Allesia dan Elf

Allesia dan Elf
Episode 15


__ADS_3

Zendra dan Nadia pun bingung harus melakukan apa. Lydia merasa senang karena hubungannya tidak akan diganggu oleh Allesia. Lydia menghibur mereka berdua agar tidak terlarut dalam kesedihan.



" Mending aku buatkan makanan agar mood mereka kembali seperti sedia kala " pikir Lydia sembari meninggalkan mereka dan berjalan ke arah dapur.



" Enaknya buat makanan apa, ya ?" gumam Lydia sambil menyiapkan bahan yang akan dimasak. Ia memikirkan makanan yang cocok dan tak berselang lama ia menemukan ide.



" Ayam saus Bledug " gumam Lydia sembari melihat bahan makanan di lemari.



" Untung, ada bahannya tinggal masak " batinnya Lydia.




Lydia pun membuat bumbunya dengan cekatan seperti koki sungguhan. Merebus ayamnya lalu tunggu hingga mendidih kemudian ia memasukan bumbunya dan tunggu hingga bumbunya merasuk ke dalam.



" Aku kayak gini sudah cocok jadi istri Zendra " gumam Lydia yang memuji diri sendiri. Akhirnya makanannya sudah siap dihidangkan.



Lydia pun memanggil mereka untuk makan bersama. Namun, mereka tidak mau dan Lydia menarik tangan mereka untuk pergi ke meja makan. Lalu aku menyuruh mereka untuk duduk.



" Makanlah sedikit untuk menambah tenaga kalian. Bagaimana enak atau tidak ?" kata Lydia sambil mengambilkan makanan untuk mereka.



" Apa kalian pikir dengan seperti ini dapat menyelesaikan masalah ? Toh, dia hanya menginap sebentar dan mungkin keluarganya khawatir. Jadi, dia terpaksa pulang tanpa pamit pada kita. Atau mungkin dia seorang mata mata dari elf kegelapan " kata Lydia untuk menghasut mereka bahwa Allesia memiliki niat jahat kepada desa ini.



" Tapi enggak mungkin dia mata mata dari elf kegelapan. Aku yakin bukan dia " kata Zendra yang tidak percaya dengan perkataan Lydia dan menghentak meja dengan keras. Lalu ia pergi dari situ.



" Zendra, jangan pergi. Maafkan aku, aku tidak akan menghinanya lagi tanpa tahu kebenaran yang pasti " kata Lydia yang bersalah sambil memegang tangannya Zendra agar tidak pergi.



" Akan kubuktikan kalo Allesia adalah mata mata " batin Lydia yang percaya diri.



" Aku enggak akan pergi asal kamu tidak menuduh orang sembarangan tanpa adanya bukti ?” kata Zendra sambil berdiri. Lydia pun mengganggukkan kepalanya lalu Zendra kembali duduk di kursinya. Lydia pun memeluk Zendra.



" Aku bisa bisa jadi patung disini " batin Nadia.



" Apa aku di sini untuk lihat kalian seperti ini ? Kalo mau ngelakuin hal seperti itu lebih baik jangan di sini ganggu aku makan tau " kata Nadia yang menyindir mereka dan menyaran- kan tidak melakukan itu di depanku.



" Iya, aku berhenti " kata Lydia sambil melepaskan pelukannya yang mesra itu. Saat Lydia melepaskan pelukannya, Zendra merasa kecewa akan hal itu. Zendra makan makanan- nya dengan muka cemberut.



" Buruan kamu cari pacar daripada ganggu kita pacaran. Sayang, pasti belum makan ini. Ini cobain enak banget ? " kata Zendra yang menyindir Nadia sambil menyuapi Lydia.



Nadia pun tidak menanggapi perkataan Zendra. Nadia tahu kalo Zendra sengaja ingin membuatku cemburu agar aku cepat cepat cari pacar. Aku mulai kesal dan memakan makanan dengan cepat dan lahap. Lydia dan Zendra menertawakan ku.



" Aku tahu, aku jomblo. Jadi, jangan menertawakan aku seperti itu " kata Nadia yang kesal.



