Akun Facebook Si Pendiam

Akun Facebook Si Pendiam
Sekolah


__ADS_3

Nun jauh di ujung sebuah kota, tepatnya di sebuah rumah yang berada di Kota Bandung, seorang anak perempuan sedang bersiap untuk pergi sekolah. Hari itu adalah hari senin, ia pun harus datang lebih awal untuk melakukan kegiatan upacara di sekolahnya.


KRIIINNGGG... KRIIINGG... KRIINGG!! Suara alarm berbunyi.


"Hoooaaaaaaam."


Seorang gadis terbangun dari tidurnya karena suara alarm yang cukup keras. Ia membuka mata secara perlahan sambil menggeliat di tempat tidur. Tangannya meregang seraya mematikan tombol jam alarm yang berada di atas meja sebelah tempat tidur dengan jari lentiknya itu, ia pun segera beranjak turun dari tempat tidurnya sambil merapikan selimut lembut yang selalu ia gunakan.


"Huh, waktunya sekolah." gadis itu bergumam seperti tidak bersemangat, namun harus tetap bersiap untuk pergi ke sekolah.


Suasana pegunungan di pagi hari itu terlihat sangat indah, angin yang berhembus secara perlahan pun dapat membuat daun di setiap pepohonan tampak bergoyang seraya memanggil.


Bruuukkkk....


Suara tas dan buku di lemparkan ke atas tempat tidur oleh gadis manis berkulit sawo matang yang sedang mempersiapkan perlengkapan sekolahnya itu.


"Semangat Ri, semangat!" seru Riri memberikan semangat kepada dirinya sendiri.


Nama gadis itu adalah Ririana Tri Handaya, ia biasa di panggil Riri. Dia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakak Riri sudah menikah, dan ia hanya tinggal bersama kedua orangtua nya. Riri memanggil Ibu dengan sebutan Ambu, dan memanggil Ayah dengan sebutan Abah. Abah bekerja sebagai petani, sedangkan Ambu adalah seorang Ibu Rumah Tangga.


Krieeettt..


Suara pintu kamar Riri yang di buka olehnya terdengar begitu nyaring.


Ia pun keluar dari kamar dan berjalan menuju arah dapur melewati ruang tamu. Terlihat abah sedang duduk sambil membaca koran, di temani secangkir kopi hitam kesukaannya yang ia simpan di atas meja.


Sreeengg....


Suara masakan yang di goreng begitu jelas terdengar dari arah dapur, saat Riri mendekati Ambu yang sedang memasak.


"Ri, sarapan dulu!" seru wanita paruh baya yang bersuara lembut itu.


"Iyaa Ambu." sahut Riri sambil berdiri di samping Ambu yang sedang memasak.

__ADS_1


Sebelum berangkat sekolah, Ambu selalu membuatkan sarapan untuk Riri dan Abah yang akan pergi bekerja. Riri selalu membantu pekerjaan Ambu terutama kegiatan memasak.


"Wow, makan enak nih!" seru Riri sambil melihat masakan yang telah matang.


"Makan enak dong, tuh ada daging ayam goreng kesukaan kamu." sahut Ambu sambil menunjuk ke arah piring berisi ayam yang sudah di goreng oleh Ambu saat Riri masih bersiap memakai seragam.


Karena semua masakan telah matang, Riri hanya membuat air teh tawar panas. Padahal ia sangat menyukai air teh manis yang merupakan minuman favorit nya.


"Ambu, Riri mau makan sama orek tempe aja ah, Mbu." sahut Riri sambil menoleh ke wajah ambu, serta kembali fokus menuangkan air teh panas dari teko ke dalam gelas. Ia tak menambahkan gula sedikit pun ke dalam gelasnya, karena ia sedang melakukan program diet.


"Kenapa sih Ri, akhir-akhir ini kamu makan cuma sedikit dan pilih-pilih?" tanya Ambu sambil melihat Riri dengan heran.


"Riri lagi diet, Mbu!" seru Riri yang padahal sangat ingin memakan ayam goreng dan minum air teh manis panas.


Ambu melarang Riri untuk melakukan program diet, "jangan diet Ri, nanti kamu sakit!" seru Ambu sambil mengkerutkan dahinya karena khawatir kepada anak bungsunya itu.


"Tapi Mbu, sekarang sudah ada sedikit perubahan kan sama badan Riri?" Tanya Riri sambil memegang pinggangnya dengan manja.


"Iya, tapi Riri harus tetap jaga kesehatan ya! Riri harus tetap makan sesuai porsi biasa Riri makan!" seru Ambu menasihati, sambil mencubit pipi anak gadisnya yang chubby itu dengan wajah khawatir. Karena selama dua minggu terakhir, Riri hanya makan dengan porsi sedikit.


