
Libur semester telah berakhir aku kembali ke kosan.
"Eh Ivi sudah di sini, kenapa gak ngabarin aku Vi? Kan bisa aku jemput." Kata Kaka.
"Nggak ah ngerepotin kamu terus, aku gak enak."
"Yaelah, santuy saja Vi. Kamu tadi diantar siapa ke sini?"
"Gak diantar siapa-siapa kok."
"Oh... Sini mau aku bantu bawa tasnya masuk?"
"Gak usah Ka, aku bisa sendiri. Gak berat kok, hehe."
"Okedeh, aku pamit dulu, mau ke warung."
"Iya Ka."
Setelah beres-beres semua, aku rehat sejenak membuka-buka WhatsApp dan Instagram. Snap gram Kiki lewat, aku membukanya. Dia menuliskan kata-kata seakan-akan dia putus bersama pacarnya tapi, aku tidak terlalu kepo akan hal itu. "Baru kemarin dia menunjukan pacarnya mana mungkin mereka putus." Kataku.
Malam hari, tepatnya setelah aku sholat Isya. Aku mau memulai buka laptop, handphoneku bunyi, ada pesan WhatsApp dari Ano. Dia mengirimkan satu foto yang membuat aku sangat resah, khawatir dan merasa heran. Foto itu adalah foto Kiki ketika sedang meminum alkohol. Aku langsung menanyakan keadaan Kiki berada di mana. Ano memberi tahu kalau Kiki ada di kosannya. Ano memberikan alamatnya kepadaku. Aku tanpa berpikir panjang langsung mencari kosan Kiki, aku dari Cimahi langsung pergi ke Bandung untuk mengetahui keadaan dia, dan menanyakan kenapa dia bisa berbuat hal seperti itu.
Tanpaku sadari Kaka mengikutiku dari belakang. Sesampainya di kosan Kiki, aku langsung menggedor pintunya, dia memang betul sedang dalam keadaan sudah mabuk. Badannya bau alkohol. Dia sudah tertidur. Aku tidak menyangka Kiki melakukan ini semua. Ano menjelaskan alasan Kiki melakukan ini, Ano sudah mencegahnya untuk tidak mabuk, tapi Kiki tidak mendengarnya.
"No kenapa Kiki seperti ini?"
"Kiki putus sama Bunga, Bunga memutuskan Kiki karena dia ternyata lebih memilih laki-laki lain, ditambah Kiki lagi ada masalah keluarga."
"Masalah keluarga? Dia cerita masalahnya apa?" Tanyaku.
"Tidak Vi, dia tidak mau bicara apa-apa."
"Ya Allaah kasian sekali."
"Iya Vi. Eh kamu sama siapa kesini? Ini sudah malam loh. Cimahi-Bandung bukan jarak dekat, kamu nekat banget datang ke sini."
"Aku khawatir sama Kiki No." Jawabku singkat.
"Kamu sayang sekali ya sama Kiki?" Tanya Ano, yang membuatku langsung diam.
"Tak tahu No, kamu bisa nilai sendiri, aku tak tahu ini adalah rasa sayang atau apa."
"Malam ini kamu tidur di sini saja Vi, gak akan aku apa-apain kamu kok, aku siap jagain kamu malam ini, aku tidak akan tidur."
"Gausah aku pulang saja No."
"Eh ini jam 22.00 Vi, masa mau pulang, gak akan ada kendaraan umum juga. Besok saja aku antar."
Tiba-tiba handphoneku bunyi, ada pesan dari Kaka.
"Aku di luar, kamu bisa pulang malam ini, tidak usah nginep di sana."
Aku langsung membuka pintu kosan Kiki dan ternyata benar ada Kaka di sana.
"Loh kok kamu ada di sini?" Aku kaget.
"Siapa Vi?" Kata Ano.
"Ini teman aku No."
"Kamu kenapa ada di sini? Kok bisa tahu aku ada di sini?"
"Aku tadi ngikutin kamu Vi, tidak sengaja sewaktu mau masukin motor ke rumah, aku lihat kamu pergi buru-buru, jadi aku ikutin kamu."
"Hmm.. ayo masuk dulu."