" Siapa juga yang menertawakan mu jomblo " kata Lydia yang sambil tertawa terbahak bahak.



Nadia yang mendengar itu merasa agak bingung dengan ucapan temannya. Kalo dia tidak menertawakan ku soal itu terus apa dong pikir Nadia.



" Nadia, tolong kamu jangan seperti itu. Gara- gara kamu perutku sakit " kata zendra sambil memegang perutnya dan meringis kesakitan karena banyak tertawa.



Nadia tak bisa menebak penyebab mereka tertawa. Aku pun mulai kesal dan memutus- kan pergi dari situ.



" Yong, komu sojo yong kejor dio ?" kata Zendra sambil melanjutkan makanannya, tapi Lydia tidak bisa mendengar dengan jelas ucapannya.



Zendra memberi isyarat memberi waktu untuk mengunyah makanan nya. Lydia pun menuruti perkataannya dan menatap wajahnya yang tampan. Yang dari dulu tidak aku sadari.



" Aku tampan kan sampai kamu lihatin wajahku seperti itu ?" kata Zendra dengan bangganya sambil berpose yang terlihat dia seperti cowok maskulin.



" Enggak biasa aja. Jadi, kamu tadi mau bilang apa ?" kata Lydia sambil mengalihkan pembicaraan itu.



" Jangan bohong dan mengalihkan pembicaraan. Mengaku saja apakah sulit mengatakan itu ?" kata Zendra sambil menatap wajahnya. Lalu wajah Lydia seketika memerah.



" Jangan kamu jawab. Aku sudah tahu jawabannya dari raut wajahmu " kata Zendra dengan bangga dan percaya diri yang tinggi yang tidak tahu datang dari mana.



" Aku sedang enggak mau bahas itu. Tadi kamu bilang apa ?" kata Lydia dengan raut wajah yang serius.



" Baiklah, aku enggak bahasa lagi. Aku tadi menyuruhmu untuk mengejar Nadia tapi kayaknya enggak kekejar, deh ?" kata Zendra.



" Aku merasa kayak ada satu hal yang kurang tapi tidak tahu itu apa ?" kata Zendra sambil berpikir dengan jari telunjuknya di keningnya



" Iya, aku juga sama. Nanti juga ingat sendiri kalo ingat " kata Lydia sambil merapikan meja dan mencuci piring.


__ADS_1


" Biar aku yang bawa piringnya. Aku enggak tega melihat kamu membawa beban seperti itu. Biar aku saja yang menanggung beban ini dan bahtera rumah tangga kita " kata Zendra sambil menengadahkan tangan- nya.




Kemudian, Lydia pun memberikan piringnya ke Zendra.




" OOO, iya. Temanmu cowo itu kok enggak kelihatannya dari tadi ? Tapi aku cuma nyiapin makanan untuk kita bertiga Gimana dong" kata Lydia yang teringat akan temannya Zendra.



" Maksudmu Afran ?" kata Zendra sambil meletakkannya di tempat cuci.



" Iya, aku juga enggak nyiapin makanan untuk dia. Gimana nih, yang ?" kata Lydia yang merasa bersalah enggak buatin makanan untuknya.



" Paling juga dia keluar. Kalo soal makanan, itu urusanku karena dia sobatku. Jadi, enggak usah khawatir " kata Zendra sambil mengacak acak rambutnya Lydia.



∆∆∆



Afran melepaskan pakaiannya dan mengering- kannya dengan api yang aku buat sendiri. Dari kejauhan aku melihat seseorang yang menik- mati pemandangan. Aku pun menghampirinya.


Setelah sampai di sana,Aku terkejut ternyata orangnya adalah Allesia.



" Tapi kenapa dia bisa disini?" gumam Afran sambil berdiri dan menatapnya.



" Tapi dia terlihat cantik juga saat tidur seperti ini " batin Afran sambil memandang keindahan wajahnya.



" Aku ini mikirin apa sih " kata Afran sambil menggelengkan kepala bahkan airnya menge- nainya. Namun dia tidak terbangun. Aku pun mendapatkan ide.



" Sekarang waktuku untuk membalas perbuatannya waktu itu " batin Afran.




