
Lydia dan Julius pun menyamar untuk masuk ke dalam kerajaan Sentoria. Ketika kita masuk dari gerbang, tidak ada yang curiga dengan kita. Saat kita masuk ke dalam, Lydia terkejut karena tempatnya indah dan bagus banget.
" Bagaimana cara kita mendapatkan rumput biru itu karena kerajaan ini luas dan besar ?" pikir Julius sambil melihat sekeliling.
" Aku ada ide tapi ini sangat beresiko. Kamu mau ngelakuin itu apa enggak ?" Tanya Julius ke Lydia.
" Emangnya apa idemu sampai sampai beresiko ? Aku pakai pakaian ini aja udah takut apalagi ditambah ide mu yang sekarang" Kata Lydia yang takut dan tidak percaya kita bisa lolos dari penjaga kerajaan.
" Jangan khawatir ada aku di sini. Sikap mu biasa aja dong .Kamu mau kita nanti ditangkap " Kata Julius meledek nya sambil memegang bahunya agar dia tenang.
" Kamu jangan nakut nakutin aku dong " kata Lydia dengan nada terbata bata dan sekujur tubuhnya bergetar. Dia pun meminta maaf ke aku dan menjelaskan rencananya.
" Bagaimana kamu mau ngelakuin ini apa enggak atau kamu mau lihat temanmu mati perlahan " Kata Julius yang memberi pilihan. Aku memutuskan untuk ngelakuin itu. Karena itu satu satunya cara agar allesia selamat.
" Kalo aku atau kamu menemukan rumput itu nanti kita bertemu lagi di sini, oke ? Hanya ini satu satunya cara agar bisa membantunya " Kata Julius.
Lydia tidak sependapat dengan Julius karena aku tidak tau daerah ini dan kemungkinan ditangkap juga besar. Julius bersikeras membujukku agar aku setuju demi menyelamatkan Allesia. Sekian lama dia membujukku akhirnya aku pun setuju.
" Aku harus berani demi ALLESIA " batin Lydia.
" Jadi, kamu mau enggak berpencar? WOY, MALAH BENGONG " Kata Julius dengan lantang sambil menepuk bahuku.
" Ada apa ? Maaf aku enggak dengar " kata Lydia yang terkejut sambil menengok ke kiri dan ke kanan.
" Jadi, kamu mau berpencar apa enggak ?" kata Julius sambil mulutnya manyun.
" Aku setuju. Tapi kalo aku enggak buruan balik ke sini lagi, kamu cari aku. Lo " Kata Lydia yang memperingatkan Julius.
Tak sempat aku menjawab. Tiba - tiba datang orang yang berpakaian seperti kami dan gagah. Orang tersebut mengagetkan kami. Aku dan Lydia pun terkejut.
" Kenapa kalian masih di sini ?" Kata pengawal dengan nada meninggi dan merendah sambil merangkul bahuku.
" Emangnya kita harus kemana " jawab Lydia.
" Kalian bukan dari sini kan ?" kata pengawal yang menaruh curiga dengan tatapan tajam.
" Apa dia tau kalo kami menyamar, ya ?" batin Julius.
" Gimana, nih " batin gue sambil mengisyaratkan dengan mencolek ke Julius dan mengangkat kepala ke atas.
Sedangkan pengawal tersebut tersenyum sedikit dan tatapan sinisnya. Julius curiga kalo pengawal itu pun tau penyamaran kita. Aku pun tak mau memikirkan itu sambil geleng geleng kepala. Kami pun merasa bingung dengan tingkah lakunya itu. Dan bingung mau berbuat apa kalo pengawal itu tau penyamaran kita berdua. Kemudian, pengawal itu pun tertawa terbahak bahak.
" Wajah kalian lucu banget kalo dikerjain gini" kata pengawal yang masih tertawa.Mereka tak menyangka kalo dijahilin.
" Kalian tau enggak, wajah kalian kayak orang kepergok menyelinap masuk ke istana tau " Kata pengawal yang tertawa terbahak bahak. Julius pun ikut tertawa.
