
Setelah sampai di tempat fotokopi, mereka menggandakan beberapa dokumen penting yang mereka bawa. Dokumen penting itu berupa kertas berisi data pribadi, dan merupakan salah satu syarat untuk mencapai tujuan yang dapat di pergunakan semestinya.
Hennngg.. Heenggg....
Suara mesin fotokopi terdengar pelan dan mengeluarkan cahaya yang terlihat berwarna hijau. Mesin itu mengeluarkan kertas baru yang menduplikasikan dokumen penting dengan tinta yang berwarna hitam pekat, menjiplak kata serta gambar yang persis seperti dokumen aslinya.
Setelah selesai, Riri mengambil kertas-kertas itu sambil melihat kesesuaian dengan dokumen yang ia miliki, dan membayar sejumlah uang kepada bapak pemilik fotokopi itu, sambil membeli kertas polio yang akan ia tulis menggunakan pulpen untuk membuat surat lamaran. Tak lupa juga ia membeli amplop cokelat yang akan ia gunakan untuk menyimpan berkas lamaran itu.
"Berapa pak totalnya?" ucap gadis itu menunjukkan kertas fotokopian dan amplop yang ia beli.
"Semuanya jadi 6.500 rupiah, Neng." ucap bapak berkumis tebal itu sambil menghitung menggunakan kalkulatornya.
Riri memberikan sejumlah uang 6.500 rupiah sesuai dengan apa yang ia beli saat itu. Kini, uang Riri hanya tersisa 2.500 rupiah, sehingga ia bisa menggunakan uang itu untuk bermain di warnet (warung internet) selama satu jam.
Ia memasukkan dokumen itu ke dalam totebagnya yang ia bawa dari rumah, agar dokumen itu tersimpan dengan aman, agar tidak rusak dan tidak kotor. Ia berharap agar kertas itu dapat membawa keberuntungan. Karena, berkas-berkas itu akan ia bawa sebagai syarat untuk melamar pekerjaan.
Setelah itu, mereka masuk ke dalam warnet yang berada di sebelah tempat fotokopi itu. Riri dan Lina duduk bersebelahan dengan komputer yang berbeda. Mereka menatap layar monitor dengan tampilan berwarna biru bergambar lumba-lumba, sambil menekan tombol mouse, saat mereka memilih paket satu jam bermain komputer.
"Eh Lin, kamu berteman ya sama Irwan?" kata Riri sambil membuka akun Facebooknya.
"Oh ya? Memangnya Facebook dia yang mana Ri?" jawab Lina sambil melihat profil Facebooknya dan pura-pura tidak mengetahui akun Facebook kekasih temannya itu.
Riri pun memberitahukan kepada Lina dengan menekan tombol keyboard yang Lina tempati. Ia mengetik nama akun Facebook Wanz'chie Gaolzthea di kolom pencarian.
Lina terlihat ketakutan kalau Riri mengetahui bahwa dirinya dan Irwan sudah saling mengirimi pesan.
Akun Facebook kekasih Riri itu muncul dengan foto profilnya yang di perbarui seminggu yang lalu, bergaya dengan poni emo yang menutupi sebelah mata nya, "nih Lin, karena kamu udah berteman sama dia, gimana kalau kamu inbox dia?"
"Sebenernya si Irwan udah chat aku Ri, pas waktu kamu suruh aku jahilin dia, tiba-tiba dia nge add Fb aku Ri, gak tau dia tau dari mana. Tapi aku takut kamu cemburu, mangkannya aku gak bilang sama kamu, lagian aku cuekin dia kok." ucap Lina sambil memperlihatkan isi pesannya kepada Riri.
Isi Pesan Lina dan Irwan di Facebook Lina
Irwan : Hay Lin? Mkcih ea konfirmasi ea, (Hai Lin?Makasih ya konfirmasinya).
Lina : Ea, cpha? (Iya, siapa?)
__ADS_1
Irwan : Aq Irwan yg kmrn ktmuan ama qmu and Riri, (Aku Irwan yang kemaren ketemuan sama kami dan Riri).
