Aku Yakin Dia Adalah Jodohku

Aku Yakin Dia Adalah Jodohku
Kesiangan dan Ulah Ano


__ADS_3

Hari esok tiba, aku lagi-lagi kesiangan karena motor kakakku kena tilang. Di pertengahan perjalanan menuju sekolah, ku berhentikan angkot kuning tujuan sekolahku. Sesampainya di sekolah, gerbang sudah ditutup. Aku memaksa pak satpam untuk membukakan pintunya, Alhamdulillahnya pak satpam masih memberi kesempatanku untuk masuk kelas.


Karena dari gerbang sekolah ke kelas lumayan jauh, aku berjalan kaki. Ketika itu, aku melihat Kiki lewat karena sama diapun kesiangan. Kiki lewat begitu saja tidak nanya apapun, tidak ngomong apapun, seakan-akan tidak melihat aku, teman sekelasnya, setidaknya dia bilang "duluan Vi.", tapi saat itu tidak. Aku merasa sedih, tak diajak barengpun setidaknya bilang seperti itu.


Sesampainya di kelas, guru sudah ada. Kiki dan aku barengan masuk kelas. Kiki duluan dan aku di belakangnya. Teman-teman seperti biasa mencie-ciekan.


"Assalamualaikum." Kiki dan aku mengucap salam.


"Wa'alaikumussalam."


"Cieee..."


"Ki berangkat bareng kalian? tumben Ivi mau boncengan sama cowok." Ian bertanya ke Kiki.


"Nggak Ian, Kita kebetulan saja ketemu di depan." Aku menjawab pertanyaan Ian dan Kiki hanya tersenyum.


Kemudian aku dan Kiki jalan menuju Bu guru untuk Salam terlebih dahulu, memohon maaf karena terlambat, dan meminta izin untuk mengikuti pelajarannya. Setelah itu, aku melihat tempat dudukku sudah ditempati Ano. Yang tersisa hanya tempat duduk yang biasa Kiki dan Ano tempati.


"Ano kamu pindah!" Aku menyuruh Ano pindah.


"Siapa yang duluan, dia yang berhak duduk disini, siapa suruh kesiangan."


"Eh kamu No, gak boleh gitu. Pindah kamu!" Vina menyuruhnya juga.


"Kalau aku gak mau, gimana? Sudah kamu sama Kiki saja, apa salahnya sehari ini saja kalian duduk berdua."


"Dasar." Aku merasa kesal kepada Ano.


Aku mengalah saja dan duduk sama Kiki karena Ano bersikeras tidak mau pindah, dan aku tidak enak sama teman-teman yang lain. Bu guru terus menulis di papan tulis, jika aku melanjutkan memaksa Ano pindah, aku akan ketinggalan menulis.


Setelah selesai menulis, Bu guru meminta untuk membuat kelompok belajar.


"Ada tugas yang harus dikerjakan berkelompok. Silahkan kalian buat kelompoknya sendiri. Kalau sudah ada kelompoknya, kalian tulis di depan."


"Siap Bu..."


Ano langsung ke papan tulis dan menuliskan "kelompok 1, Vina, Ano, Kiki, Rivi."


"Eh apaan itu No." Aku berkomentar ke Ano yang sudah duduk kembali di depan tempat dudukku.


"Terserah aku dong Vi."


Aku hanya terdiam dan menggelengkan kepala saja.


Aku dan Kiki sama sekali tidak bicara apa-apa, tak ada satu katapun yang terucap dari mulut kita berdua.


"Diam-diam bae, ngobrol kek da kenal. wkwk" Ano celetuk menyindir kita berdua.


Aku dan Kiki tidak mendengarkan apa yang Ano katakan. Fokus dengan pekerjaan masing-masing.


Ku rasa Ano ingin mempersatukan aku dan Kiki. Entah dia tahu atau tidak dengan perasaaku yang sebenarnya. Jika Ano bersikap terus-terusan seperti itu, membuat aku semakin susah untuk bisa melepaskan perasaaku sama Kiki.


Aku coba ingin bicara sama Ano soal ini, biar ano tidak terus-terusan bersikap seperti itu.


Jam istirahat kedua, yaitu setelah sholat Dzuhur. Kebetulan aku lagi halangan. Ano pulang duluan dari mesjid. Kiki, Vina dan yang lainnya belum datang. Aku langsung menghampiri Ano.