"Kamu suruh masuk aku ke kosan?" Tanya Kaka.
"Iya gak papa, kan gak berduaan, ada Ano sama Kiki juga."
"Iya, iya."
"Ini siapa Vi?"
"Ini Kaka, No, teman aku."
"Yakin teman?"
"Iya teman, eh No, ini sudah malam, aku mohon maaf ya harus pulang. Tolong jagain Kiki, jangan bilang aku ke sini."
"Kenapa?"
"Gak kenapa-kenapa. Aku pamit No, assalamu'alaikum."
"Eh bentar dia aman kan bawa kamu malam-malam gini?" Tanya Ano.
"Eh apaan kamu, saya orang baik, saya bisa jagain Ivi." Kata Kaka.
"Ya maaf, saya kan belum kenal sama kamu, takutnya saja gitu kamu jahat."
"Dia baik No, percaya sama aku."
"Yuk aku pulang."
"Hati-hati Vi."
__ADS_1
"No, boleh aku pinjam helm?" Aku yang sudah keluar kembali lagi ke masuk.
"Ada Vi, tapi punya Kiki."
"Gak papa gitu aku pinjam? Gak akan di pakai sama Kiki?"
"Gak papa Vi, pakai saja dulu."
"Oke, nanti jangan bilang aku yang pinjam helmnya."
"Siap. Bentar aku ambil dulu."
"Nih.." Ano menyodorkan helmnya.
Sesampainya di kosan, aku tidak bisa tidur karena terus-terusan memikirkan keadaan Kiki, aku memutar rekaman yang dulu sempat Kiki kirim untukku, rekaman dia ketika menyanyikan lagu wanita dalam pelukan, dengan suara khasnya dia dan iringan gitar kesayangannya. Lagu itu selalu menjadi obat untukku ketika merindukan dia.
Malam begitu hening, di jendela ku lihat bulan bersinar sangat terang. Selain lagu itu, bulan yang terang ini selalu menjadi temanku ketika merindukan orang-orang yang aku sayang termasuk Kiki.
Aku memikirkan kenapa dia bisa nekat melakukan itu, andai saja orangtuanya tahu pasti akan memarahinya. Aku tak berani untuk memberi tahu kepada papah Kiki, takut Kiki risih dan kena marah papahnya.
Mungkin bagi anak muda sekarang hal seperti itu sudah biasa tapi bagiku untuk seorang Kiki itu bukan hal yang biasa.
Pagi hari, aku mendapat telpon dari nomor tidak dikenal, setelah ku jawab telponnya, dia adalah Kiki. Tak bisa berbohong di sana aku merasa bahagia sekali. Kiki meminta alamat kosanku, dia ingin bertemu denganku katanya mau ada yang dicurhatkan. Aku memberi alamatnya itu.
Kita bertemu sore hari sehabis jadwal kuliahku kelar.
Tok...tok...tok... Terdengar suara pintu kosan ku ada yang mengetuk.
"Iya." Sembari membuka pintunya.
"Assalamu'alaikum Ivi?" Salam Kiki.
"Wa'alaikumussalam, Eh Kiki." Aku sangat bahagia Kiki bisa menemuiku.
"Maaf ya Ki, aku gak bisa suruh kamu masuk kosan aku."
"Iya gak papa Vi, kita jalan ke luar saja gimana?" Ini adalah pertama kalinya dia mengajakku jalan keluar.
"Boleh, sebentar aku bawa dulu tas."
"Tumben sekali kamu langsung mau diajak jalan sama aku, dulu ketika sekolah diajak pulang bareng susah, hehe.."
Aku hanya tersenyum menjawab Kiki.
"Aku tunggu di depan Vi."
"Oke."
"Vi?" Kiki memanggilku setelah ku duduk sebagai teman joknya.
"Kamu tetap ya kaya dulu, kalau boncengan jauhan terus."
Aku hanya tersenyum merespon Kiki.
Kiki mengajakku ke tempat makan Ampera sewaktu pertama kali aku melihat Kiki merokok.
Setelah sampai di tempat makan itu, aku heran saja kenapa Kiki mengajakku ke tempat ini.
