
Satu tahun berlalu, kegiatanku hanya sibuk dengan jadwal kuliah, hari-hariku terisi bersama Kaka. Keluargaku sudah mengenal Kaka sangat dekat, begitu pula dengan keluarga Kaka sudah mengenalku sangat dekat bahkan aku selalu dianggap anak oleh mamanya.
Hari demi hari usiaku semakin bertambah, mamaku semakin khawatir akan jodohku siapa? Mama hanya tahu satu laki-laki yang selalu dekat denganku yaitu Kaka.
Hingga pada suatu malam. Mama berbicara kepadaku.
"Vi, mama sudah mengharapkan kamu menikah, apa Ivi belum ada kepikiran untuk menikah?"
"Ma, Ivi sangat tidak suka kalau sudah dibahas atau ditanya soal nikah. Ivi belum punya calonnya juga. Ivi belum bener ma, belum bisa untuk jadi seorang istri. Ivi masih kekanak-kanakan."
"Sayang, kepribadian seorang istri bisa juga terwujud ketika pernikahan sudah terjadi. Ivi jangan khawatir soal itu."
"Tapi ma, masalahnya belum ada juga laki-laki yang Ivi suka dan yang Ivi inginkan untuk jadi imam Ivi."Aku tidak jujur soal laki-laki yang ada di hatiku.
"Sayang, Kaka bagaimana?"
"Kaka? Gufron?"
"Iya."
"Mama Ivi dan Kaka hanya teman!" Aku menaikan volume suaraku.
"Kamu salah sayang, Kaka mencintai kamu!"
"Mama tahu dari mana kalau Kaka mencintai Ivi?"
"Dia sendiri bilang sama mama, sama bapak."
__ADS_1
"Kapan? Mama pasti bohong."
"Kamu tidak percaya sama mama? Mama jujur saja, dia anak yang bertanggung jawab, pemberani. Dia tidak banyak kata kepada kamu, tapi dia buktikan cintanya langsung kepada mama dan bapak. Dia datang ke rumah, dia ungkapkan semuanya kepada mama dan bapak, dia ingin hidup bersama Ivi, Ivi adalah orang yang dia harapkan. Dia sangat menyayangi kamu sayang."
"Tapi ma, dia tidak pernah bilang apa-apa soal itu kepada Ivi."
"Dia bingung harus menyatakannya ke kamu dengan cara bagaimana. Dia akhirnya memutuskan untuk bilang kepada mama dan bapak. Sekarang mama sudah bilang yang sejujurnya sama Ivi, itu semua biar Ivi yang menentukan jawabannya. Mama tidak akan memaksa, hanya saja Ivi tolong jangan sia-siakan orang yang bener-bener sayang sama Ivi."
"Hmmmm.. nanti Ivi pikir-pikir dulu ma."
Hari-hariku bersama Kaka seperti biasa, Kaka lebih perhatian kepadaku layaknya dia menyanyangiku seperti pacarnya sendiri padahal aku belum mengatakan keputusannya.
Mama Kaka meminta kepadaku untuk tinggal di rumahnya, ia mau pernikahan aku dan Kaka dipercepat. Aku bahkan tidak pernah berpikir sampai sejauh itu.
Aku tidak mau tinggal bersama keluarga Kaka, aku dan Kaka hanya teman dan tidak akan pernah bisa lebih, aku buka orang yang cocok untuk Kaka, Kaka terlalu baik untukku.
