Aku Yakin Dia Adalah Jodohku

Aku Yakin Dia Adalah Jodohku
Foto Booklet


__ADS_3

Kelas 12 memang masa yang sangat berarti, masa itu kita pakai untuk banyak membuat moment-moment berkesan. Sekolah kita membuat buku album tahunan khusus buat siswa kelas 12. Saat itu kelas Kita memilih jalan Braga untuk menjadi spot foto kita.


Dalam foto itu ada 4 kali fotographer mengambil gambar. Yang pertama foto sendiri, kedua foto berdua, ketiga foto kelompok dan ke empat foto sekelas.


Aku kebagian foto berdua sama Rian. Aku menginginkan foto sama Vina, tapi Vina dengan Cinta. Untuk foto kelompok, aku, Vina, Ano, dan Kiki.


"Ayo Vi, giliran kamu sama Rian fotonya." Kiki menyuruhku dan rian. Aku tidak bisa berpose. Aku hanya tersenyum saja.


"Biasa saja kali Ki lihat Ivinya. Haha." Ano mengagetkan Kiki.


"Eh kamu, apaan sih No."


"Ah kamu ki, bilang saja cemburu."


Kiki menjawab Ian hanya dengan mencubit perutnya.


Aku dan Rian selesai foto. Selanjutnya giliran Kiki Dan Diandra. Aku tak paham kenapa Kiki harus sama Diandra. Ketika mereka berfoto aku hanya menundukan kepala saja.


"Vi, sabar." Vina mendekatiku.


"Sabar kenapa?"


"Kamu sakit hati kan lihat mereka berdua foto bareng?"


"Ah nggak, biasa saja." Aku menjawabnya.


"Aelah sudah ku katakan kamu tidak pandai berbohong Vi. Haha."


"Serah kamu deh."


"Haha." Vina menertawakanku.


Setelah selesai foto berdua saatnya foto kelompok.


Setelah berkeliling mencari spot foto yang pas buat kelompok kita, akhirnya kita menemukannya.


"Ayo kelompok satu." Fotographer memanggil.


Posisi aku bersebelahan sama Kiki, sedangkan Ano dan Vina.


"Ayo pose resmi dulu." Cekrek


"Lanjut, pose bebas." Cekrek


"Pose terakhir deh, lihat-lihatan." Kata Fhotographer itu.


Aku bingung, aku gak bisa lihat muka Kiki


"Vi." Kiki memintaku untuk melirik ke dia.


"Iya Ki." Akhirnya aku dan Kiki saling menatap.


Aku merasa malu sama diriku kalau sudah mengingat hal dulu, ketika aku mengungkapkan perasaanku pada Kiki. Aku merasa iya ya lebih baik temanan saja.


Sehabis Kita ambil fotonya adzan Dzuhur telah berkumandang, melainkan sudah menunjukan pukul 13.00. Kita semua pergi ke salah satu tempat pembelanjaan di Braga untuk mencari mushola.


Sehabis sholat ada yang pulang duluan dan ada juga yang main dulu. Aku, Cinta , Vina, dan Karen pergi mencari makan. Kita memutuskan untuk makan di rumah makan Ampera saja, di belakang Mesjid Agung Raya Bandung. Ketika kita sudah sampai, teman laki-laki mengikuti kita, mereka ikut makan bersama kita.


"Loh kok kalian ada di sini?" Tanya Cinta.


"Bebas dong kan tidak ada peraturan kita tidak boleh kesini." Rian menjawabnya.


"Iya sih, kalian tahu dari mana kita ada disini?" Tanya Cinta.


"Dari Ano."


"Sudah ku duga sih." Aku berbicara pelan.


"Hehe." Vina dan Ano nyengeh.


"Ayo dong mau duduk dimana? Sudah lapar nih." Karen yang sudah mengambil makanannya dan membayarnya, mengajak kita mencari tempat duduk.


"Ayo Ren, di atas saja yuk." Ajakku.


"Ayok."


Teman-teman yang lain ikut menyusul. Selesai makan, Ano, Kiki, Rian, Beno, dan yang lainnya pergi ke teras luar. Ternyata mereka sedang merokok. Aku kaget biasanya Kiki tidak suka sama yang namanya rokok.


