
Lina memutuskan untuk tetap menemani Riri dan tidak pulang bersama Farhan kakak nya itu.
"Ya sudah, kamu hati-hati ya, aa pulang duluan." ucap Farhan kepada adiknya itu.
Farhan walaupun terlihat cuek, namun ia sangat menyayangi adiknya yang polos itu.
"Iyaa." ucap Lina.
Farhan pun bergegas pergi dari tempat yang sudah membuatnya muak.
"Sayaaaang, sayaaaang, tungguuuu!" seru Sani memegang tangan Farhan.
"Apa sih?" kata Farhan melepaskan tangannya dari genggaman Sani yang memaksanya untuk tidak meninggalkannya.
Namun, usaha yang di lakukan Sani pun gagal. Farhan terlanjur kecewa dan segera pergi mengabaikan Sani yang merengek itu.
Mereka menjadi pusat perhatian siapa saja yang lewat. Akan tetapi, keributan mereka karena sekedar konflik kecil saja, sehingga hanya membuat orang penasaran.
Entah bagaimana jadinya apabila mereka bertengkar hebat, mungkin semua orang akan menontonnya seperti drama di TV tentang apa yang mereka lakukan itu.
Heuuuhh!!
Sani melihat Lina dengan tatapan tajam yang penuh amarah dan kebencian itu. Namun ia tak bisa melawannya lagi, karena Lina adalah adiknya Farhan.
Lina dan Riri hanya tersenyum tipis melihat Sani yang merengek seperti itu. Sehingga, mereka merasakan kepuasan saat melihatnya menderita.
Mereka pergi meninggalkan tempat itu dan kembali duduk di tempat yang mereka duduki sebelumnya.
Riri melihat kursi yang berada di sampingnya dengan jarak hanya 3 meter itu sudah di tempati oleh orang lain.
"Hmm, mungkin dia udah pulang." ucap Riri tersenyum, namun merasa bersalah karena ia meninggalkannya sendiri.
"Lin? Kamu gak apa-apa kan?" tanya Riri yang khawatir kepada sahabatnya itu.
"Iya Lin gak apa-apa, cuma masih sakit aja gitu. Soalnya tadi kenceng banget dia tarik rambut aku. Aku juga mau lawan tapi susah karena nahan rambut aku yang dia tarik."
"Iya jahat banget dia!" ucap Riri kesal.
Ssrrrkkk..
Suara sepatu yang bergesekan dengan aspal terdengar begitu jelas.
Riri dan Lina pun melihat seseorang yang berdiri di hadapan mereka. Ternyata ia adalah pria bertubuh tinggi, yang menggunakan jaket hitam dan tidak ia tutup resletingnya. Sehingga baju berwarna kuning tua yang ia pakai pun terlihat. Pria itu sesekali melihat ponselnya seperti sedang menunggu seseorang, dan mencoba untuk menelepon.
Tiba-tiba..
Beybeh, Beybeh, Beybeh, Ooo Laik.. Drrt.. Drrtt..
Ponsel Riri bergetar dan berdering di saku celananya.
__ADS_1
"Lin?" ucap Riri sambil memegang paha Lina.
Riri dan Lina pun melihat wajahnya satu sama lain. Pertanda bahwa mereka menduga kalau pria itu adalah Irwan.
Ponselnya berdering sampai akhir.
Nomor yang anda tuju tidak menjawab, cobalah hubungi beberapa saat lagi.
Suara itu terdengar dari ponsel pria yang ada di hadapan mereka, dan ia pun mencoba untuk menelepon kembali seseorang yang ia hubungi.
Beybeh beybeh beybeh ooo laik..
Lagi lagi ponsel itu kembali berdering, saat pria itu hendak menelepon seseorang. Riri mencoba untuk mengambil ponselnya yang ia simpan di saku celana nya itu, dan ia pun segera mengecilkan suara ponselnya agar tidak terdengar oleh pria itu.
Riri pun mencoba untuk menjawab panggilan itu, walaupun dirinya masih belum siap untuk bertemu. Namun, ia memberanikan dirinya karena mengingat tujuannya itu.
"Halo?" ucap Irwan yang terdengar lewat ponsel Riri.
Deg!!
Eeehhh. ucap Riri kaget
Ia merasa kaget, karena ia melihat seorang wanita menghampiri pria itu dan pria itu pun mengakhiri panggilan teleponnya.
