Aku Yakin Dia Adalah Jodohku

Aku Yakin Dia Adalah Jodohku
Mengagumi Dia


__ADS_3

Dia.....


Tubuh tinggi, kumis tipis, mata sipit, alis tebal, kulit putih, dan sedikit kurus.


Sosok rendah hati, dermawan, dan jujur.


Dia adalah Rifki Andranata, aku memanggilnya Kiki.


Kiki adalah laki-laki yang aku kagumi sewaktu masih duduk di sekolah menengah pertama. Karena kebetulan kita satu sekolah waktu itu. Sekolah menengah atas pun aku satu sekolah bahkan satu kelas selama 3 tahun. Aku senang bisa sekelas sama Kiki, senang sekali malahan, hehe.


Wajah Kiki yang tampan membuat semua anak perempuan di kelas menyukainya. Bukan hanya sekelas, melainkan hampir sesekolah. Dia ibarat idola di sekolah itu.


Kiki lahir dari keluarga berada, terkadang aku minder kalau dekat sama dia. Menurut ku sangat sulit untuk bisa dekat sama Kiki apalagi menjadi kekasihnya. Menjadi kekasihnya mungkin itu hanya khayalanku saja. Bukan mungkin, tapi rasanya memang tidak akan pernah bisa.


Kelas sepuluh aku bisa dibilang siswa yang rajin, dan pendiam. Mungkin benar, orang menyebutku pendiam sebab akupun merasakannya. Menurutku waktu singkat tak akan bisa membuat orang-orang tahu akan sikap dan karakter seseorang. Teman-teman bahkan gurupun menyebutku orang yang memiliki pemikiran dewasa, tapi bagiku tidak. Aku adalah orang yang lemah, gampang nangis, dan pesimis. Teman-teman sering mencurahkan hatinya padaku, termasuk Kiki. Aku dan Kiki masih suka berbincang-bincang, meskipun hati aku suka berdegup kencang, pipiku memerah kalau dekat sama dia.


Hari Selasa ada tes bahasa inggris, ibu guru memberikan pilihan kepada kita untuk story telling, singing atau berpidato. Aku memilih story telling sedangkan Kiki memilih singing. Kebetulan waktu itu untuk yang memilih singing diperbolehkan untuk lebih dari satu orang, ternyata Kiki memilih untuk duet sama Diandra. Siapa Diandra?


Diandra adalah teman sekelas kita yang menyukai Kiki, itu menurut pandanganku. Aku bisa melihatnya dari sikap Diandra ke Kiki. Diandra perhatian sekali sama Kiki, mukanya yang cantik, bulat, sedikit gemuk, pintar membuat aku minder lagi dekat sama Kiki. Kiki dengan muka kalemnya memainkan gitar dengan penuh kharisma dan Diandra dengan suara khasnya bernyanyi dengan percaya diri. Mereka membawakan lagu "John Legend-All off me" pandangan Diandra sangat menyentuh hatiku ketika ia mendalami lagunya dan melirikkan pandangannya ke Kiki. Hati kecilku sedih melihat mereka berdua "andaikan aku ada di posisi Diandra".


Meskipun aku tahu Kiki tak sedikitpun menaruh hati sama Diandra karena waktu itu Kiki sedang pacaran sama Fitra anak XI MIPA 3.

__ADS_1


Hari Selasa, sehabis pulang sekolah tepatnya jadwalku piket bersih-bersih kelas, Kiki mengantar Fitra pulang ke rumahnya. Posisi kelasku dekat dengan parkiran kendaraan siswa, aku melihat jelas mereka lewat berdua naik motor merah kebanggaan Kiki, hatiku lagi-lagi mengatakan "andai aku ada diposisi Fitra". Fitra sangat beruntung bisa dicintai Kiki.


Aku orang yang tidak bisa lama-lama berbicara sama Kiki, curhat pun kita gunakan media sosial WhatsApp. Berawal dari tanya-tanya mengenai tugas pekerjaan rumah atau PR dan tugas kelompok, aku dan Kiki jadi sering curhat-curhatan tentang masalah kita, terkadang berbagi ilmu juga mengenai agama kita.


Aku semakin kagum sama Kiki ketika tahu bahwa Kiki adalah salah satu anak broken home. Orangtuanya pisah ketika Kiki berusia sebelas tahun, dulu Kiki tinggal di Batam dan akhirnya Kiki bersama papah, kakak perempuan dan dua adik laki-lakinya pindah ke Bandung yaitu tempat kelahiran papahnya. Sekarang Kiki tinggal bersama neneknya. Bagi anak-anak perpisahan orangtua adalah kenyataan yang sangat pahit. Tidak ada anak yang menginginkan itu terjadi.