"No, aku boleh tanya sesuatu sama kamu?"


"Boleh Vi. Apaan?"


"Kenapa kamu bersikap gitu terus sama aku dan Kiki, kamu seperti ingin mempersatukan kita? Kamu tahu yang sebenarnya terjadi sama aku dan Kiki?"


"Kenapa memang? Kamu suka kan sama Kiki?" Tanya Ano dengan santainya.


"Kamu tahu No?" Aku terkejut.


"Iya tahu, Kiki cerita semuanya sama aku."


"Terus kenapa kamu bersikap seperti itu ke aku dan Kiki?"


"Ya aku suka saja lihat kalian berdua, ku rasa kalian juga cocok. Soal Kiki belum bisa membalas perasaan kamu, itu soal waktu Vi. Kamu mengungkapkan perasaan kamu di waktu yang salah. Kiki memang lagi dekat sama Mutiara, tapi mereka dekat saja kok, kek ke kamu gitu."


"Bohong kamu No."


"Seriusan Vi, Mutiara tidak menerima Kiki, mereka hanya adik kakak an saja."


"Oh gitu. Tapi, tetep saja No, kamu tidak boleh seperti itu, aku ingin melepaskan perasaan ini ke Kiki, aku tidak mau terus-terusan seperti ini."


"Kalau kamu memang cinta, sayang sama Kiki perjuangin dong jangan menyerah begitu saja."


Obrolanku dengan Ano belum selesai, teman-teman yang lainnya datang, aku langsung pergi saja.


"No, makan sini." Terdengar Kiki mengajak Ano makan bekalnya yang dia bawa.


"Ayokk, Ki." Jawab Ano.


Aku kebingungan dengan apa yang Ano katakan tadi. Ano menginginkan aku memperjuangkan cintaku itu. Sebenarnya hatikupun ingin seperti itu.


Pelajaran selesai, kita siap-siap untuk pulang. Waktu itu jadwal piketku sama Vina. Selesai piket, kita pulang. Seperti biasa jalan dulu sebelum sampai ke pangkalan angkot.


Vina mengajakku untuk membeli jus dulu, dia yang jajanin, karena katanya pajak jadian haha.


"Vi kita beli jus dulu yu, haus nih. Aku jajanin deh."


"Wah wah, tumben. Ada apa nih? Sepertinya Ada kabar gembira."


"Hehe aku sama Ano sudah jadian."


"Wah serius kamu?"


"Iya, itung-itung pajak jadian ini, hehe.."


"Alhamdulillah, oke deh. Selamat ya, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Semoga langgeng, dan semoga kamu sabar hadapi sikap Ano. Hahaha" Candaku.


"Aamiin, aamiin. Haha"


Sesampainya di warung, aku meminjam handphone Vina, karena handphone ku mati. Ikut ngechat memberi kabar ke kak Dura bahwa akan pulang lebih sore.


"Na, aku pinjem handphone mu sebentar ya, mau ngabarin kakakku."


"Oh iya boleh Vi, silahkan ambil saja di tasku paling depan." Vina yang sedang memesan jusnya membiarkan aku mengambil handphonenya sendiri.


"Oke Na."


Aku langsung membuka WhatsApp Vina dan mencari No kakakku. Setelah ketemu aku langsung mengirim pesannya. Tak ku duga di jajaran pesannya ada pesan dari Kiki. Aku sangat penasaran, dengan ragu aku membuka pesannya itu, membaca hal apa saja yang mereka bicarakan. Ternyata di sana ada pesan yang berisikan.


"Na tadi kamu lihat aku boncengan sama Mutiara kan? Aku mohon tolong jangan kasih tau Ivi ya." Pesan kemarin ini membuat aku tercengang.


"Kenapa Ki?"


"Aku takut Ivi menangis mendengar kabar ini."


"Lah bukannya bagus, dia kan jadi ada lagi alasan untuk menjauhi kamu."


