
Hari pertama mulai sekolah di kelas 12. Seperti biasa aku duduk sebangku dengan Vina dan Kiki bersama Ano. Yang lebih membuat aku bahagia Kiki dan Ano duduk di belakang aku dan Vina. Pagi itu, aku masuk kelas melihat Kiki dengan Vina sedang ngobrol berdua, entah ngobrol soal apa kelihatannya cukup serius. Setelah Vina melihatku, Vina langsung mengakhiri obrolannya bersama Kiki itu lalu menghampiriku.
"Eh Vi, kamu sudah datang?"
"Iya Na." Aku sedikit jutek sama Vina, karena melihat mereka berdua ngobrol aku merasa tidak nyaman.
"Kenapa kamu?"
"Nggak kenapa-kenapa."
"Mood kamu itu jelek gitu, semangat dong, hari pertama sekolah kok cemberut gitu."
"Hehe." Aku hanya nyengeh.
"Hmm.. kamu cemburu lihat aku sama Kiki tadi?"
"Apaan sih Na, buat apa aku cemburu, aku sama dia kan hanya teman."
"Bagus deh, bagus."
"Na, kamu ngobrol apa sama Kiki tadi?"
"Ah kepo kamu."
"Kamu ya, apaan ih, kalian ngobrolin apaan?" Aku memaksa Vina untuk menceritakan obrolannya tadi bersama Kiki.
"Ngobrolin soal kamu."
"Soal aku? Memangnya ada apa dengan aku?"
"Kamu minta aku bantuin kamu untuk bisa ngilangin perasaan kamu ke Kiki kan?"
"Iya."
"Ya tadi aku ngomong sama Kiki, aku coba jelasin perasaan kamu, aku tahu kamu tidak akan pernah berani mengatakan semuanya ke Kiki. Jadi, aku coba yang menjelaskannya."
"Hmm... Terus Kiki responnya gimana?"
"Ya nanti saja kamu lihat apa yang akan Kiki lakukan ke kamu. Biarkan waktu yang menjawab."
"Oalaa.."
Jam istirahat pertama, pukul 10.00 seperti biasa aku pergi ke mesjid untuk sholat Dhuha. Setelah bel berbunyi aku bersama teman-teman yang lain langsung pergi ke masjid.
"Na, Ta ayok kita sholat Dhuha."
"Ayok Vi."
"Na, Na. Mau kemana kalian?" Ano bertanya ke Vina.
"Mau ke mesjid, sholat Dhuha."
"Ikut dong."
"Boleh, ayo."
"Ki, Ki ayo sholat Dhuha." Ajak Ano ke Kiki.
"Iya No, duluan kamu. Nanti aku nyusul."
"Oke."
Tempat untuk perempuan dan laki-laki dibatasi oleh hijab. Selesai aku sholat Dhuha aku melihat ada Kiki yang sedang menadahkan kedua tangannya dan berdoa dengan khusu. Lagi-lagi aku sangat suka melihat hal itu. Aku semakin ragu untuk melepaskan perasaan ini.
Aku selalu merasa terpesona setiap kali melihat hal baik dia, dan tidak pernah terlihat hal buruk akan dirinya, mungkin ini yang dibilang Teh Bela, cinta bisa membutakan seseorang.
Aku langsung kembali ke kelas. Ketika aku sedang membaca novel, Kiki datang pulang dari mesjid. Dia lewat dengan rambut kelimisnya karena sudah wudlu, aku tak berani melihat dia dari ke dekatan. Aku tahu itu ketika dia masih di luar dan aku melihatnya di jendela kelas.
Kiki pergi ketempat duduknya dan membawa bingkisan cokelat, oleh-oleh dari Batam. Kiki menghampiri teman-teman yang sedang kumpul kemudian membagikan cokelat-cokelatnya. Aku pergi keluar karena sedang berpuasa dan rasanya malas lihat itu semua. Diandra ikut membagikan oleh-oleh itu. Diandra memanggilku.
"Vi, ini dari Kiki." Diandra menghampiriku yang sedang di luar.
__ADS_1
"Iya makasih Ndra."
Aku berharap tadinya Kiki yang akan ngasih itu sama aku, tapi malah Diandra.
Aku sedang puasa waktu itu, jadi coklatnya aku kasih ke Vina.
"Na, ini coklatnya buat kamu."
"Kenapa buat aku? Kamu tidak suka?"
"Suka, cuma aku lagi puasa."
"Oh kamu lagi puasa. Ya sudah, terimakasih Vi."
"Iya sama-sama."
"Eh kalian kenapa di luar?" Ano datang.
"Gatau Ivi ngajak aku keluar."
"Ah kamu Vi, kamu mah suka sekali sama kesepian. Yang lain lagi seru-seruan di kelas, kamu malah mau di luar."
"Hehe aku sedang ingin di luar saja No. Lagian kenapa kamu ke sini? Bukannya lagi seru-seruan di dalam."
"Aku mau sama Vina."
"Aelah..." Aku menggelengkan kepala.
"Kamu makan cokelatnya punya Ivi?" Tanya Ano ke Vina.
"Iya, hehe."
"Lah, kenapa?"
"Ivi lagi puasa."
"Rajin sangat Ivi wkwk."
Kiki lewat dengan Rian.
"Kenapa Vi?"
"Aku lagi shaum Ki." Aku menjawab pertanyaan Kiki sembari nunduk.