"Na, Kiki merokok?" Aku bertanya heran ke Vina.


"Iya. Kenapa gitu?"


"Seriusan dia merokok?"

__ADS_1


"Ya kamu lihat sendiri kan?"


"Aku tak menyangka, dulu dia sempat cerita kalau papahnya melarang dia merokok, dia juga bilang tidak suka rokok."


"Ya itu kan dulu Vi, beda lagi sama sekarang. Kenapa sih kamu, sudah jangan pedulikan Kiki lagi, toh Kiki juga gak peduli kan sama kamu."


"Eh, eh, lagi ngapain nih, Ada apa dengan Kiki hayo." Cinta Dan Karen mengagetkanku dan Vina.


"Eh nggak Ren, Ta." Aku meresponnya.


"Ah bohong, Vi, jujur deh sama aku dan Karen, aku sudah penasaran dari dulu dengan kamu dan Kiki. Sebentar lagi Kita kan akan berpisah Vi, akan sulit untuk ketemu, untuk ngobrol barengan kek gini."


"Iya Vi, benar Cinta." Karen menyetujuinya.


"Ini waktunya kamu kasih tahu meraka Vi." Dalam hatiku aku berkata.


"Jadi gini, aku sama Kiki gak ada apa-apa. Kita cuma teman doang, gak lebih. Dari dulu sampai saat inipun aku mengagumi dia, suka sama dia, dan bahkan sayang sama dia. Aku sempat memberanikan diriku untuk mengungkapkan perasaanku ini sama dia, dan jawabannya dia tidak memiliki perasaan untukku. Ya memang lah seharusnya aku sudah sadar dari dulu, kalau aku jauh sekali sama dia, aku jelek, gendut, miskin, jauh dari kriteria dia. Aku sebenarnya ingin melepaskan perasaan ini sama dia, tapi entah kenapa sangat sulit sekali untuk itu. Semakin aku ingin terus melepaskan rasa ini semakin aku terus ingat akan dia. Sepertinya hatiku ingin memperjuangkan dia."


"Ya ampun Vi, aku suka mendengar kabar ini, memang kalian cocok. Kalian sama-sama orang yang baik, jiwa sosial kalian bagus, dan sholeh sholehah lagi. Kamu jangan pesimis gitu dong, kata siapa kamu jelek? Tanpa kamu sadari kamu sudah menghina diri kamu sendiri, menghina ciptaan Allah, kamu tidak mensyukuri apa yang diberi Allah untuk kamu. Aneh deh ya kenapa Kiki tidak tertarik sama kamu?" Karen bertanya.


"Sudahlah Vi, sebentar lagi kita akan berpisah, kamu pasti bisa lupakan Kiki. Perasaan kamu ke Kiki akan hilang, kalau Allah menakdirkan kalian berjodoh pasti akan ada cara kalian bersatu, sekalipun orang-orang atau keadaan memisahkanmu jika sudah jodoh pasti akan bertemu. Sekarang kita fokus untuk ujian dulu, fokus untuk masuk perguruan tinggi, pokoknya kita harus sukses bareng."


"Iya benar Vi, yok semangat, jangan terlalu larut dalam Cinta." Vina memberi saran.


"Aelah kamu juga jangan bucin terus Na." Cinta meledek Vina.


"Hehe." Vina merasa malu.


Aku masih kaget dengan kenyataan bahwa Kiki sekarang menyukai rokok.


Sehabis makan selesai, aku dan teman-teman yang lainnya segera pulang. Kita menunggu grab di Mesjid Raya Agung Bandung. Kala itu grab pesanan aku, Vina, Cinta dan Karen belum datang, begitu juga grab dari pesanan Kiki, Ano dan Rian belum juga datang. Sedangkan grab dari teman cowok yang lain sudah datang, mereka duluan pergi ke stasiun. Mereka membelikan tiket untuk kita juga. Tapi, sayangnya tiket untuk kita hangus dikarenakan kita terlambat datang ke stasiun.