"Iya itu dia, aku tidak mau jauh dari Ivi, aku ingin pertemanan kita seperti dulu lagi. Sebenarnya aku coba menjauhi Ivi hanya untuk membukakan hati Ivi, kalau aku tidak mau diantara aku dan Ivi ada hubungan lebih dari teman. Soalnya aku tidak mau jauh dari orang baik seperti Ivi. Untuk soal ini dia tidak perlu tahu, kalau dia tahu dia pasti akan merasa sedih dan menyalahkan dirinya sendiri karena masih menaruh hati sama aku. Dia juga tidak mau nyakitin hati orang lain. Kalau dia tahu aku sudah sedekat itu sama Mutiara dia akan semakin menjauhiku karena takut Mutiara sakit hati. Karena aku tahu kalau aku sedang dekat sama satu cewek Ivi selalu menjauhiku. Cobalah memahamiku Na."

__ADS_1


"Okedeh aku serahkan semuanya kepada kamu. Tapi, ingat jangan membuat Ivi berharap lebih sama kamu."


"Nih Vi jusnya."Vina datang membawa jusnya.


"Oh iya, makasih Na." Aku kaget tiba-tiba Vina datang.


"Ada apa kamu Vi, kaget gitu? Kek lihat hantu saja."


"Kamu pernah lihat hantu?" Aku coba mengalihkan pembicaraan dan membuat hatiku lebih tenang.


"Ya nggak sih, cuma kata orang-orang kan suka gitu. Haha."


"Dasar kamu Vi. Haha." Ujar Vina.


"Sudah ngabarinnya?"


"Sudah Na. Ini handphonenya. Makasih ya."


"Iya sama-sama."


"Kamu mau pesen gak buat dibawa pulang? Buat mama kamu."


"Gak usah Na, cukup ini juga. Hehe." Aku ingin segera pulang, karena merasa sedih melihat kabar tadi yang aku baca dari handphonenya Vina.


Malam hari, aku izin tidak masuk pondok, karena merasa tidak enak badan. Aku hanya bisa tertidur di kamarku, sembari mencoba memahami materi ulangan dan mengerjakan tugas untuk hari esok.


"Ya Allaah ini tugas sangat sulit sekali, mana belum ku pahami semua materi ulangannya, arghhhh." Aku mengeluh.


Sebernarnya soalnya bisa saja aku kerjakan tanpa pusing, tapi karena keadaanku itu aku menjadi tidak fokus dan tidak bisa mengerjakannya, terus-terusan ku coba saja sampai bisa. Dan ternyata hasilnya tak bisa aku temukan juga. Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkannya besok di kelas, supaya bisa nanya ke yang sudah menemukan hasilnya.


Aku bereskan semua bekas belajarku tadi, langsung pergi ke kamar mandi untuk gosok gigi, bersih-bersih tangan dan kaki, dan tentunya wudlu karena belum melaksanakan sholat Isya. Seusai sholat Isya, kembali ke kasur dan rasanya ingin sekali langsung tertidur. Tapi, sayangnya bayangan kata-kata Ano dan pesan Kiki tadi mengganggu pikiranku.


"Kenapa Ano berkata seperti itu? Apa yang harus aku lakukan?" Aku memikirkan hal konyol itu, seharusnya aku tidak memikirkannya.


Aku ingin seperti apa yang Ano katakan yaitu, memperjuangkan cintaku, tapi di sisi lain aku malu kalau aku harus terus menyimpan perasaan ke Kiki sedangkan Kiki sama sekali tidak menyimpan perasaannya untukku sedikitpun.


"Astaghfirullahal 'adzim. Apa yang Ada dipikiranku ini, maafkan aku Ya Allaah."


Aku langsung saja berdzikir, aku ingin tidurku berkah. Aku berdzikir sampai aku tertidur.


.........


"Vi... Bangun!" Mama membangunkanku.


"Jam berapa in ma?" Tanyaku pada mama.


"Jam 04.30 Vi."


"Bentaran lagi ma."


"Eh ayo bangun!"


"Iya ma, iya." Aku terbangun dan segera pergi ke kamar mandi.


Setelah selesai semua kegiatanku di pagi hari, aku langsung pergi ke sekolah.


Sebenarnya badanku tidak menginginkan aku sekolah, rasanya ingin rehat di kamar saja. Tapi, sayang hari itu ada ulangan dan pelajaran yang aku suka yaitu matematika. Aku tidak mau tertinggal ulangan apalagi tertinggal pelajaran matematika.


"Ma, ku berangkat dulu, assalamu'alaikum." Sembari mencium tangan mama.


