Aku Yakin Dia Adalah Jodohku

Aku Yakin Dia Adalah Jodohku
Menemui Kaka dan Mamanya


__ADS_3

Esok hari, jam 10.00, Kiki datang ke rumahku,


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Aku membukakan pintu, pertama kalinya lagi aku melihat Kiki setelah malam itu Kiki pamit pergi ke Batam.


"Ngapain kamu ke sini?" Aku iseng.


"Mau ke cinta sejati ku."


"Di Batam gak ada yang cantik ya?"


"Banyak sekali, kulitnya putih-putih, rambutnya panjang-panjang, manis, badannya tinggi-tinggi lagi."


"Kuntilanak kali ah, rambutnya panjang-panjang, dan kulitnya putih-putih. Haha.."


"Aku di sini aja ni?" Tanya Kiki.


"Maunya dimana?"


"Di pelaminan. Hehe.. "


"Ih apaan sih gajelas." Mencubit tangan Kiki.


"Ayo masuk." Kataku.


"Dari tadi dong, aku pegel tahu."


"Hehe, maaf."


"Eh kamu sudah ganteng gitu, mau kemana emang?" Tanyaku, sembari mundar-mandir cari mama.


"Kamu cari siapa? Buruan mandi, kita mau jalan ke rumah seseorang."


"Cari mama kok nggak ada. Hah? Ke rumah seseorang? Rumah siapa?" Aku hentikan mundar-mandirnya, dan duduk mendekati Kiki.


"Tadi aku ketemu sama mama didepan, katanya mau pergi ke rumah sodara, tadi aku sudah izin kok buat ajak anaknya tercinta ini untuk jalan."


"Hmm gitu, kita mau ke rumah siapa?"


"Penasaran? Makanya ayo buruan mandi dulu."


"Iyaiya bentar aku mandi dulu."


"Eh bentar, aku ambilkan dulu minum buat kamu."


"Iya gih, auss nihh."


Selesai mandi, aku dan Kiki jalan. Sebelumnya meminta izin ke bapak yang sedang berbaring di tempat tidurnya. Keadaan bapak tetap seperti dulu, dia sering sakit-sakitan.


Di motor aku berbincang-bincang sama Kiki.


"Ki mau ke rumah siapa?"


"Mau ke rumah Kaka."


"Hah? Kita ke Cimahi?"


"Iya."


"Buat apa?"


"Aku mau bicara sama Kaka dan mamanya, katanya mereka mau bicara sama kamu juga, jadi aku ajak kamu."


"Aku belum siap ketemu mereka, aku tidak bisa ngomong apa-apa."


"Tenang saja, ada aku Vi. Mama Kaka sama Kaka tidak akan bicara yang gimana-gimana kok."


"Hmm.. oke deh."


Kaka dan mamanya memang orang yang berpikiran hebat, daya pikirnya begitu baik, berhati emas, dan bertutur kata sopan. Aku tak tahu apa yang akan di bicarakan sama Kaka dan mamanya, merasa malu sama mereka karena tidak bisa membalas kebaikan mereka yang selama ini selalu Meraka berikan untukku.


Suasana sangat hening, rumah itu yang dulunya tempat singgahku kini menjadi tempat yang amat sunyi bagiku.


"Assalamu'alaikum." Kiki mengetuk pintu itu.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam." Mama Kaka membuka pintunya.


"Ivi.." mama memelukku.


"Mama.." Aku memeluk mama.


"Ayo masuk sayang, nak Kiki ayo masuk."


"Vi, mama kangen sama Ivi, waktu mama ke rumah kamu, kamu nya sakit. Mama tidak tega membangunkan kamu. Kamu sakit apa sayang?" Di kursi mama memulai obrolannya.


"Aku sakit biasa ma, pusing sama sedikit sakit di kaki, mama baik kan?"


"Alhamdulillah mama baik sayang, sekarang sudah baikan kakinya, sudah tidak pusing lagi?"


"Alhamdulillah sudah baikan ma."


"Baik Alhamdulillah."


"Kaka..." Mama Kaka memanggil Kaka.


"Iya ma, assalamu'alaikum Ivi, Kiki." Kaka hanya menebar senyum ke aku dan berjabat tangan ke Kiki.


"Baik Ki?" Tanya Kaka.


"Alhamdulillah, baik-baik."


"Tante, Ka, kedatang Kiki ke sini Kiki mau berterima kasih buat Tante sama Kaka yang sudah berbesar hati merelakam Ivi untuk Kiki, mempercayakan Ivi bersama Kiki. Kalian sangat baik sekali, untuk persiapan pernikahan yang sudah mama dan Kaka siapkan Kiki akan tanggung semuanya. Terima kasih karena selama ini Mama dan Kaka sudah membukakan hati untuk selalu ada buat Ivi."


"Iya sama-sama Kiki, doakan saja semoga Kaka nanti dapat jodoh yang terbaik, mama sudah ikhlas dengan ini semua, cinta tidak ada yang bisa dipaksakan, dan jodoh tidak ada yang bisa menghalangi."


"Iya Ki, gak papa santai aja." Kaka berusaha tegar berkata.


"Vi.. hati kamu sudah milik Kiki untuk saat ini bahkan saat hari-hari kemarin, aku hanya tak sadar kalau hati kamu bukan untukku, Kiki orang yang sangat baik buat Ivi, sangat cocok. Kaka sadar Kaka tidak bisa seperti Kiki, Kaka tidak bisa menggantikan sosok Kiki di hati Ivi, Kaka hanya nitip kamu harus jadi istri yang baik nanti buat Kiki. Dan kamu bro, jaga Ivi jangan sampai Ivi menangis." Kaka menepuk bahu Kiki.


