Akun Facebook Si Pendiam

Akun Facebook Si Pendiam
Seperti itu


__ADS_3

"Hei?" sahut pria itu membangunkan tatapan Riri yang tidak berkedip sama sekali saat melihatnya seperti tak sadarkan diri.


Riri merasa terpesona karena ia adalah si pria tampan berbaju kuning yang sebelumnya ia lihat bersama Lina. Riri merasakan debaran jantungnya yang hebat, karena itu adalah kali pertama ia berjumpa serta di bantu oleh pria yang memiliki wajah tampan bak pangeran di dalam film yang pernah ia tonton.


"Mereka itu siapa?" tanya pria itu.


"Mereka teman sekelas kami, kak!" jawab Lina karena Riri hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan pria itu.


Riri pun akhirnya tersadar dan malu karena ia terdiam melihat pria itu. Sehingga, ia menundukkan kepalanya ke bawah, dan memegang tangan Lina.


"Kok mereka jahat ya sama kalian?" ucap pria itu bertanya-tanya.


"Eee.. ehmm, gak tau kak." jawab Riri.


"Hati-hati ya!" kata pria itu.


Riri dan Lina hanya tersenyum mendengarnya. Mereka seperti salah tingkah melihat kebaikan pria itu.


"Oh ya, kenalin! Nama saya Rendi." ucapnya sambil mengulurkan tangannya kepada Riri.


Riri mematung lemas tak berdaya, melihat ciptaan Tuhan yang begitu indah.


"A..a..aku Riri dan ini temanku Lina." ucap Riri gugup sambil membalas jabatan tangannya yang halus itu dan menoleh ke arah Lina.


Riri dengan ekspresi yang sedang bengong, membuatnya lupa untuk melepaskan sentuhan tangan yang lembut dari pria itu.


"Halo?" kata pria itu sambil tersenyum dan menggoyangkan tangan kiri nya tepat di depan wajah Riri, karena tangan kanannya masih menggenggam tangan Riri.


"Eee.. ehhh." ucap Riri membuatnya tersadar dan segera melepaskan tangan dari genggaman pria itu dengan cepat.


"Ri, berarti dia bukan Irwan." kata Lina berbisik ke telinga Riri.


"Hehe." Riri tersenyum menoleh Lina.


Riri mengajak Lina untuk duduk di kursi yang berada di dekatnya dan meninggalkan pria itu. Namun, pria itu menghampiri dan ikut duduk di kursi panjang yang mereka tempati.


"Boleh gabung kan?" ia tersenyum sambil melepaskan earphone dari ponselnya.


Riri dan Lina tersenyum dan membolehkan pria itu duduk di kursi yang mereka tempati.


"Ri, ganteng banget ya dia." kata Lina berbisik dengan wajah polosnya sambil memandang wajah Rendi.


"Kalian jalan-jalan aja disini?" tanya pria itu.


Riri dan Lina kaget karena ia masih mau berlanjut bicara dengan mereka.


"Ehhh.. ini mau ketemuan sama pa___." ucap Lina terhenti karena Riri mencubit paha Lina.


"Jangan di kasih tau!" bisik Riri kepada Lina dan mereka pun hanya cengengesan melihat Rendi.


"Kalian kelas berapa?" tanya Rendi.


"Kami baru lulus SMA kak, dan ada rencana mencari kerja." jawab Lina.

__ADS_1


"Oh, kebetulan di perusahaan papah saya sedang membutuhkan karyawan. Kalau kalian mau, kalian bisa coba melamar kesana. Kebetulan saya bawa kartu nama, jadi kalian bisa contact nomor saya dulu ya!" kata Rendi sambil mengambil dompet kulitnya dan mengeluarkan kartu nama yang akan diberikan kepada mereka.


Karena Riri dan Lina baru mengenal Rendi, mereka pun masih belum percaya dengan ucapannya. Sampai akhirnya ia memberikan kartu namanya dan akhirnya mereka pun sedikit mulai mempercayainya.


"Baik kak, terimakasih." ucap Riri dan Lina.


Riri dan Lina saling mengobrol, sambil menunggu kabar dari Irwan. Sedangkan Rendi asik memainkan ponselnya. Namun, tiba-tiba Rendi terbangun dari duduknya karena melihat seorang wanita cantik dan pria gagah yang berjalan melewati mereka. Ia langsung menarik tangan wanita itu, dan mengajaknya bicara.


Sedangkan pria gagah itu menghampiri dan menepuk pundak Rendi.


"Heh ngapain main tarik-tarik tangan pacar saya?" ucap pria itu sambil menarik tangan wanita itu


"Hah pacar?" kata Rendi sambil melepaskan tangan wanita yang ia genggam. "Itu pacar kamu?" lanjutnya sambil menunjuk pria gagah itu dan melihat wajah wanita itu.