"Wa'alaikumussalam, hati-hati di jalannya, semoga jadi anak yang sukses, bahagiakan semua keluarga." Kata-kata yang selalu mama ucapkan.


Hari itu aku tidak kesiangan. Sesampainya di kelas, aku kembali membuka materi yang akan di ulangankan, karena ulangannya di jam pertama. Merasa sedikit pusing, tapi tidak masalah demi nilaiku bagus.


"Assalamu'alaikum Vi, tumben datang lebih awal dariku?" Vina datang.


"Kamu rajin sekali ya, belum di mulai saja sudah buka-buka buku."


"Eh kan ada ulangan, semalam aku belum memahami semua materinya."


"Oalaa, gampang Vi, nanti juga tahu-tahu nilai kita gede."


"Nggak ah Na, aku mau mengerjakan ulanganku sendiri, dengan hasil pemikiranku sendiri."


"Kamu itu memang terlalu jujur Vi, orang pintar rangking 1 saja masih suka nyontek kalau ulangan, tapi kamu tidak mau wkwk."


"Iya alhamdulillah Na, gak papa aku tidak dapat rangking juga yang penting kejujuranku masih aku pakai."


"Masya Allaah, aku kapan jadi seperti kamu ya Vi?"


"Iya kapan dong kamu berubah? hehe" candaku kepada Vina.


Aku mengatakan seperti itu karena teman-temanku yang lain kalau ulangan selalu mengerjakannya bersamaan. Sampai pernah suatu ketika mereka membuat grup WhatsApp khusus untuk ulangan, semua anggotanya kelas 12 mipa 11 terkecuali aku sendirian. Ketika itu aku tahu soal grup itu karena salah seorang dari teman aku keceplosan ngomongin soal grup itu dan aku langsung cek salah satu WhatsApp temanku dan ternyata memang benar. Aku tidak merasa rugi tidak masuk grup itu melainkan aku merasa bangga. Admin dari grup itu mempercayaiku kalau aku bisa mengerjakan soal ulangan sendiri. Dan admin grup itu adalah semua siswa 12 mipa 11. Termasuk Kiki, Kiki masuk grup itu mungkin karena dia tidak percaya diri sama kemampuannya, padahal menurutku kemampuannya dia bisa melebihi kemampuanku. Mungkin karena bawaan teman-teman di kelas seperti itu, jadi dia kebawa-bawa. Sebenarnya memang benar lingkungan adalah faktor terbesar atas kepribadian kita.


Ulanganpun di mulai, aku duduk paling depan. Batas waktu ulangan masih ada 20 menit lagi, tetapi teman-temanku semuanya sudah mengumpulkan hasil ulangannya tinggal aku sendiri.


"Vi, kamu belum?" Ibu guru bertanya.


"Sebentar Bu, dua lagi."


"Oh iya gak papa Vi. Masih ada waktu 20 menit lagi."


"Iya, Bu."


Setelah 10 menit berlalu.


"Bu ini sudah." Aku membawa hasil ulanganku ke ibu guru.


"Alhamdulillah, terimakasih sudah jujur.." Ibu guru berkata.


Aku bingung dengan perkataan ibu guru tadi seakan-akan bu guru mengetahui semua kejadiannya.


Sebelum masuk jam pelajaran ke dua. Aku tiba-tiba pusing.


"Na, aku pusing nih."


"Iya Vi, badan kamu juga panas sekali, mukamu pucat. Ayo ke UKS." Vina memeriksa keningku dan mengajakku ke UKS.


"Nggak Na, sepertinya aku kuat kok."


"Eh Vi, kamu mimisan itu."


"Mana Na?" Aku mengusap hidungku, dan ternyata memang benar keluar darah.


"Ini Vi!" Kiki menyodorkan tisu.


"Makasih Ki." Aku dan Vina berkata.


"Sama-sama." Sembari pergi ke tempat duduknya, sama sekali tidak menghawatirkan keadaanku.


"Eh Ivi kenapa kamu?" Ano datang dan bertanya.


"Ivi pusing No, ini juga mimisan." Vina menjawabnya.


"Ya sudah kita antar ke UKS saja."

__ADS_1


"Gak usah No."


"Eh kamu ini ya Vi, susah kalau dibilangin." Vina memarahiku karena dia cemas takut aku kenapa-napa.