"Hmm.. lagi shaum. Ya sudah besok aku bawain kalau masih ada ya. Besok tidak shaum kan?"
"Katanya lagi puasa Vi, kok shaum." Ano celetuk.
"Iya sama saja No, puasa itu bahasa kita, kalau shaum itu bahasa arabnya." Kiki coba menjelaskannya.
"Oh gitu, haha. Aku tidak tahu Ki."
"Dasar kamu No, bego." Celetuk Rian.
"Eh apaan lu Ian?" Menjitak kepala Rian.
Kiki hanya menggelengkan kepala.
"Kamu yang bego ian." Ano membalikan kata-kata Rian tadi.
"Haha, aku gak dengar kamu ngomong apaan wleee." Balas Rian.
"Sudah-sudah ayok Ian." Kiki mengajak Ian.
"Gih, gih kalian." Ano mengusirnya.
Hari pertama masuk sekolah, pelajaran belum sepenuhnya berjalan baik. Guru-guru masih sibuk dengan rapat-rapatnya. Setelah Dzuhur semua siswa dipulangkan. Kelas Kita mebuat acara untuk makan-makan di tempat makan yang lumayan jauh dari sekolah. Kita berunding membicarakan itu semua. Dan mengatur kendaraan karena banyak yang tidak bawa motor, salah satunya aku. Karena aku tidak bisa mengendarai motor, jadi hanya bisa nebeng ke yang lain.
"Ano sama Vina, Diandara sama Bunga, Rian sama Karen, Ivi sama Kiki............ "Di papan tulis itu tertulis namaku sama Kiki.
"Aku sama Cinta Ian." Aku berkomentar.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Ya gak kenapa-kenapa. Aku sama Cinta saja."
"Cinta aku boleh ikut kamu kan?" Aku menepuk pundak Cinta yang sedang duduk di bangku depan.
"Boleh Vi, boleh."
"Kiki mau sama Siapa?"
"Siapa saja Ian, bebas." Jawab kiki dengan santai.
Sebenarnya aku ingin sekali bisa boncengan sama Kiki, tapi rasanya aku tidak akan bisa berbuat apa-apa nanti, akan salah tingkah dan hanya bisa diam. Karena waktu itu Kiki sedang dekat sama Mutiara, aku takut Mutiara melihat kita dan dia beranggapan lain, aku tak mau menjadi alasan sakit hatinya seseorang. Aku harus memulai untuk bisa melepaskan perasaan ke Kiki, nanti takutnya malah semakin baper sama dia kalau aku sampai boncengan.
Di perjalanan menuju rumah makan, aku ngobrol sama Cinta.
"Vi, kok kamu tidak mau boncengan sama Kiki?" Cinta bertanya.
"Hah, apa Ta? Gak kedengaran." Suara jalanan sangat ramai, jadi aku tidak mendengar apa yang Cinta katakan.
"Kenapa kamu tidak mau boncengan sama Kiki, Vi?" menambah volume suaranya.
"Ya gamau aja Ta."
"Kamu itu, orang lain pada pengen boncengan sama dia, kamu nggak mau, aneh." Cinta belum mengetahui kalau aku menyimpan perasaan sama Kiki.
"Haha, kamu mau Ta boncengan sama Kiki?"
"Mau nggak mau sih, kalau aku boncengan sama Kiki kamu sama siapa dong wleee."
"Iya sih, dasar kamu Ta, haha."
Sesampainya di tempat makan, kebetulan aku duduk di depan Kiki. Aku tidak tahu kenapa teman-teman yang lain menyisakan tempat duduk untukku disana. Aku mau tukeran tempat duduk.
"Ta, aku boleh di sana gak duduknya? Kita tukeran."
"Gak mau ah, aku sudah PW nih."
"Yah. Oke deh." Dengan nada sedikit kecewa.
"Vi, sini tukeran sama Aku." Vina menawarkan tempat duduknya.
"Gak usah Na, Ano kan gak bisa jauh-jauh dari kamu."
"Tahu saja kamu Vi." Ano membalas perkataanku.
"Aku saja Vi yang pindah." Kiki mengalah.
"Ian aku di sana, kamu disini."
"Siap Ki." Ian bingung dengan sikap aku dan Kiki.
"Kenapa sih? Aneh aku sama kalian." Cinta bertanya.
"Heem kenapa kalian?" Teman-teman yang lain kembali mengulang pertanyaan itu.
"Gak papa, lama banget ya makanannya." Aku mengalihkan pembicaraan.
"Sabar Vi, sabar, haha." Diandra menertawakanku.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya makanan Kita datang.
"Akhirnya datang juga ya Vi." Cinta berkata.
"Iya Ta, hehe.."
"Ayo semuanya kita makan!" Ian mengajak kita.
"Bentar berdoa dulu." Kiki mengingatkan kita dan menadahkan tangannya
"Bismillaahirrahmaanirrahim. Allaahumma bariklana fii ma rozaktana waqina adza bannar. Semoga di kelas 12 ini kita bisa selalu di beri kemudahan dalam memahami pelajarannya, dilancarkan dalam menghadapi ujian-ujiannya, dan semoga sehat selalu."
__ADS_1
"Aamiin." Semua teman-teman mengaminkan.
Selesai makan, kita siap-siap foto. Karena kelasku ingin moment ini menjadi kenang-kenangan nanti disaat kita sudah lulus. Foto selesai, Kita semua pulang ke rumah masing-masing.