Aku Yakin Dia Adalah Jodohku

Aku Yakin Dia Adalah Jodohku
Foto Yang Dia Temukan


__ADS_3

Pagi hari, Kaka sudah siap di depan kosan menungguku yang sedang dandan untuk berangkat ke kampus. Suara klakson motor dia sudah bunyi beberapa kali.


"Lama ya? Maaf Ka." Aku menghampiri Kaka dengan terburu-buru.


"Gak papa Vi, nih pakai helmnya! Ayok naik. Nanti keburu telat."


"Sarapan belum kamu, Vi?" tanya Kaka


"Belum Ka, aku terlambat bangun tadi, jadi gak sempat beli makan."


"Mau mampir dulu ke warung buat sarapan?"


"Gausah, nanti saja di kantin kampus aku mampir dulu beli roti."


"Oke deh.."


Sesampainya di parkiran kampus, aku lupa kalau laptopku tertinggal di kosan.


"Ka?" Aku memanggil Kaka.


"Iya kenapa Vi?"


"Laptopku tertinggal di kosan." Sedikit ragu mau minta tolong anterin kembali ke kosan.


"Ya sudah sini kunci kosannya, kamu masuk duluan saja, aku bawain laptopnya. Boleh kan aku masuk ke kosan kamu?" Tanya Kaka.


"Ya boleh. Tapi, sebentar lagi dosen akan masuk loh, nanti kamu telat, biarin aku saja yang mengambilnya sendiri."


"Gak papa aku saja, kamu mau naik apaan ke kosan sendiri, naik angkot? Lama lagi dong. Sini kuncinya!"


"Hmm. Gak papa nih?"


"Iya gak papa, bawel deh kamu."


"Sini buruan mana kuncinya?"


Aku memberikan kuncinya.


"Makasih, Ka."


"Iya sama-sama bawel."


"Hati-hati, Ka."


Sesampainya di kosan, Kaka mencari laptopku, aku lupa kalau di kosanku ada foto berdua aku sama Kiki yang lagi muncak. Aku menyimpannya di dekat laptop, ya otomatis Kaka melihatnya.


15 menit, Kaka kembali ke kampus. Dosen sudah datang, dia terlambat 8 menit, untung saja dosen masih bisa memberi izin dia masuk.


"Nih laptopnya." Kaka menyodorkan laptopku.


"Makasih ya Ka, maaf banget aku jadi ngerepotin kamu."


"Suttt, sudah fokus saja kamu perhatikan dosen. Eh ini nih roti."


"Buat aku?"


"Iya buat kamu, tadi aku sekalian mampir ke warung pak Deni."


"Jadi ngerepotin lagi kan, sekali lagi makasih."


"Iya, sama-sama."


Perkuliahan selesai, Kaka menungguku yang sedang berbicara sama Cica, teman sebelahku di kelas kuliah.


Tak lama perbicangan aku dengan Cica selesai.


"Ayok, Ka." ajakku.


"Ayok."

__ADS_1


Pulang ngampus, di motor Kaka memulai pembicaraan.


"Vi?"


"Iya ada apa Ka?"


"Langsung pulang ni?"


"Iya."


"Oke."


"Eh... Tadi aku masuk ke kosan kamu, tidak sengaja lihat ada foto berdua kamu sama laki-laki berkumis tipis dan badannya tinggi kecil, yang sedang memegang gitar. Siapa itu Vi?"


"Ya ampun... aku lupa menyimpannya di mana saja." Dalam hatiku menggerutuk.


"Vi? Kamu dengar yang aku tanya barusan?"


"Iya Ka dengar kok. Iya dia teman aku waktu SMA."


"Ohhh gitu, kirain dia mantan kamu."


"Hehe bukan Ka."


"Tapi, dia cocok loh sama kamu, dia sekarang kuliah di mana?"


"Gak tau Ka." Aku sudah malas membahas tentang Kiki. Rasanya hati ini selalu merindukannya. Sayangnya, waktu tak pernah mempertemukan kita kembali.


"Loh, loh kok sama teman sendiri tidak tahu?"


"Di UNPAS Ka." Aku menjawabnya dengan nada sedikit jutek.


"Oh, biasa saja dong ngomongnya. Ada apa coba sama orang itu? Sinis banget jawabnya."


"Sudah ya Ka, jangan bahas ini. Tidak penting tahu!" Dengan nada yang lebih tinggi.


"Ya maaf Vi."


"Nih helmnya, makasih Ka." Aku langsung pergi.