" Emangnya itu lucu, ya ?" Kata Lydia yang terbawa emosinya sambil mendorong pengawal itu dengan jarinya. Bahkan pengawal terdorong ke belakang beberapa langkah.Sedangkan Julius mengelus dada karena penyamaran mereka tidak gagal
"Kamu mau penyamaran kita kebongkar " bisik Julius ke Lydia.
" Kamu jangan seperti itu dong"kata Julius sambil menenangkan dia.
" Ooo, enggak apa apa yang salah aku kok. Seharusnya aku enggak jahilin kalian, aku cuma ingin mastiin kalo yang dibicarain orang orang itu bener apa enggak ternyata bener" Kata pengawal.
"Lo, dia ngaku salah jadi aku bener dong " Kata Lydia. Julius pun diam saja dan tidak bisa membantah ucapan Lydia karena pengawal itu mengakui kesalahannya.
" Iya, aku maafin. Emang yang dibicarain orang orang itu apa?" kata Lydia yang penasaran.
" Kita bicarakan itu nanti. Yang penting kita ke sana dulu " Kata pengawal yang lari sambil menarik tangan Julius dan Lydia.
" Emangnya kita mau kemana ?" kata Lydia yang sambil menyamakan irama jalan pengawal.
Lydia bingung ke mana pengawal ini membawa kami. Jalannya yang lurus ada toko baju belok kanan lalu belok kanan lagi. Aku pun sampai di taman yang indah dan ditengah taman terdapat sebuah air mancur yang indah.
"Kita ini mau ngapain ke sini?"Kata Lydia yang penasaran.
__ADS_1
"OOO, iya. Aku lupa kasih tau kalo kita sekarang ini ada di taman dengan jenis tanaman yang bermacam macam. Taman ini sangat penting bagi rakyat elf. Bahkan yang menjaga taman ini adalah orang pilihan. Dan alasan kalian di sini yaitu menjaganya dan jangan biarkan sembarang orang masuk ke sini " kata pengawal yang menjelaskan panjang lebar sambil berjalan.
" Emang sebegitu pentingnya, ya ?" Kata Lydia yang mengecoh pengawal.
Julius melihat sekeliling taman itu apakah terdapat rumput biru yang dia cari.Ia pun melihat kiri dan kanan sembari mengikuti pengawal. Lydia merasa takjub melihat taman itu andai aku bisa datang ke sini dengan sepasang kekasih. Tapi mau dikata apa pacar aja enggak ada
" Iya, karena di taman ini ada tanaman langka dan para elf sedang mengembangbiakkannya "kata Pengawal yang menunjuk salah satu tanaman diantara tanaman lamprocapnos spectabilis dari kejauhan.
" Aku enggak bisa menemani kalian karena aku ada pekerjaan lain "Kata pengawal sembari meninggalkan mereka.
Julius pun tersenyum bahagia sembari menatap ke depan. Lydia merasa terheran heran dengan tingkah lakunya. Aku pun menyenggolnya dengan sikutku. Tapi dia malah tersenyum lebar kepadaku.
" Cowok ini kesambet apa bisa kayak gini ?" batin Lydia sambil mengacak acak rambut
mencari penyebab dia tersenyum.Aku pun berjalan mondar mandir agar dia balik seperti sediakala.
Julius pun berhenti tersenyum dan tidak menghiraukanku. Lalu dia berjalan ke depan menuju lamprocapnos spectabilis. Bunga ini sebagai tanda keabadian dan kesucian cinta , sehingga bentuknya pun menyerupai hati yang berdarah.
" Apa dia mau menembakku,ya ? Di tempat tempat yang romantis seperti ini. Siapa yang mau nolak? Aku enggak boleh baper.Mungkin dia lagi cari tanaman langka itu "batin Lydia yang memikirkan yang tidak tidak lalu aku memalingkan wajahku dari dia sambil geleng geleng kepala.
" Seingatku aku melihatnya di sini " batin Julius sembari mencari cari tanaman itu.Matahari pun akan terbenam lagi. Ia pun mengacak acak tanaman.
Tak berselang lama, " AKU DAPAT RUMPUT BIRUNYA " ucap Julius dengan lantang sembari mencabut rumput biru. Lydia pun menengok ke arah Julius.