"Siap pasti-pasti bro."


"Mama Ivi mohon maaf yang sebesar-besarnya, Ivi tidak mau mempermainkan hati mama dan Kaka, Ivi maaf keputusan Ivi lebih memilih Kiki." Ivi memeluk mama dan meneteskan air mata.


"Jangan nangis sayang, mama senang Ivi mau jujur meskipun waktunya tidak tepat mama paham sama keadaan Ivi, Ivi gak salah yang salah Kiki tuh terlalu lama mengungkapkan cintanya ke kamu." Memeluk Ivi sembari melirik ke Kiki.


"Iya gak papa, kamu harus jagain Ivi ya, jangan sampai kamu bikin kita menyesal ambil keputusan kalau Ivi lebih baik bersama kamu."


"Siap mama, terima kasih buat semuanya."


"Eh Ki, soal persiapan pernikahan yang udah dipesan jangan khawatir aku sudah bilang semuanya, sudah ganti nama juga di undangannya kebetulan belum di cetak. Semuanya sudah aku atur anggap saja itu buat kado pernikahan aku untuk kalian."


"Sekali lagi, terimakasih buat Kaka, buat Tante. Semoga Allah selalu melindungi kalian, selalu memberi kebahagiaan buat kalian."


"Aamiin. Aamiin..."


Aku tidak mengerti terbuat dari apa hati mereka berdua, Allah sangat baik mempertemukan aku dengan dua insan luar biasa seperti mereka. Aku dan Kiki pulang, rencananya Kiki mau mengajakku ke rumahnya. Papah dan mamanya sudah menunggu kita. Aku tidak tahu kalau Kiki akan mengajakku pula ke rumahnya. Di perjalanan Kiki mengajakku ke tepat makan dulu, Kiki merasa lapar.


"Sayang, kita makan dulu, yuk?"


"Apa? Sayang?"


"Iya, sayang. Kenapa gak suka?"


"Hmmmm.. malu dibilang sayang, hehe"


"Alay.. "


"Ih, kamu mah.." aku marah.


"Ya abisan, kamu dipanggil sayang gitu reaksinya, gak papa kan udah jadi pacar kamu, dan sebentar lagi jadi suami kamu."


"Gak mau ah, sayang-sayangan di tempat umum gini malu."


"Ya Allah, iya deh, iya, Ivi."


"Hehe." Aku hanya nyengeh.


"Makan gak ini?"


"Iya, ayok."

__ADS_1


Ditempat makam itu aku tidak membeli makanan hanya menemani Kiki yang kayaknya kelaparan sekali, mungkin Kiki lelah habis berhadapan dengan Kaka dan mamanya, hehe..


"Kamu lapar banget?"


"Iya sayang."


"Ih kamu, jangan sayang-sayangan nanti ada yang dengar, malu."


"Iya rivi Anggraeni."


"Kamu tidak mau makan Apa?"


"Nggak, aku tidak lapar."


"Kamu mau lihatin aku gitu aja?"


"Iya gak papa, kamu makannya hati-hati pelan-pelan."


"Eumm perhatian sekali calon istriku,.." mengolok-olokku.


"ih apaan sih kamu, aneh."


"Aneh tapi sayang kan?"


"Gatau" jawabku.


"Ngaku aja kali, gengsi gitu bilang sayang juga."


Aku cuma membalasnya dengan menganggukkan kepala.


"Udah makannya jangan sambil bicara Kiki." Tegurku.


"Sambil liatin kamu boleh?"


"Tuh kan semakin aneh kamu."


"yaudah ngga, ngga Ivi..."


Beberapa menit kemudian Kiki menghabiskan semua makanannya.


"Alhamdulillahirobbil'alamiin."


"Sudah kenyang sayang?"


"Apa? Sayang? Haha." Kiki menertawakanku.


"Ih apaan, kamu salah denger kali. Wleeeee."


"Hmmmm.. iya deh aku salah denger, kalau aku gak ngalah kamu pasti gak akan pernah berhenti bela pendapat kamu. Haha."


'wleee."


"Udah makannya. Mau langsung jalan lagi Vi?" Tanya Kiki.


"Bentar."


"Kenapa?"


"Kamu seriusan sama aku?" Tanyaku.


"Kamu meragukan aku, Vi?"


"Bukan gitu, aku takut bertemu sama keluarga kamu."


"Kenapa harus takut?"


"Kamu tahu kan keadaan keluarga kamu dan keluarga aku sangat beebeda kamu orang yang kaya, sedangkan aku ya segini adanya. Aku takut papah kamu tidak akan mau menerima aku kalau papah tahu soal aku."


"Sayang, papah aku bukan orang yang gila harta, kamu sudah tahu kalau papah sudah datang ke rumah kamu bersama aku, ngomong sama mama sama bapak kamu untuk melamar kamu kan? itu tandanya apa coba? paham kan kamu? Itu berarti papah sudah tahu semuanya tentang kamu. Papah menerima semuanya, papah menyerahkan semua ini kepada aku, papah tidak pernah membedakan seseorang dari materi. Semuanya sama dihadapan papah. Sebab apa? Dulu papah juga berasal dari keluarga yang tak cukup materi jadi papah tahu bagaimana ada diposisi itu."


"Iya, aku cuma takut aja."


"Tidak sayang, semuanya serahkan pada aku."


"Oke makasih Kiki."

__ADS_1


"Sama-sama, ayok kita jalan."


__ADS_2