
Pondok adalah rumah yang penuh kehangatan, cinta dan kasih sayang, itu pendapatku. Setelah lulus sekolah menengah pertama, aku dipindahkan dari pondok junior ke pondok khusus senior. Di sana, aku mendapat banyak teman mulai dari yang usianya lebih muda, bahkan ada yang lebih tua. Hal yang paling menarik, aku disatukan sama sekelompok orang-orang yang pernah aku tidak sukai, mulai dari gaya hidup, sikapnya dan hal lainnya. Mereka adalah kakak-kakak kelasku sewaktu masih di pondok junior. Dan yang lebih anehnya sampai saat ini merekalah yang menjadi sahabatku di pondok. Aku tak percaya takdir terjadi seperti itu.
Aku di pondok ditunjuk sebagai bendahara oleh ketua rohis. Kala itu, rohisnya adalah Kang Miftah. Nama aslinya Miftah Tirta Anjaya, ia lebih tua dua tahun dariku.
Setiap tanggal dua puluh, aku setor uang infak akhwat ke Kang Miftah. Posisi tempat ngaji kita terhalang oleh hijab atau kain panjang penghalang ruangan. Jadi, aku bertemu sama Kang Miftah di balik hijab itu.
"Assalamu'alaikum." Mengucap salam ke siapapun yang ada dibalik hijab itu.
"Wa'alaikumussalam." Seseorang menjawab salamku.
"Ada Kang Miftah?"Tanyaku.
"Ini kang Miftah." Sembari terdengar suara ketawa kecil gitu, entah apa yang sedang mereka tertawakan di balik hijab itu.
"Oh iya, kang ini uang infak bulan ini, jumlah semuanya Rp.250.000,00." Aku berbicara di balik hijab itu.
"Terima kasih, Vi. Ehh, jangan lupa buat yang belum harus segera, soalnya uang itu mau dipakai untuk membeli papan tulis baru dan kebutuhan pondok lainnya."
"Iya siap, kang." Aku kembali ke tempat ngaji.
*******
Keesokan malam, aku bertemu sama Kang Miftah di halaman pondok. Kang Miftah menghampiriku.
"Assalamu'alaikum, Vi."
"Wa'alaikumussalam, kang."
"Vi, udah ada yang bayar uang infak lagi?"
"Belum kang, kan baru kemarin. Lagian, aku juga belum sempat bertemu sama akhwat-akhwat yang lainnya, ini baru mau ke atas." Kebetulan ruangan ngaji untuk santri senior di ruangan atas.
"Oh, iya." Kata kang Miftah
"Iya, kang. Aku duluan, kang."
"Iya silahkan."......."eh..eh.. Vi bentar!"
"Apa, kang?" Menghentikan jejak langkahku.
"Nanti pulang sendiri?"
"Nggak, kang. Ada Lilis, aku bareng sama Lilis."
"Yah...." Suara lembut hampir tak terdengar itu ia ucapkan.
Aku pergi ke pondok khusus akhwat, percakapanku dengan Kang Miftah hanya membahas soal pondok saja, itu sering dan itupun tak lebih dari percakapan mengenai hal itu. Entah kenapa malam itu, Kang Miftah menanyakan dengan siapa aku pulang, padahal Kang Miftah orang yang gak suka basa basi. Menurutku itu konyol bagi seorang Miftah Tirta Anjaya. Pikiranku menjadi tidak fokus karena hal itu, hal yang seharusnya tidak aku pikirkan.
Tepat pukul 21.00 pak ustadz mengakhiri pengajiannya dan aku segera pulang ke rumah. Jalan menuju rumahku gelap dan dikelilingi oleh pohon singkong yang tak tahu jumlahnya berapa. Jarak rumah Lilis dan rumahku memang tidak jauh, tetapi karena pohon-pohon singkong itu membuat rumah kita terlihat berjarak.. Aku takut dengan kegelapan, di sekitar pohon-pohon itu tidak ada penerangan lampu satupun sehingga aku lari-larian dari rumah Lilis ke rumahku. Lari-lari malam ternyata sama, cape haha.
