Akun Facebook Si Pendiam

Akun Facebook Si Pendiam
Cuek!


__ADS_3

Dua hari sejak pertemuan itu, sikap Irwan berubah menjadi cuek, membuat Riri penuh pertanyaan. Mengapa saat pertemuan itu Irwan hanya sesekali menatapnya dan ia malah tersenyum saat melihat Lina.


Riri pun mencoba untuk menghubungi Irwan, karena sms dan pesan yang ia kirim lewat Facebook pun ia tak membalasnya.


Tuuuuttt..


Nomor yang Anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi.


"Ih Irwan kenapa sih gak kasih aku kabar? Setidaknya kasih aku kabar, biar aku gak khawatir." gumam Riri.


"Aku coba telepon lagi deh."


Panggilan telepon Riri akhirnya di jawab oleh Irwan.


"Halo? Apa sih? Aku lagi sibuk. Jangan telepon aku dulu!" seru Irwan menyentak.


Riri yang mendengar perkataan itu membuatnya bingung.


"Kok Irwan kayak yang marah ya?" ucapnya dalam hati.


"Ehh, em. Kamu lagi sibuk apa?" tanya Riri.


"Aku sibuk kerja! Udah dulu ya, jangan telepon lagi!" kata Irwan dengan nada yang datar.


"Hmmm iyaa, maaf ya. Semangaaaaaa___!" ucap Riri menyemangati, namun panggilan itu langsung terputus.


"Eehhh." kata Riri sambil bengong melihat ponselnya yang sudah tidak ada panggilan telepon dari kekasihnya itu.


"Irwan kenapa ya jadi cuek sama aku? Padahal aku hanya ingin mengetahui kabarnya, hanya itu yang aku mau. Dia sepertinya mulai berubah, apa dia bosan? Atau aku memang mengganggunya? Tapi aku kan tidak mengetahui aktivitasnya yang sekarang, karena dia tak memberiku penjelasan mengenai kesibukannya." Riri bergumam kepada dirinya sendiri.


Hari itu membuat Riri merasa runyam, dan membuatnya merasa jenuh. Akhirnya Riri memutuskan untuk bermain bersama Lina, dan ia pun mencoba untuk menghubungi sahabatnya itu.


Tuuuuttt..


Nomor yang Anda tuju tidak menjawab, cobalah beberapa saat lagi.


"Yah, gak di angkat. Coba lagi deh."


Tuuuutt..


"Halo?" ucap Lina yang terdengar suaranya lewat ponsel Riri.


"Lin, main yuk. Aku mau curhat nih!" seru Riri.


"Hayu, tapi aku gak bisa ke rumah kamu Lin. Soalnya di rumah aku gak ada siapa-siapa." sahut Lina.


"Ya udah, aku ke rumah kamu ya."


"Iya." jawab Lina.


Sebelum berangkat, Riri pun bersiap dan menyisir rambutnya agar terlihat rapi.


"Ambu, Riri ke rumah Lina ya." ucap Riri.

__ADS_1


"Iya, tapi jangan sampe malem ya." jawab Ambu.


"Iya mbu, Assalamu'alaikum!" seru Riri.


"Wa'alaikumussalam!" sahut Ambu.


Cuitt.. cuiitt.. cuiiittt..


Kicauan burung siang itu terdengar begitu merdu. Gadis itu berjalan melewati pemandangan alam yang begitu indah, dengan suasana langit yang cerah.


"Linaaaa..a..a!" seru Riri memanggil Lina agar keluar dari rumahnya untuk menemui dirinya.


Lina pun membuka pintu rumahnya, dan menyambut Riri untuk memasuki rumahnya.


"Lin, sini masuk." ucap Lina senang karena bertemu dengan sahabatnya.


Riri pun masuk ke dalam rumah Lina yang sederhana namun terlihat mewah. Banyak barang-barang mewah di dalamnya seperti guci dan barang lainnya yang membuat suasana di rumah itu terasa nyaman.


Lina tinggal bersama kedua orang tua yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga jarang sekali mereka untuk berkumpul bersama. Sedangkan kakaknya Lina yaitu Farhan, kuliah di salah satu universitas yang masih berada di Kota Bandung. Namun, ia memilih untuk kost di daerah yang berada di dekat kampusnya itu.