"Kita di sini Ki?"
"Iya."
"Kenapa di sini?"
"Pengen saja di sini Vi." Jawabnya singkat.
"Hmmmm...."
"Ayo buruan ngambil makannya kita makan di atas."
"Iya sebentar."
"Mau jus atau apa kamu?"
"Jus mangga saja."
"Mbak jus mangganya dua." Kata Kiki ke kasir.
"Ni mbak." Aku menyodorkan makannya ke mbak kasirnya.
"Jumlahnya Rp.175.000,00. Ini struknya mas." Kata kasirnya.
"Ini mbak uangnya."
"Makasih mas. Nanti makanannya diantar, mohon tunggu sebentar."
"Oke, di atas ya mbak."
"Siap mas."
Kita makan tepat di meja yang dulu sempat kita kunjungi bersama teman-teman, tak ada yang berbeda dari tempat itu terkecuali cat dindingnya, terlihat baru di cat.
"Eh..kamu kenapa? Mau curhat apa?" Aku memulai perbincangan, rasanya aku sudah bisa mengurangi rasa degdeganku ngobrol sama dia. Tapi, tetap mukaku masih memerah.
"Kamu jangan merah gitu mukanya. Hehe, santai saja." Kata Kiki sambil menertawakanku.
__ADS_1
"Nggak ih, biasa saja kok. Apaan sih kamu."
"Masa biasa saja. Nih kamu ngaca!" Sembari memberikan handphonenya.
"Nggak tuh biasa saja, wlee.."
Kala itu aku lupakan semua kejadian yang pernah aku alami di waktu dulu bersama dia, aku lupakan rasa sakit hatiku karena ulahku sendiri pula. Ku sembunyikan perasaan yang sebenarnya masih sama seperti dulu, mengontrol emosi supaya Kiki tidak mengetahui yang sebenarnya kalau aku masih mengharapkan cintanya.
Makanannya sudah sampai di meja kita, kita makan sedikit demi sedikit makanan itu.
"Vi?" Kiki mengawali kembali perbincangannya.
"Iya apa?"
"Makasih ya buat semuanya."
"Semuanya apa?"
"Kamu semalam ke kosan aku, jauh-jauh pergi ke sana untuk melihat keadaanku. Aku sangat berterima kasih."
"Kata siapa? Aku tidak ke kosan kamu kok." Aku berhenti makan dan tidak mengakui itu semua.
"Ano sudah bilang semuanya. Malam itu aku salah Vi, aku melakukan itu terlanjur sakit hati, hancur hatiku. Orang yang aku sayangi begitu saja meninggalkan aku dan malah memilih perempuan lain. Aku minta maaf juga sama kamu."
"Kamu jangan minta maaf sama aku, minta maaf sama Allah dan diri kamu sendiri."
"Iya Vi, iya."
"Kamu putus sama Bunga?" Tanyaku.
"Iya, aku salah menilai dia, ku kira dia orang yang sangat baik, yang bisa menerima aku apa adanya, bisa menerima aku yang cuek, tapi ya ini buktinya, dia bukan seperti yang aku bayangkan."
"Hmmmm.... Sabar ya Ki, nanti akan ada seseorang yang tulus mencintai kamu Ki, yakinlah."
Aku bingung harus berkata apa, aku hanya bisa berkata seperti itu.
"Iya insyaallah Vi."
"Aku mohon tolong jangan ulangi seperti itu lagi, coba kamu telaah kembali kamu yang dulu dan kamu yang sekarang lebih baik mana? Ku rasa, aku lebih menyukai Kiki yang dulu, yang kalem, tidak kebawa-bawa pergaulan, santun, dermawan. Memang aku tidak tahu sikap kamu yang sekarang seperti apa, keadaan apa yang sedang kamu hadapi pun aku tak tahu, tapi yang aku dengar dari teman-teman kamu memang berubah."
"Iya memang benar Vi, akupun merasakan itu semua. Semakin ke sini bukan semakin membaik malah semakin memburuk."
"Kamu ingat waktu pulang foto booklet, aku merokok di sini? Di tempat ini?"
