
Tak terasa, 2 hari lagi adalah Ujian Nasional. Riri belajar dengan begitu giat, agar ia mendapatkan nilai yang memuaskan.
Tuk.. Tukk.. Tuk..
Riri memukul meja belajarnya menggunakan pensil yang ia pegang .
Konsentrasi nya pun sudah buyar, karena ia terganggu oleh pikirannya yang teringat pada kekasihnya itu, dengan hati yang merindu begitu dalam. Irwan tak memberinya kabar selama 4 hari. Bagi Riri, itu adalah hari yang sangat menyebalkan, karena 4 hari rasanya seperti 4 bulan.
"Duh, aku rindu. Dia lagi apa ya? Memangnya dia gak kangen sama aku yang lucu ini apa?" gumam Riri bengong, sambil menggigit pensilnya dan memutar bola matanya.
"Ah aku telepon dia aja deh." kata Riri penuh semangat.
Ia mengambil ponselnya dan mengetik nomor telepon Irwan yang sudah ia hapal.
Tet.. tet.. tet.. tet.. (suara ketikan tombol telepon berbunyi)
Tuuuuut.. (tanda berdering).
"Halo?" ucap Irwan.
Panggilan telepon Riri langsung di jawab oleh Irwan, Riri merasa senang mendengar suara lembut itu.
"Halo Irwan, kamu lagi apa? Gimana kabar kamu? Kamu baik-baik aja kan? Kamu lagi sibuk?" kata Riri dengan nada penuh rindu karena sudah 4 hari ia tidak berkomunikasi dengan kekasihnya itu.
"Aku gak ada pulsa Ri, jadi aku gak bisa buka Facebook, dan gak bisa sms atau telepon kamu." kata Irwan dengan nada sedih.
"Ohh gitu, aku kangen banget sama kamu. Kamu kangen gak sama aku?" ucap Riri.
"Iya aku kangen sama kamu. Tapi aku gak ada uang buat beli pulsa. Jadi aku gak bisa kasih kamu kabar. Maaf ya!" kata Irwan dengan nada memelas.
"Ya udah, aku isiin pulsa kamu ya." kata Riri dengan nada senang.
"Gak usah, gak usah merepotkan!" kata Irwan.
"Gak apa-apa, aku ada uang tabungan kok." jawab Riri.
"Ya udah kalau kamu memaksa, makasih ya." kata Irwan.
"Iya sama-sama." jawab Riri.
__ADS_1
Mereka pun berbincang-bincang di telepon, melepas rindu yang sangat membara.
Setelah mereka selesai berkomunikasi, Riri beranjak dari kursi belajarnya dan mengambil uang yang ada di dompetnya. Ia pun segera pergi menuju konter pulsa dan berjalan dengan jarak yang cukup jauh.
"Hadeuhh cape juga ya, tapi gak apa-apa deh. Demi dia aku gak boleh lemah!" ucap Riri ngos-ngosan sambil memberi semangat kepada dirinya sendiri.
Setelah sampai di konter pulsa, Riri membeli pulsa dengan seharga 5.000 rupiah, karena ia hanya memiliki uang 10.000 rupiah. Uang itu adalah simpanannya yang telah ia kumpulkan dari uang bekal yang di beri oleh Abah.
Proses pembelian pulsa pun telah sukses dilakukan. Ia pun merasa senang dan segera memberi kabar kepada Irwan bahwa pulsanya telah di isi.
"Asyyiiik bisa kabar-kabari sama Irwan ehehe." ucap Riri dalam hati.
Setelah sampai di rumah, Riri dan Irwan pun akhirnya bisa berkomunikasi dan saling memberi semangat.
"Kira-kira kalau aku ketemu sama Irwan, aku harus bagaimana ya? Aduh, sebenarnya aku gak percaya diri kalau ketemuan, tapi aku sih berharap bakal romantis kayak di film drakor (drama Korea) gitu. Ahh indahnya." ucap Riri membayangkan pertemuannya dengan Irwan sambil menepuk jidatnya yang tertutup oleh poni.
Hidup Riri saat itu terasa bahagia dan penuh semangat, karena Irwan selalu ada untuknya. Sehingga membuat kesedihan yang ia alami itu hilang seketika.