"Na, kita akan ketinggalan kereta, sudah jam berapa coba ini, kereta 5 menit lagi akan berangkat. Gimana dong? Nanti aku pulang gimana? Mana jarang ada ojek kalau terlalu malam, dijemput gak ada yang jemput juga." Aku cemas memikirkan bagaimana caranya pulang.


"Tenang Vi, kamu nginep di rumah aku saja. Kita memang sudah pasti ketinggalan kereta, mana macet juga ini. Sekarang coba telepon mama kamu, kabarin kalau kamu mau nginap, soalnya bakalan malam juga kan pulangnya. Mama kamu pasti gak akan biarin kamu pulang sendirian."


"Kamu nginap juga kan Ta, Ren?"


"Iya, Vi. Aku juga takut bawa motor sendiri, tahu kan jalan ke rumahku sangat menakutkan." Cinta menjawab pertanyaanku.


"Iya aku juga kok Vi, aku mau nginap bareng kalian, soalnya susah sekali minta izin buat nginap, mumpung ada alasan ini sepertinya bisa dapat izin." Karenpun setuju untuk menginap di rumah Vina.


"Oke, aku nanti telepon mamanya di stasiun saja."


"Aku sama yang lainnya ke mushola dulu ya. Mau sholat ashar." Vina bicara kepada Ano.


"Oke kita juga mau kok."


"Oh ya sudah, ayok."


Sehabis sholat, kereta belum juga ada. Kita diam dulu di tempat tunggu.


"Nih minum." Kiki menyodorkan sekeresek minuman dari Alfamart kepadaku.


Aku hanya terdiam, menggelengkan kepala. Dan tidak mengambil minumannya.


"Ambil, buat semuanya kok, bukan buat kamu saja."


Aku mengambilnya, lalu ku berikan ke Vina, dan teman-teman yang lainnya.


Aku heran kenapa dia berikan minumannya itu kepadaku, kenapa gak ke Vina, Cinta, Karen, atau teman dekatnya yaitu, Ano.


"Na aku haus juga, boleh minta minumnya." Aku meminta minumnya ke Vina.


"Haha, kamu lucu Vi. Katanya tadi tidak mau. Sok imut sih."


"Hehe, kan baru sekarang hausnya juga."


"Yakin? Haha." Vina menertawakanku.


"Sudah ih, sini minumnya!"


"Gak mau, kamu minta saja sama Kiki."


"Mana ada."


"Nih, nih, haha." Vina memberikan minumannya.


"Makasih, hehe."


"Bismillaahirrahmanirrahim." Aku meminum minumannya.


"Hmmm ah.... Katanya tadi ada yang gak mau minum." Ano menyindirku.

__ADS_1


"Siapa, siapa No?" Rian bertanya menyindir.


"Itu tuh Ian, ibu itu, tadi aku lihat ada bapak ganteng yang ngasih minuman, tapi ibu itu tidak menerimanya. Mungkin dia malu, gatau kebingungan mungkin, tiba-tiba saja gitu ada orang ganteng yang ngasih dia minuman, berasa mimpi. Atau mungkin juga dia takut orang ganteng itu akan meracuninya, meracuni hatinya, haha. Giliran teman si ibu itu bawa minum dia memintanya. Sangat lucu kan ya? Haha." Sembari menunjuk ke ibu-ibu yang ada di sekitaran stasiun.


Kiki hanya tersenyum saja, seakan-akan ingin menertawakanku.


Kereta Bandung-Padalarang sudah tiba. Aku dan teman-teman mencari tempat duduk yang kosong. Akhirnya ditemukan juga tempat kosong. Aku duduk berdampingan dengan Cinta dan Karen. Dan orang yang duduk berhadapan dengan Kita adalah Ano, Vina dan Kiki. Sedangkan Rian duduk bersama orang yang tidak kita kenal. Kiki persis duduk di depanku. Lagi-lagi aku merasa malu, salah tingkah gitu. Aku memutuskan untuk tidur saja. Karena lumayan juga perjalanan masih jauh. Aku tertidur pulas sampai-sampai tidak tahu kalau keretanya mau berhenti di tempat tujuanku.


"Vi, Vi. Ayok bangun, sudah sampai." Cinta membangunkanku.