"Iya aku ingat, aku sangat, sangat begitu kaget melihat itu. Kenapa Kiki bisa merokok? Bukannya Kiki gak suka kan? Aneh aja gitu waktu pertama lihat Kiki gitu."
"Iya aku kebawa pergaulan Vi, sudah jauh dari keluarga pergaulanku semakin susah terkontrol."
"Perihal merokok, aku masih bisa paham, tapi soal kemarin, soal kamu mabuk aku sangat menyayangkannya Ki. Aku tidak mau kamu terjerumus kepada hal yang tidak baik, kamu tahu kan apa hukum dari mabuk? Aku yakin kamu pasti tahu."
"Iya aku tahu Vi, aku khilaf, malam itu semuanya sangat hancur bagiku."
"Oke, oke. Ku harap kejadian kemarin untuk yang pertama dan terakhir. kamu kan sekarang sudah gede, sudah bisa berpikir mana yang baik, mana yang buruk. Cobalah lebih bijak lagi untuk melakukan sesuatu. Kamu datang ke sini untuk menuntut ilmu kan? Lebih manfaatkan lagi waktu kamu, lebih berpikir juga bagaimana papah kamu dapatkan uang untuk membiayai kamu kuliah di sini, masa kamu tidak kasihan sama papah kamu. Kamu punya 4 adik yang harus kamu perjuangkan juga masa depannya, kamu harus menjadi contoh yang baik bagi mereka." Aku nyerocos ceramah di hadapan Kiki.
"Iya Vi, siap. Terimakasih sekali lagi buat semuanya. Aku merindukan ocehan kamu seperti ini."
"Iya sama-sama Ki."
Adzan Magrib berkumandang.
"Vi, adzan. Makannya sudah kan? Sholat dulu yuk."
"Ayo Ki."
Kita sholat magrib di mushola tempat makan itu. Setelah itu, Kiki mengajakku pulang. Dia tidak mau membawa pergiku terlalu lama, apalagi di malam hari.
Kiki mengantarku pulang ke kosan. Sesampainya di sana Kiki menyampaikan kata-kata yang sangat membuat hati aku hancur.
"Vi, makasih sudah mau mendengarkan curhatan aku."
"Kamu makasih terus. Sudah ya kalau makasih sekali lagi aku tidak akan meresponnya."
"Iya-iya.... Vi?"
"Iya apa?"
"Ini mungkin akan menjadi pertemuan terakhir aku dan kamu."
"Loh kok? Kenapa gitu?"
"Aku mau pindah ke Batam, bersama mama." Aku kaget mendengar ini semua, memang aku dan Kiki jarang bertemu bahkan cuma satu dua kali bertemu setelah lulus SMA tapi, Batam? Batam sangat jauh dibandingkan dengan Bandung. Kita pasti akan susah sekali untuk bertemu.
"Seriusan?"
"Iya, aku mau pindah kuliah di sana."
"Terus papah kamu?"
"Iya papah yang menyuruh aku kuliah di sana. Nanti setelah lulus mungkin aku akan kembali ke sini untuk melanjutkan bisnis papah."
"Ohhh gitu, iya gak papa. Pokoknya kamu harus semangat terus di mana pun kamu kuliah."
"Besok aku berangkat, doakan aku ya. Semoga aku bisa kembali lagi ke sini, bisa menemui kehidupanku dan cinta sejatiku di sini."
"Aamiin, di sana lebih banyak perempuan cantiknya Ki, bisa jadi jodoh kamu di sana." Kataku, padahal aku tak ingin mengatakan itu, yang ada di hatiku hanya "Aku menunggu kamu di sini Ki." Yang aku ucapkan tak sesuai dengan apa yang ada di dalam hati.
__ADS_1
Aku tak tahu apa yang ada dalam pikiranku saat itu, yang pasti sangat sedih. Seseorang yang aku sayangi akan pergi jauh, meskipun dia tidak menyayangiku aku tetap di hati yang dulu, mengharapkan kalau dia adalah cinta sejatiku, cinta yang akan membawaku menjadi seseorang yang lebih baik. Aku berharap pula, Kiki akan kembali menemuiku kelak sebagai cinta sejatinya.