Aku Yakin Dia Adalah Jodohku

Aku Yakin Dia Adalah Jodohku
Lamaran


__ADS_3

Seminggu setelah itu, Kaka datang bersama keluarga besarnya untuk melamar ku dengan resmi, Keluargaku menyambut hangat kedatangan mereka semua.


Setelah lamaran itu, aku mencoba sholat istikharah yang ke tiga kalinya. Sebagai penentu mungkin ada perubahan dari hasil mimpiku itu.


Pernikahanku bersama Kaka akan dilaksanakan sebulan lagi. Tiga hari setelah acara lamaranku, sangat tak di duga. Saat itu aku sedang sakit, pas terbangun untuk sholat Dzuhur, ku melihat banyak bekas gelas-gelas dan sesuguh dari tamu. Aku bertanya sama mama.


"Ma tadi ada tamu?"


"Iya sayang."


"Siapa ma?"


"Rifki Andranata, katanya."


"Rifki Andranata?"


"Iya Vi. Kenapa gitu?"


"Dia mau ngapain ke sini ma?" Aku langsung mengajak mama ngobrol serius, yang tadinya mama lagi nonton Televisi aku langsung mematikannya.


"Dia datang bersama papahnya, dia melamar kamu."


"Seriusan ma?" Aku kaget, merasa bahagia dan bahkan sampai meneteskan air mata kebahagiaan.


"Kamu kenapa menangis?"


"Mama dia adalah jawaban atas tiga kali sholat istikharahku, aku sangat menyayangi dia sejak aku masih di SMA. Aku selalu menunggu hari ini."


"Sayang......"


"Suttt mama jangan ngomong, Ivi tahu mama pasti bingung, mama Ivi sangat menyayangi Rifki tapi, percuma ma semuanya sudah berakhir, Kaka sudah lebih dulu melamar Ivi, Ivi tidak bisa berbuat apa-apa, Ivi sudah pasrah dengan semuanya, Ivi serahkan sama Allah. Ivi sudah memutuskan untuk tetap bersama Kaka."


"Sayang,,, Rifki datang ke sini bersama papahnya dan juga Kaka sama mamanya.."


"Kaka dan mamanya datang juga?"


"Iya."


"Terus bagaimana? Mama kok tidak membangunkan Ivi?"


"Kamu kan lagi sakit, kita tidak mau mengganggu kamu."


"Terus bagaimana ma?"


"Kiki sudah bilang sebelumnya ke Kaka, menjelaskan semuanya ke Kaka, Kaka sangat baik sekali, Kaka mengikhlaskan kamu untuk hidup bersama Kiki."


"Mama Kaka bagaimana?"


"Mama Kaka juga bingung, dia sangat ingin kamu yang jadi menantunya dia. Tapi, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, Kaka sudah menjelaskan semuanya kepada mamanya, dan Alhamdulillah dia menerimanya. Besok pagi Rifki mau datang ke rumah, dia mau bertemu sama kamu."


"Hmm... Gitu ya ma? Mama aku sangat bahagia sekali ma mendengar kabar ini."


"Ya Allaah sayang mama baru pertama kali melihat kamu sebahagia ini. Andai dari dulu kamu cerita soal Kiki, mama tidak akan khawatir memikirkan jodohmu." Mama menangis.


"Mama sudah, kenapa menangi?"


"Mama merasa bersalah membuat Ivi tertekan dengan apa yang mama mau."


"Tidak mama, mungkin ini sudah jalan hidup Ivi, mama jangan merasa bersalah. Ivi sayang mama." Memeluk mama.

__ADS_1


"Sudah ya mama jangan nangis lagi, eh astaghfirullah Ivi belum sholat Dzuhur, tadinya Ivi mau ambil wudhu, eh jadinya ngobrol."


"Iya gih cepetan sholat dulu!"


Malam hari, Kiki menelponku, entah tahu dari siapa padahal nomor teleponku baru, mungkin dari Kaka? Ya bisa jadi.


"Assalamu'alaikum istriku?"


"Siapa?"


"Sudah tidak kenal ya dengan suara ini?"


"Siapa? Bapak salah sambung mungkin, saya belum menikah pak."


"Eh maksudnya, assalamu'alaikum calon istriku."


"Siapa sih?" Aku langsung mematikannya.


Dia menelponku lagi.


"Rivi Angraeni ini Rifki Andranata."


"Oh Kiki. Ada apa Ki?"


"Bagaimana jawabannya?"


"Jawaban apa?"


"Jawaban tadi yang disampaikan mama kamu."


"Apaan?"


"Hah apa? Suaranya gak jelas." Aku pura-pura.


