
Riri dan Lina pergi ke perusahaan yang lokasinya tidak terlalu jauh dengan rumahnya, karena perusahaan itu masih satu wilayah dengan tempat tinggalnya.
Ngeeeenggg..
Lina memberhentikan motor maticnya itu di tempat parkir yang ada di perusahaan tempat tujuan mereka. Ia menggunakan kunci leher agar motornya tetap aman saat ia tinggalkan di tempat parkir.
Walaupun terlihat aman, tapi tetap saja harus waspada.
"Waaawww, gede banget gedungnya." ucap Riri sambil melihat gedung yang terlihat di parkiran itu.
Mereka pun berjalan menyusuri tempat itu dan menuju pintu masuk perusahaan.
Riri tertegun melihat gedung yang menjulang tinggi di hadapannya, membuat dirinya merasakan pusing di kepalanya.
Namun, saat mereka akan masuk. Langkah mereka terhenti karena ada security di perusahaan tersebut.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang security yang terlihat masih muda dan gagah.
"Pak, maaf. Apa di sini ada lowongan pekerjaan?" tanya Riri kepada security yang berjaga di pintu masuk itu.
"Oh iya, kebetulan hari ini sedang mencari kandidat perusahaan, hari ini adalah interview terakhir. Kalian sudah mengirim berkas lamarannya belum?"
"Belum pak, ini kami baru mau masukin lamarannya." ucap Riri.
"Oh, bagaimana ya. Soalnya hari ini interview terakhir." ucap security tampan sambil menjelaskan kepada Riri dan Lina mengenai interview yang sudah di laksanakan dari dua hari yang lalu.
Zzssshhhhhh..
Suara mobil mewah berhenti di depan pintu masuk.
Cetreekk
Pintu itu di buka oleh seseorang yang berada di posisi belakang ia duduk.
Ia turun dari mobil dan menapakkan kaki yang menggunakan sepatu mahal itu ke aspal, serta ia pun menutup pintu mobil sedan berwarna hitam mengkilap yang di kendarai oleh supir pribadinya.
Dug!
Pria itu berdiri tegap dan akan siap memasuki perusahaan itu sambil membawa tas kerjanya yang seperti koper. Ia berjalan melalui 3 anak tangga untuk sampai di pintu masuk.
"Selamat pagi, Pak!" ucap pak security yang memberi salam kepada pria gagah itu.
"Pagi!" balas pria itu dengan senyum manisnya.
"Lin?" ucap Riri kepada Lina sambil memegang tangan Lina.
__ADS_1
"Kayak kenal dimana gitu?" lanjutnya.
"Kak Rendi?" ucap Lina dengan wajah polos dan suara yang lantang sok akrab.
Riri mencubit tangan Lina karena ia sudah lancang, karena memanggil pria yang belum ia kenal dengan seperti itu. Mereka hanya menduga saja, karena wajahnya sama seperti seseorang yang pernah mereka jumpai.
Pria itu pun menatap mereka berdua dengan wajah cool nya. Wajahnya bersinar, pakaiannya rapi menggunakan blazer serta dasi yang melilit di kerah bajunya.
Bagaimana para wanita tidak terlena? Pria itu memiliki kulit putih, bersih, tinggi dengan hidung yang mancung serta rambut rapi, membuat siapapun yang melihat, sangat betah untuk memandangnya.
Degg!
Hati Riri berdegup kencang saat ia menatap, entah mengapa dirinya sangat ingin berteriak sekencang-kencangnya seperti melihat oppa Korea idolanya itu.
Sedangkan Lina menatap dengan wajah datarnya yang terlihat lugu.
Namun, pria itu langsung melihat ke arah satpam perusahaan, pertanda menanyakan maksud dan tujuan mereka datang.
"Mereka akan melamar pekerjaan pak, tapi belum memberikan berkasnya. Sedangkan hari ini kan interview terakhir." ucap satpam menjelaskan.
Pria tampan itu membicarakan sesuatu kepada bapak satpam yang masih terlihat muda itu.
"Baik!" sahut satpam itu.
Entah apa yang pria itu katakan, sampai bapak security gagah menuruti perintahnya.
