Aku Yakin Dia Adalah Jodohku

Aku Yakin Dia Adalah Jodohku
Menuju Halal


__ADS_3

Sampai didepan rumah Kiki, aku sangat gugup akan bertemu papah dan mama Kiki. Tapi Kiki selalu meyakinkan aku, bahwa aku akan diterima baik oleh keluarganya.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Jawab papah Kiki yang sedang duduk dikursi pijat.


"Oh ini calon anakku." Kata mama Kiki sembari menghampiri dan menyambut hangat kedatanganku.


Aku hanya tersenyum dan bersalaman mencium tangan mama.


""Iya ma, ini Ivi." Sahut Kiki.


"Ayo masuk sayang, silahkan duduk." Ajak mama Kiki.


"Makasih Tante."


"Eh kok Tante, mama kan sebentar lagi mau jadi anak mama."


"Iya mama. Hehe."


"Oh jadi ini calon menantu papah." Papah Kiki menghampiriku setelah tadi menjawab salamku.


Aku menghampiri papah Kiki dan mencium tangannya.


"Iya, pah. Cantik kan? Hehe" Canda Kiki ke papahnya.


"Cantik dong, mana mungkin anak papah salah pilih pasangan hidupnya, Papah juga kan dulu gak salah pilih, mama kamu yang paling istimewa. Haha"


"Mama, istimewa pah?Tanya Mama ke Papah.


"Menurut mama gimana?"


"Dasar papah, ayok duduk dulu Ivi, mama ambilkan minum dulu." Ajak mama Kiki.


"Kiki suka cerita soal kamu, dan Alhamdulillah hari ini kita ketemu, apa kabarnya sudah baikan sakitnya?" Tanya papah memulai kembali pembicaraannya.


"Alhamdulillah sudah baik, pah."


"Kiki sangat sayang sekali sama kamu, papah percaya kamu akan jadi istri yang baik buat Kiki."


"Aamiin, aamiin pah, insyaallah Ivi akan berusaha buat jadi istri uang baik buat Kiki, terimakasih papah sudah mau menerima Ivi dengan baik juga."


"Sama-sama, eh iya nak Ivi, papah sama keluarga besar mau datang ke rumah buat lamaran resminya hari Minggu ini, bilangin sama mama kamu, sama bapak juga ya?"


"Minggu ini pah?"Tanyaku, sedikit kaget.


"Iya nak.. Kenapa, kecepatan?"


"Nggak pah, nggak papa.. Ivi nanti bilangin sama bapak sama mama juga."


"Ivi pengennya Kamis ini pah. Udah gak sabar dia pengen cepat-cepat." Canda Kiki.


"Isshh apaan sih kamu, Ki." Mencubit paha Kiki yang duduk di sampingku.


"Becanda, sayang." Jawab Kiki.


"Oh iya, pah. Soal pernikahannya, papah jangan khawatir semuanya sudah beres."


"Kok, kok bisa secepat itu? soal lamarannya juga belum direncanain bagaimana-bagaimananya, kok udah selesai aja masalah nikahan."


"Gini pah, sebelumnya Kaka kan sudah mempersiapkan pernikahannya dengan Ivi sedemikian rupa, catering, WO, dan lain-lain semuanya sudah Kaka dan keluarganya siapkan sudah DP juga. Kata mereka, mereka tidak akan mengcancelnya tetap memakainya buat kado pernikahan Kiki sama Ivi. Itupun kalau Ivi dan Kiki mau. Dan hasil keputusan Kiki sama Ivi, kita menerima semua itu."

__ADS_1


"Masya Allah, baik sekali mereka. Alhamdulillah deh kalau begitu, jadi papah hanya perlu berunding sama keluarga kamu nak Ivi, soal lamaran saja."


"Iya, pah. Ivi ikut baiknya saja."


"Makan dulu yuk." Ajak mama.


"Aku barusan sudah makan ma, Ivi nih ma belum makan." Kata Kiki.


"Iya, ma makasih. Tapi Ivi belum lapar."


"Mama udah masak, ayok pokoknya makan dulu, kamu juga ikut makan lagi aja Ki."


"Iya, ma."


"Ayok, makan dulu sayang." Ajak Kiki sambil memegang tanganku.


"Tapi aku belum lapar." Bisikku ke Kiki.


" Gak mau, coba dulu sedikit aja, mamah udah masak masa kamu nggak menghargainya."


"Iya, iya aku makan."


Pertama kali aku makan di satu meja bersama keluarga Kiki, rasanya seperti mimpi hanya saja kurang lengkap hanya sama Papah dan mamanya saja karena kebetulan adik-adiknya sedang di ruang atas.


