
Libur semester lumayan panjang, aku hanya menghabiskan waktuku di rumah dan di pondok. Tidak pergi kemana-mana. Sesekali main ke rumah Vina. Sedangkan Kiki pergi berkunjung ke rumah mamanya yang di Batam bersama kakak, dan adik-adiknya. Aku merasa bahagia mendengar itu. Aku melihat story WhatsApp Kiki yang sedang berkumpul bersama mamanya.
"Oh.. itu mama Kiki, cantik. Pantas saja anaknya ganteng-ganteng dan cantik." Dalam hati aku berkata setelah melihat potret mereka.
"Have fun, Ki!" Aku mengomentari story itu.
"Hehe, siap. Terimakasih."
"Buah tangan khas Batamnya ya jangan lupa, haha." Gurauku.
"Aman-aman, haha."
"Aci-Anna Uhibbuka Fillah." Aku mengirim lagu itu ke Kiki
"Maksudnya, Vi?"
"Nggak ada maksud apa-apa, aku suka sama lagu itu saja sih, hehe."
"Ohh, gitu. Nanti aku dengerin lagunya ya, aku lagi sama keluargaku dulu nih, jalan-jalan malam, hehe.
"Aelah, maaf mengganggu Ki."
"Gak papa kali, santai saja."
Aku merasa jenuh diam terus di rumah. Aku memutuskan untuk pergi ke rumah Vina. Aku mencurahkan hatiku sama dia.
"Na, aku kok ngerasa gak ada yang berubah sama diri aku. Aku tetap mengaguminya, dengan kejadian kemarin-kemarin kok aku ngerasa lebih suka sama dia. Gimana dong Na?"
"Vi, Kiki banyak ceweknya, dia memang bersikap seperti itu ke semua orang. Dia terlalu baik. Jadi, tidak bisa membedakan sikap untuk orang-orang di sekitarnya. Memang bagus seperti itu, tapi menurutku itu justru membuat orang yang dekat sama Kiki berharap lebih sama Kiki. Seperti kamu ini."
"Lah masa iya sih Na, aku tidak mengerti juga sama perasaanku ini. Aku ingin sikapku ke Kiki layaknya aku ke Ano dan ke yang lainnya, eh..eh.. Na, kenapa ya? Teman-teman di kelas seakan-akan mereka tahu perasaanku ke Kiki, padahal aku kan belum pernah cerita ini, selain ke kamu dan Diandra."
"Ya justru itu, teman-teman yang lain tahu karena sikap kamu ke Kiki sangat beda, kamu tidak seperti ke Ano, Rian dan yang lainnya. Kamu sendiri menyadarinya kan? Ditambah kamu selalu aneh dan mukamu selalu memerah kalau dekat sama Kiki."
"Hmmmm gitu ya Na? Aku gak tahu kenapa aku seperti itu."
"Eh, btw Diandra kapan tahu soal perasaan kamu itu?" Tanya Vina.
"Baru sih, awalnya dia ngira-ngira gitu, memaksaku untuk jujur, ya sudah aku jawab seadanya saja."
"Kamu tahu? Diandra juga suka sama Kiki!"
"Wah? Masa iya sih?" Aku pura-pura tidak mengetahuinya.
"Kamu tidak tahu sama sekali, atau pura-pura tidak tahu? Aku tahu kamu tidak bisa berbohong Vi, mukamu tidak pandai berbohong."
"Hmmmm... Na, aku mau ngilangin perasaan ini ke Kiki, tapi kok sulit ya." Aku membuka pembicaraan baru untuk mengalihkan pertanyaan Vina tadi.
"Kamu sayang ke Kiki karena apa?" Vina bertanya dengan tegas.
__ADS_1
"Aku sayang sama Kiki karena...... Ya gak ada alasannya. Aku ngerasa aku nyaman di dekatnya dan aku sangat kagum dengan semua kebaikannya."
"Kamu nyaman? Bukannya kamu selalu bertingkah aneh kalau dekat sama dia?"
"Ya memang Na, hati aku selalu berdegup kencang kalau dekat sama dia, tapi aku merasa kalau aku dekat sama dia aku selalu dekat sama Allaah."
"Hmm.. kamu mengagumi kebaikan dia? Dia menyamaratakan sikap ke semua cewek, kamu kagum juga?"
"Ya jujur saja soal itu aku tak suka, tapi banyak yang aku kagumi dari dia karena dia sangat baik kepada semua orang, bukan hanya ke cewek saja. Sikap dia ke guru, ke orang yang lebih tua dari dia, ke adik kelas, aku menyukai semua sikapnya itu."
"Aku kasihan sama kamu Vi, aku merasakan bagaimana cinta bertepuk sebelah tangan, rasanya itu sangat menyakitkan. Aku tidak mau kamu merasakan hal yang sama. Bukannya aku tidak mendukung kamu untuk sayang sama Kiki, tapi kamu harus bisa terima kenyataan kalau Kiki hanya menganggap kamu teman Vi, tidak lebih. Ingat itu!"