Afran pun menggendong Allesia dengan tangannya kekar dan menjatuhkannya ke air karena sudah menendang sesuatu berharga miliknya.



Allesia terbangun dari tidurnya gara gara diceburin ke air. Aku melihat orang yang aku tendang waktu ke dunia ini. Dia senyum sedikit ke arahku dan aku tak mempedulikan dia. Aku mencoba keluar dari sungai itu, tetapi tidak tidak bisa.Afran pun duduk dan bersandar di pohon yang dekat dengan tempat Allesia diceburin.



" Kakiku terasa ditarik sesuatu. Ini kenapa sampai aku tak bisa keluar ?" batinku sambil kepalaku masuk ke dalam air untuk melihat apa yang menarikku.



Ketika aku melihat ternyata tanaman sulur yang membelit kakiku karena napasku tidak kuat berlama lama di air. Aku pun keluar ke air dalam keadaan kaki masih terikat.




" Ha ...haaah ....haaah " ucapku yang kehabisan napas.




Aku pun mencoba melepas - kan belitan itu dengan kaki yang tak terbelit. Namun, semakin aku mencoba semakin erat tanaman itu membelit. Aku melihat seorang laki laki yang bersandar dan senyum sinis kepadaku. Laki laki itu adalah Afran.



" Kamu enggak mau keluar dari situ. Apa karena ingin melihat badanku yang seksi ini ?" ucap Afran sambil bergaya seksi yang dapat membuat orang yang melihatnya terpikat padanya.



" Siapa juga mau lihat badanmu yang kayak roti sobek ?" ucap Allesia sambil mencoba melepaskan belitan itu.



" Kalo tidak mau, terus kenapa enggak keluar dari situ. Ada yang mau aku tanya, tadi kamu bilang badanku kaya roti sobek. Roti sobek itu apa, ya ?" ucap Afran yang curiga dan bingung dengan perkataan Afran.



" Kalo aku jawab sembarangan, takutnya dia tahu aku bukan orang sini. Semoga dia tidak tahu " batinku.



" Roti sobek itu nama hewan peliharaan ku. Hewan peliharaan ku itu adalah ular. Badanmu itu seperti ular yang ku pelihara " ucap Allesia yang menjawab dengan apa yang terbayang - kan oleh pikiranku.



" Terserah kamu mau mengejek aku apa? Aku tak peduli " ucap Afran sambil menyandarkan kepala ke tangannya pada pohon yang kokoh dan memejamkan matanya. Lalu ia menikmati


hembusan angin yang sepoi-sepoi dan kete - nangan tempat itu. Afran tidak pernah ada mempunyai waktu untuk melakukan ini lagi.



" Apakah memandang badanku seperti itu membuat kamu tidak mau keluar dari air sampai kamu tidak merasa dingin ?" ucap Afran yang menyindir perempuan itu.



" Kalau ngomong itu dipikir terlebih dahulu sebelum mau mengatakan ke orangnya. Apa buktinya kalau aku ingin melihat badanmu yang gepeng kaya ular itu ?" ucap Allesia sambil meredam emosinya.



" Setelah aku keluar dari sini bakal kukasih kamu pelajaran yang tidak bisa kamu lupakan" gumam Allesia dengan lirih mengepalkan kedua tangannya.



" Kamu bilang apa tadi ? Kalau enak salah mau ngajar aku " ucap Afran



" Siapa juga yang mau menghajar kamu ?" ucap Allesia yang menyangkal.



" Aku mau minta tolong ke dia. Tapi dilihat dari sifatnya yang angkuhnya itu. Mustahil dia mau menolongku? batin Allesia yang tak jadi meminta tolong ke dia.



Aku pun mencoba masuk ke dalam air lagi untuk melepaskan tumbuhan yang membelit ku. Semakin aku mencoba melepaskannya semakin kuat tumbuhan itu membelit ku. Bahkan tumbuhan itu mencoba menarikku lebih dalam ke air.


__ADS_1


Beberapa menit kemudian,


Afran mulai merasa curiga karena Allesia yang tidak keluar ke air.



" Itu kan enggak urusanku. Aku juga bukan siapa siapa dia ?" gumam Afran dengan sikap dinginnya itu.