Lina : Oh pcar ea Riri? (Oh pacarnya Riri?).
Irwan : Hehe, aq mw knalan ajh m qmu, lech gx? (Hehe, aku mau kenalan aja sama kamu, boleh gak?).
Lina tidak membalas pesan dari Irwan lagi, karena ia takut jika Riri marah padanya. Karena Lina tak membalas pesan itu, sehingga ia terus mengirim pesan kepada Lina.
Irwan : Hey
Irwan : Lina?
Awalnya, Lina tak mengetahui kalau akun Facebook itu milik Irwan. Namun, ia mengetahui pada saat Irwan menjelaskan bahwa dirinya bertemu dengan Riri dan Lina pada saat pertemuan itu.
Riri merasa cemburu, karena tak di sangka bahwa Irwan malah memberi pesan kepada sahabatnya dan bersikap cuek kepadanya.
Saat itu, Riri mencoba untuk sabar menahan rasa sakit hatinya. Namun, Riri menyuruh Lina untuk membalas pesan dari Irwan, karena ia ingin mengetahui apakah ia serius kepadanya atau tidak.
Lina pun segera memberikan pesan singkat kepada Irwan.
Karena saat itu Irwan tidak aktif, jadi ia mungkin akan mengabari Riri jika ia membalas pesannya.
Karena waktu sudah semakin sore, terlihat senja mulai muncul pertanda akan semakin gelap. Maka, mereka pun memutuskan untuk pulang.
"Lin, nanti kamu kasih tau aku ya kalau dia balas pesan kamu."
"Iya Ri, siap. Nanti aku kabarin kamu lewat sms ya."
"Iya, aku gak sabar pengen tau reaksinya gimana Lin hehehe." ucap Riri yang terasa biasa saja menanggapi hal itu, namun hati nya merasakan pedih yang ia alami, dan mereka pun pulang ke rumahnya masing-masing.
Malam yang indah, namun hanya kehampaan yang ia rasakan.
"Assalamu'alaikum." Riri mengirim sms kepada Irwan.
Tingting.. Tingting..
__ADS_1
Suara sms berbunyi dari ponsel Riri, saat ia membuka pesan itu ternyata Lina, padahal ia sudah merasa senang dan berharap kalau Irwan membalas pesannya itu.
"Ri, Irwan bales inbox di FB."
Karena hal itu, Riri pun memutuskan untuk menelepon Lina.
"Halo Lin?"
"Iya Ri?"
{Tadi kan di FB kita coba inbox dia "Hai",
terus dia balas "Hai juga"}
"Dia bales inbox kamu Lin? Tapi inbox dari aku belum di bales loh, atau gak kamu bilang aja ke dia kalau aku sakit gitu."
"Ih gak mau ah." kata Lina.
"Please Lin, tolongin aku." ucap Riri memohon kepada sahabatnya itu agar menuruti perintahnya. karena sudah merasa sedih karena Irwan.
"Tapi Ri, dia kelihatan playboy ya, mending kamu putusin aja deh cowok kayak dia. Lagian masih banyak cowok di dunia ini, bukan dia aja."
"Tapi aku udah sayang banget sama dia. Tapi kalau memang begitu, aku mau test dia! Kamu bantuin aku ya, kamu balas pesan dari dia."
"Ya udah deh kalau kamu maunya gitu, aku coba." jawab Lina.
Setelah bercerita, mereka pun mengakhiri panggilan telepon itu. Riri merebahkan diri di tempat tidurnya, sambil memeluk bantal guling berwarna biru dengan motif kartun kesukaannya. Ia tidur menatap tembok yang berada di sampingnya.
Riri merasa cemburu kepada Lina, karena pujaan hatinya lebih memilih untuk membalas chat dari Lina, daripada memberi kabar kepadanya. Ia meneteskan air mata karena ia menunggu kekasihnya yang tak kunjung memberinya kabar.
Apalah arti rinduku ini, jika kau tak merinduku?
Setiap hari aku menunggu kabar darimu.
Tapi kini, kau telah berbeda dari engkau yang dahulu. batin Riri.
__ADS_1