Setelah menemui tempat terang yang tidak jauh dari rumahku, aku melihat ada seseorang di depan rumah, langsung saja aku menghampirinya. Semakin dekat, wajah itu semakin jelas.
"Kang Miftah?" Aku kaget.
"Hehe.. Iya, Vi. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam, kang."
"Loh.. kok, akang ada di sini?" Mengurangi nada suaraku karena takut ada orang rumah yang mendengar.
"Kamu lari-larian?" Nanya balik dan menghiraukan pertanyaanku.
"Iya, hehe... takut soalnya gelap."
"Lain kali minta anter Ikhwan buat anterin kamu pulang, kan pak ustadz juga nggak melarang, demi keamanan dan kebaikan kamu juga."
__ADS_1
"Nggak, kang. Aku sudah biasa pulang sama Lilis, sendiripun berani, aku bisa lawan rasa takut ini kok, lagian gak akan kenapa-kenapa hanya cape saja, hehe."
"Iya, tetap saja. Aku khawatir!"
"Hah? Apa kang?"
"Apa? Memang aku ngomong apa barusan?"
"Hmm... Nggak, kang." Aku kebingungan.
Aku tidak bisa menawarkan Kang Miftah masuk rumah karena kurasa aku gak akan bisa menjawab semua pertanyaan dari orang rumah nanti, pertanyaan siapalah itu, kenapa malam-malam ke rumah, ya pokoknya seperti itulah.
"Kang, ada hal penting apa akang ada di sini?"
"Nggak, Vi. Akang hanya ingin tahu saja kalau kamu pulang selamat sampai rumah."
"Hmmmm, terimakasih, kang. Aku masuk duluan ya, sudah terlalu malam ini." Mengakhiri perbincangan.
"Vi?" Mengawalinya kembali.
"Iya, kang?"
"Mau kita bertemu atau berpisah jangan lupa ucapkan salam!"
"Eh, iya. Mohon maaf, assalamu'alaikum." Aku merasa malu karena lupa mengucap salam.
Aku lantas masuk kerumah dan bergegas pergi ke kamar mandi untuk gosok gigi, bersih-bersih tangan dan kaki. Kemudian, masuk ke kamar untuk tidur karena besok harus berangkat sekolah.
Pukul 04.30, aku terbangun dari tempat tidurku dan pergi ke kamar mandi, berwudlu untuk melaksanakan sholat subuh. Selesai sholat subuh, membantu mama beres-beres rumah, menyapu kamarku, kamar mama, ruang tamu, dapur dan halaman depan. Tak diduga di halaman depan, aku menemukan bingkisan hadiah, kado indah dengan kertas kado berwarna biru bunga-bunga dan tertulis namaku di kado itu. Aku kebingungan dengan kado itu dan langsung menyimpannya di kamar karena waktu sudah menunjukkan pukul 06.15. Aku harus segera bersiap-siap pergi ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, aku hiraukan semua kejadian-kejadian lain, fokus belajar dan menghabiskan waktu bersama teman-teman di waktu istirahat dan jam kosong.
Sepulang sekolah, waktuku beristirahat karena pada pukul 18.30 harus kembali ke pondok.
Aku berangkat ke pondok dan di sana tidak ada siapa-siapa. Ku buka handphone dan melihat tanggal, rupanya kalau malam itu adalah malam Jumat, setiap malam Jurmat jadwal ngaji di pondok libur. Aku tak mengingatnya mungkin karena lagi semangat-semangatnya ngaji. Tak lama dari itu, aku langsung saja kembali ke rumah. Melihat ada kado tadi yang belum sempat kebuka isinya, aku langsung mengambil kado itu dan membukanya.
Kertas putih itu berisikan:
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Awan biru menghiasi langit, burung-burung terbang dengan sayap
indahnya.