"Sama-sama."


"Aneh tuh orang, jutek banget setelah ku tanya soal laki-laki itu." Kata Kaka.


Malam hari sesudah adzan Isya, handphoneku bunyi, terdapat Vidio call WhatsApp dari Kaka.


"Assalamu'alaikum Vi?"


"Wa'alaikumussalam, ada apa Ka?"


"Rindu. Haha canda-canda."


"Dasar kau."


"Lagi nugas gak kamu?" Tanya Kaka.


"Iya ini lagi, kenapa gitu?"


"Kamu bantuin aku nugas ya, kita nugasnya di luar saja gimana? Sembari cari makan malam."


"Di mana?"


"Di warung seblak saja gimana?" Saran Kaka.


"Boleh, aku sholat Isya dulu."


"Oke, nanti aku seperti biasa nunggu di depan kosan kamu."


"Oke."

__ADS_1


Aku pergi malam bersama Kaka atas izin mama, mama sudah memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada Kaka. Mamaku sudah tahu dan kenal sama Kaka, karena sejak awal aku selalu menceritakan apapun tentang Kaka ke mama.


Suara klakson motor Kaka sudah bunyi, aku segera ke luar.


"Kamu gak bawa jaket Vi? Dingin loh." Kaka berkomentar dengan pakaianku.


"Jaket aku belum pada kering, baru tadi pulang kuliah langsung aku cuci."


"Hmmm.. Tunggu sebentar! Aku ambil dulu jaket yang lain, kamu pakai nih. Bersih kok, nggak bau, hehe." Kaka membuka jaket yang dia pakai dan memberikannya untukku.


"Gak usah Ka, gak papa ih."


"Ayo pakai, nanti kalau kedinginan kamu gatal-gatal lagi."


"Loh kok tau Ka?"


"Nebak aja sih. Haha."


"Hmmm...."


"Tunggu ya."


5 menit Kaka kembali bersamaku.


"Nih helmnya."


"Makasih, ayok buruan keburu malam banget Ka."


"Iya, ayok naik."


Sesampainya di warung seblak itu, aku tak memesan menu seblaknya. Kaka meninggalkanku di tempat duduk dan memesannya sendiri. Tak lama dari sana dia langsung kembali lagi.


"Nih seblaknya."


"Kok sudah jadi seblaknya? Bukannya harus antri dulu kan? Itu antriannya masih panjang gitu.'


"Ajaib kan? Haha."


"Ishhh kamu licik, gak ngikutin aturan yang ada. Kasian orang-orang pada antri duluan, kamu enak langsung dapat."


"Etttss kata siapa? Aku juga sama antri kayak mereka. Tadi, sebelum aku Vidio call sama kamu, aku sudah pesan dulu ke sini. Karena dompetku tertinggal aku langsung pergi saja ke rumah untuk membawa dompetnya dan sekalian saja aku ajak kamu nugas bareng di sini. Gitu....."


"Kamu niat banget pesan dua seblaknya, tahu lagi aku suka toping ini kalau beli seblak."


"Ya kebetulan mungkin, hehe."


"Tapi, makasih ya.." kataku.


"Iya sama-sama, ayok buruan makan!"


" Vi, kamu sadar gak?"


"Kenapa?"


"Hari ini kamu berapa kali bilang terimakasih ke aku?"


"Ngga tau, aku gak hitung, hehe.."


"Aku sampe udah bosan tau kamu bilang terimakasih terus."


"Yaelaahh, kirain aku apaan. Ya abis kamunya banyak bantu aku jadi aku juga berterima kasih sama kamu. Iya kan, iya?"


"Iya kali ya.."


"Hahahaha..."


Kaka tidak menjawab tertawaanku itu, dia hanya diam.


Aku dan Kaka mengerjakan tugas di warung seblak itu sampai pukul 21.45, aku bilang ke Kaka untuk segera membereskan tugasnya karena waktu sudah sangat malam dan aku harus segera pulang ke kosan.

__ADS_1


Ketika mengerjakan tugas, Kaka terlihat sangat tidak fokus, entah apa yang dia sedang pikirkan, aku tidak mengetahuinya. Hanya saja, dia sempat bertanya soal laki-laki yang foto bareng denganku itu, aku tidak mau menjawabnya. Di sanalah mood dia berubah.


Aku sedikit terganggu dengan mood dia yang seperti itu, merasa aneh karena biasanya dia selalu ceria.


__ADS_2