
Aku sebenarnya ingin sekali mengungkap isi hatiku ke Kiki, tapi sayangnya belum siap untuk menerima kenyataan kalau Kiki tak akan pernah bisa membalas perasaanku itu. Hingga pada suatu saat, aku memilih untuk mengakhiri perasaanku pada Kiki. Aku ingin Kiki tahu perasaanku kepadanya, siap tidak siap aku ingin semuanya segera berakhir, rasanya sudah capek dengan perasaan ini. Setidaknya aku sudah mengungkapkannya, apapun itu kelanjutan dan jawabannya aku harus siap menerimanya.
Malam itu, bagiku adalah malam yang sangat hening, tak ada bintang-bintang yang tampak di langit, bulanpun tak terlihat wujudnya. Aku memberanikan diri ngechat Kiki duluan.
"Assalamu'alaikum, Ki."
"Wa'alaikumussalam, Vi."
"Kiki sebelumnya aku minta maaf lancang sekali mengungkapkan ini semua. Aku minta maaf juga atas semua perasaan yang aku miliki saat ini. Aku tidak tahu harus ngapain, aku hanya ingin kamu tahu perasaanku ke kamu, aku sayang sama kamu ki. Aku tahu kamu tidak akan pernah bisa membalas perasaanku itu, aku paham kok."
"Apa ini Vi?"
"Iya itu."
"Seriusan kamu?"
"Iya seriusan Ki 😬"
"Hmmmm... Maaf ya Vi, aku tidak bisa membalas perasaan kamu, aku tidak mau pertemanan kita hancur karena perasaan ini, aku mau kita berteman untuk selamanya."
"Hehe, iya Ki siap. Kita berteman selamanya😊" Aku tak ingin mengirim kata-kata ini padahal di hatiku banyak luka dan kecewa atas jawabannya itu.
"Aku tak mau kita jadi berbeda, kamu jangan menjauh dariku." Balas Kiki.
Aku sedih dengan jawaban Kiki itu, tapi ya apa daya, aku tak bisa memaksakan perasaan Kiki untukku.
Keesokan hari, aku bertemu dengan Kiki di kelas, aku tak berani menatap muka Kiki karena merasa malu atas pernyataanku semalam. Aku merasa sedih dengan kenyataan ini.
Aku mencoba ingin berbagi cerita kepada Vina, tapi aku takut, dan malu.
Vina meminjam handphoneku dan terlihat notif WhatsApp dari Kiki yang semalam belum aku baca.
"Vi maaf, aku barusan lihat notif dari Kiki di handphone kamu, kamu sama Kiki kenapa?" Vina bertanya.
"Kenapa? Gimana maksud kamu?"
"Itu isi pesannya, aku tak mau kita jadi berbeda, maksudnya apa?"
"Hmm itu, nggak Na, hehe."
"Vi, Mata kamu berkaca-kaca loh, kamu kenapa? Jujur sama aku, aku gak akan kasih tahu siapa-siapa kok."
"Gini, Na." Aku mulai meneteskan air mata.
"Kenapa?" Vina menggenggam tanganku.
"Semalam aku ngungkapin perasaanku ke Kiki, kalau aku sayang sama dia."
"Terus gimana?"
"Ya gitu, Kiki cuma anggap aku sebagai teman gak lebih, kamu baca saja chatnya." Memberikan handphone ke Vina.
"Hmmmm, gitu ceritanya. Ya sudah Vi, kamu jangan pikirkan ini lebih baik kita pikirkan buat besok saja. Kamu sudah siap-siap kan?" Vina mencoba menghiburku.
"Belum Na, sepertinya aku tidak ikut Na."
__ADS_1
"Loh kenapa?" Vina kaget, karena biasanya Ivi tak ingin melewatkan satu moment bersama teman-temannya.
"Gatau... Aku bingung, paling nanti nyusul saja. Aku tidak dapat izin ngecamp di sana."
"Yah.. ya sudah, aku ikut kamu ya Vi?"
"Ikut kemana?" Cinta datang menghampiri kita.
"Gini Ta, Ivi besok sepertinya tidak bisa ikut ngecamp, tapi katanya dia mau nyusul dan aku mau ikut sama Ivi. Aku takut bermalam di sana, hehe."
"Aku juga ikut kalian ya, boleh kan boleh?"
"Ya boleh dong, Ta."
"Yeeee...hehe."
Keesokan hari teman-temanku berangkat muncak. Di grup kelas, Ano menanyakan aku, Vina dan Cinta.
"Kemana Ivi, Vina dan Cinta?"
"Maaf No, aku dan yang lainnya besok nyusul. Aku tidak dapat izin ngecamp di sana." Aku membalas pesannya.
"Yah, yah, gak asik." Balas Ano terlihat di notif handphoneku.
Selain tidak dapat izin, aku malas kalau harus bertemu sama Kiki, aku gak mau bertemu sama dia, rasanya malu sekali. Malam tiba, aku dan Cinta nginap di rumah Vina. Vina memvidio call Ano karena mereka memang dekat. Di saat itu, aku melihat Kiki sedang bermain gitar menyanyikan lagu "payung teduh-wanita dalam pelukan". Aku berusaha cuek tidak mau melihat apa yang sedang dia lakukan. Aku langsung tertidur saja.
Pagi menyambut bangun tidurku dengan indah, aku dibangunkan dengan suara merdu dari speaker mesjid. Seusai sholat Subuh, aku, Vina dan Cinta berangkat nyusul teman-teman yang lain. Vina mengabari Ano kalau kita sedang dalam perjalanan. Sesampainya di sana, kita di sambut oleh Kiki dan Ano, entah kenapa harus mereka yang menjemput kita.
"Bawa minum gak hy? aku haus!" Kiki meminta minum.