"Alhamdulillah." Aku terbangun dari tidurku.


Orang pertama yang aku lihat adalah Kiki. Karena dia ada persis di depanku.


"Itu tuh iler kamu." Kiki iseng, bicaranya jutek sekali.


Setelah ku usap bibirku nyatanya tak ada apa-apa. Kiki membuatku malu saja.


"Ayok, Vi. Turun." Cinta mengajakku.


"Iya ayok, Ta." Aku berdiri.


Sesampainya di stasiun Padalarang, hujan sangat besar. Sembari menunggu hujan, aku dan yang lainnya sholat magrib di mushola stasiun. Hujan belum juga reda padahal kita diam di stasiun sudah lama sekali. Sudah sholat Isya kita memutuskan untuk pulang hujan-hujanan saja.


"Gimana nih, belum juga reda hujannya. Mau pulang hujan-hujanan saja?" Tanya Vina.


"Iyalah ayok dari pada nunggu terus di sini. Dari tadi saja kita nunggu di sini gak reda-reda. Mau sampai kapan coba redanya?"


"Iya sih, takut kemalaman banget. Soalnya kan aku sama Karen naik angkot dulu, jadi takutnya gak ada angkot."


"Iya aku sama Ivi juga sekarang kok. Barengan sama kalian." Kata Cinta.


"Iya kita juga sekarang kok ya gak Ian, Ki?" Tanya Ano.


"Iya ayo." Kiki menjawabnya.


"Kita gimana mau pulang bertiga? Kiki kan gak bawa motor." Ian bertanya.


"Eh iya ya." Ano berpikir.


"Gini aja, aku naik angkot saja sama Vina, dan Karen. Kiki sama Cinta saja. Bagaimana?" Aku berargumen.


"Gak papak, Vi. Kamu sama Cinta saja. Aku sama Ano dan Ian bertiga saja. Lagian dekat kok insya Allah gak akan kenapa-kenapa." Kiki menolaknya.


"Hmm .. ya sudah."


"Ki, kamu gak akan kasih jaket kamu ke Ivi?" Tanya Rian.


"Iya Ki, nanti kalau kamu sakit gak papa nanti Ivi bisa jenguk kamu. Tapi, kalau Ivi yang sakit siapa yang akan jenguk dia, kamu kan gak mungkin. Haha." Ano memberi saran dan meledekku.


"Maaf ya Vi, aku juga kan nanti kehujanan di jalan." Kiki menolak saran Ano.


"Ya gak papa Ki, lagian kan aku pake kardigan, lumayan tebal lagi, jadi gak papa santuy saja." Aku merasa sedih dengan penolakan Kiki itu. Tapi, memang benar apa yang dia lakukan, kalau Kiki ngasih jaketnya untukku terus dia sakit, aku merasa lebih sedih.


Aku dan Cinta naik motor dengan keadaan baju kita sangat basah karena hujan sangat besar, kita memilih untuk tidak berteduh dulu karena keadaan hujan sepertinya tidak akan reda, sedangkan waktu sudah larut malam. Aku sangat kedinginan.


"Vi, dingin sekali ya?"


"Iya Ta bener, dingin sekali."


"Kamu peluk aku saja Vi, gak papa."


"Nggak ah Ta, aku takut ganggu konsentrasi kamu bawa motor."


"Ya nggak lah Vi, alay ah kamu. Haha.."


"Ya sudah, iya deh iya. Haha.."


Sesampainya di rumah Vina, aku dan Cinta langsung mandi saja, bergantian. Selesai mandi badanku sudah bereaksi, gatal-gatal, panas gitu rasanya, dan bentol-bentol gede. Kalau kedinginan aku suka seperti itu.


"Vi, kenapa kamu?"


"Gak papa Karen. Aku cuma gatal-gatal doang." Aku tidak bilang yang sebenarnya sama Karen dan yang lainnya.


"Sudah tidur yuk." Ajakku.


"Bentaran lagi Vi, duluan saja, aku lagi mau lihat-lihat dulu hasil foto-foto yang tadi."


"Ya sudah aku duluan ya guys."


"Iya, nice dream Vi."


"Nice dream too."

__ADS_1


__ADS_2