Nb:bentuk rumput biru seperti rumput tapi bentuknya lingkaran dan berwarna biru.
" Ayo, kita balik " kata Julius ke Lydia.
"....." jawab Lydia yang mengganggukkan kepala yang mengartikan iya.
Ketika kita keluar dari taman itu. Kita selamat karena di daerah itu tidak ada yang jaga. Ada pengawal yang diluar gerbang menjaga dan orang keluar diperiksa terlebih dahulu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lydia mengusulkan untuk menunggu pengawalnya pergi.Julius tidak sependapat karena kita tidak punya waktu yang banyak. Mataharinya akan terbenam sebentar lagi.Julius ada ide agar dapat lolos dari situ. Aku akan mengecoh pengawal di sana sedangkan kamu bawa rumput biru ini ke Jen.
" Tapi kamu harus janji ke aku saat aku membuat keributan sehingga pengawal menghampiriku, kamu harus lari dengan kencang dan jangan tengok ke belakang " Ucap Julius dengan percaya diri.
" Kamu takut kehilangan aku kan ?" ucap Julius dengan kata sarkasmenya.
" AKU SEKARANG SERIUS TAU.Malah bercanda sama aku " kata Lydia sambil memalingkan kepalanya.
" Yang penting kita harus bawa rumput biru ini sebelum matahari terbenam. Dan soal aku tenang aja. Aku kan jago bela diri " kata Julius sambil mengeluarkan beberapa jurus ke Lydia.
" Iya, aku percaya sama kamu " kata Lydia.Lydia tidak khawatir lagi dengannya setelah dia menyakinkan aku.
Lydia pun bersembunyi di gang samping toko baju yang jaraknya dekat dengan gerbangnya dan cari kesempatan untuk lari dari sini. Sedangkan Julius berubah menjadi Lythari. Lalu lythari itu melolong dengan ganas di pusat kota dan elf biasa yang melihatnya pun berlarian bahkan ada yang berteriak minta tolong. Lydia mengganti pakaian ku seperti elf air.
" Pengawal, tolong saya. Ada hewan buas yang mengamuk di gang samping toko " kata Lydia yang lari ke gerbang dan mengatakan ke penjaga gerbang.
" Nanti saya kesananya " kata penjaganya dengan santai.
" Tidak bisa harus sekarang kalo tidak nanti ada korban jiwa " kata Lydia menyakinkan penjaga agar berubah pikiran.
Semua penjaga yang menjaga gerbang masuk dan keluar pun pergi ke sana. Mereka berterimakasih kepadaku karena aku sudah memberitahukannya. Mereka meninggalkanku sendiri di sini. Berhubung Tidak ada yang jaga, aku pun langsung pergi dari sini.
------*_*-------
Di sisi lain, Nadia menawarkan Zendra untuk makan karena dia sangat khawatir dengan Allesia sampai sampai lupa makan.Tapi, dimenolaknya dan dia ingin menemani Allesia. Saking capeknya dia sampai tertidur di kursi.
" Sepertinya dia kecapekan banget sampai tidur di kursi. Mending enggak usaha aku bangunin.Tapi kalo enggak aku bangunin, saat dia bangun badannya bakal sakit semua. Mending gak usah aja,deh" gumam Nadia yang bimbang mau bangunin atau enggak.
" Sebegitu lah kamu mencintainya sampai tidak mau makan. Andai yang kamu cinta itu aku" batin Nadia sambil mengusap kepala Zendra.
Nadia pun mengambil kursi dan duduk disebelah Zendra sambil menatap wajahnya.
Aku merasa dia tampan juga kalo dia sedang tertidur. Aku makin tambah cinta kepadanya. Aku pun mulai tertidur.
" DASAR PENYUSUP " kata penduduk elf hutan.
" BERI HUKUMAN YANG BERAT ATAU PENJARAKAN SEUMUR HIDUP " kata penduduk elf dengan lantang.
__ADS_1
" Kalo kalian ngelakuin itu.Kalian akan menyesal ketika tau aku siapa?"kata Afran yang menyangkal pertanyaan penduduk elf hutan.
