
Hujan deras yang mengguyur desa itu membuat aktivitas di luar rumah terlihat sepi.
Zzrassssshhh..
Suara hujan bergemuruh di atas genting terdengar begitu jelas. Udara yang sangat dingin membuat Riri merasa menggigil. Ia memutuskan untuk mengambil mantel berwarna cokelat yang menggantung di atas paku.
Hari itu adalah hari minggu, yang merupakan hari terbebas bagi Riri. Ia pun sudah berencana untuk pergi ke warnet bersama Lina.
Nitnit.. Nitnit..
Suara sms berbunyi di HP jadul Riri yang hanya bisa di pakai untuk sms dan telepon saja.
"Ri, hujan nih. Kayaknya kita gak jadi pergi ke warnet." ucap seseorang mengirim sms kepada Riri, yang tak lain adalah Lina.
Kebetulan, hari itu Riri sangat badmood dan ingin sendiri untuk merenung. Mengurung diri di kamar, sambil meratapi kesedihannya. Ia duduk di atas tempat tidurnya sambil melihat rintik-rintik hujan yang membasahi kaca jendela nya.
Mengingat kejadian yang telah ia alami pada hari senin lalu, gadis itu menangis tersedu-sedu. Air mata mengalir dan membasahi pipi chubby nya.
Hikkss.. Hikss.. Hiksss..
Ia patah semangat dan ingin berteriak sekencang-kencangnya untuk mengeluarkan emosinya.
AAAAAAAA..
Riri yang berteriak dalam hati, hanya dapat di rasakan oleh hati dan air mata yang mengalir begitu deras mewakili perasaannya.
Tiba-tiba Toktoktok suara pintu kamar di ketuk oleh seseorang,
Ckliik Suara gagang pintu terdengar seperti ada yang akan membuka pintu.
Krieeettt..
Pintu itu di buka dengan perlahan, suara jejak kaki pun terdengar menghampiri Riri, dan ternyata itu adalah Ambu.
Riri yang sedang menangis, mengusap air mata yang membasahi pipinya itu menggunakan punggung tangan dengan sedikit panik dan terburu buru.
"Ri, kenapa sayang?" tanya ambu heran melihat mata Riri yang terlihat merah dan berkaca-kaca.
"Ga apa-apa, Mbu." sahut Riri sambil mengusap air matanya yang masih keluar karena tak bisa menahan tangis, serta membalikkan badan ke arah jendela dan tak ingin Ambu mengetahuinya.
__ADS_1
Ambu yang khawatir memeluk Riri, "ada apa sayang? cerita sama Ambu!"
Riri tak ingin menceritakan masalahnya kepada Ambu, sehingga ia hanya bertanya dengan nada yang tersedu-sedu, "Menurut Ambu Riri tuh orangnya gimana sih?"
Pertanyaan itu membuat Ambu tersenyum manis melihat anak bungsunya itu, "Riri, denger ya! Riri itu cantik, manis, baik, sopan, rajin, suka membantu dan nurut sama orangtua." sahut ambu dengan nada lembut.
Riri yang murung akhirnya tersenyum mendengar perkataan ambu dan memeluknya karena telah membuat hatinya merasa tenang.
Tuk.. Tuk.. Tuk...
Suara langkah kaki terdengar menghampiri kamar Riri dengan perlahan.
"Kenapa nih?" kata Abah sambil menghampiri Riri dan Ambu.
"Ga apa-apa, si Abah mah kepo yey." Ambu meledek.
Abah tersenyum mendengar perkataan istrinya itu. Sedangkan Riri tersenyum melihat kedua orang tuanya yang sedang bercanda. Namun, tiba-tiba tangan kanan abah yang sedari tadi ia palingkan ke belakang, ia ayunkan ke depan, dan memberikan sebuah kotak yang ia pegang kepada Riri.
"Nih!"
"Apa ini bah?" tanya Riri sambil mengambil kotak itu.
Riri pun menatap kotak itu, ternyata itu adalah dus box yang tak lain di dalamnya ialah sebuah ponsel yang tentunya bisa di gunakan untuk membuka Facebook.
"Haaa Peeeeee." ucap Riri bersorak gembira, membuat kesedihan yang ia alami itu terasa hilang seketika.