"Kalian bisa datang langsung ke lantai 3 menemui Bapak Rendi, HRD perusahaan ini." ucap pak satpam itu.
"Eee, eehhhh." Mereka berdua saling menatap wajah seperti tak menyangka, ternyata mereka masih berkesempatan untuk bertemu dengan HRD.
"Oh baik pak, terima kasih!" sahut kedua gadis itu sambil menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.
"Tapi, kalian harus mengisi daftar pengunjung di meja resepsionis!" seru security tampan itu sambil mengarahkan mereka berdua dengan tangannya untuk pergi menuju meja resepsionis yang tidak jauh dari tempat mereka berpijak.
Mereka pergi menuju meja resepsionis itu yang di jaga oleh seorang wanita yang terlihat sangat cantik dan anggun.
Terlihat aktivitas orang-orang yang ada di perusahaan itu sangat sibuk berjalan kesana kemari.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita cantik dan juga ramah itu.
"Emm, kak? Kami mau bertemu dengan Bapak Rendi untuk melamar pekerjaan." ucap Riri dan Lina.
Mereka memanggil sebutan itu, karena wanita yang ada di hadapan mereka terlihat masih sangat muda, sekitar tiga tahun di atas mereka.
"Oh, ya kalian tunggu saja di ruangannya."
__ADS_1
Mereka pun menulis di buku tulis yang berukuran besar itu, mengisi setiap kolom yang bertuliskan nama pengunjung, tanda tangan, serta keperluannya.
Setelah itu, mereka pun di persilahkan untuk menemui Bapak Rendi di lantai 3. Mereka berjalan dan berhenti di hadapan lift.
"Duh ini gimana cara pake nya?" ucap Riri bingung.
Klotak.. klotakk.
Suara sepatu terdengar menghampiri.
"Iya bentar ya, aku baru sampe." ucap seorang wanita yang sedang berbicara dengan lawan bicara di ponsel miliknya, sambil membuka map berisi dokumen yang sedang ia pegang.
Tet
Ia menekan tombol panah atas yang ada di hadapan Riri.
Riri pun segera menghindar dari tempatnya itu dan mendekati Lina ke arah samping sebelah kiri.
Riri dan Lina pun terselamatkan, karena mereka akhirnya mengetahui cara menggunakan lift itu.
zzztttt..
Lift terbuka dan ternyata di dalamnya ada seorang pria yang Riri dan Lina temui di pintu masuk.
"Pak!" ucap seorang wanita yang mebekan tombol lift tadi sambil mengakhiri panggilan teleponnya.
Pria itu hanya tersenyum dan tidak keluar dari lift. Entah apa yang ada di pikirannya, ia menggunakan lift seperti tanpa tujuan yang jelas.
Namun mereka tetap berpikir jernih, mungkin ia menggunakan lift karena ada yang tertinggal saat ia akan menuju lantai dasar.
Akhirnya, mereka pun masuk ke dalam lift. Wanita itu menekan tombol dengan angka 2. Sedangkan Riri dan Lina tidak menekan tombol itu.
Riri dan Lina saling berpegangan tangan, karena lift itu seperti mengayun-ayunkan mereka dan membuatnya merasa sedikit pusing. Walaupun hanya memakai lift, untuk menuju ke beberapa lantai saja.
Mereka saling bertatapan, apakah tombol itu di gunakan untuk menuju lantai yang ingin di tuju?
Ssttt..
Pintu itu terbuka, dan wanita itu keluar dari lift. Sehingga hanya mereka bertiga yang ada di dalam lift itu.
Karena pintu belum tertutup, mereka berdua masih dalam keadaan kebingungan, dan saling betanya-tanya mengapa pintu itu tidak mau menutup.
Karena selama 10 detik Riri dan Lina hanya terdiam, Riri pun memutuskan untuk keluar dari lift itu yang masih terbuka.
"Udah sampai di lantai 3 mungkin ini." kata Riri mengajak Lina keluar dari lift itu.
__ADS_1
Sedangkan pria itu hanya terdiam dan menutup mulutnya dengan telapak tangan kanan yang ia pangku menggunakan tangan kirinya. Ia pun segera menekan tombol lift itu, yang membuat pintunya tertutup.