Ambu tersenyum melihat anak bungsunya yang sudah mulai terlihat dewasa. Riri yang sangat ingin memakan daging ayam goreng dan minum dengan air teh manis akhirnya terwujud berkat Ambu yang menasihati anak gadisnya itu agar tidak melakukan diet lagi. Karena bagi Ambu, Riri terlihat cantik dengan badan yang montok serta kulit yang eksotis itu.


Setelah sarapan pagi, Riri segera berangkat sekolah. Riri bersalaman kepada Ambu dan Abahnya.


"Assalamu'alaikum!" seru Riri.


"Wa'alaikumussalam!" sahut Ambu dan Abah.


Setelah sampai di sekolah, Riri masuk ke kelas untuk menyimpan tas ranselnya di bangku tempat biasa ia duduk yang berada di barisan paling depan. Ia melihat seseorang berada di bangku nya yang ternyata itu adalah Lina teman sebangku Riri yang terlihat panik dan kebingungan.


"Waduhh gawat, topi punyaku tertinggal di rumah. Bisa-bisa aku di hukum." gumam Lina sambil menutup resleting tasnya yang ia simpan di atas meja.


Lina adalah teman dekat Riri yang sebangku dengan Riri dan mempunyai sifat pendiam yang sama seperti Riri. Namun saat keduanya bersama, sifat pendiam itu hilang.

__ADS_1


"Kenapa Lin?" tanya Riri sambil duduk di kursi sebelah Lina yang biasa ia tempati.


"Aku lupa gak bawa topi Ri, kamu bawa gak? jawab Lina dan bertanya kepada Riri dengan panik.


"Aku mah pasti bawa dong." seru Riri sambil menyombongkan diri.


Namun saat membuka resleting tas, ternyata topi Riri pun tertinggal di rumah.


"Ihh Lin, aku juga gak bawa topi. Gimana atuh? Pasti di hukum ini mah ah gimana atuh?" kata Riri dengan nada panik. Namun itu tak membuatnya khawatir, ia merasa plong karena teman sebangku nya pun tidak membawa topi.


"Gak apa-apa atuh Ri, kita kan selalu bersama seperti roda ban motor. Jadi aku ada temen pas di hukum nanti, hehehe." seru Lina dengan nada gembira sambil merangkul pundak temannya itu.


Pokk... Pokkk... Pokk.... (suara tepukan pundak)


Mengingat jarak antara rumah dan sekolah yang lumayan jauh. Riri memutuskan untuk tidak kembali pulang mengambil topi, karena keterbatasan waktu yang sudah tidak memungkinkan.


Aktivitas di lapangan sekolah tampak sibuk mempersiapkan kegiatan upacara. Siswa/siswi beserta guru dan kepala sekolah sudah bersiap untuk melakukan kegiatan upacara dengan membuat barisan yang rapi. Sedangkan Riri dan Lina berdiri di barisan paling belakang, karena tidak memakai topi.


"Kepada bendera merah putih, hormaaat geraakkkk!" tegas pemimpin upacara memberi aba-aba kepada para peserta upacara.


Mereka melakukan penghormatan pada bendera merah putih yang di kibarkan dengan diiringi lagu Indonesia Raya.


Setelah upacara selesai, Riri dan Lina di hukum karena tidak memakai topi. Sehingga mereka harus berdiri dan melakukan penghormatan di depan tiang bendera selama satu jam. Mereka di hukum bersama siswa/siswi lain yang melanggar tata tertib sekolah.


Di antara mereka, ada yang terlambat datang ke sekolah, ada yang tidak lengkap memakai atribut sekolah, dan adapula yang ketahuan tidak mengikuti upacara dengan bersembunyi di toilet, serta bersembunyi di kolong bangku kelas paling pojok yang berada di barisan paling belakang.


Ya begitulah keadaan sekolah Riri saat itu. Apapun kegiatan yang mereka lakukan, baik di sengaja atau tidak, menghindar dari aturan ataupun tidak, selalu saja ketahuan dan dapat hukuman.


Maka dari itu, peraturan sekolah di buat agar murid-murid terbiasa hidup disiplin. Karena itu akan membuat mereka merasakan manfaatnya di kehidupan sehari-hari.


🌿🌿🌿


Jadi, peraturan di buat bukan untuk di langgar. Namun, peraturan di buat untuk di taati, agar menjadikan hidup lebih disiplin, dan menciptakan tata tertib di lingkungan sekitar.

__ADS_1


Hal tersebut adalah salah satu pelajaran yang harus mereka pahami. Apapun yang mereka lakukan tetap aman, selama mengikuti aturan.


Karena selama ada peraturan, apapun yang dilakukan, baik dengan cara sengaja ataupun tidak, mereka akan tetap mendapatkan konsekuensinya.


__ADS_2