Hari berganti siang, siang berganti sore, sore berganti malam.
Esok adalah hari dimana Riri akan menempuh Ujian Nasional. Jantung Riri berdebar dengan penuh semangat. Karena ia sudah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi Ujian Nasional itu.
"Duh, aku bikin status apa yaaa?" ucap Riri berpikir untuk membuat kata-kata yang cocok untuk mewakili dirinya.
Rhie Eanx Clallu Terchakity
Hy cmua tmn" fb qu, bzok aq mw UN nich. Do'a in aq yach supaya lancar, amien.
(Hai semua teman-teman Facebook ku, besok aku mau Ujian Nasional nih. Do'a in aku ya supaya lancar, aamiin).
Seperti biasa, ia mendapatkan komentar dari teman Facebooknya.
Bhoa : Amien (Aamiin)
Ya : Cmngat nenx! (Semangat Neng!)
Dah : Ok cntix (Oke cantik)
Ratz : Heumm, kmn ajh? (Hmm, kemana aja?)
__ADS_1
Hahaha..
Riri tertawa melihat komentar itu. Ia merasa senang, karena ia merasa terhibur oleh teman-teman Facebooknya itu.
Malam pun tiba, ia segera tidur karena besok adalah hari yang di tunggu-tunggu, yaitu Ujian Nasional. Ia tidur dengan cepat agar ia penuh energi saat mengerjakan soal-soal itu.
Hah jangan! Jangan pergi!! Irwaaan Irwaaaan!
Riri berteriak kecil karena ia bermimpi buruk.
Huhh.. huhh.. huhhh..
Riri terbangun dari tidurnya karena kaget, ia bermimpi kalau Irwan meninggalkannya di tengah hutan.
"Astaghfirullah, cuma mimpi." gumamnya sambil ngos-ngosan.
"Huh, pasti aku lupa gak baca do'a tidur." lanjutnya.
Ia melihat jam dinding di kamarnya yang berbentuk lingkaran menunjukkan pukul 04.30 WIB. Ia pun segera beranjak dari tidurnya karena sudah pagi.
Kukuruyuuukkkkkk..
Suara ayam berkokok.
Riri mempersiapkan segala perlengkapan Ujian yang harus di bawa ke sekolahnya. Tak lupa juga ia meminta do'a restu kepada kedua orang tuanya, agar di beri kelancaran dalam menjawab soal-soal itu.
Setelah sampai di sekolah, satu kelas yang terdiri dari sekitar 40 orang di bagi menjadi 2 bagian. Riri adalah murid kelas 12 C, sehingga Riri mendapati bangku di kelas 12 F. Sedangkan yang lainnya mendapati bangku di kelas 10 dan 11.
"Hmm, kelasnya Rizal." ucapnya dalam hati.
Di dalam satu kelas hanya terdiri dari 20 orang murid dengan jarak yang berjauhan. Karena satu meja di isi oleh satu orang. Ruangan di kelas itu sangat ketat, apabila ketahuan menyontek maka pengawas akan mengambil soal dan jawabannya.
Soal dan kertas jawaban itu di berikan satu persatu oleh pengawas dengan 5 paket soal yang berbeda-beda. Sehingga, kegiatan menyontek pun sangat tipis untuk di lakukan.
Riri yang hanya membaca soal satu kali, sudah mengetahui jawabannya "Wah gampang banget soalnya." kata Riri dalam hati.
Ujian Nasional pun dilakukan selama empat hari berturut-turut, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan Teori Kejuruan. Riri mengerjakan 50 soal UN itu dengan waktu yang singkat. Ia menduga kalau dirinya akan mendapatkan nilai yang memuaskan dari usaha yang ia kerjakan, yaitu belajar dengan sungguh-sungguh.
"Ah aku gak sabar sama hasil ujian ku." kata Riri sambil membayangkan mendapatkan nilai yang bagus.
__ADS_1
Riri adalah golongan siswi yang biasa-biasa saja, dan tidak terlalu pintar. Walaupun di kelasnya dan kelas lain banyak orang yang pintar. Namun ia optimis dengan kemampuannya, bahwa ia bisa mendapatkan nilai yang bagus, karena ia sudah belajar semaksimal mungkin.