Sedangkan ponsel Riri masih terdengar suara Irwan yang sedang menelepon.
"Halo?" ucap Irwan lagi.
Tiba-tiba, seorang pria menghampiri Riri dan Lina.
"Hei?" ucap pria itu.
Riri dan Lina pun kaget dan melihat pria itu.
"Ehh iya?" ucap Riri karena pria itu berucap kepada mereka.
Suara ponsel pria itu bersuara seperti yang di ucapkan oleh Riri (Ehh iya?)
Riri pun kaget, ternyata suaranya terdengar di ponsel pria itu.
Gerak-gerik Riri yang sedang menelepon ternyata dapat di kenali, membuat Irwan mengetahui bahwa kalau gadis yang sedang duduk itu adalah kekasihnya.
"Riri?" ucap Irwan sambil menutup panggilan teleponnya.
"I..iyaaa." kata Riri.
"Aku Irwan." ucapnya sambil mengulurkan tangan dan mengajak Riri untuk bersalaman.
Sentuhan tangan itu sangat lembut, bagaikan selimut lembut yang ia miliki. Parfum yang ia gunakan pun dapat membuat orang di sekitar merasakan kesegaran harumnya.
__ADS_1
"Duh, aku deg-degan nih." ucap Riri dalam hati yang merasakan kesenangan, saat berjumpa dengan pujaan hatinya.
Riri tersenyum dan tersipu malu, karena ia pertama kali bertemu dengan Irwan. Akhirnya ia bisa melihat secara langsung dan berjabat tangan dengannya. Pria itu terlihat manis dengan alis tebal dan bulu mata yang lentik.
"Dia siapa?" tanya Irwan sambil melihat ke arah Lina.
"Dia sahabat aku, namanya Lina." kata Riri.
"Oh, hai. Aku Irwan." ucap Irwan tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Lina.
"Iya, aku Lina." Lina tersenyum sambil membalas jabatan tangan Irwan.
Riri terlihat canggung karena ia baru pertama kali bertemu dengan Irwan, walaupun saat menelepon atau mengirim pesan singkat ia terlihat bawel. Namun, pada saat bertemu rasanya seperti ada yang berbeda, karena ia merasa malu dan belum terbiasa berbicara dengan pria.
Karena sifat dan sikap Irwan yang percaya diri, akhirnya ia bisa membangkitkan suasana itu dengan canda dan tawa. Sehingga, Riri dan Lina pun dapat menyesuaikan diri, membuat rasa canggung itu hilang dengan sendirinya.
"Ternyata, Irwan pandai bergaul ya. Pasti banyak orang yang nyaman kalau ngobrol sama dia." ucap Riri dalam hati dan tersenyum melihat Irwan bercanda dan tertawa.
Aku tak menyangka, ternyata aku bisa sedekat ini melihatnya. Setelah sekian lama aku menunggu, akhirnya aku bisa merasakan bahwa rinduku ini sudah terobati. batin Riri.
1 jam berlalu
"Ri, aku pulang duluan ya. Gak apa-apa kan?" ucap Irwan.
"Eee..ehhh, kenapa?" tanya Riri.
"Aku ada perlu nih."
"Oh, ya udah. Gak apa-apa, lain kali bisa ketemu lagi kan?" ucap Riri.
Irwan hanya tersenyum dan mengangkat alisnya.
Daaahhh! seru Irwan melambaikan tangannya.
Daahhh! sahut Lina.
Riri merasa sedih karena ia hanya bertemu dengan Irwan sebentar, padahal ia masih ingin bersamanya.
"Ri, ternyata Irwan orangnya humoris ya." kata Lina.
"Iya, Lin! hehehe."
Riri merasa beruntung memilikinya, karena Irwan terlihat ramah, baik, dan juga asik.
"Lina terlihat senang mengobrol dengan Irwan. Dia memandang Irwan seperti itu, apa dia menyukainya? Tapi aku lihat Irwan pun begitu. Ah, jangan mikir yang aneh-aneh! Gaboleh!" ucap Riri dalam hati sambil melihat senyum yang terlukis di wajah Lina.
Karena waktu sudah mulai siang, mereka pun akhirnya memutuskan untuk pulang.
"Lin, pulang yuk!" seru Riri.
__ADS_1
"Hayuuukk." kata Lina.