
" Iya, aku bakal dengerin kamu setelah aku melihat keadaan Allesia " kata Zendra yang masih kekeh dengan keinginannya itu.
" Iya, aku akan bilang sekarang. Kenapa tingkah ku hari ini berbeda SE...be ....nar... Nya AKU........." kata Lydia yang lantang dan keras.
" Aku nyatain sekarang atau cari waktu yang tepat, ya ? Massa aku bilang sekarang. Disaat banyak masalah kayak gini " batin Lydia yang memilih tidak menyatakan perasaannya sekarang.
" Aku apa ?" kata Zendra sambil memegang bahu Lydia.
" Aku mau ngajak kamu makan bareng " kata Lydia yang terbata bata dan nada tinggi rendah. Dan lidah keluh ketika mau bilang aku cinta kamu, lidahku seperti disengat lebah.
" Kenapa aku harus gugup sekarang sih enggak tepat banget " batin Lydia.
" Aku enggak mau ngomong itu, tapi aku mau bilang. Ka kalo aa aaaku SUKA SAMA KAMU " kata Lydia.
Semua yang ada di sana kaget setelah mendengar pernyataan Lydia. Sedangkan Zendra terpaku diam tempat dia berdiri. Allesia yang mendengar kebisingan di sana memutuskan keluar walaupun masih merasa pusing dan tak bertenaga.
" Aku harus bisa " gumam Allesia dengan pelan sambil melangkahkan kakinya satu per satu. Allesia pun berjalan meski jalannya pelan.
Nadia berjalan ke arah Afran dan mengajaknya pergi dari sini agar mereka bisa bicara dari hati ke hati. Tapi Afran tidak mau dan ingin tetap disini.
" Kalian tidak usah pergi biar aku dan Afran yang keluar " kata Nadia dengan santai sambil menarik tangan Afran dengan paksa dan pergi ke depan rumah Zendra.
Setelah sampai, " Tanganmu masih mau seperti ini " kata Afran yang dingin. Lalu Nadia melepaskan tangannya.
" Salah siapa kamu enggak peka tadi ?" Kata Nadia yang sambil melepaskan tangan.
" OOO, iya. Emangnya kita harus keluar begini, ya ?" kata Afran yang sambil duduk di depan.
" Kalo kita enggak keluar nanti mereka enggak bisa bicara secara leluasa dong " kata Nadia yang antuasias menjawabnya.
" Semoga Zendra juga menyukai Lydia " gumam Nadia sambil mengepalkan kedua tangannya dan menatap ke langit.
" Akhirnya aku bisa berjalan lagi meski tak seperti dulu lagi " batin Allesia sambil memegang pintu kamar itu.
Seketika aku melihat Lydia dan Zendra.Tapi yang membuat ku aneh adalah Lydia. Saat aku mau jalan ke sana.
" Kenapa cewe ganjen itu ke sini ganggu aku sama Zendra aja " batinnya sambil menatapnya dengan sinis. Tatapannya itu seperti orang yang tidak suka akan keberadaan ku di sana.
" Sekarang Lydia berubah banget enggak seperti yang aku kenal dulu " batin Allesia yang kecewa dan sedih karena teman yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri tidak senang dengan kehadiranku.
" Kita kan bisa membicarakan itu nantikan dan kita juga belum melihat keadaannya Allesia " kata Zendra yang khawatir dengan keadaannya.
" KITA kamu aja kali yang mau jenguk. Sekali saja jangan sebut Allesia. Apa yang dipikirkan mu hanya ada allesia ? " kata Nadia yang mulai kesal karena yang ada dipikiran zendra hanya allesia saja.
" Jangan kamu jawab dulu kamu pilih dia atau aku. Kalo kamu pilih dia kita sudah tidak menjadi sahabat lagi. Tapi kalo kamu pilih aku , aku ingin kamu suruh dia keluar nanti setelah dia siuman " kata Lydia.
" Kamu ini kenapa sih. Perasaan tadi kemarin enggak seperti ini. Maaf tapi Aku tak bisa memilih diantara kalian berdua" kata Zendra yang tidak bisa kehilangan mereka berdua.
" Kamu harus pilih salah satu " kata Lydia.
" Beri aku waktu " kata Zendra sambil tangannya ke depan dan kembali ke awalnya.
" Aku beri waktu tapi tidak lama diantara kami. Dia atau Aku" kata Lydia.
