
Tiga hari berlalu.
1 teman yang sama
"Hah? Sejak kapan Irwan berteman sama Lina di Facebook? Perasaan kemarin-kemarin belum berteman deh. Hmm, ada yang aneh."
Tiba-tiba Triingg (suara pesan Facebook).
1 pesan baru
Hmm, siapa nih yang nge inbox?
Saat ia membuka pesan ternyata itu adalah Irwan.
"Ri, mff ea aq gx pnya plza. Bsa tlong isiin aq plza gx? Aq bka fb jg di hp tmn." (Ri, maaf ya aku gak punya pulsa. Bisa tolong isiin aku pulsa gak? Aku buka facebook juga di HP temen).
Oh ternyata dia gak ada pulsa, pantesan kemarin dia gak balas sms aku. Aku kira, dia bener-bener cuekin aku. Taunya dia online pun buka Facebook di HP temennya.
"Ea, nnti aq isiin ya." (Ya, nanti aku isiin ya), balas Riri.
Riri pun menuruti perintah Irwan, namun saat ia sudah mengisi pulsa. Irwan pun tak kunjung memberinya kabar. Riri pun akhirnya menelepon kekasihnya itu.
"Halo? Irwan pulsanya sudah masuk kan?"
"Iya udah, makasih ya." ucap Irwan
"Iya sama-sama."
"Udah dulu ya, aku lagi sibuk nih." kata Irwan dengan nada yang datar.
Riri yang mengerti keadaan Irwan pun langsung mengakhiri panggilan telepon itu. Karena, Irwan pernah bilang kalau saat ini ia sudah bekerja di bengkel ayahnya, akhirnya Riri pun memahaminya.
"Hmm, iya semangat ya." ucap Riri menyemangati.
"Iya makasih." ucap Irwan sambil mengakhiri panggilan telepon itu.
Ia pun melempar ponselnya ke tempat tidur yang empuk itu. Riri duduk dan merenung sambil melihat uang simpanan yang ada di dompetnya yang sudah menipis, sehingga membuatnya menjadi ingin menangis.
"Haaaaaaa, uangku tinggal 2.000 perak." ucapnya sambil melihat selembar uang 2000 rupiah, dengan wajah galaunya.
Namun saat ia mengeluarkan uang itu, ia merasakan ada yang jatuh mengenai kakinya itu. Ia berpikir itu adalah kawanan uang-uang yang ia miliki. Tapi ternyata, itu adalah sebuah kertas kaku yang jatuh tepat di depan kaki nya itu.
__ADS_1
Ia mengambil kertas itu sambil membungkukkan badannya, "hah, siapa nih?" ia melihat kartu nama itu yang bernama Rendi, ia pun mencoba untuk mengingatnya selama tiga menit. Ia lupa akan hal itu, padahal saat pertemuan itu, Riri mematung lemas saat melihatnya.
Setelah ia mengingat dari amnesia dadakan. Akhirnya ia pun menyadari kartu nama itu adalah pemberian dari pria tampan yang ia temui di taman, saat ia akan bertemu dengan Irwan.
"Oh iya, aku lupa hahaha." ucapnya sambil tersenyum tipis melihat kartu nama itu.
Ia pun memutuskan untuk memberi pesan singkat ke nomor itu.
"Assalamu'alaikum, kak maa_." isi pesan yang akan Riri kirimkan kepada Rendi pun ia hapus lagi.
"Aduh sms jangan ya?" gumamnya kepada dirinya sendiri.
Ia pun mencoba untuk menghubungi nomor Lina.
"Hallo, Lina?"
"Iya Ri, ada apa?" jawab Lina.
"Lin aku baru inget, kalau aku nyimpen kartu nama kakak yang waktu hari minggu kita ketemu di taman itu, hehe."
"Hemm dasar, terus kenapa?" tanya Lina.
"Ya, waktu itu kan dia bilang suruh hubungi dia. Tapi aku takut nih, gak enak kalau aku sms.
"Ya udah, aku gak akan sms ke nomor itu deh."
