
Mereka pun berjalan berkeliling di lantai 2 perusahaan itu. Terlihat seseorang berjalan membawa ember berisi air menggunakan tangan kirinya, serta alat pel dengan tongkat panjang yang ia pegang menggunakan tangan kanannya yang ia masukkan ke dalam ember berisi air itu.
"Mau cari siapa neng?" tanya seorang bapak cleaning service yang sudah paruh baya dan terlihat seperti sudah lama bekerja di perusahaan itu sambil menyimpan embernya di lantai dan memegang tongkat lap pel di tangan kanannya.
Gerak gerik kedua gadis itu terlihat kebingungan, seperti butuh bantuan. Sehingga, bapak itu langsung datang menghampiri dan menanyakan tujuan mereka datang ke perusahaan itu.
"Ini pak, kami mau melamar kerja. Katanya di suruh ke lantai 3 bertemu dengan bapak Rendi, ruangannya dimana ya, Pak?" tanya Riri.
"Oh di atas neng, ini lantai 2." ucapnya sambil menunjukkan tangannya ke atas menggunakan jempol kanannya.
"Oh baik pak, terima kasih." ucap Riri dan Lina menganggukkan kepala pertanda hormat kepada bapak itu.
Mereka pun segera pergi menuju lift tempat mereka sebelumnya keluar, dan membuatnya tersesat di lantai 2 itu.
"Aduhh apa gak ada tangga ya?" gumam Riri kesal dengan wajah cemberut menghadap lift itu.
Mereka saling berdiam diri di hadapan lift sambil berpikir.
"Ah coba deh!" seru Riri meyakinkan dirinya dan sahabatnya itu bahwa mereka bisa ke lantai 3 tujuan mereka.
"Bismillah." ucap Riri sambil menekan tombol panah atas yang berada di samping lift.
Tet!
Tak lama, pintu itu terbuka dengan sendirinya. Untung saja di dalam lift itu kosong, sehingga mereka dapat menaiki lift itu dengan tenang.
Bagaimana tidak? Mereka dapat mencoba lift itu berdua, tanpa ada orang lain yang membuat mereka tersesat lagi. Mereka pun berpegangan tangan, agar tetap aman saat menaiki lift itu.
Haha
Mereka tertawa kecil di dalam lift itu. Riri pun mencoba untuk menekan salah satu dari banyaknya tombol, yaitu tombol dengan angka 3.
Lift itu langsung tertutup dengan sendirinya tanpa menekan tombol lagi. Membuat mereka merasa bangga, bahwa mereka dapat menaiki lift.
Ssstttt..
Pintu lift itu terbuka, mereka tetap berpegangan tangan saat keluar dari lift itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah." ucap mereka berdua saling menatap.
"Ri, kita tanya siapa nih?" tanya Lina sambil melihat kesana kemari di sekitar lantai 3 itu yang sudah terlihat sepi karena aktivitas orang-orang yang ada di kantor sudah mulai sibuk.
Terlihat seorang perempuan berjalan menyusuri lorong yang berada di sebelah ujung, dengan posisinya tidak terlalu jauh dari mereka.
Dua gadis itu pun berjalan secara cepat dan hati-hati, karena memakai sepatu dengan hak yang tinggi, membuat mereka sedikit kagok melangkahkan kakinya. Apalagi Riri, walaupun haknya lebih pendek daripada Lina. Namun, ia merasa merana, sampai ia ingin melepaskan sepatu itu.
Akhirnya mereka berpapasan di tengah-tengah lorong yang terlihat terang karena pantulan cahaya matahari masuk membus kaca lantai 3 itu.
"Kayak kenal." bisik Lina kepada Riri.
"Iya kayak si Dini, temen sekelas kita dulu." ucap Riri melambatkan langkahnya sambil berpegangan tangan, begitupun dengan Lina.
"Kak, maaf." ucap Riri saat berpapasan dengan wanita itu.
"Eh, Riri? Lina?" ucap wanita itu.
Ternyata benar, ia adalah Dini teman satu kelas mereka dulu. Wanita cantik yang pernah membuat Rizal gebetan Riri terpesona kepadanya.