"Apa Ta?"
"Bawa minum gak? Kamu kenapa sih bengong terus?"
"Oh ini ada." Menyodorkan minumnya ke Cinta.
"Bukan aku yang minta Vi, tapi Kiki."
"Maaf Ta, nih." Menyodorkan ke Ano.
"Ya Allaah, Rivi Anggreani kamu kenapa sih? Itu Ano bukan Kiki." Kata Cinta.
"Iya kenapa sih kamu Vi?" Vina menanyakan hal yang sama
"Makanya kamu lihat dong orangnya jangan nunduk terus, jadinya kan salah orang."
"Iya, Ivi kenapa sih? Gerogi ya lihat aku yang terlalu ganteng? Haha." Celetuk Ano dengan percaya diri.
"Apaan sih, nggak lah." Aku menyanggah pertanyaannya itu.
"Ya terus kenapa? Kamu aneh kalau lagi dekat sama Kiki, mukamu suka memerah pula, apa jangan-jangan?.."
"Jangan-jangan apa kamu, No?" Cinta menanyakan hal itu.
"Nih minumnya, Ki." Aku menyodorkan minumnya ke kiki.
__ADS_1
"Ayok semuanya kita naik ke atas, teman-teman yang lain sudah menunggu." Kiki mengajak kita dan menghentikan obrolan kita tadi.
Dijalan menuju puncak, aku jalan paling belakang. Aku merasa haus sedangkan air minumku ada di Kiki. Aku malu mau minta air minumku kembali, aku diam sejenak sedangkan yang lain terus jalan. Entah kenapa tiba-tiba Kiki datang padahal aku lihat tadi Kiki sudah melanjutkan perjalanan bersama yang lainnya.
"Kamu haus? Nih." Kiki menyodorkan minum.
"Makasih."
"Itu punya kamu, kenapa harus berterimakasih? Maaf, tadi aku lupa mengembalikannya ke kamu. Makasih ya."
"Hmm, iya gak papa. Sama-sama."
"Capek ya, Vi?"
"Ya gitulah Ki, ayok kita jalan lagi."
"Ayok."
Di sepanjang jalan, aku tidak berbicara apa-apa hanya diam saja.
Sesampainya di puncak, teman-teman sedang berkumpul untuk makan.
Aku dan Kiki datang berdua terlambat, teman-teman yang lain mencie-ciekan, aku lantas langsung pergi menghampiri Vina dan Cinta yang sedang duduk.
"Tadi kamu kemana dulu?" Tanya Vina.
"Aku capek, Na. Aku berhenti dulu sebentar dan Kiki tiba-tiba datang."
"Ahhh sosweet." Celetuk Cinta.
"Apaan sih, Ta. Nora tau."
Selesai makan-makan, kita berfoto-foto. Aku diam saja di tempat dudukku, sembari melihat pemandangan sekitar dan melihat teman-teman yang sedang berfoto. Banyak temanku yang meminta foto bareng sama Kiki, bahkan Diandra pun foto bareng. Aku hanya melihatnya dan sebenarnya malas melihat itu. Aku ingin foto bareng sama Kiki, tapi aku malu. Dan tiba-tiba saja Ano memanggilku.
"Vi, sini!"
"Iya, ada apa No?" Aku menghampiri Ano.
"Diam di sana!"
"Memangnya ada apa?"
"Ki, sini Ki!" Ano memanggil Kiki, tidak menjawab pertanyaanku. Kiki menghampiri aku dan Ano. Dia mengikutinya dan malah diam di dekatku.
"Sip deh sip." Ano menatapku dan Kiki.
"Ciee.. cie..." Teman-teman yang lain bersuara dan memandang aku dan Kiki yang sedang Ano gerakan untuk berfoto bareng.
"Ayok dong Vi senyum!" Vina menyuruhku tersenyum, dia bahagia melihat aku dan Kiki foto bareng.
Setelah Ano mengambil fotret kami, aku dan Kiki saling melirik satu sama lain dan barengan mengucapkan terimakasih. Lagi-lagi, temanku yang lain mencie-ciekan.
Entah apa maksud kita bilang terimakasih. Akupun tidak tahu cuman refleks saja.
Kita beristirahat sejenak untuk melanjutkan perjalanan pulang. Sesampainya di rumah, aku mendapat pesan gambar dari Ano. Dia mengirimkan foto namaku di handphone seseorang yang dipegang oleh seseorang. Dengan pemandangan lampu-lampu pemukiman yang terlihat di atas puncak, seseorang itu sepertinya Kiki. Karena terlihat ada tahi lalat di jari tangan orang yang memegang handphone itu. Aku membalas pesan Ano "Terimakasih, No."
__ADS_1
Dan Ano mengirim pesan gambar di grup kelas, terlihat ada foto Kiki yang sedang menuliskan nama "Mutiara" di selembar kertas buku tulis dengan spidol berwarna biru. Aku merasa sedih ternyata bukan hanya namaku yang dia tulis. Bahkan nama perempuan itu lebih berarti, Kiki tulis dengan tangannya sendiri. Sedangkan yang Ano kirim ke aku entah siapa yang membuat itu, meskipun terlihat itu tangan Kiki, tapi bisa saja Kiki buat hanya sekedar mengikuti suruhan orang. Karena mungkin saja teman-temannya mengolok-olokan nama ku ke Kiki sehingga Kiki terpaksa membuat namaku itu. Setahuku Mutiara memang sedang dekat dengan Kiki, perempuan berkacamata bulat, berhidung mancung, berbibir tipis, anak kelas X itu memang sedang gempor di kabarkan sebagai seseorang yang dekat dengan Kiki dan katanya sih udah jadian, tapi aku tak mempedulikannya. Aku langsung tertidur karena merasa lelah.