
Libur pun telah usai, aktivitas sekolah telah di mulai. Riri yang duduk di bangku kelas 3 SMK Negeri akan menempuh Ujian Nasional. Begitu juga dengan Irwan, ia sekolah di salah satu SMK Swasta Bandung dan akan menempuh Ujian Nasional juga.
*di Sekolah saat Istirahat*
"Ri, aku putus sama Bagas." kata Lina.
"Kenapa Lin?" jawab Riri heran.
"Soalnya Bagas beda sama aslinya. Dia bagus kalau di foto tapi pas ketemuan bedaaaaa wajah huhuhu. Mangkannya waktu akhir tahun pas kita ketemuan itu, aku pengen cepet-cepet pulang. Untung aja kamu ngajak aku pulang." kata Lina dengan raut muka yang masam.
"Jadi sebenarnya dia Bagas atau bagus? hahaha. Oh ya, terus waktu kamu minta putus sama dia, kamu kasih alasan apa ke dia?" kata Riri.
"Ih Ri, apa sih? hahaha. Ya aku bilang aja, kalau aku ingin fokus sekolah. Karena mau Ujian Nasional, hehehe. Sebenernya dia gak mau putus dari aku. Tapi aku maksa ingin putus ha ha ha." ucap Lina dengan tawa seperti musuh Batman.
"Ih kejamnyaaa, kasihan tau Lin. Dia kelihatan anak yang baik kok menurut aku." kata Riri.
"Tapi aku gak suka sama dia Ri, kamu ngerti gak?" jawab Lina sinis.
"Iya terserah kamu aja deh." ucap Riri menyerah sambil memasukkan buku ke dalam tas nya.
Lina seperti itu karena ia adalah anak yang sangat pemilih. Tapi disisi lain, ia juga sangat labil. Sehingga, tak aneh lagi bagiku, karena aku pun sangat sulit untuk memahaminya. batin Riri.
"Oh iya, kamu mau ikut gak sama aku? Aku ada rencana sama Irwan buat ketemuan lagi, kan waktu akhir tahun belum ketemuan. Kamu ikut yaaa Lin, pleaseee temenin akuu!" ucap Riri memegang tangan Lina sambil memohon dan memasang wajah imutnya.
"Iyaaaa iya aku ikut, biar aku bisa sambil cuci mata juga disana hehehe" kata Lina.
"Hmm dasar." ucap Riri mencubit pipi Lina.
Saat itu mata Riri begitu lelah, ia pun beranjak dari tempat duduknya untuk pergi ke toilet.
"Lin, aku mau cuci muka dulu ya." ucap Riri.
"Iya Ri." jawab Lina.
Biasanya Lina suka menemani Riri pergi ke toilet. Namun pada saat itu, ia memilih untuk tidak mengikutinya, karena ia sedang asyik menggunakan ponselnya.
Tiba-tiba, saat Riri berjalan melewati teman sekelasnya yang sedang mengobrol dan berdiri di depan kelas. Ia tak sengaja mendengar ucapan mereka.
"Eh.. ehh, si Riri pake facebook loh, fotonya cantik banget. Beda kayak aslinya."
__ADS_1
"Oh ya? Kamu lihat dimana? Memangnya kamu berteman sama dia?"
"Iya aku berteman sama dia, dia PD banget posting foto di Facebook, banyak cowok yang suka loh. Kasihan cowok-cowoknya pada ketipu hihihi."
Lagi-lagi Riri harus mendengar percakapan mereka yang begitu menusuk di hatinya. Ia pun langsung bergegas pergi ke toilet melewati teman sekelasnya itu sambil menubruk salah satunya di antara mereka dengan kesal.
Entah mereka sengaja menyindir supaya aku mendengarnya, atau memang karena benci padaku, sehingga aku terus di perlakukan seperti itu? Ini sudah kelewat batas, mentang-mentang aku diam saja sampai saat ini. Padahal selama ini aku sudah sabar menghadapi mereka, tapi selalu saja mereka mengomentari hidupkuku.
Ia segera membasuh muka karena air mata yang menggenang di pelupuk mata nya mengalir membasahi pipi. Matanya begitu merah dan terlihat sembab.
Huh kejamnya teman sekelasku, sepertinya apa yang aku lakukan selalu salah di mata mereka. Aku diam pun salah. Padahal aku hanya ingin mendapatkan kesenangan, walaupun di facebook, tapi masih saja mereka berbicara tentangku? batin Riri.
"Untung saja Ujian Nasional akan segera di mulai. Aku sudah muak dengan orang-orang ini. Aku ingin cepat-cepat keluar dari sekolah ini. Aku harus belajar dengan giat supaya aku bisa mendapatkan nilai yang bagus. Aku akan menunjukkan kepada mereka, yang telah memandangku dengan sebelah mata!" ucap Riri dalam hati sambil mengusap air mata nya dan melihat dirinya di cermin besar yang terpasang di dinding toilet.