Sedangkan Lina memutuskan untuk tidak lanjut sekolah, walaupun kedua orang tua mereka menyuruhnya untuk kuliah.


Entah apa yang ada di pikirannya, sampai ia menolak untuk kuliah, padahal ia memiliki biaya dari kedua orang tuanya. Sedangkan aku? aku ingin kuliah pun harus mengumpulkan uang dulu. Karena tak ingin merepotkan kedua orang tuaku. batin Riri.


"Ri, mau minum apa?" tanya Lina.


"Apa aja deh yang seger." jawab Riri sambil duduk di sofa yang berada di ruang tamu rumah itu.


Rumah itu terlihat sepi, karena hanya ada Lina seorang.


"Ahh segar." ucap Riri meminum air yang memiliki rasa itu.


"Oh iya Lin, aku BT nih.


"Kenapa Ri?" tanya Lina.


"Irwan cuek sama aku. Tadi aku telpon dia juga, dia malah marah sama aku. Kan aku gak tau dia sibuk apaan, soalnya dia gak kasih aku kabar." ucap Riri yang terasa sangat kesal.


"Oh, ya mungkin dia memang lagi sibuk Lin." ucap Lina menenangkan sahabatnya itu.


Suasana di ruangan itu hening, Lina pun mengajak Riri ke kamarnya untuk bersantai.


"Ri, ke kamar yuk!" seru Lina.


Riri pun mengikuti Lina ke kamarnya, ia melihat kamarnya yang terlihat cerah dengan warna tembok pink itu.


Mereka pun saling bercengkrama, sampai Riri mendapatkan sebuah ide.


"Lin?"


"Apa?" sahut Lina yang sedang memainkan ponselnya itu.


"Kamu mau gak jahilin Irwan?" kata Riri.

__ADS_1


"Ih gak mau ah!"


"Please Lin, tolongin aku." ucap Riri memohon kepada sahabatnya itu.


"Ya udah deh kalau kamu maunya gitu, aku coba." jawab Lina.


"Nih nomornya 08**********." ucap Riri.


Lina pun menyimpan nomor telepon itu.


Setelah nomor itu tersimpan di ponsel Lina. Mereka pun melanjutkan tujuannya.


"Terus gimana nih Ri?" tanya Lina.


"Kamu sms dia "Irwan" gitu!" seru Riri.


Lina pun menuruti perintah Riri, ia mengirim pesan singkat Irwan itu dengan ragu.


"Lin kalo dia gak bales gimana?"


"Pasti bales deh kayaknya." ucap Riri.


Riri dan Lina merebahkan diri di tempat tidur yang empuk itu. Riri memutar lagu yang sedang tren pada saat itu. Mereka pun bernyanyi mengikuti lagu itu, canda dan tawa pun mereka nikmati.


Twing..


Ponsel Lina berbunyi, pertaanda bahwa ada pesan masuk.


"Siapa Lin?" tanya Riri.


"Ini si Irwan." kata Lina


"Apa katanya?" ucap Riri penasaran, sambil mendekati Lina.


"Siapa katanya." jawab Lina.


Riri merasa cemburu kepada Lina, karena pujaan hatinya lebih memilih untuk membalas pesan orang lain daripada memberi kabar kepadanya. Padahal ia selalu menunggu kekasihnya yang tak kunjung memberinya kabar.


Irwan kenapa sih? giliran aku yang kirim pesan kok gak dia balas ya? Apa salahku? batin Riri.


Riri yang tak ingin memperlihatkan kesedihan kepada Lina, akhirnya ia pun mencoba untuk berusaha tegar menghadapi semuanya.


"Balesnya gini, (Aku Lina, kamu kenapa cuek sama Riri. Maaf ya bukannya aku ikut campur, tapi aku kasihan sama sahabat aku)." ucap Riri memberitahukan kepada Lina agar mengirim pesan sesuai dengan apa yang ia ucapkan.


Lina pun akhirnya mengirim pesan kepada Irwan.


Hheeumm!


Riri menghela nafas.


Apalah arti rinduku ini, jika kau tak merinduku?


Setiap hari aku menunggu kabar darimu.

__ADS_1


Tapi kini, kau telah berbeda dari engkau yang dahulu.


__ADS_2