"Kamu buka gordeng jendelanya."


"Jendela mana? Kamar?"


"Ruang tamu!"


"Seriusan?"


"Ya kamar kamu lah."


"Ih apaan dijendela, masuk rumah saja lewat depan."


"Bohong aku di rumah kok, ngapain aku ke rumah kamu diam didepan jendela kamu wlee."


"Ih rese ya kamu."


"Ada apa? Aku mau tidur nih."


"Jawabannya dulu."


"Harus sekarang?"


"Iya lah."


"Hmmm, i love you too." suaruku itu hampir tak terdengar

__ADS_1


"Hahaha seriusan ini?"


"Bohong, Ki bohong."


"Bay. Aku mau tidur assalamu'alaikum." Menyambung ucapanku sebelumnya.


"Yahyah jahat kamu, yaudah wa'alaikumussalam. Nice dream Vi." Belum selesai bicara sudah dimatikan sama Ivi teleponnya.


Pagi hari, Kiki kembali menelponku.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi."


"Wa'alaikumussalam, pagi..."


"Ngapain kamu pagi-pagi sudah telepon."


"Aku mau bangunin kamu buat sholat tahajud."


"Sudah kok aku sudah sholatnya barusan. Makasih."


"Oh iya bagus, Alhamdulillah. Sama-sama."


"Eh Ki?"


"Iya apa?"


"Kenapa kamu yakin mau menikah aku?"


"Aku yakin atas izin Allah Vi."


"Selain itu?"


"Aku yakin juga kalau kamu yang terbaik untukku."


"Terus?"


"Aku yakin kamu yang terbaik untukku."


"Iya terus?"


"Terus, terus aja dari tadi, aku gak ada alasan selain itu Vi, aku baru sadar kalau kamu adalah yang terbaik buat aku, sewaktu di Batam di sanalah aku baru tersadar kalau kamu yang selalu ada buat aku tapi aku tidak menyadarinya, meskipun kamu sakit hati dengan semua yang aku pernah lakukan ke kamu tapi, kamu tidak pernah mau menyerah untuk memperjuangkan aku, aku telah menyia-nyiakan orang sebaik kamu. Aku minta maaf buat aku yang dulu selalu membuat kamu menangis, tidak pernah mengerti apa yang kamu inginkan. Dan yang perlu kamu tahu, dari dulupun aku menyimpan perasaan yang sama dengan kamu, tapi aku tidak berani memacari kamu karena ilmu kamu lebih tinggi dari aku, aku ingin menyeimbangkan ilmuku dulu sebelum aku melamarmu, di Batam pula aku belajar lebih banyak lagi soal ilmu agama, aku tidak mau menjadi imam yang bodoh. Untuk itu aku baru memberanikan diri untuk memacari kamu dan langsung melamarmu."


"Hmmmm... gitu, Alhamdulillah Allah memang maha mengetahui isi hati seseorang dan tahu apa yang kita butuhkan, meskipun waktunya kurang tepat tapi Allah tidak pernah terlambat memberikan apa yang kita mau, mungkin saat inilah waktunya yang paling tepat untuk Allah mempersatukan kita. Mungkin juga kalau dari dulu kita bersama kamu tidak akan jadi calon suamiku sekarang."


"Jadi kamu beneran terima cinta aku?"


"Iya Ki. Sebenarnya aku gak keberatan kalau jodohku ilmunya lebih rendah dari padaku, toh nanti kita bisa belajar bareng-bareng, dan yang harus kamu pahami bahwa suami itu di dalam rumah tangga tetap yang paling tinggi derajatnya meskipun istrinya melebihi tingkat ilmu yang dimiliki suaminya. Kamu ingat itu."


"Iya memang betul tapi kan..."


"Tapi apa, Ki?"


"Ya aku malu dong sama kamu, orang-orang, dan juga anak aku nanti."


"Gini ya Ki, seorang istri mempunyai pendidikan yang tinggi itu agar bisa mengurus dan mendidik anaknya dengan baik, jadi kalau kamu beranggapan seorang perempuan yang tinggi ilmunya untuk bisa saingan sama suaminya itu ngga benar, yang benar itu agar nanti mengurus dan mendidik anaknya dia sudah punya ilmu yang matang dan luas."


"Iya Vi, alhamdulillah saat ini aku dipertemukan dan disatukan dengan kamu, wanita yang baik, Sholehah, bijak. Pokoknya aku benar-benar beruntung, terima kasih Vi. Kamu mau tidur lagi kan? Nice dream, baca do'a dulu! Jangan lupa bangun subuh."


"Iya-iya, assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam."


__ADS_2