"Kalian kerja disini? atau mau melamar kerja?" lanjutnya.
"Oh, ya semangat ya!" ucap Dini kepada Riri dan juga Lina.
"Kalau kamu mau ngapain kesini, Din?" tanya Lina.
"Aku mau temuin kakak aku." jawab Dini.
"Oh kakak kamu kerja di perusahaan ini, Din?" tanya Riri.
"Hehe, ini sebenarnya perusahaan papah aku, dan kakak aku sebagai HRD perusahaan ini. Karena dia sendiri yang memilih jabatan itu."
"Oh ya, aku duluan ya!" lanjutnya, sambil melebarkan senyumnya kepada Riri dan Lina, sehingga membuatnya sangat terlihat manis.
"Eee..ehh, tunggu dulu, Din!" seru Riri sambil memegang lengan Dini. Tangannya halus, dan mulus. Riri memegang tangan itu bagaikan selimut lembut yang ia gunakan.
Sebenarnya tidak seperti selimut yang ia miliki. Karena, selimut itu sudah bau apek dan belum di cuci selama 2 tahun. Bayangkan saja, bagaimana bisa ia bandingkan dengan selimut miliknya?
__ADS_1
"Duh, lembutnya." ucap Riri dalam hati.
Pantas saja Dini terlihat sangat cantik, ternyata ia adalah anak orang kaya. Bahkan siapa sangka? dia adalah anak dari pemilik perusahaan tempat mereka berpijak.
"Kenapa?" tanya Dini.
"Kami juga mau ketemu sama HRD, namanya sih bapak Rendi. Apa dia kakak kamu?" kata Riri sambil melepaskan tangannya yang memegang tangan Dini.
"Ohh iyaa, ruangannya ada di sebelah sana!" ucapnya sambil menunjuk ke arah pojok saat pertama kali Riri dan Lina kebingungan mencari ruangan itu.
Mereka pun berjalan bersama menuju depan ruangan yang terlihat dari pintu kaca yang terdapat banyak karyawan perusahaan yang ada di department itu.
"Tunggu dulu disini ya, nanti kalau aku udah, kalian baru masuk." ucap Dini kepada teman yang pernah satu kelas itu.
5 menit kemudian
Riri dan Lina terlihat bingung, karena hari ini adalah interview terakhir. Namun, mereka tidak melihat orang yang akan melamar pekerjaan.
Klotak.. klotakk..
Suara sepatu terdengar dari arah ruangan itu, ternyata dia adalah Dini.
"Ri, Lin, kata kakak aku masuk!" ucapnya sambil menggelengkan kepalanya ke kiri pertanda menyuruh kedua gadis polos itu untuk menemui kakaknya.
Pada saat itu, Dini melanjutkan studinya di universitas ternama di Bandung. Tak heran, penampilannya pun kini semakin mencolok, terlihat seperti artis di bandingkan dengan kedua gadis itu yang masih belum bisa merawat diri, apalagi Riri.
"Makasih, Din!" seru mereka berdua.
Dini pun tersenyum, mereka berdua sangat terpesona dengan kecantikannya. Kulit putih, rambut yang panjang terurai berwarna cokelat, serta softlens berwarna abu yang sangat cocok untuknya. Sehingga, siapa pun yang melihat akan terpesona dengan kecantikannya.
"Iya sama-sama, aku duluan ya!" seru Dini melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan mereka berdua.
Riri teringat pada saat hukuman di sekolah. Rizal seperti menyukai Dini, dan Rizal malah meledek Riri yang seakan-akan bahwa dirinya tidak pantas untuknya.
Huuuffttt
Riri menarik nafas, dan mengeluarkannya secara kasar agar ia melupakan kejadian yang pernah ia alami sebelumnya.
__ADS_1
Perasaan sakitnya itu hanya datang selewat, karena teringat dalam pikirannya, saat ia berjumpa dengan Dini. Riri sebetulnya membenci Dini, namun ia tidak seharusnya seperti itu, ia membuang perasaan benci kepada Dini. Karena Dini memang cantik! Lelaki mana yang tidak menyukai kecantikannya? dibandingkan dirinya yang belum bisa merawat diri.