Akun Facebook Si Pendiam

Akun Facebook Si Pendiam
Warnet


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 8 pagi, setengah jam lagi hukuman itu segera selesai. Aktivitas di luar sekolah sudah mulai sepi, karena kegiatan belajar telah di mulai. Namun, adapula murid yang keluar kelas untuk izin pergi ke toilet atau aktivitas lainnya yang membuat mereka beralasan untuk keluar kelas.


Tuk.. Tukk.. Tukk..


Suara sepatu terdengar seperti menghampiri.


"Ihh awewe eta meuni geulis pisan." (Ihh perempuan itu cantik banget), ucap seorang pria yang berjalan dari arah timur menuju toilet bersama temannya melewati murid yang sedang di hukum itu. Ternyata dia adalah Rizal, gebetan Riri murid kelas 12 F, si pria berhidung mancung dan bertubuh tinggi.


"Nu mana?" (yang mana?), tanya teman Rizal penasaran.


Gadis bermata sipit itu melirik ke arah Rizal yang melewatinya, dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri. Jantung Riri berdebar sangat kencang saat melihat sang pujaan hatinya itu, dan mendengar pembicaraan mereka dengan penuh penasaran.


"Tuh nu eta, nu bodas kulitna!" (Tuh yang itu, yang kulitnya putih!), seru Rizal sambil menunjuk ke arah salah satu siswi yang di hukum itu.


Jleeebbb..


Ternyata harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Riri yang sudah ke GR-an menjadi down karena Rizal menunjuk ke arah Dini yang merupakan teman sekelas Riri. Dini yang tak sengaja mendengar obrolan mereka pun kaget, sampai membuat wajah mungil berkulit putih itu memerah, karena tersipu malu mendengar ucapan dari anak kelas 12 F itu.


"Oh, sugan teh nu eta zal, padahal cocok pisan da!" (Oh, kirain yang itu zal, padahal cocok banget), ucap teman Rizal sambil menunjuk ke arah Riri, dengan memanas-manasi Rizal menggunakan nada tinggi, agar ucapannya terdengar oleh mereka yang sedang di hukum itu.


"Ih teu hayang, jeung maneh we nu eta mah ah." (Ih gak mau ah, yang itu buat kamu aja), ucap Rizal berlagak sinis sambil mengangkat kedua bahunya.


Hahahha..


Teman Rizal tertawa terbahak-bahak. Sedangkan 6 murid lainnya yang di hukum cengengesan sambil melihat ke arah Riri, karena mendengar obrolan Rizal dan temannya itu. Kecuali Lina yang merasa kasihan kepada Riri.


Karena obrolannya terdengar oleh mereka yang sedang di hukum. Rizal dan temannya merasa malu, sehingga membuat mereka segera berlari kecil ke tempat tujuannya.


Entah mencari perhatian, atau sekedar membuat lelucon yang baginya lucu, sampai mempermalukan orang lain dengan cara seperti itu. Bagi mereka mungkin itu adalah suatu kepuasan atau kesenangan saja, tapi tidak untuk mereka yang menjadi bahan ejekan.

__ADS_1


Riri hanya diam, dan harus menahan rasa sedih karena mendengar ucapan dari Rizal yang membuat Riri kecewa. Perasaan yang ia pendam selama hampir 3 tahun itu berujung pahit. Ia harus mencoba untuk merelakan dan membuang perasaan yang telah ia simpan sejak lama itu dengan perasaan yang tak terbalaskan.


Gadis itu mengenal Rizal pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. Saat itu, Riri pernah memberikan senyuman kepada Rizal, dan ia membalas senyuman Riri. Baginya, ia adalah pria yang sangat ramah daripada pria lainnya. Sehingga, ia selalu mengingat kejadian itu, dan menaruh perasaan kepadanya secara diam-diam.


Namun, keadaan hari itu membuat hati Riri terasa hancur, hati Riri seperti menjerit, "kenapa? Kenapa harus seperti ini? Apa aku kurang cantik? Apa yang salah denganku? Apa karena aku terlalu cuek dengan penampilanku? Ah, memendam perasaan ternyata lebih menyakitkan dari yang aku bayangkan. Apalagi orang yang aku sukai lebih menyukai orang lain." ucap Riri dalam hati yang tulus itu.


Kepala Riri pun tertunduk ke bawah dengan posisi hormat yang semakin memelas, serta menahan tangis yang sangat ingin ia keluarkan, "huh, aku gak boleh nangis, aku harus kuat!" ucap Riri dalam hati, memberi semangat kepada dirinya yang sedang rapuh itu.


...***...