" Orang seperti kalian itu tidak bisa dipercaya omongannya"kata penduduk elf hutan dengan marah.
" Bunuh saja dia"kata penduduk elf hutan.
" Kalian tidak punya rasa kemanusiaan sama sekali" kata Afran.
" Kamu yang tidak punya perasaan itu " kata penduduk elf hutan.
Zendra pun terbangun karena kebisingan yang di luar. Aku pun keluar dan melihat apa yang terjadi. Ketika aku sampai di depan aku kaget karena melihat Pangeran Afran dari Kerajaan Sentoria yang dikurung di dalam kurungan dan diarak.
" Tolong, kalian lepaskan Pangeran Afran " kata Zendra dengan nada tinggi.
Penduduk pun kaget ketika Zendra mengucapkan Pangeran Afran. Mereka pun melepaskan Pangeran Afran dan meminta maaf kepadanya.
" Saya maafkan kalian. Tapi jangan langsung menangkap orang sebelum kamu membuktikan kalo orang itu bersalah " kata Afran sambil keluar dari kurungan itu.
" Terima kasih, Pangeran Afran " kata penduduk secara serentak.
" Kenapa masih di sini. BU...BAR.. " Kata Zendra dengan nada yang tinggi dan lantang.
Nadia pun terbangun dan meregangkan badannya lalu melihat ke arah Allesia. Aku menengok ke arah Zendra ternyata dia tidak ada di kursinya. Aku pun pergi keluar untuk mencarinya. Tiba - tiba , Zendra dan Seorang laki laki dengan rambut biru masuk ke dalam sebelum aku membuka pintu.
" Aku kira kamu tadi pergi keluar " kata Nadia yang khawatir.
" Kamu pacaran sama dia, ya ?" bisik Afran sambil menyikut badan Zendra.
" Kamu diem bisa enggak, sih ?" kata Zendra.
Suasana pun mulai canggung.Tiba -tiba.
" DI...NGIN.... DI.... NGIN...... " gumam Allesia dengan nada lirih dan melengking.Tanganku memegang kaki dengan posisi badan ke samping.
Zendra pun bergegas ke kamarnya dan melihat keadaan Allesia sedangkan yang lain mengikuti dari belakang. Ketika aku sampai, aku mengecek tangannya masih dingin atau tidak. Ternyata badan semakin dingin. Aku menyuruh Nadia ambil air hangat dan handuk.Nadia pun pergi mengambil air hangat dan handuk.
" I,Inikan wanita yang menendang aku. Tau rasa kamu dapat karma. Karena sudah nendang aku " gumam Afran.
" Afran, kamu bilang apa ?" kata Zendra sambil menggosok tangan Allesia dengan kedua tangannya agar tetap hangat.
"Enggak ada. Emangnya cewek ini kena apa? kata Afran yang penasaran.
" Ooo,Maksudmu Allesia ?"Kata Zendra yang masih menggosok tangannya.
"Iya"Kata Afran
" Dia digigit serangga beracun.Matahari sudah mau tenggelam. Apa mereka enggak dapat, ya ?" kata Zendra.
" ZENDRA. Ini tanamannya .Maaf aku terlambat" Kata Lydia dengan nafas terengah-engah karena lari. Disusul dengan Nadia yang membawa air hangat dan handuk.
" Enggak kamu tepat waktu, kok" Kata Zendra sambil meremas rumput biru dan memasukkannya ke perasannya ke Allesia.
" Juliusnya mana ? " kata Nadia yang celingak
- celinguk.
"Dia masih di sana " kata Lydia yang merasa bersalah karena meninggalkannya sendirian.
" Kalo itu kita bahas nanti aja. Yang penting sekarang kita tunggu Allesia siuman. Baru kita cari cara untuk nyelamatin Julius" kata Zendra dan yang lain setuju dengan pendapatnya. Lalu kita keluar dari kamar sembari menunggu dia siuman.
" Ooo, iya.Kenalin ini Afran. Dia temenku saat aku kecil. Maklumin aja kalo dia cuek atau dingin ke kalian " kata Zendra.
__ADS_1