal nyesel."


"Oh boleh, ayok." Kiki menghampiri aku.


Aku dan Kiki berfoto, Cinta mengambil 3 potret foto dari kita berdua. Seperti biasa aku gugup kalau dekat dengannya. Foto kita tidak terlihat indah. Mukaku yang gugup terpotret di foto itu.


Setelah itu, Kiki menarik tanganku.


"Mau kemana?"


"Ayo ikut."


"Sebentar, lepasin dulu tangan akunya." Aku menghentikan jejak langkahku.

__ADS_1


"Iya, aku lepasin."


"Ta, tunggu aku ya, aku ikut pulang bareng sama kamu."


"Iya Vi, aku tunggu kamu." Cinta menungguku sedangkan Vina dan Karen pulang duluan.


Kiki jalan duluan dan aku mengikutinya. Kiki berhenti di tempat yang tidak banyak orang.


"Sini duduk!" Kiki menyuruhku duduk.


"Iya" Aku duduk di sampingnya, dengan jarak yang lumayan jauh.


"Vi,.." Kiki memanggilku.


"Iya apa?"


"Kiki mau berterima kasih kepada Ivi, selama tiga tahun ini Ivi sudah jadi teman baik Kiki, teman yang selalu mengajarkan Kiki kebaikan. Meskipun kita sempat jauh karena hal itu, Kiki tidak pernah melupakan teman seperti Ivi. Kiki mau kita berteman untuk selamanya. Kiki mohon maaf juga kalau sikap Kiki sama Ivi sering membuat Ivi menangis."


"Maaf Ki, Kiki tidak salah kok. Yang salah aku, kalau aku tidak berharap sama Kiki kejadiannya tidak akan seperti ini." Aku berbicara tanpa memandang Kiki.


"Iya Vi, semoga kedepannya kita menjadi orang yang lebih baik lagi, semoga kita sukses dunia akhirat. Dan semoga Ivi mendapat kekasih yang sholeh, tampan, dan baik. Kita akan sulit untuk bertemu Vi. Kiki insyaallah jadinya kuliah di Bandung. Papah kiki menyuruh Kiki untuk melanjutkan usahanya, jadi aku ngambil management di UNPAS. Doain ya Vi, semoga aku bisa menjalankan itu semua. Jangan lupa undang Kiki kalau Ivi menikah."


Aku hanya tersenyum, diam dan menangis mendengar semua perkataan Kiki tadi. Sejujurnya aku adalah orang yang mudah menangis.


"Vi, kok diam?" Kiki menoleh mendekatiku.


"Kamu nangis?" Tanya Kiki.


"Nggak Ki, cuma kelilipan, anginnya gede barusan. Sudahkan Ki ngobrolnya? Gak ada yang mau dibicarakan lagi? Terima kasih buat semuanya, kamu harus semangat untuk kuliahnya, banggakan keluarga kamu. Aku pamit duluan Ki. Assalamu'alaikum." Aku sudah tidak kuat lagi bicara dengan Kiki, aku langsung mengakhiri obrolannya.


"Vi kemana?" Cinta melihatku lewat buru-buru pergi.


Aku buru-buru pergi bahkan tak mendengarkan apa yang cinta katakan.


"Kenapa sih si Ivi, main pergi saja. Katanya mau pulang bareng."


"Eh.. eh.. Ki, Ivi kenapa kok buru-buru gitu?" Cinta menghentikan motor Kiki.


"Gak papa Ta."


"Seriusan Lo Ki, Lo apain Ivi? Kelihatannya tadi Ivi sedih."


"Maaf buru-buru Ta. Assalamu'alaikum." Kiki pergi.


Aku jalan dari gerbang sekolah menuju gapura tempat menunggu angkot. Suasana di sekeliling sangat sepi karena siswa yang lain sudah pada pulang. Tak terlihat seorang pun manusia yang berlalu lalang. Hanya ada dia yang lewat dengan motor merah boncengan dengan seorang wanita cantik mengenakan kebaya ungu. Kiki dan Mutiara? Tepat sekali. Kiki buru-buru karena Mutiara sudah menunggunya di parkiran. Mereka lewat di hadapanku. Tepat di depan mataku. Yang dulu sempat dia rahasiakan, kini dia tampakkan. Kiki menyapaku dengan suara klakson motornya dan berkata "Duluan Vi". Aku tak tahu kenapa hatiku merasa sakit, padahal harusnya aku bahagia karena Kiki merasa bahagia dengan Mutiara.


