Akun Facebook Si Pendiam

Akun Facebook Si Pendiam
Mengoceh


__ADS_3

Perasaan Riri campur aduk, karena Dini yang sangat cantik. Membuatnya merasa iri, apalagi lelaki yang ia suka, lebih menyukai Dini.


Walaupun Dini sangat cantik, tapi ia tidak sombong akan kecantikannya. Daripada Dinda dan Sani yang sok cantik dan selalu membully dirinya. Kejadian itu masih membekas, dan terasa sesak di dada Riri. Tapi, ia segera mencoba untuk cepat melupakan kejadian yang pernah ia alami.


Klotakk.. Klotakk..


Mereka masuk ke department kepegawaian, disana terlihat banyak orang yang sedang bekerja menghadap komputernya masing-masing. Namun, adapula yang memperhatikan mereka masuk ke dalam ruangan itu.


Mereka mengetuk pintu ruangan khusus kepala department yang berada di pojok sebelah kanan.


Tok.. tokk.. tokk..


"Masuk!" ucap seseorang yang terdengar dari dalam ruangan itu.


Riri pun membuka pintu itu dengan perlahan, dan tersenyum ke arah seorang pria di balik laptop yang tersimpan di atas meja. Sehingga ia hanya sesekali melihat kepada mereka berdua, lalu terfokus kembali menatap laptopnya dan menutupnya menggunakan tangan yang terlihat mulus itu.


"Silahkan duduk!" ucapnya sambil menggerakkan tangan yang bermaksud untuk menyuruh mereka duduk.


Mereka pun duduk di kursi yang terasa empuk, dan memberikan senyuman kepada pria itu.


"Kenapa kalian baru datang? Kok gak kabari saya dulu?" tanya pria itu sambil menggenggam kedua tangannya.


Mereka berdua terlihat bingung mengenai pertanyaannya. Apa memang sebelumnya mereka pernah bertemu dengan pria itu.


Padahal, mereka baru saja melihatnya saat berada di pintu masuk perusahaan.


"I..iya, Pak! Maaf, kami tau lowongan ini kemarin di beritahukan oleh kakak saya." jawab Riri.


"Kakak?"


"Iya, kakak saya." jawab Riri.


"Rian bukan?" tanya pria itu.


"Iya." jawab Riri tersenyum, membuat lesung pipi itu terbentuk, dan membuatnya terlihat sangat manis.

__ADS_1


"Oh dia kakak kamu?"


"I..iyaa, kak!" ucap Riri.


"E.. ehhh, maaf! Maksud saya, Pak!" lanjutnya keceplosan, karena pria itu masih muda. Bahkan terlihat seperti seumuran, karena wajahnya yang awet muda.


"Bisa saya lihat CV nya?" ucap pria itu sambil melepas genggaman kedua tangannya.


Krrrkkk.. Krrkkk..


Kedua gadis itu mengambil amplop cokelat dari dalam tasnya. Amplop yang berisi dokumen mengenai data diri mereka untuk melamar pekerjaan.


"Ini, Pak!" ucap mereka berdua sambil menyodorkan amplop yang mereka miliki kepada pria yang berstatus kepala HRD itu.


Pria itu membuka amplop dan mengambil beberapa kertas yang merupakan dokumen mengenai data diri mereka, lalu ia melihatnya sambil mengangguk, pertanda memahami dokumen yang mereka miliki.


"Riri dan Lina." ucap pria itu melihat daftar riwayat hidup dan melihat mereka berdua dengan melirik matanya ke arah Riri dan Lina.


Kedua gadis itu tersenyum malu, dan merasa gugup. Karena itu adalah kali pertama mereka melamar pekerjaan langsung menghadap HRD.


"Kalian gak ingat sama saya? Haruskah saya terima kalian?" ucap pria itu sambil mendekatkan wajahnya kepada kedua gadis itu, dan membuat mereka kaget sambil menikmati.


Deg!


Mereka berdua merasakan detak jantung yang hebat, entah apa salah mereka. Belum juga bekerja, sudah di bentak seperti itu. Namun, bentakan dengan nada yang membuat mereka terkejut itu dapat terobati, karena melihat wajah tampan pria itu. Ia menatap kedua gadis itu dengan tatapan tajamnya. Namun tidak seram seperti yang di bayangkan, tapi ia malah terlihat sangat menggoda.