Setelah hukuman selesai, mereka pun kembali ke kelas untuk mengikuti kegiatan belajar. Jadwal pelajaran hari senin adalah Bahasa Indonesia. Seperti biasa, semua siswa/siswi di suruh mengerjakan tugas secara berkelompok, dan masing-masing kelompok terdiri dari 4 orang.


Semua orang sudah mendapatkan kelompok, sedangkan Riri dan Lina belum mempunyai kelompok. Sehingga, mereka pun di pilih secara acak oleh ibu guru untuk masuk ke dalam kelompok lain.


"Huh, menyebalkan." ketus Riri.


Riri masuk ke kelompok laki-laki, karena hanya kelompok itu yang tersisa dan kurang satu orang. Sedangkan Lina, masuk ke kelompok perempuan yang anggota kelompoknya pun kurang satu orang.


Teng.. Teng.. Teng..


Bel pulang pun berbunyi, semua siswa/siswi keluar dari kelasnya masing-masing. Riri pulang sendirian ke rumah dengan berjalan kaki, sambil melihat suasana sawah dan pedesaan yang sangat indah, membuat hati Riri merasa tenang. Walaupun begitu, tapi tetap saja Riri selalu mengingat apa yang telah dia alami.


"Assalamu'alaikum!" kata Riri sambil masuk ke dalam rumah dan bersalaman dengan Ambu yang sedang duduk di kursi tamu.


"Wa'alaikumussalam!" sahut Ambu.


"Mbu, Riri masuk ke kamar ya." seru Riri memasang wajah badmood.


"Kok akhir-akhir ini Riri selalu murung sih? Ada apa?" tanya Ambu.

__ADS_1


"Gak apa-apa, Mbu." sahut Riri sambil membuka pintu kamarnya.


Riri yang terlihat murung langsung pergi ke kamar dan mengganti baju sekolahnya. Riri merenung sambil melihat ke luar jendela untuk menenangkan diri. Tanpa terasa, jam pun sudah menunjukkan pukul 14.05 WIB.


"Riri..i..i..i..i..i." terdengar suara dari luar rumah, dan Riri pun menghampiri nya.


"Eh Lina, hayu masuk sini!" seru Riri sambil mengajaknya ke dalam rumah.


"Iya Ri, bentar lagi kita ke warnet yuk! Kita mengerjakan makalah yang di suruh oleh Bu Diah." ajak Lina.


Bu Diah adalah guru yang mengajar Bahasa Indonesia di sekolah Riri dan Lina. Riri pun menerima ajakannya.


"Hayuuu, aku bilang Ambu dulu ya." sahut Riri.


Riri memutuskan untuk mengerjakan tugas di warnet sekaligus bermain bersama Lina. Ambu pun mengizinkan dengan alasan, Riri harus makan terlebih dahulu. Setelah itu, Riri boleh pergi bersama Lina.


Setelah berada di warnet, dan mengerjakan tugas makalah. Riri memperhatikan Lina yang sedang bermain Facebook. Karena terlihat seru, akhirnya Riri pun tertarik untuk membuat akun Facebook seperti Lina.


Setelah selesai membuat akun Facebook, ia menambahkan teman dengan melihat foto dan nama orang yang ia kenal, dan selebihnya ia menambahkan teman dengan asal-asalan (akun Facebook orang yang tidak ia kenal). Saat itu, Riri merasa senang karena ia akan mempunyai banyak teman baru di Facebook.


Suasana warnet terasa hening, karena hanya ada 5 orang yang ada disana. Tiba-tiba, Lina memberi tahu kepada Riri mengenai asmaranya.


"Ri, aku dapet cowok ganteng loh di FB." kata Lina.


"Oh ya? Kok bisa? Memangnya, kamu udah ketemu?" tanya Riri.


"Belum hehe, tapi aku ada rencana ketemuan sama dia akhir tahun ini. Nanti kamu temenin aku ya Ri!" ajak Lina.


"Oh, iya pasti dong dong dooong." sahut Riri mengacungkan jempol, sambil memberikan senyuman kepada sahabatnya itu.

__ADS_1


Sejak saat itu, Riri semakin bersemangat menggunakan Facebook, agar ia bisa mendapatkan pacar, serta teman yang banyak seperti Lina, dan segera move on dari Rizal si gebetannya itu.


Karena aku sadar, bahwa aku hanyalah seorang pengagum rahasia, yang tak bisa untuk memilikimu. Aku tak ingin terus berlarut-larut dalam kesedihan hanya karenamu. Maka dari itu, aku akan mencoba untuk berpaling ke hati yang lain, agar aku dapat melupakan dirimu. batin Riri.


__ADS_2