Sebelumnya aku sudah menghancurkan hati keluargaku, atas penolakkan perjodohan yang dilakukan bapak dengan teman dari pamanku, anaknya sudah mencukupi umur untuk menikahi seorang gadis, bapak merasa dia adalah laki-laki yang cocok untukku. Hingga pada suatu saat teman dari pamanku dan anaknya itu datang ke rumahku, dengan niat ingin menemuiku dan berbicara serius denganku. Aku tak ingin hal itu terjadi, perjodohan menurutku bukan hal yang baik. Aku berkata seperti itu karena melihat pengalaman dari sebagian teman di pondok mengalaminya dan mereka gagal dalam menjalankannya. Memang gak semua perjodohan akan gagal, tergantung kita yang menyikapi perjodohannya itu. Aku dari awal tak ingin ada perjodohan, biarkan saja hati aku yang memilih siapa orang yang akan mengisi hati ini, tanpa ada kata perjodohan dari orangtua. Waktu itu, bapak sangat kecewa denganku, karena aku tak ingin menuruti apa yang bapak mau, bahkan menemui pemuda itupun aku tidak menurutinya. Aku hanya diam di kamar. Setelah pemuda dan teman pamanku pergi dari rumah, aku langsung pergi ke suatu tempat yang sangat sepi, sebuah kebun yang tak tau siapa pemiliknya. Aku menangis hebat di sana. Mengeluarkan semua kekesalan di hati ini, dan merasa bersalah kepada bapak karena tidak bisa menuruti kemauannya. Setelah kejadian itu aku tak mau lagi menghancurkan hati keluargaku, aku memasrahkan semuanya kepada takdirku, mungkin doa yang selama ini selalu aku panjatkan salah, nama dia yang selalu aku selipkan dalam doaku itu akan hilang dan aku ganti dengan yang sebenarnya yaitu, Gufron Putra.
Seminggu kemudian Aku dan Kaka wisuda, hari esok keluarga Kaka mengajakku untuk ikut berlibur ke Candi Borobudur, Yogyakarta. Aku ikut atas izin dari mama. Mama mengizinkanku dengan alasan supaya kamu lebih dekat dengan keluarga Kaka. Aku tidak mengerti mengapa perasaanku tidak mau ini terjadi, aku ingin dekat dengan keluarga Kaka seperti dulu hanya sebatas untuk pertemanan saja. Aku senang bisa menambah kekeluargaan bersama keluarga Kaka, tapi tidak untuk menjadi menantunya.
Malam hari, di depan kamar penginapan Kaka baru memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya untukku, mengatakannya langsung kepadaku setelah dia mengatakannya kepada mama dan bapakku.
"Vi... Kaka mau bilang sesuatu sama Ivi."
"Apa Ka?"
"Kaka sayang sama Ivi, Ivi mungkin sudah mendengar semuanya dari mama Ivi, Kaka baru berani mengungkapkan ini semua ke Ivi. Kaka sangat sayang sama Ivi, takut kehilangan Ivi. Sebulan ke depan Kaka akan pergi kerja ke Jakarta, tapi sebelumya Kaka ingin menjadikan Ivi teman hidup Kaka untuk selamanya. Kaka tidak bisa memaksa hati Ivi buat menerima Kaka, jika Ivi ragu sama Kaka, Ivi tidak bisa menjalankan ini semua, Ivi jujur saja. Jangan karena alasan keluarga kita Ivi menerima lamaran Kaka. Kaka menunggu jawaban Ivi dari semenjak Kaka bilang sama bapak dan mama Ivi, tapi Ivi belum juga menjawabnya. Malam ini Kaka mau tahu yang sebenarnya. Tolong Ivi jawab jujur!"
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim, insyaallah Ka, aku mau menerima kamu." Jawaban singkat itu sebenarnya sangat tidak aku inginkan, tapi demi keluargaku dan keluarga Kaka aku siap menerima ini semua, dan aku juga harus menerima takdir mungkin ini yang terbaik untukku, aku harus bisa melupakan seseorang yang aku harap-harapkan dari dulu. Dan menerima Kaka yang sudah jelas-jelas menyayangiku.
"Vi, kamu beneran? Dari hati kamu kan bukan karena paksaan?"
"Iya ka."
"Makasih Ivi."
"Sama-sama Ka."
"Kamu kedinginan?" Tanya Kaka yang melihat tanganku berpegangan erat dan tubuh sedikit membungkuk.
"Ngga kok Ka."
"Itu kamu kenapa?"
"Ngga kenapa-kenapa."
"Yaudah masuk gihh, di sini dingin. Tidur yang nyenyak!"
"Iya, aku duluan masuk ya, assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam,... ehh vii..." Kaka memotong jejak kakiku dan aku terdiam tepat di pinggir pintu masuk kamar penginapan itu.
"Apa?"
"Selamat Malam, mimpi yang indah." Sembari tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Iya, Ka."