Sesampainya di rumah, karena mama tadi pulang duluan dijemput kak Dura, mama menanyakan mataku yang sembab.


"Vi kenapa mata kamu sembab?"


"Gak apa-apa ma, tadi sudah sedih-sedihan saja sama teman-teman." Aku langsung pergi ke kamar.


"Assalamu'alaikum." Cinta dan Karen datang ke rumahku.


"Wa'alaikumussalam. Eh Cinta, Karen. Ayok masuk." Mama menyuruh Cinta dan Karen masuk.


"Ivi sudah sampai rumah kan ma?" Tanya Cinta.


"Sudah, barusan langsung masuk kamar. Silahkan lihat saja ke kamar Ivi. Tampaknya dia sedih. Tapi, mama tidak tahu kenapa, mungkin kalau sama kalian, Ivi bisa cerita. Mama ambil dulu minum buat kalian."


"Iya silahkan."


"Darrrrr..." Cinta dan Karen mengagetkanku yang sedang memainkan handphone melihat hasil foto-foto tadi bersama teman-teman.


"Loh kok ada di sini?" Tanyaku kepada Cinta dan Karen.


"Gak papa dong, kangen nih kita sama kamu."


"Aelah emang aku ngangenin sih ya haha. Padahal baru setengah jam loh kita ketemu, kalian sudah kangen saja."


"Iya nih, Cinta, Vi." Kata Karen.


"Eh apaan, kamu kali Ren." Kata Cinta.


"Hmm sudah-sudah, aku tahu kalian berdua kangen aku. Haha." Dengan berusaha tidak sedih aku tertawa.


"Gak ya gak. Wleee."


"Dasar kalian ya. Sudah gih pergi saja kalau gak kangen sama aku. Buat ngapain coba ke sini."


"Aelah Ivi marah Ta. Haha." Kata Karen.


"Biarkan Ren, dia marah juga, gak akan lama kok kalau dia marah. Kata teman-teman juga seorang Ivi itu tidak bisa marah, kalau marahnya itu cuma nangis. Alay ya si Ivi Ren?" Cinta meledekku.


"Heem Ta, alay banget itu. Haha."


"Ishhh kalian kalau mau ngeledek jangan di waktu yang salah dong."


"Eh emang kenapa?"


"Gak papa sih."


"Aku tahu Vi, kamu sedang sedih. Aku tadi panggil-panggil kamu, katanya kamu mau pulang bareng, tapi malah pergi gitu saja. Jadi, aku ke rumah Karen aja, dan ajak Karen ke sini soalnya pengen tahu kamu kenapa."


"Iya gitu kamu manggil aku?"


"Tuh kan, gitu sih kalau seorang Rivi Anggraeni lagi sedih tuh, kerjaannya melamun, orang bicara tidak didengar, apapun yang ada di sekelilingnya dia acuhkan, heran deh aku."


"Ya maaf Ta, aku tidak mendengarnya."


"Iya, iya aku maafin. Sekarang cerita dong. Kenapa sedih? Soal si Rifki kah?"


"Ya gitulah, tadi Kiki ngobrol sedikit sama aku, aku jadi sedih, dan gak tau kenapa pas lihat Kiki sama Mutiara boncengan rasanya sakit sekali."


"Oh gitu, emangnya kamu tadi ngobrol apaan sama Kiki? Terus kenapa kamu tahu Kiki boncengan sama Mutiara?"


"Ada aja, kepo deh. Wlee."


"Oh jadi gitu ya, main rahasia-rahasiaan." Kata Cinta.


"Iya Ivi gak asik." Kata Karen.


"Gak penting tau, eh sebentar aku belum ambilkan kalian minum."

__ADS_1


"Gak usah Vi. Mama kamu tadi sudah ambilkan minumnya di depan."


"Oh ya sudah aku ambilkan dulu ke sini."


"Oke deh."


"Nih minumnya." Aku membawakan minumnya.


"Makasih Ivi."