Mereka hanya terdiam, dan menundukkan kepalanya, setelah melihatnya.


"Kalian benar-benar tidak ingat kepada saya?" tanya pria itu sambil beranjak dari kursinya dengan posisi berdiri, lalu berjalan ke arah sudut meja sebelah kiri.


Tangannya mendarat di meja, tepat di depan wajah Riri.


"Kamu gak ingat? Waktu di taman pada saat itu, saya sudah tolongin kamu, Riri?"


Riri menatap ke wajah pria itu yang berada di sebelah kanannya dengan posisi berdiri. Sehingga, ia terlihat sangat tinggi karena posisi Riri yang sedang duduk.

__ADS_1


"Tapi, waktu saya ada masalah waktu itu, kalian meninggalkan saya? Waktu itu asma saya kambuh, untung ada seseorang yang menolong saya." lanjutnya sambil menatap wajah Riri dan Lina. Namun, pandangan Lina hanya menatap ke depan dan tidak berani menatap wajah pria itu.


"Untungnya ada kakak kamu!" lanjutnya kembali.


Riri merasa kaget, sehingga pandangannya yang hendak menunduk, sontak melihat kembali wajah pria itu.


Ternyata, dugaan mereka saat melihat pertama kali di pintu masuk kantor itu benar, dia adalah Rendi yang pernah bertemu dengan mereka saat berada di taman, pada saat Riri akan bertemu dengan Irwan.


"Mm..Maaf, Pak! Waktu itu kami bingung. Kami tidak ingin ikut campur." kata Riri menjelaskan dengan sedikit terbata-bata.


Mereka memanggilnya dengan sebutan bapak, karena posisi mereka sedang berada di lingkungan perusahaan. Sehingga, jika mereka memanggil dengan sebutan kakak, maka terlihat kurang sopan, kecuali jika berada di luar kantor.


"Hmm, sepertinya kalian salah paham!" ucapnya.


Mereka masih berpikir, entah salah paham apa yang ia maksud. Jelas-jelas mereka menyaksikan kalau dirinya posesif terhadap wanita cantik pada saat itu.


"Ternyata dugaan Lina benar, cowok ini aneh. walaupun tampan, dia sangat ngawur. Tapi kok bisa-bisanya dia jadi kepala HRD. Mentang-mentang papahnya pemilik perusahaan ini. Entah bagaimana kalau dia yang benar-benar menjadi pengelola perusahaan ini? Bisa gak jelas deh." batin Riri.


Karena mereka terdiam, Rendi menjelaskan lagi kepada mereka.


"Sepertinya, belum saatnya saya cerita tentang kejadian itu, yang pasti, pada saat itu saya di tolong oleh seorang pria, dan kami menjadi teman. Ternyata ia adalah kakak kamu." ucap Rendi.


"Dunia itu sempit ya?" lanjutnya.


Mereka berdua akhirnya tersenyum, walaupun terasa sedikit terganggu karena tingkah Rendi yang terlihat aneh. Entah memang sifat dia seperti itu, atau tidak? Atau mungkin taktik dia sebagai HRD, meneliti sifat orang dari perilakunya?


"Ya sudah, nanti saya kabari seminggu kemudian ya! Soalnya hari ini interview terakhir." ucapnya


"Baik, Pak! Terima kasih!" mereka pun tersenyum senang, karena tidak sabar menunggu kabar minggu depan.


Karena pertama kali melamar pekerjaan, mereka tidak banyak bertanya mengenai pekerjaan apa yang akan mereka tempati. Karena hari itu adalah interview terakhir, dan Rendi hanya mengoceh seperti itu. Namun, ia sudah mendengar dari kakaknya, bahwa perusahaan itu membutuhkan staff admin, marketing, staff accounting, dan juga operator produksi, karena perusahaan itu berdampingan dengan pabriknya yang memproduksi kosmetik.


Mereka terlanjur senang, tanpa memikirkan interview dan test. Sedangkan orang lain harus mengikuti interview dan test. Untung saja, kakak Riri memberitahukan bahwa ada lowongan pekerjaan kepada adiknya. Ternyata ia pun mengenal Rendi, dan menempati jabatan HRD perusahaan itu.


Mungkin ini yang dinamakan kekuatan orang dalam. Riri berharap jika ia dapat di terima menjadi karyawan di perusahaan itu.

__ADS_1


__ADS_2