Aku tidak tahu tahun-tahun sebelumnya masa sulit itu Kiki lewati dengan sikap seperti apa. Mungkin, jika aku ada diposisi Kiki, aku tak akan bisa melewati itu semua. Menurutku, di umur segitu Kiki cukup tegar dengan hal pahit itu. Sekarang semuanya dia jalani, tidak pernah mengeluh, meskipun sikapnya sedikit suka aneh, aneh yang menurutku itu lucu, hehe.


Kiki beruntung sekali mempunyai nenek yang sangat baik, papah yang bertanggung jawab, kakak perempuan yang perhatian, dan adik-adik yang selalu mensupportnya.


Sampai pada suatu saat, saat dimana papah Kiki memilih untuk menjalankan rumah tangga baru dengan orang yang baru, Kiki merasa berat, tetapi Kiki tidak bisa menghentikan itu semua, kebahagiaan papahnya adalah kebahagiaannya juga.


Aku selalu mengingat-ingat isi dari curahan hati Kiki, hal besar ataupun hal kecil. Gak paham saja kenapa ingin sekali mengingat-ingat hal tentangnya.


Aku senang akan hal itu. Lagi-lagi setelah tahu kisah Kiki seperti itu, aku lantas bersyukur, aku masih diberi keluarga yang utuh, masih ada mama, bapak, kakak, mereka ada di sampingku bersamaan.


****


Kala itu jam pelajaran Bimbingan konseling atau BK membahas mengenai Broken Home, dan siswa diharapkan bisa berpendapat mengenai hal itu. Kiki berpendapat didepan kelas degan percaya diri. Matanya sempat melirik kepadaku saat mau memulai mengeluarkan pendapatnya itu, entah apa yang akan Kiki ucapkan, tapi matanya seolah-olah ingin mengeluarkan semua kekesalan di dalam hatinya. Aku memberi semangat meskipun hanya lewat pandangan saja. "Broken Home bukan hal yang harus ditakutkan, melainkan hal yang menjadikan kita kuat, meskipun pahit, ya inilah kehidupan yang harus terus dijalani dan disyukuri. Tidak akan ada kesuksesan tanpa ada kepahitan yang mengawalinya." Kesimpulan dari pendapat Kiki itu membuat aku semakin mengaguminya.


Awal masuk kelas sebelas aku mendapat kabar bahwa Kiki dan Fitra putus. Fitra adalah orang yang baik buat Kiki menurutku, setiap kali putus yang aku tahu alasannya karena tidak diperbolehkan pacaran sama papah atau mamahnya Kiki, tapi waktu sama Fitra alasan putus mereka karena Fitra tidak suka sama Kiki yang cuek.

__ADS_1


Waktu itu, jam matematika kosong, guru tidak masuk karena lagi ada rapat, tempat dudukku berdekatan dengan tempat duduk Kiki. Aku di depan dan Kiki di belakangku. Aku sempat mendengar perbincangan antara Kiki dan Ano. Ano adalah teman sebangku Kiki


"Ki, kamu putus?"


"Heem, No."


"Kenapa bisa? Kamu gak menyesal putus sama dia, dia kan perempuan yang kamu kejar-kejar sampai kamu rebut dari Bima kan? Haha" Celetuk Ano.


"Hmm, kamu, No. Sudah gak sejalan saja, No."


"Aelah, alasan macam tai itu."


"Kepo banget kamu, No."


"Cerita dong cerita, gue penasaran nih, Ki."


"Ahh, kamu, No. Biasalah, papah gak kasih izin gue pacarankan dari dulu juga, dan memang Fitra gak suka sama sikap gue yang kayak gini, katanya aku terlalu cuek."


"Lah, memang bener sih si Fitra, lo emang super cuek abis, pantesan Fitra gak tahan."


"Iya, gatau lah, No. Sudahlah jangan pacaran-pacaran dulu sekarang mah, fokus No fokus belajar haha."

__ADS_1


"Ashiap, Kiki haha."


Aku tak sengaja mendengar perbincangan itu, tapi hati aku seperti merasakan kegembiraan setelah mendengar itu, mungkin bagi hatiku ada peluang untuk bisa lebih dekat lagi dengan Kiki. Memang teman yang gak tahu diri ya, saat temannya sedang sedih aku malah bahagia. Entahlah cinta memang membuatku buta


__ADS_2