Kringg.. Kringg...
Bel masuk pun berbunyi, semua murid masuk ke kelasnya masing-masing. Namun masih ada yang tetap diam di kantin karena makanannya belum habis.
Tangisan Riri sudah mereda, ia belum sempat jajan karena selama setengah jam istirahat, ia berdiam diri di toilet untuk meredam amarahnya. Ia keluar dari toilet dengan langkah yang begitu pelan.
Riri menundukkan pandangannya ke bawah agar orang-orang tak mengetahui kalau dirinya sudah menangis. Mata Riri merah dan sembab, pipi nya pun terlihat mengembang. Ia masuk ke kelas dengan hati yang begitu kesal.
Teman-teman yang membicarakan Riri berada di bangku paling belakang, dan adapula yang berada di depan.
Huuffttt..
Ia pun menghela nafas untuk menahan dirinya agar tidak tersedu-sedu.
Riri masuk dan berjalan di depan kelas menuju bangku pojok yang berada di barisan paling depan, dekat meja guru yang biasa ia tempati.
Mata-mata itu melihat ke arah dirinya yang sedang lemah. Ia berjalan dengan hati-hati seperti melewati binatang buas yang akan menerkam mangsanya.
"Akhiiirnyaaaa." ucapnya dalam hati karena ia sampai di bangkunya.
"Ri, kamu kenapa lama sih di toilet?" tanya Lina.
"Gak kenapa-kenapa, Lin. Pengen ngadem aja, hehe."
"Ihh, memangnya gak bau gitu diem di toilet? haha." ucap Lina mencolek pinggang Riri.
__ADS_1
"Ihh getek (geli) haha." Riri tertawa.
Ia yang menangis akhirnya terobati oleh Lina. Karena ia merasa terhibur olehnya. Riri tidak berani menatap wajah Lina, karena ia takut Lina mengetahui bahwa dirinya sudah menangis.
Suasana kelas yang ramai tiba-tiba hening karena ada guru yang masuk kelas. Guru itu mengajar kelas kejuruan, yaitu kelas pemasaran.
Karena Ujian Nasional akan di laksanakan 3 bulan lagi. Mereka pun hanya membahas soal-soal ujian yang keluar pada saat tahun sebelumnya.
Syukurlah. batin Riri.
Hati Riri merasa lega, karena ia akan menempuh Ujian Nasional. Ia merasa senang karena tidak ada lagi yang namanya tugas kelompok.
Baginya, tugas kelompok itu membuat hatinya menjadi kacau. Karena di kelas itu, banyak genk yang membuatnya tidak memiliki kelompok. Sehingga ia merasa bahwa dirinya adalah sisa dari mereka.
Bu Teti menyuruh semua murid untuk mengerjakan soal pilihan ganda yang ia berikan. Setelah itu, mereka akan membahasnya bersama. Ia adalah guru kesayangan mereka, selain sebagai wali kelas, ia pun mengajar dengan penuh kesabaran, dan apa yang ia sampaikan pun sangat mudah untuk di pahami.
Tengg.. Tengg.. Teng..
Bel pulang pun berbunyi.
Yeeee.. semua murid bersorak gembira
Mereka bersiap merapikan bukunya untuk di masukkan ke dalam tas.
Oh ya, sebelum kalian pulang, ibu mau bertanya.
"Apa kalian sudah siap untuk ujiaaaan?" ucap Bu Teti bertanya kepada murid yang ada di kelas itu.
"Siaaaapp!" ucap semua murid serentak dengan nada yang lemas.
Sekali lagi!
"APA KALIAN SUDAH SIAP UNTUK UJIAAAN?"
"SIAAAAAAAAP!!" ucap semua murid berteriak dengan nada yang bersemangat.
Suasana itu terasa merinding, walaupun Ujian Nasional 3 bulan lagi, namun Bu Teti selalu menyemangati muridnya agar mempersiapkan diri untuk belajar dengan sungguh-sungguh.
Pertanyaan itu selalu ia ucapkan saat masuk pelajarannya.
__ADS_1
Menurutku, sekolah adalah hal yang mengasyikan, tapi terkadang sangat membosankan. Maksudku bosan karena bertemu dengan orang-orang yang membuatku muak. Tapi, itu adalah sebuah pelajaran untukku. Sehingga, aku akan mencoba untuk menjadikan diriku menjadi lebih kuat dan berani. Ini semua akan membekas di hatiku, dan akan selalu ku kenang dalam hidupku. batin Riri.