" Aku harus gimana nih. Aku pilih Allesia atau Lydia. Tapi ... " batin Zendra yang bimbang untuk memutuskan diantara mereka berdua.
" Satu ..... Dua ..... Tiga..... Waktu sudah habis. Jadi apa keputusanmu?" kata Lydia.
" Aku pilih kamu " kata Zendra dengan lirih dan cepat.
" Apa aku enggak dengar?" Kata Lydia yang pura pura enggak dengar.
" Aku pilih kamu " kata Zendra dengan keras tapi di hatinya seperti tidak bahagia. Lydia yang mendengar itu pun langsung memeluknya dengan erat.
" Mungkin itu perasaan ku saja " batin Zendra.
" Ini jawaban yang aku tunggu tunggu Zendra " kata Lydia yang bahagia.
" Aku tahu kamu pilih aku. Kamu tahu kamu enggak bakal memutuskan ikat persahabatan demi cewe ganjen itu " kata Lydia bahagia.
" Daripada aku di sini menjadi beban lebih baik keluar saja " gumam Allesia sambil berbalik dan tak sengaja menjatuhkan pot yang ada di sana. Mereka menatap ke arah suara itu muncul.
Aku pun keluar dari kamar melalui jendela. Aku pun melihat ada semak semak aku berlari ke semak semak itu yang menuju ke arah hutan. Afran dan Nadia pun masuk ke dalam ketika mendengar sesuatu yang pecah itu.
__ADS_1
" ZENDRA " kata Afran yang teriak sambil membanting pintu dengan keras.
" Apa yang kamu dipukul sama Zendra, Lydia? Kalo dia memperlakukan tidak baik menerima, akan aku kasih dia kecoa kecil imutku " kata Nadia yang khawatir temannya diperlakukan dengan tidak baik sambil memegang tas yang ada dipinggangnya yang berisi ramuan.
Ingatan Lydia tentang kecoa kecil imut. Saat itu Nadia bereksperimen membuat ramuan yang bisa tertawa selama 3 hari 3 malam. Ketika mau menguji ke hewan tak sengaja Zendra datang mengagetkannya dan akhirnya ramuan itu terkena ke Zendra.
" Kamu itu kalo kasih nama itu yang bagus dong "kata Lydia sambil terbayang akan peristiwa itu.
" Menurutku namanya imut kok kaya aku " kata Nadia sambil menyilangkan tangannya ke pipinya dan membuat muka imut.
" Imuut katamu. Imut apanya tidur aja masih mengigau?" kata Nadia yang menyindir Nadia
" Aku enggak pernah gigau, kamu aja mengigau " kata Lydia.
" Aku enggak sama kamu, aku ini kalo tidur kaya bidadari yang turun kekawangan sedangakn kamu tidur suaranya kaya babi. NGOK NGOK. Jadi, beda sama kamu " kata Nadia sambil meniru suara babi.
" Mendingan aku daripada kamu masih ngompol. Nadia sudah masih ngompol masih ngompol " kata Lydia sambil mengerakan tangannya seperti bebek.
" LYDIA " kata Nadia dengan keras sambil menarik rambut Lydia karena mulai kesal dengan perkataannya itu.
Lydia yang juga tidak terima dengan tingkahnya Nadia, ia pun juga menarik rambut Nadia. Mereka pun saling tarik menarik dan suara kesakitan yang nyaring.
®°®°©
Afran mulai merasa bosan dan memutuskan untuk pergi keluar dari sini mencari udara yang segar. Sedangkan Zendra menuju ke arah suara tadi.
" Bagaimana vas bunga ini bisa jatuh? Apakah terkena angin tapi tidak mungkin " gumam Zendra sambil memgambil dan meletakan pecahan vasnya ke meja.
Tak disangka kalo suara itu berasal dari kamar tempat tidur Allesia karena terlanjur sudah di situ. Zendra ingin melihat keadaan Allesia. Ternyata Allesia tidak ada di tempat tidurnya.
" Allesia ..... Allesia ..... kamu dimana ?" gumam Zendra sambil mencari di sekitar kamar itu, tapi sia sia saja dia tidak ada juga. Zendra melihat ke arah jendela yang terbuka. Aku merasa heran karena Allesia tidak mengabari kami kalo mau pulang sekarang.
" Zendra teriak teriak kenapa, ya ?" kata Nadia yang penasaran akan tingkah lakunya itu.
" Mana aku tahu, mungkin ... Enggak jadi, deh " kata Lydia yang menebak pasti soal Allesia lagi.
