
Suara adzan subuh berkumandang, Riri membuka mata yang sembab itu secara perlahan dan beranjak bangun dari tempat tidurnya untuk mempersiapkan diri, karena hari itu adalah hari dimana ia akan melamar pekerjaan.
Ia pun segera bergegas pergi ke kamar mandi, air saat subuh itu terasa sangat dingin seperti es. Namun, ia sudah terbiasa mandi dengan air dingin setiap pagi.
Ia memakai setelan hitam putih, dan merapikan baju nya agar terlihat rapi. Tak lupa, ia pun sholat dan berdo'a agar di lancarkan dalam urusannya.
Riri melihat cermin besar yang terpampang di lemarinya itu. Ia menyisir rambutnya dan mencepolnya menggunakan hairnet yang elastis.
"Ihh kok aku manis gini ya, he he." ucapnya sambil memutar dirinya yang terlihat di cermin.
Setelah itu, ia pun mempersiapkan perlengkapan untuk melamar.
"Daftar riwayat hidup sudah, surat lamaran udah, foto udah, fotokopi ijazah udah, ahh semuanya udah kurasa." ucapnya sambil memasukkan data nya ke amplop cokelat muda yang masih terlihat rapi.
Ia pun keluar dari kamarnya dan membawa perlengkapan yang sudah ia masukkan ke dalam tasnya dan menyimpannya di ruang tamu sambil menunggu Lina yang akan menjemputnya.
Lina adalah sahabat terbaik bagi Riri, sehingga tak heran mereka pun selalu bersama seperti saudara kembar.
Krubukk.. Krubuukk..
"Aduh laper nih." ucap Riri memegang perut yang sedang keroncongan itu membuatnya sangat ingin memakan sesuatu, agar perutnya diam dan tidak merasakan sakit.
Riri pun pergi ke ruang makan, disana terlihat Abah yang sedang sarapan.
"Ri, sarapan dulu!" kata Abah yang sedang memakan gorengan yang di simpan di atas meja makan. Seperti biasa, dengan kopi hitam yang selalu menemaninya.
"Iya, Bah." jawab Riri.
Sebelum makan, ia pun menghampiri Ambu yang sedang memasak. Lagi-lagi ia tak membantu Ambu untuk masak dari awal, lantaran ia terlambat datang ke dapur.
"Ambu!" ucap Riri sambil merangkul pinggang Ambu.
"Apa?" jawab Ambu sambil menoleh ke arah kanan melihat puteri nya yang memakai pakaian rapi.
"Eehhhh, cantik pisan anak Ambu." lanjutnya.
Riri hanya cengengesan karena malu saat Ambu memujinya.
"Ahh Ambu mah." jawab Riri dengan gerak gerik yang salah tingkah.
"Udah sana ke meja makan, udah beres semua ini masakannya!" seru Ambu menyuruh, dengan menggunakan gerakan kepala.
Riri membantu Ambu membawa hidangan untuk sarapan pagi yang akan ia simpan di atas meja.
__ADS_1
Mereka pun saling bercengkrama, dan sarapan bersama. Riri menyiduk 3 centong nasi kedalam piringnya yang akan ia pakai, dan mengambil sayur sop yang terasa segar ke tenggorokannya.
Centreng.. Centreengg..
Suara piring terdengar dari piring yang Riri gunakan. Padahal ia sangat hati-hati saat makan, sehingga ia hanya menimbulkan suara yang kecil saja.
"Wah mantap pisan masakan Ambu mah, the best we pokoknya mah." ucap Riri sambil memegang perutnya yang sudah kenyang itu, dan mengacungkan jempolnya kepada Ambu.
15 menit setelah Riri menghabiskan makanannya, terdengar suara dari luar seperti memanggil namanya.
"Ri, itu Lina udah datang." ucap Ambu kepada anak gadisnya yang masih santai karena kenyang.
Riri pun bergegas ke ruang tamu, dan melihat siapa yang datang ke rumahnya. Ternyata benar, Lina sudah bersiap menunggu Riri di halaman depannya.
Riri dan Lina sudah membuat janji sebelumnya. Sehingga, Lina akan menjemput Riri menggunakan motornya.