"Iya ini pacar aku. Kenapa?" ucap wanita itu sambil menggandeng tangan pria gagah yang ada di sampingnya.


Rendi yang mendengar perkataan itu membuatnya menjadi sangat rapuh. Matanya terlihat berbinar-binar melihat pengkhianatan di depan mata kepalanya sendiri.


"Dia siapa sayang?" tanya pria gagah itu sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Rendi.


"Dia ini temen aku, dia terus-terusan ngejar aku. Padahal aku gak mau. Aku takut sayang." ucap wanita itu sambil memasang wajah ketakutan kepada pria gagah itu agar mempercayainya.


"Apa?" kata Rendi.


Riri dan Lina hanya terdiam menyaksikan kejadian itu dengan wajah bengong juga ketakutan.


Mereka pun segera pergi meninggalkan tempat itu. Sedangkan Rendi berjalan mundur sambil duduk kembali di kursi yang ia tempati sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya untuk menutup kesedihannya.


"Ihhh Ri, takuttt." gumam Lina dengan suara yang pelan sambil menggandeng tangan Riri.


Rasa-rasanya aku telah keliru memilih kamu..


(nada dering ponsel Riri)


"Ehh Irwan telepon Lin. Kita duduk dulu disitu!" ucapnya sambil menunjuk ke kursi panjang yang akan mereka tempati.


Riri pun menjawab panggilan telepon itu.


"Sayang, kamu dimana?" kata Irwan.


"Ini aku lagi duduk di kursi dekat pohon toge nih." jawab Riri.


"Tunggu ya, aku kesana!" kata Irwan.


"Iyaa." balas Riri.


Panggilan telepon itu di akhiri oleh Irwan.


Mereka pun menunggu Irwan di kursi yang tidak terlalu jauh dengan kursi sebelumnya ia tempati.


Riri melihat ke kursi sebelumnya dan melihat Rendi duduk sendirian sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


"Lin, tapi kasian juga ya kakak itu." ucap Riri kepada Lina.

__ADS_1


"Iya Ri, tapi gimana lagi. Walaupun tampan, tapi kayak gitu ih." jawab Lina takut.


Tiba-tiba Riri melihat kakaknya berjalan bersama Sani dan Dinda bersama pria yang entah siapa.


"Lin, itu a Farhan bukan?


"Mana?" kata Riri.


"Itu tuh!" jawab Riri menunjuk mereka yang berada di sebrang.


Lina pun menghampiri dua pasang kekasih itu.


"Aa!" teriak Lina memanggil kakaknya.


Sani dan Dinda terlihat kaget, karena Sani memanggil kekasihnya.


"Ehh eh eh, kamu ngapain sih? Sok kenal banget sama pacar aku?" ucap Sani membentak.


Riri pun menghampiri Lina.


"Aa, jangan pacaran sama dia!" kata Lina menunjuk ke arah Sani.


"Heh kamu siapa pake nyuruh dia jangan pacaran sama aku?" ucap Sani membentak sambil menghampiri Lina dan menjenggutnya.


Awww, ucap Lina kesakitan sambil menahan sakit rambutnya.


"Heh, kalian ini apa-apaan sih? Berhentii!!" seru Farhan.


"Berhenti? Dia ini harus di beri pelajaran!" ucap Sani menarik keras rambut Lina.


"Berhenti, aku bilang berhenti!!" ucap Farhan melepaskan tangan Sani yang menjenggut rambut adiknya.


EEEUUHH!! Sani melepaskan tangannya.


"Kamu lagi dek, pake nyuruh aa putus sama dia segala." ucap a Farhan kepada Lina.


"Dia ini jahat a, tadi aja dia bikin Riri jatuh."


Sani dan Dinda terlihat kaget mendengar Farhan memanggil dek kepada Lina.


"Hah, dek? Maksud kamu apa? Kamu kenal sama dia?" tanya Sani kepada Farhan.


"Iya, dia ini adik aku! Kamu kenapa sih main kasar sama dia, hah?" ucap Farhan memarahi Sani.


"Mm..Maaf! aku gak tau." ucap Sani menundukkan kepalanya karena merasa malu dan bersalah.


"Maaf kamu bilang? Kamu ini udah nyakitin adik aku! Udah lah, lebih baik kita putus!" ucap Farhan menarik tangan Lina dan mengajaknya pulang.


"Yuk dek, kita pulang!" ajak Farhan.


Namun Lina tak tega melihat Riri sendirian.


"Aku disini aja dulu kak sama Riri." ucap Lina.

__ADS_1


__ADS_2