Makan pun selesai aku dan Kiki kembali ke ruang tamu.


"Sayang... Diana ada dimana?" Diana adalah adik perempuan Kiki yang baru berusia 2 tahun, jadi sebenarnya Kiki punya 5 adik.


"Sepertinya ada di atas sama nenek. Kamu mau bertemu?"


"Heem." Aku mengangguk.


"Ayok."


Setelah aku bertemu sama nenek dan Diana aku akhirnya bermain sama Diana dan menemani nenek yang akhirnya memutuskan untuk menonton televisi dan sesekali berbincang-bincang denganku, kebetulan banget aku memang suka anak kecil, sekalinya bertemu dengan anak kecil rasanya ingin dijadikan anak sendiri, hehe..


Kiki hanya melihat aku dari kejauhan.


Adzan magrib berkumandang, Kiki mengajakku sholat magrib berjamaah bersama keluarganya. Sehabis sholat magrib Kiki mengantarku pulang. Dijalan Kiki memberhentikan motornya, dia melihat ada tukang cimol, dia membelikan cimol untukku.


"Kenapa berhenti di sini?" Tanyaku.


"Itu lihat kesamping, ada apa?" Kiki malah tanya balik padaku.


"Tukang cimol?"


"Iya."Jawab Kiki.


"Terus?"


"Tunggu, sebentar."


Kiki turun dari mobil.


"Nih.." Kiki memberikan cimolnya untukku.


"Buat aku?"


"Iyalaaa. Suka kan?"


"Kamu tahu aku suka cimol dari siapa?" Aku heran karena sebelumnya aku gak pernah cerita soal ini.

__ADS_1


"Dari hatiku yang paling dalam."


"Ihh apaan sih gombal mulu dari tadi.."


"Haha, buruan makan! Jangan banyak tanya, nanti keburu ileran kamu."


" Eyyy dasar kamu, kamu yang beli aku yang makan."


"Ya kan buat nyenengin kesayangannya aku."


"Apa gak denger?"


"Sini..!"


"Apa?"


"Kesayangannya Aku." Bisik Kiki ke telingaku.


"Hmm... alay kamu, tapi makasih ya."


"Iya, sama-sama. Eh... Itu cimolnya hadiah buat kamu karena tadi dirumah kamu, kamu bilang aku ganteng. Hahaha."


"Iya gitu?"


"Tuh kamu mah, nggak bisa menyadarinya gitu, aku sudah tahu kok aku memang ganteng dari lahir.


""Ishhh, berisik.. aku lagi makan."


"Gak akan bagi-bagi?"


"Kenapa kamu nggak beli juga tadi?"


"Ya sengaja kan biar bisa makan berduaan. Hehe.."


"Gak mau, belum halal. Wlee.."


"Ya Allah. Ngaku aja kamu pelit gak mau bagi-bagi."


"Biarin."


"Ishh nyebelin."


"Bodo amat."


"Yaudah deh yaudah gak papa. Aku kenyang liatin kamu doang juga."


"Beneran nih?"


"Iya beneran."


Aku menyodorkan cimol ke dekat mulutnya Kiki dan Kiki melahapnya.


"Katanya beneran gak mau, soalnya liatin aku aja udah kenyang tapi kok dimakan juga ya."


"Sayang aja, rezeki gak boleh di tolak apalagi udah di depan mulut kan. Wkwk.."


"Hilih dasar kamu."


Malam itu sehabis pulang dari Kiki, aku memberikan kabar gembira ini kepada teman-temanku. Aku memceritakan semuanya kepada Vina, Cinta, dan Karen. Ano dan Rian tentu sudah mengetahuinya dari Kiki. Aku sekalian mengundang mereka untuk datang ke acara lamaranku dan Kiki Minggu ini.


Aku dan Kiki memang sudah dekat dari masa SMA, kita sempat terpisah oleh jarak, waktu dan keadaan. Aku yang mempunyai keyakinan besar akan cinta darinya, hidup bersamanya, kini menjadi kenyataan. Meskipun dulu kita tak bisa disatukan tapi saat ini semuanya terjawab, aku tidak sia-sia selalu menyelipkan nama dia disaat menadahkan kedua tanganku, jawaban tiga kali istikharahku memang benar Rifki Andranata adalah orangnya. Pacaran kita sangat singkat hanya dua minggu, setelah itu Kiki resmi menikahiku. Aku masih tak percaya kisah cintaku akan serumit dan seindah ini. Terima kasih hati atas kesabarannya dan keikhlasannya, kau telah menunggu dia untuk waktu yang tak sebentar.

__ADS_1


__ADS_2