"Iya memang benar Na, aku ingin menghilangkan perasaan ini Na, bantu aku!"
"Aku bisa saja bantu kamu, tapi kamu juga harus bisa yakinin hati kamu untuk bisa melepaskan perasaan kamu ke Kiki. Percuma saja aku bantu kamu, tapi hati kamunya nolak."
"Yah jangan gitu dong Na, insya Allaah aku bisa kok, sedikit demi sedikit rasa itu akan hilang."
"Ya sudah nanti akan aku coba bantu kamu."
"Oke terimakasih Na."
"Sama-sama Vi, eh, tadi ada pertanyaan aku yang belum kamu jawab loh." Vina mengingatkannya kembali.
"Yang mana?"
"Yang Diandra juga sama seperti kamu, suka sama Kiki."
"Eh iya ya aku lupa, kebanyakan ngobrolin Kiki sih, ayok." Sembari memulai memutar filmnya.
"Iya ya, kasian nanti kuping Kiki merah karena kita omongin."
"Ah mitos itu."
"Iya mitos haha."
Aku dan Vina melanjutkan menonton filmnya. Di tengah filmnya sedang diputar, aku merasa ngantuk dan akhirnya aku tertidur. Sedangkan Vina masih melek fokus nonton filmnya.
"Vi, vi.. aku sakit hati sama filmnya, kok kayak hidup aku banget sih." Vina berbicara padaku.
"Vi, kamu nonton gak sih? Kok kamu tidak nangis, biasanya kamu baperan banget sama film ginian." Vina terus ngomong tanpa melihat aku yang sedang tertidur. Aku sama sekali tidak mendengar apa yang Vina katakan.
"Vi, kamu kenapa gak bersuara sama sekali, kamu masih ada kan?" Vina bertanya kepadaku, padahal aku sedang tertidur.
"Aelah kebo dasar, dari tadi aku ngomong sendirian, parah sih kamu Vi." Menoleh ke samping dan nyerocos.
Filmnya mendekati selesai aku terbangun.
"Arghhhh.... Jam berapa ini? Mama, jam berapa ini?" Aku menanyakan waktu sebab kebiasaanku bangun pagi seperti itu.
__ADS_1
"Mama, mama, ini aku Vi."
"Eh kok ada Vina."
"Kok ada Vina, kok ada Vina. Ini rumahku Vi, kenapa sih kamu?"
"Eh astaghfirullahal 'adzim ku kira ini rumahku dan aku seperti bangun tidur di pagi hari, maaf ya Na."
"Tau ah kamu gak asik, kamu yang ajak nonton, tapi giliran filmnya tayang kamu malah tidur. Aku tadi ngomong sendirian, ku kira kamu bangun eh nyatanya kamu tertidur." Vina cemberut.
"Hehe. Maaf dong, maaf Vina cantikku." Aku membujuknya.
"Tau ah, aku gak akan maafin kamu." Vina marah.
"Ya udah gak papa." Kataku.
"Ih kamu rese deh."
"Ya aku kan udah minta maaf, soal kamu memaafkan tidaknya itu urusan kamu wleee.."
"Dasar kamu, untung aku sahabatmu." Vina mencubit hidungku.
"Makasih Na." Aku memeluk Vina.
"Aku cuci muka dulu Na, ikut ke kamar mandi ya."
"Iya-iya gih.."
5 menit berlalu, aku kembali menemui Vina yang masih sedang berada di depan laptop kesayangannya.
"Na, jajan yuk.."
"Ayok Vi."
"Aku pengen seblak, masih buka kan si ibu seblak yang di dekat mesjid itu?"
"Masih kok masih, bentar aku di kerudung dulu."
"Oke.."
"Yukkkk.." Ajak Vina.
Setelah sampai di warung seblak itu, kita memesan seblak dengan menu seperti biasa, aku dengan toping baso, kwetiau, dan cuanki dengan pedas level 2. Sedangkan Vina memesan dengan toping baso, cilok, dan tahu Sumedang.
Sambil menunggu pesanan kita kembali berbincang-bincang.
"Na, gak kerasa ya kita udah masuk kelas 12. Ngerasa kayak baru kemarin kita MOPD, di suruh-suruh sama kakak kelas, harus datang ke sekolah pagi banget, nginep di sekolah ketika kepramukaan. Rasanya waktu sangat cepat berlalu."
"Iya benar Vi, kelas 12 nanti harus lebih giat lagi belajar, aku ke pengen masuk univ negeri. Pokoknya harus masuk, apapun caranya itu."
__ADS_1
"Aamiin, aamiin, semoga apa yang kamu inginkan sama seperti yang Allaah inginkan untukmu."
"Aamiin Ya Allaah Ya Rabbal'alamiin."