" Kenapa sih dia selalu mikirin cewe itu, sih? Andai kalo enggak ada cewe itu, aku dan zendra pasti sekarang sudah pacaran. Tapi tidak apa apa. Yang penting sekarang aku sudah jadian sama Zendra " batin Lydia yang muak dengan Allesia dan bahagia karena sudah jadian dengan Zendra.
Nadia pun mencari Zendra untuk memastikan apa yang sedang terjadi. Tanpa pikir panjang juga, Lydia juga mengikuti Nadia. Ketika kami sampai di tempat itu, aku melihat Zendra tertunduk. Aku pun menghampirinya.
" Allesia sudah sadar, terus dimana dia sekarang ?" kata Nadia. Tetapi Zendra tidak menjawab dan hanya diam terpaku disitu.
" Tapi aku enggak mau, semua orang tau kalo aku membenci Allesia " batin Lydia.
" Mending aku ke hutan aja deh sekalian berburu. Aku laper banget. Enaknya makan ikan bakar " gumam Afran sambil membayangkan ikan yang dibakar hingga membuat afran keluar air liurnya lalu bersihkan dengan tangannya itu.
" Tapi aku kan enggak bawa alat berburu " gumam Afran sambil berpikir dengan memandang ke atas dan berjalan ke arah hutan.
" Ahha, aku tahu " gumam Afran sambil mencari ranting yang jatuh dengan ujung yang runcing. Aku menemukan rantingnya di pohonnya rindang.
" Kayaknya ini sudah jauh deh. Aku capek sekali banget. Lebih baik aku istirahat di sini saja " gumam Allesia yang berhenti berlari dan duduk di dekat sungai dan bersandar di pohon.
" Kalo aku enggak salah jalan ke sungai itu ke sini, deh " gumam Afran sambil melihat sekeliling.
Afran merasa bingung karena pohon yang banyak dan sama. Tetapi karena aku biasa berburu kalo tidak bisa menentukan arah jalan.
Biasanya orang berburu menentukan jalan dengan jalan yang sering dilewati orang. Beberapa menit kemudian, aku mendengar suara aliran air.
" Sepertinya hampir sampai. Akhirnya aku bisa makan " kata Afran sambil mempercepat jalannya.
Afran mulai mendengar suara aliran sungai dengan sangat jelas. Aku pun melihat sungai lalu aku mempercepat jalanku karena tidak sabar mau makan ikan bakar. Ketika sampai
Tak berselang lama, akhirnya aku sampai di sungai dan masuk ke air mencari ikan untukku santap.
" Tak kusangka menangkap ikan itu sulit juga. Lebih mudah jika berburu " kata Afran yang berusaha dengan sekuat tenaga tetapi tidak dapat menangkap ikan. Tekadnya yang kuat akhirnya dapat ikan 1 dengan menggunakan ranting runcing tadi setelah mencoba 99 kali.
Afran pun keluar ke dalam air karena pakaiannya basah. Karena tenaga tersisa sedikit jadi tidak bisa menggunakan mantra untuk mengeringkan baju dan menyalakan api.
" Apa boleh buat ?" kata Afran menengadah tangannya.
__ADS_1
" Tempat yang setenang ini dan seindah ini, hanya aku yang menikmati. Apakah pemandangan ini juga diperuntukkanku. Memang benar kata Lydia aku harus memang tidak harus di sini " batin Allesia sambil menatap langit berwarna biru. Ketenangan tempat ini membuatku tertidur sangat lelap.
-----®©®©------
Ucul makan dengan lahap bahkan sampai nambah 30 piring karena makannya hari ini sangat enak. Sedangkan ocol biasa saja 1 piring saja sudah kenyang.
" Makanmu itu kayak orang enggak dikasih makan setahun aja " ucap ucul.
" Cul, sekarang kamu yang kasih makanan ke tahanan, ya ? Perutku sakit karena makan tadi banyak " kata ocol yang memegang perutnya.
" Mau aku ambilkan obat atau apa?" kata ucul yang khawatir dengan temannya terjadi sesuatu.
" Tidak usah nanti biar aku yang ambil. Cepat sana kamu kasih makan dia " kata ocol sambil menyuruhnya pergi.
" Bener enggak apa apa. Aku pergi nih " kata ucul sambil membawa makanan ke tahanan.
" Iya, bener. Massa kamu enggak percaya sama temanmu ini " kata ocol.