Karena waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi, Riri pun mengajak Lina untuk masuk ke rumahnya.
"Lin masuk dulu sini, masih jam 7. Nanti aja kita pergi jam 8 ya!" seru Riri melambaikan tangannya kepada Lina agar segera masuk ke dalam rumahnya.
Klotak.. Klotakk..
Suara sepatu Lina terdengar keras karena ia menggunakan high heels berukuran 5 cm.
Mereka pun beranjak masuk ke kamar.
"Lin?" ucap Riri sambil duduk di ranjang dengan kasur yang empuk miliknya.
"Apa?" jawab Lina sambil menghampiri Riri yang sedang duduk.
"Si Irwan bales pesan kamu gak?" tanya Riri penasaran.
"Engga ih, cuma di baca doang." jawab Lina yang sudah memberikan pesan lewat Facebook kepada Irwan, saat Riri menyuruhnya.
"Yahhh, dia jarang banget ngasih aku kabar tau. Padahal kalau emang lagi sibuk, masih bisa kali ya sempatin waktu buat kasih aku kabar. Aku juga gak minta terus-terusan supaya dia kirim aku pesan. Cuma, ya setidaknya dia kabarin aku walaupun sepatah kata doang gitu." ucap Riri yang terasa tenang, karena mengeluarkan unek-unek yang ada di hatinya kepada sahabatnya itu.
"Iya Lin dia gak bales." jawab Lina.
Twing..
Suara sms terdengar dari ponsel Lina.
"Siapa Lin?" tanya Riri penasaran.
__ADS_1
"Ahh, ehh, engga ini cuma dari temen aku."
"Siapa?" tanya Riri.
Hehehe..
Lina hanya cengengesan, saat Riri menanyakan sms itu.
"Hayooo siapaaa?" kata Riri.
"Ehehe, nanti juga tau." ucap Lina sambil menyembunyikan ponselnya.
"Oh iya Ri, kamu perlengkapannya apa aja? Data-data nya apa aja yang kamu bawa?" lanjut Lina mengalihkan pembicaraan.
"Aku bawa itu, apa sih lupa." jawab Riri yang bingung mencari tasnya.
"Oh iya di kursi tamu. Bentar ya Lin, aku ambil tas dulu." lanjut Riri sambil meninggalkan Lina sendirian di kamarnya.
Karena keadaan Lina sendirian di kamar Riri, ia pun segera melihat pesannya yang ia dapatkan dari seorang pria tentunya.
"Pghie cntik." (Pagi cantik)
"Duh, dia ngapain sih sms aku." gumam Lina menatap layar ponselnya.
Tukk.. Tuukkk..
Suara langkah kaki menghampiri Lina yang sedang berada di kamar.
"Lin, ini aku bawa daftar riwayat hidup, surat lamaran, foto, fotokopi ktp, fotokopi ijazah kayak gitu, sama gak?" Kata Riri sambil menghampiri Lina dan mengeluarkan dokumen yang ia miliki dari amplop cokelat miliknya.
"E, eehhh." ucap Lina yang langsung terburu-buru mengutak-atik ponselnya.
"Emmm sama deh." kata Lina menyimpan ponselnya dan mengeluarkan dokumen yang ia miliki serta menyamakan dokumen yang Riri siapkan.
Riri mengangguk pertanda mengerti.
"Eh Lin, udah jam 8 nih, gak kerasa." ucap Riri kepada Lina sambil melihat jam di ponselnya.
Karena waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi, mereka segera berpamitan dan meminta do'a restu kepada Ambu dan Abah.
"Ambu, Abah, Riri pergi dulu semoga lancar. Assalamu'alaikum." ucap Riri dan Lina serentak memberikan salam dengan mengecup tangan Ambu dan Abah.
"Iya aamiin, Wa'alaikumussalam. Hati-hati ya!"
__ADS_1
Lina adalah sahabat Riri, namun Ambu dan Abah menganggapnya seperti anak sendiri, karena ia selalu ada dan datang ke rumah Riri yang membuat mereka menjadi sangat akrab.