Daun hijau berayun-ayun, tersentuh angin rupanya indah.
Wahai Khumairah, Sang makhluk indah Rabbku...
Tak ada sesuatu yang indah di dunia ini tanpa cinta.
Cinta adalah anugerah Sang Pencipta yang tak
akan pernah lepas dari diri seorang manusia.
Eh, eh udah ah gak bisa lagi buat kata-kata, hehe.
Buat Rivi Anggreani, aku Miftah Tirta Anjaya, sebenarnya.....
Sebenarnya, aku menyukaimu.
Ada perasaan yang tak bisa didefinisikan,
Entah apa yang aku lihat darimu sehingga aku bisa mempunyai perasaan ini
kepadamu.
__ADS_1
Perasaan sayang, takut kehilangan yang bersatu menjadi cinta.
Yang entah kapan mulai melekat pada diriku ini.
Perasaan seseorang tidak untuk dipaksa dan tidak untuk didiamkan
Semua butuh keberanian dan kejelasan.
Aku yang tak bisa memaksamu kembali membalas perasaan ini
Dan aku yang tak harus mendiamkan perasaan ini terlalu lama
hanya sebatas angan.
Bukan tak berani aku menyampaikannya langsung kepadamu,
Namun, aku tahu kamu seorang wanita yang tak suka berdiam lama
dengan Ikhwan.
Untuk itu, aku tulis isi perasaanku ini di atas kertas.
Semoga kamu paham dengan perasaanku ini.
Oh, iya. Ini aku ada oleh-oleh. Seminggu kemarin, aku jiarah ke Demak,
aku tidak membeli apa-apa cuman pas lihat tasbih ini, aku tertarik dan aku
ingin kamu pakai tasbih ini ketika kamu dzikir untuk mengingat Robbmu.
Semoga bermanfaat.......
Miftah Tirta Anjaya
Setelah membaca surat itu, aku tercengang, kaget dan kebingungan. Menurutku surat itu memang membuat hati aku tersentuh sebab surat itu adalah surat pertama kali yang aku dapatkan dari seorang lelaki. Aku tak menyangka Kang Miftah memiliki perasaan kepadaku. Sayangnya, aku tak sedikitpun mempunyai perasaan untuk Kang Miftah. Setelah ku buka kado itu, aku pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudlu dan menjalankan kewajibanku sholat Isya. Selesai sholat, langsung mengerjakan tugas sekolah dan bersiap-siap untuk tidur.
*********
Keesokan malam, aku dan Kang Miftah bertemu di halaman pondok. Kang Miftah menghampiri dan menyapaku dengan senyuman.
"Assalamu'alaikum, Vi."
"Wa'alaikumussalam, Kang.'
"Vi?"
"Iya, Kang."
"Sudah buka kado semalam yang ada di halaman depan rumahmu?" Kang Miftah ragu menanyakan hal itu
"Hmmmm, iya kang, sudah. Terimakasih untuk tasbihnya, insyaallah bermanfaat." Tak membahas yang sebenernya Kang Miftah maksud.
"Oh iya, sama-sama, Vi. Soal itu?"
"Soal apa, Kang?" Pura-pura tidak tahu.
"Soal perasaanku?" Tanya Kang Miftah.
Sejenak aku menghela nafas.
"........mohon maaf kang aku anggap akang kakak rohis yang harus aku hormati, aku tidak menyimpan perasaan lebih." Menundukkan kepala karena tak seharusnya berkata seperti itu.
"Eh, kang. Aku duluan, assalamu'alaikum." Langsung pergi meninggalkan Kang Miftah
"Wa'alaikumussalam." Ia kecewa dengan jawaban Rivi malam itu.
__ADS_1
Aku memang tidak menyimpan perasaan cinta untuk Kang Miftah karena ada orang lain yang telah mengisi hatiku ini. Meskipun aku tahu dia belum tentu menyimpan perasaannya untukku, bahkan bisa jadi tidak. Dia adalah teman sekelasku di masa SMA.