"Okeee." ucap Lina.
Mereka pun berbincang-bincang di telepon sambil membahas untuk melamar pekerjaan, dan mempersiapkan apa yang akan mereka bawa saat melamar pekerjaan.
Tiba-tiba..
Drrtttt.. drrrttt..
Suara getaran ponsel itu begitu terasa di telinganya, sehingga membuatnya kaget.
"Ih kaget." ia pun melihat ponselnya bahwa ada pesan masuk.
Riri pun membuka pesan singkat itu.
"Dek, kamu cobain masukin lamaran ke PT Cahaya Ratu, lokasinya gak jauh dari jalan raya sebrang yang masih satu kecamatan sama rumah Ambu."
__ADS_1
Sms itu ia dapat dari kakak pertamanya, yaitu Rizki.
"Oh ea a, mksih infonya. Bsk Riri mw coba ama temen." (Oh iya a, makasih infonya. Besok riri mau coba sama temen). balas Riri yang masih menggunakan penulisan yang singkat dan sedikit berlebihan. Meskipun begitu, baginya adalah hal yang seperti biasa.
"Hallo Lin, besok kita ke PT Cahaya Ratu, yuk! Kata kakak aku suruh cobain lamar kesana. Siapa tau ada rezeki nya kita. Oh ya, bawa perlengkapan untuk melamar, terus pakai baju putih bawahan hitam, dan pakai blazer juga ya, biar rapi, hehehe."
"Iya Ri, siap. Kamu mau fotocopy sekarang surat ijazah dan lain-lainnya?" ucap Lina.
"Iya Lin, ayo aku juga mau curhat nih hehehe."
"Ya sudah, kita ke tempat fotokopian jam 4 sore ya, sambil ke warnet sekalian hehehe." kata Lina.
"Ayok lah, siap." ucap Riri senang.
Mereka pun memutuskan untuk mengakhiri panggilan telepon itu.
"Akhirnya, tak di sangka-sangka. Alhamdulillah, mudah-mudahan aku ada rezeki nya untuk kerja disana." kata Lina dalam hati.
Adzan Ashar pun berkumandang, Riri bergegas untuk Sholat. Ia berdo'a, agar ia bisa masuk bekerja di perusahaan itu. Karena ia sangat ingin membantu kedua orangtua nya yang sudah paruh baya.
Setelah selesai melakukan sholat Ashar, ia pun segera bersiap untuk pergi ke tempat fotokopi bersama Lina, dan bertemu di tempat itu.
Riri pun pergi membawa lembaran kertas penting seperti ijazah dan sertifikat lain yang ia dapatkan dari sekolah untuk ia gandakan, sebagai data bahwa ia telah lulus dari sekolah itu.
Namun, saat ia sedang berjalan tiba-tiba,
"Riri!" ucap seseorang memanggil Riri dengan jarak yang cukup jauh di arah yang berlawanan.
Riri pun menghampiri orang itu, dan ia pun menghampiri Riri, ternyata ia adalah Lina.
"Eh Lina." ucap Riri.
Mereka berpapasan di jalan, sehingga mereka pergi bersama ke tempat fotokopi itu. Mereka berjalan sambil mengobrol.
"Lin, aku galau nih. Irwan masih cuek terus ih sama aku." kata Riri murung.
Mendengar perkataan itu, Lina tiba-tiba saja terdiam dan tak langsung menjawab ucapan Riri dengan cepat.
"E..eeehh, ke.. kenapa bisa gitu ya. Padahal aku bilang suruh kabarin kamu, kasian kamu nungguin kabar dari dia terus." ucap Lina terbata-bata menjawab curahan hati Riri.
"Iya sih, waktu itu dia sms aku sekali itu. Oh ya, Irwan masih sms kamu Lin?" tanya Riri.
__ADS_1
"Ehm, engga sih. Tapi dia pernah sms selamat pagi, tapi aku gak bales." jawab Lina.
Jika hadirku tak di harapkan, apa aku harus menjadi orang lain, supaya aku bisa dekat denganmu lagi? batin Riri.