"Iya deh Na, iya, aku mau ke UKS."


"Ayo." Kiki menyodorkan tangannya dan mengajakku ke UKS.


Aku kaget, lalu menatap Kiki. Di saat itu pertama kali aku menatap wajahnya di kedekatan dan sangat jelas.


"Aku sama Vina saja ki, makasih."


"Ah kamu sok cantik Vi." Ano berkomentar.


"Eh kamu No, jangan gitu." Vina menasehati Ano. Aku sama sekali tidak menyanggah perkataan Ano, hanya diam karena merasa pusing sekali.


"Ayo Vi, bisa berdiri?" Tanya Vina.


"Bentar Na, aku pusing sekali."


Tiba-tiba Kiki mengambil sebelah tanganku dan meletakkannya di pundak Kiki.


"Eh maaf Ki, aku tidak bisa sama kamu." Kataku.


"Kenapa Vi? Lagi darurat gini juga." Jawab Kiki.


"Aku sama Vina saja."


"Vina nggak akan kuat bawa kamu."


"Kan cuma bantu aku jalan saja, masa tidak kuat."


"UKS itu jauh Vi, gimana kalau di jalan kamu jatuh pinsan.. Ayo jalan."


"Hmm..." Aku berjalan dengan hati yang sangat berdegup kencang karena berada di dekat Kiki.


Sesampainya di UKS


"Makasih Ki."


"Sama-sama. Aku duluan ke kelas."


"Iya ki."


"Assalamu'alaikum." Vina datang membawakan tasku.


"Wa'alaikumussalam."


"Kok kamu bawa tasku?"


"Kamu boleh pulang kata bu Dian."


"Yah, gak mau ah. Aku nanti gak bakalan ikutan belajar matematika dong kalau aku pulang."


"Vi sudah ya, apa aku harus telepon mama kamu untuk jemput kamu?"


"Jangan Na, mama aku sudah tua kasian kalau harus jemput aku kesini, gak ada siapa-siapa juga di rumahnya."


"Ya sudah kamu pulang ya, aku temenin kamu deh."


"Eh Na kamu harus belajar. Nanti aku nanyain ke siapa dong pelajaran yang tertinggalnya."


"Kamu percaya aku bisa ngajarin kamu?"


"Nggak sih. Haha"


"Dasar kamu Vi. Haha.. "


Tutt.... tutt...tuttt. Suara handphone Vina getar.


"Iya ada apa No?"


"Ibu Dian gak akan masuk, jadi bisa anterin dulu Ivi, nanti ke sekolah lagi."


"Emangnya bisa dapat izin?"


"Bisa kalau satu orang."


"Lah terus siapa yang antar Ivi, kan aku gak bisa bawa motor."


"Kiki saja Na."


"Jangan ah, kamu saja ya, bisa kan?"


"Hmm... Iya deh iya boleh."


"Oke ditunggu di UKS, aku mau minta surat izinnya dulu."


"Oke.".


"Mau kemana No." Kiki bertanya ke Ano.


"Mau ngantar Ivi pulang."


"Oh iya, hati-hati ya No bawa Ivinya."


"Ah kamu sok perhatian, mau sama Mutiara apa Ivi?" Ano bertanya sambil bercanda.


"Siapa saja boleh. Dindra deh. Hahahaha." Jawab Kiki.


Aku pulang ke rumah, hanya ada mama dirumah.


"Assalamu'alaikum ma." Aku mencium tangan mama.


"Wa'alaikumussalam Vi, kenapa jam segini sudah pulang?"


"Ini Bu, Ivi tadi mimisan di kelas, jadi kata bu Dian boleh pulang saja." Ano menjelaskannya.


"Oh gitu, kenapa kamu sayang?" Tanya mama.


"Gak papa ma, sepertinya kecapean saja semalam gadang."


"Yasudah istirahat sana!"


"Makasih ya nak Ano, sudah mau mengantarkan Ivi pulang."


"Iya sama-sama Bu, saya pamit dulu Bu."


"Eh sebentar, ibu belum siapian kamu minum."


"Gak papa ibu, Ano buru-buru juga soalnya harus segera masuk kelas lagi."


"Yah, sekali lagi terimakasih ya, hati-hati di jalannya nak Ano."


"Iya Bu."

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Bu."


"Wa'alaikumussalam."


__ADS_2