Ocol pun meninggalkan ucul dan pergi ke penjara untuk memberi makanan ke Lythari dan para tahanan lainnya.
" Memang benar dia oon mau aja dibohongin. Kayak gini enaknya tidur biar enggak diganggu tidur" gumam ucul sambil mencari tempat yang aman yaitu dibawah meja lalu tangannya ke kepala bagian belakang.
Raja merasa khawatir sehari lagi akan diadakan festival air tapi Afran belum pulang juga. Raja pun menyuruh prajurit yang menjaga memanggil ucul dan ocol untuk menghadap Baginda raja.
" Baik, Baginda. Hamba akan melaksanakan- nya" kata prajurit sambil memberi hormat dan meninggalkan Baginda raja.
" Kenapa Baginda memanggil mereka berdua, ya ? Apakah ada sesuatu yang penting " gumam prajurit dari PSBJ sembari berjalan dan mencari keberadaan mereka.
" Mungkin karena PSBJ dan PSBG tidak ada dan keamanan di istana semakin menurun sera besok akan dirayakannya festival airnya " pikir prajurit itu.
" Waduh, gimana ini aku belum beritahu ucul dan ocol dimana.Tidak apa apa mungkin dia sudah pergi jauh percuma juga jika menyusul- nya " gumam Baginda Raja sbil menepuk kepalanya.
Ucul pun sampai dan memberikan makanan ke para tahanan. Aku merasa bete kalo di suruh mengantar makanan karena banyak tahanan yang membuat gaduh bahkan ada tahanan yang menarik - narikku.
" Tapi apa boleh buat kasihan juga kalo ucul yang mengantar makanan ke sini " batin ocol sambil menaruh makanan ke sel.
" Aku lepasin ikatannya atau enggak, ya ? Tapi dia enggak bisa makan. Biarin saja dia memang pantas mendapatkan perlakuan seperti ini " gumam ocol.
" Aku juga enggak tahu mereka sekarang ada dimana. Massa aku harus cari di seluruh ista- na, sih. Tapi kalo balik percuma juga " kata prajurit karena jarak prajurit dengan altar raja jauh.
Beberapa jam kemudian, prajurit pun merasa sangat capek karena sudah mengelilingi istana dan kota sampai 1000 kali tapi tidak menemukan mereka juga bagaikan mencari jarum ditumpukan jerami. Masih satu tempat yang belum aku cari yaitu penjara.
" Semoga ucul dan ocol ada kalo tidak ada aku menyerah. Aku juga enggak bawa pil jreng" kata prajurit itu sambil mencari cari pil di baju dan celana.
Ketika sampai di penjara, dia bertemu dengan ocol yang selesai memberikan makanan ke tahanan.
" Kamu tidak apa - apa atau kamu butuh sesuatu. Ini minum dulu " kata ocol sambil menopang badannya dengan tangannya.
" Apa ini rasa asin banget. Aku mau tanya ?" kata prajurit itu sambil menyebut minuman itu ke ocol.
" Itu kayaknya minumannya udah basi. Biar aku bantu keluarkan " kata ocol sambil menepuk punggung prajurit itu dengan keras.
Saking kerasnya gigi palsunya juga ikut copot. Giginya pun berjalan mengejar ocol. Ocol pun lari terbirit-birit.
" Pasti tadi dia menahan tawa karena aku pakai gigi palsu. Siapa yang menertawai ku tentang gigi palsu akan dikejar sampai dia bisa tergigit " gumam prajurit sambil tertawa terbahak bahak karena dikejar gigi palsunya.
" Siapa pun tolong aku. Aku dikejar gigi bisa berjalan" teriak ocol dengan keras sampai membangunkan lythari tersebut. Ketika melihat lythari itu terbangun, dia tersandung lalu jatuh ke tanah.
" Aaaauwww " suara ocol yang kesakitan karena gigi tersebut menggigit pantat ocol.
Kemudian, gigi itu kembali ke tuannya.
" Gimana rasanya enak? Kau mengingatkanku peribahasa sepandai-pandainya tupai melompat lebih pandai gigi palsuku " kata prajurit sambil mengambil giginya dan memakainya.
" Enak apanya, lihat pantat sampai bengkak gara gara digigitnya " kata ocol sambil mengelus pantatnya.
" Kamu hati hati jika bicara dan jangan pernah ku atau gigi palsuku kalo enggak mau digigit " kata prajurit itu.
__ADS_1