
Libur semester, aku pulang ke rumah karena kebetulan juga ada undangan pernikahan Clara teman SMA ku. Kaka mengantarku ke stasiun. Sebelumnya aku meminta izin sama mama Kaka, kalau aku mau pulang ke rumah di kampung.
"Assalamu'alaikum mama, Ivi mau pamit. Ivi mau pulang ke kampung." Aku pamit ke mama Kaka.
"Wa'alaikumussalam Vi, Kaka anterin kamu kan?"
"Iya ma Kaka anterin Ivi kok ke stasiun." Kata Kaka.
"Loh kok ke stasiun? Kenapa gak ke rumah Ivi langsung?"
"Ivi cuma mau aku nganterin sampai stasiun saja ma." Kata Kaka.
"Kenapa Vi? Mama khawatir kamu kenapa-kenapa di jalan. Kaka anterin kamu sampai rumah ya?"
"Hmmm... Iya boleh deh ma."
"Iya bagus, biar mama gak khawatir. Hati-hati ya kalian."
"Iya ma, pamit dulu ma assalamu'alaikum." Aku pamit.
"Wa'alaikumussalam."
Sesampainya di rumah. Aku dan Kaka salaman dengan orang-orang yang ada di rumah. Kebetulan sedang ada kakakku yang dari Bandung.
"Eh Ivi pulang?" Tanya kakak.
"Iya Kak. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Ini siapa Vi? Pacar Ivi?"
"Bukan kak ini teman Ivi, namanya Gufron."
"Oh teman, kirain kakak pacar kamu. Ayok masuk dulu de."
"Iya kak." Kata Gufron.
"Silahkan duduk de Gufron, Kakak ambilkan dulu minum."
"Baik, Kak."
__ADS_1
"Aku ke kamar dulu ya Ka sebentar." Kataku ke Gufron.
Aku masuk ke kamarku untuk menyimpan barang-barang yang tadi aku bawa dari kosan. Tak lama, kakak datang menghampiriku.
"Eh Vi.. kamu cuma temenan saja sama laki-laki itu?" Kakak melontarkan pertanyaan di awal pembicaraan kita
"Iya kak, kenapa gitu?"
"Ya tumben saja kamu bawa teman laki-laki ke rumah. Itu kan laki-laki pertama yang kamu bawa ke rumah."
"Iya memang kak, terus kenapa kalau dia laki-laki pertama yang aku bawa ke rumah?"
"Ya gak papa, kakak suka sama laki-laki itu, kelihatannya cocok juga buat kamu. Tadi juga kata mama laki-laki itu yang dekat sama kamu di kosan dan di kampus, katanya selalu mengantar kamu kemanapun kamu pergi, benar kan? Mamanya Gufron juga dekat kan sama kamu?"
"Iya memang kak, terus kenapa?"
"Ishhh kamu itu, memang kak, memang kak terus. Peka deh peka."
"Peka gimana kak?"
"Dia selalu ada buat kamu kan?"
"Iya kak."
"Perasaan apa?"
"Ya Allaah ini anak, polos banget. Laki-laki itu suka sama kamu kan?"
"Kata siapa kak? Dia cuma teman aku. Lagian aku juga gak menaruh hati sama dia."
"Ya Allaah Ivi, kalau dia suka sama kamu gimana?"
"Ya suka saja kan kak, boleh dong kalau suka saja, semua orang berhak kan suka sama siapa saja, bukankah begitu?"
"Kalau dia sayang sama kamu dan pengen pacaran sama kamu gimana?"
"Gak mungkin kak. Aku tidak akan menerimanya juga. Karena dia cuma temanku."
"Yakin kamu?"
"Yakin kak."
__ADS_1
"Kamu suka sama laki-laki gak sih Vi?" Kakak bertanya sembari berpikir.
"Ya Allah kakak, ya iyalah aku normal kok. Aku juga suka sama laki-laki."
"Ya terus kenapa kamu gak pernah cerita sama kakak soal satu laki-laki saja?"
"Itu aku cerita kak."
"Iya cerita karena kakak yang nanya."