Ambu dan Abah merasa senang melihat anak bungsunya itu tersenyum bahagia.
"Makasih Abah, Ambu." kata Riri sambil memegang HP baru nya itu.
Riri merasa senang karena mendapatkan HP baru yang di berikan oleh Abah. Akhirnya, ia dapat bermain Facebook di HP, tanpa harus pergi ke warnet yang berada di dekat rumahnya itu.
Waktu berjalan terasa sangat cepat, hujan pun berlalu. Hari sudah mulai siang, Riri yang sudah membersihkan diri dan berdandan itu akan mencoba untuk berfoto di HP barunya itu.
Cekrek.. Cekreekkk..
"Ahhhh kamera HP nya bagus paraaaahhh, aku cantik banget tolooongg." ucap Riri yang berbicara sendiri sambil melihat foto dirinya di HP barunya itu.
Dari sekian banyak foto yang ada di ponselnya, hanya ada beberapa foto yang Riri pilih untuk ia upload ke akun Facebooknya itu, dan hanya memilih satu foto yang akan ia gunakan untuk mengganti foto profilnya.
__ADS_1
Sejak awal Riri menggunakan Facebook, ia tidak menggunakan foto dirinya, melainkan menggunakan foto wanita cantik yang ia dapatkan dari internet. Ia bermain Facebook hanya membuat status, inbox pun terlihat sepi. Berbeda dengan Lina yang sudah mempunyai banyak teman, serta sudah mendapatkan pacar dari Facebook, dan inbox nya pun sangat ramai.
Ting...
Suara foto yang di upload oleh Riri terdengar begitu mewah. Riri yang pertama kali mengubah foto profilnya menggunakan foto dirinya sendiri membuat banyak orang mengirim permintaan teman kepadanya, banyak yang mengirimi pesan dan banyak juga yang menyukai, serta mengomentari postingannya.
"Waaaah, banyak banget yang menyukai foto profil akkyuuu." kata Riri dengan nada gembira.
Postingan 2 jam yang lalu itu sudah ramai di penuhi komentar positif dari teman Facebooknya yang tidak ia kenal.
Tring..
Suara pesan dari Facebook berbunyi, inbox Riri tiba-tiba di penuhi oleh banyak pria yang ingin berkenalan dengannya.
*Isi Pesan Facebook Riri*
Vhie : Mikumz, (Assalamu'alaikum)
Kuy : Mkcih udh di konfirm pertemanan ea, (Makasih udah di konfirmasi pertemanannya ya)
Chu : Lech knlan gx? (Boleh kenalan gak?)
Mbro : Lam knal, (salam kenal)
Shot : Hy cwek, (Hai cewek)
Riri membalas satu persatu pesan yang ia dapatkan, karena Riri menyadari kalau ia tak ingin bersikap cuek terhadap orang lain, karena ia pun pernah merasakan bagaimana rasanya tidak memiliki banyak teman, rasanya di jauhi dan di kucilkan tanpa sebab. Maka dari itu, ia memutuskan untuk bersikap ramah, selama orang itu masih menjaga tata krama nya.
Dari sekian banyak pria yang ingin berkenalan dengan Riri. Salah satunya adalah pria dengan foto candid yang terlihat manis sambil memegang gitar, dan memakai baju seragam sekolah (putih abu-abu) yang mengirimkan pesan kepada Riri.
Wanz'chie Gaolzthea : Assalamu'alaikum.
"Haahh siapa nih? Keren bangeeeeut." kata Riri histeris sambil tersenyum lebar.
Riri pun membalas pesannya, "Wa'alaikumussalam".
Riri merasa senang, karena akhirnya ia bisa mendapatkan banyak teman dari Facebook yang tak bisa ia dapatkan dari kehidupan nyata. Ia terlihat tampak menikmati hidupnya tanpa ada rasa gelisah. Karena akhirnya ia bisa mendapatkan teman wanita dan pria dengan mudah.
Andai saja aku bisa mendapatkan teman yang dapat memahamiku di kehidupan nyataku ini. Mungkin aku tak akan menjadi orang yang pendiam dan sangat tidak percaya diri sampai saat ini. batin Riri.
__ADS_1