"Sama-sama."


"Ya ampun kerupuk ini selalu ada di rumah Ivi, aku jatuh cinta sama kerupuk ini." Kata Cinta.


"Gak jatuh cinta sama aku Tak? Haha."


"Gak ya monmaaf. Aku masih normal Vi. Wlee."


"Siapa tahu aja kamu gak normal, haha."


"Eh, eh, ini mah bukan candaan, gak lucu tau."


"Ivi benar Ta. Haha." Kata Karen.


"Tuh, tuh kan. Karen juga setuju. Haha.."


"Kalian ngajak ribut?" Tanya Ciinta.


"Ayo, siapa takut. Wleeeee..." Aku dan Karen menantangnya.


Kita seperti anak kecil, lempar-lemparan bantal, guling, dan boneka.


Aku berusaha menyembunyikan perasaan sedihku di hadapan Cinta dan Karen. Aku tidak mau di hari perpisahan ini aku hanya menceritakan kesedihanku sama mereka apalagi soal laki-laki.


"Sudah ah sudah, aku nyerah deh." Kata Cinta.


"Huhuhhhh.." Sorakku dan Karen.


"Ivi...." Cinta memanggilku.


"Iya apa Ta?"


"Ini dari aku buat kamu." Cinta memberikan coklat dan bunga dengan pesan suratnya.


"Aku juga punya buat Ivi." Kata Karen sembari memberikanku boneka Doraemon.


"Ya Allaah, Alhamdulillah, jazakallahu khoiron katsiron, Karen, Cinta." Aku memeluk mereka.


"Sama-sama Ivi."


"Eh aku juga punya sesuatu buat kalian."


"Apaan?"


"Bentar, aku ambil dulu... "


"Nih, buat kalian." Aku berikan buku cerita karanganku yang dibuat sendiri tentang perjalanan pertemanan kita.


"Ya ampun, lucu sekali, unik. Makasih banyak Ivi." Kata Cinta dan Karen.


"Sama-sama."


"Ini satu lagi buat siapa Vi?"


"Oh itu buat Vina. Tadinya mau pas di sekolah ngasihnya, tapi lupa, ketinggalan."


"Ishh, ini kamu dapat foto aku ini dari mana?" Karen menunjukkan salah satu foto yang ada di buku itu.


"Rahasia dong. Haha."


"Pasti kamu curi dari rumahku ya?"


"Ya nggak dong, wleeeee."


"Arghhhh gemes pokoknya aku suka banget."


"Siapa dulu dong yang buatnya. Haha."


"Gak jadi deh sukanya. Haha."


"Eh sudah jam 16.00, aku harus pulang, di rumah mau ada selamatan rumah baruku, aku harus bantu-bantu menyiapkan semuanya." Kata Cinta.


"Aku juga Vi, pulang ya." Kata Karen.


"Oh iya, gak papa. Makasih banyak ya buat semuanya. Jangan pernah sungkan kalau mau main ke sini, meskipun kita sudah tidak satu sekolah, tapi kita tetap teman. Teman selamanya."


"Arghhh....." Kita saling berpelukan.


"Ayok Vi, anterin ke depan." Kata Cinta.


"Ayok, ayok,.."


"Ma, ini teman-teman mau pada pulang." Aku memanggil mama.


"Eh kok sebentar? Padahal tidur di sini aja, nginap."


"Hehe, makasih ma. Mau ada acara di rumah, jadi harus segera pulang." Kata Cinta.


"Oh iya, Karen sini aja. Sama Ivi."


"Hehe, harus pulang ma, yang di rumah merindukan aku, hehe." Canda Karen.


"Apaan sih Ren, haha." Cinta menertawakan alasan Karen.


Aku dan mamapun ketawa mendengar alasan Karen itu.


"Ya sudah, hati-hati di jalannya, jangan ngebut-ngebut bawa motornya." Kata mamaku.


"Iya ma, siap."


"Assalamu'alaikum ma, Vi."


"Wa'alaikumussalam."

__ADS_1


Ketika mereka pulang, ingatanku kembali ke hal yang tak seharusnya aku pikirkan. Bayangan Kiki dan Mutiara tadi terngiang-ngiang di pikiranku.


__ADS_2