"Kamu sudah besar Vi, apa kamu tidak menyukai atau menyimpan satu nama laki-laki di hati kamu?"
"Ya belum saja kak. Hehehe .. Kakak kepo deh." Aku berbohong sama kakak padahal di hatiku sudah ada nama seseorang itu.
"Bukan gitu Vi, di kampung kan anak seumuran kamu sudah pantas buat menikah, sebagian teman-teman kamu di kampung juga sudah pada nikah kan? Kamu tidak merasa gimana gitu?"
"Gimana-gimana maksudnya kak? Aku biasa saja kok, nanti juga kalau sudah jodohnya datang sendiri kak."
"Iya memang Vi, tapi kan jodoh juga gak akan datang dengan sendirinya kalau kita gak ada usaha sama sekali. Kakak saranin sama kamu, kalau dia mengungkapkan perasaan sama kamu, kamu jangan sia-siakan orang seperti dia. Kakak lihat banyak kecocokan dari kalian, meskipun kakak baru sebentar bahkan sekilas baru hari ini ketemu sama dia, rasanya kakak nilai dia adalah orang yang cocok untuk kamu."
"Dia gak akan punya perasaan sama aku kak. Kita hanya teman saja."
"Iya siapa tahu kedepannya dia berubah pikiran."
"Iya entahlah kak, Ivi ke luar dulu kak, kasian Gufron nungguin."
"Yaudah iya gih..."
"Inget saran kakak ya."
"Hmmm iya-iya.."
Kakakku mengkhawatirkanku karena merasa aku tidak menyukai laki-laki. Aku tak pernah menceritakan apa yang aku rasakan soal laki-laki kepada kakak, mama, ataupun keluargaku yang lainnya. Menceritakan soal Gufron pun itu hanya ke mama karena ku rasa Gufron temanku yang begitu baik dan mamanya selalu ada buat aku, aku menceritakan ke mama supaya mama tidak mengkhawatirkan keadaanku di Cimahi, khawatir kalau aku tidak punya teman, hanya itu saja. Jadi, aku tak sungkan menceritakan dia ke mama.
Sebelum kakakku bertemu sama Gufron sebenarnya dia selalu menjodohkan ku dengan kenalannya. Aku tak ingin itu terjadi. Semua laki-laki yang kakakku kenalkan aku tak bisa menerimanya. Meskipun mereka semua baik. Hati ini tak bisa menerimanya karena masih tersimpan nama dia.
Kakakku menginginkanku untuk segera menikah, karena kondisi mama dan bapak yang sudah tua membuat kakakku khawatir akan diriku. Mama dan bapak pun terkadang menginginkan itu terjadi. Karena mereka pikir dengan keadaan Mama dan Bapak yang sudah tua takutnya tidak bisa menghadiri pernikahan ku nanti. Ditambah juga karena keadaan di kampung membuat mama dan bapak bersikap seperti itu. Melihat anak tetangga sudah pada menikah, mereka cemas mengkhawatirkan jodohku. Sebenarnya bukan hanya kakak, mama dan bapak, keluarga besar dan tetanggaku menginginkan pernikahan dalam hidupku segera terwujud. Seakan-akan pernikahanku itu adalah sesuatu yang mereka tunggu-tunggu kan. Aku tak paham dengan semua itu.
Aku belum siap untuk menikah, perasaanku masih sama seperti dulu. Menunggu dia yang mungkin dia tak ingin aku tunggu. Kiki? Ya betul.
Entah apa yang aku inginkan dari Kiki, rasanya dia adalah jodohku. Tapi, setelah beberapa kejadian di masa SMA, apa aku masih percaya bahwa dia adalah jodohku? Entahlah, hati kecil ku berkata seperti itu. Nama Kiki selalu aku selipkan dalam setiap doa pada Rabbku. Aku tak pernah merasa kebahagian darinya bahkan tidak bisa mendapatkan kasih sayang yang tulus dari dia. Dia selalu menginginkanku untuk menjadi teman selamanya.
__ADS_1
Otakku rasanya sudah teracuni oleh nama dia. Aku sadar namun aku tak bisa untuk memberhentikan perasaan ini dengan begitu saja.