" Kalian coba cari Pangeran Afran di sungai itu, siapa tahu dia ada di sana ?" ucap komandan PSBJ sambil menunjuk ke arah sungai.



" Baik, komandan " ucap para pasukannya dan berjalan ke arah Afran.



" Gawat nih, kalo aku ketahuan bakal disuruh pulang secara paksa" gumam Afran yang gelisah sambil melihat ke arah pasukan itu dan tak sengaja menginjak ranting ketika mundur ke belakang.



" Siapa itu?" ucap pasukan yang berjalan ke arah Afran lalu mempercepat jalan mereka seketika mendengar ranting itu.



Afran cuma dua pilihan. Pertama, masuk ke dalam air dan kedua, dibawa pulang oleh pasukan kerajaan. Afran memilih pilihan yang pertama. Afran pun masuk ke dalam air.



" Sedikit lagi aku terlambat sudah ditangkap" batin Afran sambil menahan napas.



" Kurasa arah suara tadi sini " ucap pasukan PSBG sambil jongkok dan melihat ranting yang patah.



" Barusan tadi suara apa? ucap pasukan yang baru datang.



" Komandan, saya menemukan ada api dan pakaian " ucap pasukan magang sambil memberikan pakaiannya ke Pemimpin PSBG.


Tetapi, dirampas oleh komandan PSBJ.



" Ka, kamu " ucap pemimpin PSBG yang kesal dan geram dengan tingkah komandannya.



" Apa " ucap komandan dengan tatapan dingin.



" Tidak ada apa apa. Komandan saja yang memeriksa " ucap pemimpin yang takut.



" Tidak salah lagi ini Pangeran Afran. Mungkin dia masih ada disekitar sini. Jadi, kita akan bermalam di sini " ucap komandan dan bersandar ke pohon.



" Waah, ternyata wajahku tampan juga " ucap pasukan magang sambil mengelus elus pipinya.



" WOY, malah ngelus elus pipi mending pijitin kakiku " ucap PSBG yang rebahan dan menunjuk kakinya yang pegal.



" Aku kok merasa ada yang memegang kakiku" batin Afran sambil menengok ke bawah.



Afran pun menggunakan matranya agar dapat bernapas di air. Tetapi, aku enggak bisa membantu dengan mantra ku karena tenaga yang simpan tadi hanya bisa untuk aku saja. Mukanya sudah mulai pucat.



" Tapi kalo aku enggak tolong dia bisa mati " ucap Afran sambil menghampirinya. Allesia pingsan karena kehabisan oksigen.



" Ciumanku hanya akan kuberikan kepada orang yang kucintai. Tapi nyawanya sedang dipertaruhkan " batin Afran yang memberi napas buatan ke Allesia.



Saat aku mau mencoba melepaskan ikatan itu. Tiba Tiba. Kami sudah ada di kerajaan Sentoria.



" Pasti ayah sudah memantrai tumbuhan air sebagai penghubung ke kerajaan.Mendingku bawa dia ke kamarku " ucap Afran sambil menggendongnya ke kamar.



" kalau dilihat lihat dari tingkah laku kayaknya dia bukan elf sini " batin Afran.



" Tuan, kapan kembali ?" ucap maid ( pembantu) yang berjalan berlawanan arah.



" Baru saja, tolong bawakan pakaian perempuan ke kamar " ucap Afran sambil menggendongnya.



" Baik, Tuan. Apa tuan enggak mengabari Baginda raja tentang kepulangan, Tuan?" ucap maid.



" Nanti saya akan ke sana " ucap Afran.



" Oh iya, Tuan. Hari ini akan diadakan Festival air. Apakah tuan nanti akan datang ?" ucap maid.



" Sekalian juga siapkan pakaianku untuk festival nanti " ucap Afran sembari meninggalkan maid.



Afran pun membuka pintu dengan kakinya. Ketika Afran mau meletakkan ke kasur, kaki Allesia tak sengaja menjatuhkan sesuatu.



Menurut kalian, apa yang dijatuhkan Allesia?


Jawab di kolom komentar




__ADS_1



__ADS_2